
sekumpulan orang sedang menikmati sajian di pesta itu.
Khanza melihat sahabat-sahabatnya itu dari kejauhan mereka sedang mengambil makanan untuk mereka makan, berteman dengan mereka lima tahun ini telah banyak membuat hidup nya berubah....
Akhirnya mereka berpasang-pasangan, saat ini hanya Khanza yang sendirian di pesta, tak ada pasangan yang bersamanya. Khanza terperanjat kaget, saat ada seseorang menepuk pundaknya.
dia menolah ternyata seseorang itu adalah orang yang dia kenal...
"Nanda... ih kirain siapa, kaget tau. " gerutup Khanza kesal.
" hehehee.. " Nanda malah terkekeh melihat ekspresi Khanza yang menggemaskan.
Nanda duduk di samping Khanza di ikuti oleh Riski sang asisten..
" Ngomong-ngomong kenapa sendiri nih. " tanya Nanda yang mendapati Khanza hanya duduk seorang diri.
" tuhhh teman-teman yang lain pada ngambil makanan. " tunjuk Khanza ke teman-temannya
" Kamu gak makan.." tanya Nanda.
" ada orang yang bilang aku gendut. "
Nanda terkekeh, Riski melihat pemandangan itu heran,..
" eh ada pak Riski juga.. " Khanza melihat Riski yang tengah diam tak bergeming..
" Iya nona Khanza.. "kata Riski di barengi dengan anggukan.
" panggil saya Khanza saja, gak usah ada embel-embel nona.. " ucap Khanza.
" baik Khanza.. " kata Riski patuh.
Nanda dan Khanza kembali larut dalam obrolannya, Khanza juga tidak mengetahui satu hal kenapa Nanda Bisa di sana juga.
mereka ketawa ringan, sesekali juga mereka membicarakan projek mereka, yang akan segera di bangun.
Riski juga menikmati malam itu, kedua bos besar itu memang seperti sudah saling kenal pikirnya, makanya mereka bisa seakrab itu...
Seorang perempuan Cantik menghampiri mereka yang tengah mengobrol, dia berjalan seperti seorang model, sangat sexy, tubuhnya bak seperti gitar spanyol, malam itu dia memakai pakaian yang sedikit terbuka, saat berjalan pun mata lelaki tak hentinya menatap ke arahnya..
" hai.. baby. " sapa Cerly dengan Nada yang di buat sehalus mungkin.
Tak hanya Nanda, Khanza dan Riski pun menoleh ke arahnya, Riski pun mendengus kesal, melihat perempuan yang menurutnya tak tahu malu itu ada di depannya saat ini.
" Cerly.... ngapain kamu di sini.. " tanya Nanda kesal.
" Baby kenapa sih kamu kaya yang gak suka gitu, aku juga di undang Kesini, boleh dong aku gabung.. " ucap Cerly manja, Nanda tak sedikitpun menghiraukan perkataan Cerly,
merasa tak enak Khanza tersenyum dan menjawab.
" ya silahkan duduk aja.. " ucap Khanza tersenyum.
Cerly memandang Khanza tak suka, lalu dia duduk mendepet di dekat Nanda..
" baby.. kenapa gak ngajak aku bareng si.. " kata Cerly manja.
" aku bareng Riski. " Nanda yang masih acuh, menatap cerly pun enggan.
" kamu kenapa sih.. " tanya Cerly ia tak suka lagi dan lagi laki-laki itu bersikap acuh terhadapnya.
" Cer dengar nya, berkali-kali aku bilang, jangan gangguin aku... aku malas di ganggu kamu.. " Nanda menahan sedikit emosinya, dia sudah geram dengan perempuan itu.
" kamu siapa.. " tanya Cerly kepada Khanza.
" Saya Khanza temannya Nanda mba. " kata Khanza ramah memperkenalkan diri, tak lupa ia selipkan senyum, Khanza mengulurkan tangan nya, untuk bersalaman, namun Cerly sama sekali tak menerima uluran tangannya
" ohh temen, aku gak suka ya kamu deket-deket Nanda... " kata Cerly dengan tampang judesnya.
" maaf kalau gitu mba. " Khanza tersenyum kikuk, sebenarnya dia merasa tak enak, apa dia kekasih Nanda pikirnya.
berkali-kali Khanza membalas pesan teks yang masuk ke handphonenya, kemudian mimik wajah nya menjadi berubah, lalu Khanza beranjak dari sana...
" aduhhh sorry ya Nanda,... Riski, mba Cerly, saya duluan.. " Khanza berlari ke luar aula, tanpa menghiraukan Nanda yang terus memanggil namanya..
" bagus lah dia pergi.. " ucap Cerly sambil menggerutu.
" emang kenapa. " tanya Nanda.
" aku gak suka sama dia, palingan juga dia ngedekatin kamu karena kamu kaya iya kan... " cerly melipat kedua tangannya.
Nanda tersenyum sinis, dan melihat Cerly geram, sedangkan Riski terkekeh pelan mendengar apa yang Cerly katakan itu..
" kamu gak tau Khanza siapa... " tanya Nanda dengan masih tersenyum sinis.
" enggak lagian buat apa aku tau, gak penting juga. " kata Cerly tanpa rasa bersalah.
" Cerly,,, kamu tau, Khanza adalah direktur utama perusahaan COPRA. " kata Nanda itu berhasil membuat Cerly terpaku di tempatnya.
Nanda puas melihat perubahan mimik Muka Cerly.sementara Riski hanya terkekeh kecil, puas melihat orang yang sok cantik dan sombong itu terkejut, karena Khanza adalah seorang direktur kemudian Nanda dan Riski meninggakkan Cerly yang masih terbengong itu.
.
.
" Broo selamat ya akhir nya... " kata Nanda dan merangkul sahabat semasa SMA nya itu.
" terimakasih tuan CEO. ".. kata Deri.
Riski juga menyalami Deri dan Ayu tak tak lupa memberi ucapan selamat
" ehhh gimana, udah ketemu Calon Istri, seneng dong pastinya.. " ucap Deri, di sambut kekehan kecil dari Nanda..
" ngaco lo.. calon istri dari mana.. " ucap Nanda masih terkekeh.
" buktinya waktu ketemu pas meeting, lu mandangin Khanza ampe segitunya,,, bilang aja terpesona pada pandangan pertama sama calon istri.. " bagai di sambar petir, Nanda sangat terkejut bukan main...
" Khanza... calon istri.. " Lirih Nanda. dia masih kebingungan dan mencerna semua kata-kata Deri,
sementara Ayu sangat senang mendengar kenyataan kalau Khanza sudah bertemu sama calon suaminya..
" Der.. berarti Khanza, ibunya Key dan Kel.. " tanya Nanda di tengah kebingungan nya.
" iyalah broo.. ko lo lemot sih.. " keterkejutan nya bertambah, sekarang dia mengerti kenapa Khanza tidak menginginkan pulang ke rumah dan bertemu keluarganya di semarang..
" yank.... jadi ini calon suami nya Khanza... " tanya Ayu antusias..
" iya yank... so' cool dia padahal aslinya mah pecicilan.. " Ucap Deri dengan di barengi kekehan kecil...
Nanda tak menghiraukan lagi apa yang di ucapkan Deri dan Ayu, ia turun dari sana dan keluar dari aula.. menanggil-manggil nama Khanza, berharap sang empu masih mendengarkanya tapi hasil nya nihil. dia tak mendapati Khanza di sana..
" tuan... " sapa Riski, yang ikut mengejar Nanda keluar aula.
" kita pulang ke rumah utama sekarang...saya harus bertemu orang tua saya sekarang... " dan di angguki sang asistennya itu.
.
.
sementara Khanza sedikit berlari memasuki kamar hotel nya, bi Indri menghubungi, kalau anak nya menangis meraung-raung ketika bangun tidur tak mendapati sang ibu di dekatnya...
saat Khanza masuk ke kamar, kedua anak nya berhamburan memeluk Khanza keduanya masih menangis sangat kencangnya, membuat sang pengasuh itu kewalahan...
" suuuutttt sayang, ibu disini nak.. " kata Khanza menenangkan kedua anaknya.
" uuuuaaaaaa ibuuuuuu kenapa pelgiii.. " si kembar masih meraung-raung..
dengan telaten khanza menenangkan si kembar mencium kedua anak nya sayang. dan mengelus seolah memberi ketenangan dengan dekapannya