
"Apa hak ku sehingga aku cemburu ketika dia dekat dengan orang lain? Bukannya aku juga sekedar temannya saja. Aku sadar aku gaboleh egois." kata Kyara dalam hatinya.
Ia berusaha untuk tegar dan menahan emosinya.
"Lebih baik aku pulang aja. Udah malam juga. Lagipula besok aku kan juga masih bisa kesini." kata Kyara sambil meninggalkan rumah sakit dengan menahan kecemburuan dihatinya.
Disisi lain, Fiqhi dan Kania pun tengah ngobrol berdua.
"Kamu kenapa bisa dirawat di sini Fiq?" tanya Kania.
"Ya entahlah Kan. Malam itu aku benar _ benar blank dan merasa sangat bersalah karena telah membuat seorang gadis cantik menangis." jawab Fiqhi.
"Gadis cantik? Siapa memangnya? Cewe tadi?" tanya Kania.
"Kepo lu! Anak kecil gak boleh tau okee." kata Fiqhi sambil mengusap kepala Kania.
"Gausah pegang - pegang gue cacing kremi. Emang gua apaan." kata Kania meledek.
"Iya Iyah maaf. Untung sepupu gueh lu. Kalau gak udah gua snake wkwk." kata Fiqhi bergurau.
"Smake aja kalau berani? Auto guah laporin Tante Ningrum sama Om Arief biar auto di pondokin luh. Insya'allah bisa insyaf xixixi." kata Kania.
"Kejam kau," kata Fiqhi.
"Biarin hahaha. Tak semudah itu ferguso." kata Kania.
"Btw lo besok gak sekolah?" tanya Fiqhi.
"Sekolah dong bos. Gueh kan besok bakal satu sekolah sama lho. Gueh pindah sekolah kesini karena papa ada tugas disini ntar kalau tugas papa udah selesai baru deh gua pindah lagi. Jadi besok lho boncengin gua ke sekolah hehe..." jelas Kania.
"Apes dah gua harus boncengin pepes kadal." kata Fiqhi.
"Bangke lho," kata Kania.
"Udah - udah gua mau istirahat. Udah malem. Lho tidur sofa aja. Gud night." kata Fiqhi sambil memejamkan matanya.
"Gud night gud night palellu pelang! Awas lo kalo beso kebo. Auto gua siram pake air. Hahaha..." kata Kania.
"Bodo, gua nggak denger hwekk." kata Fiqhi yang memejamkan matanya sambil melet.
"Ih mirip ...." kata Kania.
"Bodo." kata Fiqhi.
"Awas ya kalo lho besok...." kata Kania sambil menunjuk wajah Fiqhi yang ternyata sudah tidur.
"Nyebelin sumpah sepupu gua yang satu ini!" gumam Kania sambil memejamkan matanya.
Keesokannya di sekolah
"Kok dia belum dateng yah, apa dia masih sakit?" tanya Kyara dalam hati setelah melihat kursi Fiqhi yang kosong.
Bel masuk berbunyi...
"Selamat pagi anak - anak. Pada hari ini kita kedatangan siswa baru, silahkan masuk nak." kata Pak Roni
Siswa baru itu pun masuk ke kelas dan membuat mata Kyara tertuju satu titik padanya.
"Itu kan..." kata Kyara dalam hati.
"Silahkan perkenalkan diri kamu nak." kata Pak Roni.
"Saya Kania Putri Alingga. Biasa dipanggil Kania. Terima kasih dan salam kenal." kata Kania.
"Silahkan duduk Kania, dibelakang mejanya Fiqhi." kata Pak Roni.
"Mejanya Fiqhi yang mana pak?" tanya Kania.
"Itu pojok kiri paling depan." kata Pak Roni.
"Oh ya pak, terimakasih." kata Kania.
Selang beberapa saat, datanglah Fiqhi dengan berlari menuju kelas.
"Maaf pak saya terlambat. Tadi ban motor saya bocor jadi terpaksa saya harus menunggu dulu." kata Fiqhi.
"Ouh gitu ya. Yasudah untuk kali ini bapak maafkan. Silahkan duduk ke tempat kamu," kata Pak Roni.
"Terima kasih pak." kata Fiqhi.
Pelajaran pun berlalu begitu saja, kini bel istirahat telah berbunyi. Dari kejauhan Kyara melihat Fiqhi tengah mengobrol dan tertawa bersama Kania. Kecemburuannya kini ia tahan. Rasa sakit saat ini ia coba lepaskan dengan senyuman.
"Eh lho mau kemana hari ini?" tanya Fiqhi pada Kania.
"Kantin aja yok, gua laper." kata Kania.
"Yaudah! Gue ajak Kyara dulu.” kata Fiqhi.
"Ouh silahkan aja." kata Kania.
Fiqhi berjalan mendekati meja Kyara dan langsung duduk di sebelahnya.
"Kantin yuk mbull." ajak Fiqhi.
"Enggak. Aku udah makan tadi makasih." kata Kyara.
"Ouh yaudah deh kalo kamu gamau. Aku duluan ya mbull." kata Fiqhi.
"Iya." kata Kyara.
Fiqhi pun kembali ke tempat duduknya dan mengantarkan Kania untuk ke kantin.
"Yuk jadi gak?" tanya Fiqhi.
"Jadilah. Tapi itu pacar kamu beneran gak ikut?" tanya Kania.
"Enggak. Dia nggak mau." kata Fiqhi.
"O yaudah. Lu jalan duluan kampret." kata Kania.
"Sabar dong, proses nih." kata Fiqhi.
Kania dan Fiqhi pun meninggalkan kelas dan menuju ke kantin. Kyara hanya bisa termenung dan mengalihkannya pada membaca buku. Tapi pikirannya tetap masih pada Fiqhi.
"Kamu beda banget mbull sejak kehadiran dia. Biasanya kamu juga kalo gak aku ajak keluar gakmau keluar kelas. Tapi sekarang pas udah ada Kania kamu malah yang ngajak keluar. Apa kamu suka sama dia mbull? Kalo kamu suka sama dia juga wajar sih, dia kan cantik. Rasanya sakit mbull kalo aku boleh ngomong. Lihat kamu jalan sama cewek lain tapi waktu itu kamu yang nyuruh aku buat percaya sama kamu. Pas aku cuma ngobrol sama cowok lain aja kamu cemburunya sampek begitu, apa sekarang pas aku ngelihat kamu sama cewek lain aku gak boleh cemburu?" gumam Kyara dalam hati.
Di kantin
"Es tehnya dua ya buk." kata Fiqhi.
"Iya mas, ini..." kata Bu Saodah sambil menyerahkan es teh.
"Ini buk uangnya terimakasih." kata Fiqhi.
"Iya mas sama - sama." kata Bu Saodah.
Lima menit berlalu,
"Lho mau pesen apa woi? Lama amat dari tadi milih - milih kayak di pasar aja." kata Fiqhi.
"Sabar dong. Yaudah gua beli ini aja." kata Kania sambil menunjuk kotak nasi putih di samping kiri." kata Kania.
"Gitu ngapa. Buruan bayar. Gua mau ke kelas ni. Biasanya gua kalo pas istirahat sama dia terus." kata Fiqhi.
"Iya iya sabar pret. Antri nih. Hah lega. Ini buk uangnya." kata Kania sambil menyerahkan uangnya.
"Terimakasih dek." kata Bu Saodah.
"Sama - sama buk." kata Kania sambil meninggalkan kantin.
"Btw mas Fiqhi tunggu sebentar." kata Bu Saodah.
"Ada apa buk?" tanya Fiqhi.
"Ini tadi ada titipan bekal buat mbak Kyara dari mamahnya. Tadi bekalnya mbak Kyara tertinggal." kata Bu Saodah sambil menyerahkan bekal tersebut.
"Terima kasih buk. Nanti saya sampaikan." kata Fiqhi sambil beranjak pergi dari kantin.
Di depan kelas
"Makasih ya lho emang sepupu gua yang paling baik udah mau nganterin dan nungguin guah. Hehehe..." kata Kania sambil masuk ke dalam kelas.
"Kalo ada maunya aja muji - muji." kata Fiqhi sambil mendekat ke meja Kyara.
"Mbull nih tadi ada titipan bekal buat kamu sama aku beliin es teh buat kamu." kata Fiqhi sambil menyerahkan bekal dan es teh untuk Kyara.
"Makasih-" jawab Kyara datar.
"Kamu kenapa mbull. Kok dari tadi diem terus?" tanya Fiqhi.
"Gak papa kok. Aku cuma lagi males ngomong aja." kata Kyara.
"Ouh gitu yaudah deh. Nanti pulang bareng ya mbull." ajak Fiqhi.
"Iyaa," jawab Kyara dilanjutkan dengan ia meminum es teh.
"Beneran ni gak papa?" tanya Fiqhi sedikit bingung.
"Kan dia juga udah punya temen. Akrab ma Nayla terus si Ruth jugak." kata Fiqhi.
"Ya mungkin kalo yang ngajak ngobrol kamu, dia lebih seneng mbull," kata Kyara.
"Yah aku tau nih alasan kamu diem dari tadi. Kamu cemburu ya lihat aku sama Kania." jelas Fiqhi.
"Hm." kata Kyara.
"Kania itu sebenarnya .... aku mbull." kata Fiqhi yang sebagian tak terdengar karena bel masuk berbunyi.
"Bel udah masuk lanjut nanti aja." kata Kyara.
"Yah." jawab Fiqhi.
"Oi Fiq, lu kenapa ma dia? Berantem? kok kayaknya dia Cuek banget sama lu." tanya Kania.
"Nggak tau juga Kan. Kayaknya dia salah paham sama hubungan kita. Sebenernya sii gue suka ngeliat dia cemburu kayak gitu tapi gak nyaman aja pas lagi ngobrol." Kata Fiqhi
"Ya nanti pas istirahat lu jelasin sama dia." Kata Kania.
"Iya Kan. Shpp. Tengkyu." Kata Fiqhi.
"Okee..." Kata Kania.
Dari kejauhan, Kyara hanya memperhatikan Fiqhi dan Kania yang sedang mengobrol tanpa ingin diganggu dengan tawa lepas.
"Mungkin Kania emang yang jauh lebih baik buat Fiqhi daripada gueh. Gak salah kalau Tante Ningrum ngedeketin dia ma Fiqhi." Kata Kyara dalam hati.
Bel istirahat berbunyi.... Fiqhi kembali datang dan mendekati meja Kyara.
"Mbull ke taman yuk." Ajak Fiqhi.
"Enggak makasih aku ngantuk. Mau tidur dulu mbull." Kata Kyara ketus.
"Segitunya ya mbull?" Tanya Fiqhi sambil duduk di samping Kyara.
"Tumben kesini? Nggak ngobrol ma dia?" Tanya Kyara sambil menengok kearah Fiqhi.
"Mbulll, aku mau jelasin biar kamu nggak salpah kayak gini sama aku. Aku sama Kania tu cuma..." Kata Fiqhi yang terputus karena Kyara tiba - tiba beranjak dari kursi dan meninggalkan kelas.
"Mau kemana mbull?" Tanya Fiqhi.
"Taman," Kata Kyara singkat.
"Ikut ya mbull?" Tanya Fiqhi.
"Serah," Jawab Kyara sambil pergi menuju taman.
Dia kenapa ya dari tadi pagi diem mulu. Mungkin gara - gara gueh deket ma Kania ya? Kata Fiqhi dalam hati.
Di taman
Kyara duduk di kursi taman yang biasa ia duduki bersama dengan Fiqhi. Fiqhi pun duduk di samping Kyara.
"Kamu inget nggak mbull waktu pertama kali kita disini?" Tanya Fiqhi yang mencoba membuka topik pembicaraan.
"Hm." Jawab Kyara.
"Waktu itu kita ketiduran disini berdua sampek ke kunci gerbang." Kata Fiqhi sambil tertawa mengingat itu.
"Terus waktu itu kamu juga pernah ngacak - ngacak rambut aku di sini." Lanjut Fiqhi.
"Dan sekarang di tempat ini jugak kamu ngediemin aku kayak gini." Kata Fiqhi.
"Coba mbull bilang sama aku, aku harus gimana biar kamu nggak diem kayak gini." Tanya Fiqhi.
"Emang aku penting buat kamu ya mbull?" Tanya Kyara.
"Kok kamu ngomong gitu. Kamu penting buat aku mbull. Kalo sama kamu tu aku ngerasa clop." Kata Fiqhi.
"Emang udah berapa lama kita kenal mbull?" Tanya Kyara.
"I bulan. Emang kenapa mbull?" Tanya Fiqhi.
"Baru 1 bulan kan. Tapi kalo kamu sama Kania udah kenal berapa lama mbull?" Tanya Kyara.
"Sejak kecil mbull." Jawab Fiqhi.
"Artinya kan Kania jauh lebih kenal kamu mbull?" Tanya Kyara.
"Iya." Kata Fiqhi.
"Jadi mungkin dia yang lebih pantes buat kamu. Daripada aku yang cuman selalu nambah pikiran kamu sama bikin kamu capek aja." Kata Kyara.
"Jangan bilang gitu dong mbull." Kata Fiqhi.
"Maaf yha mbull kalo selama ini aku kekanak-kanakan." Kata Kyara.
"Kok ngomongya gitu. Aku ngerasa kamu itu udah couple banget mbull ma aku. Jadi jangan bilang gitu. Kalo aku salah, kamu bilang sama aku, biar aku bisa perbaikin diri aku mbull. Gak malah diem gini aku bingung jadinya." Kata Fiqhi.
"Berarti aku cuman nambah beban pikiran kamu kan?" Tanya Kyara.
"Enggak jugak mbull." Kata Fiqhi.
"Yaudah sekarang gini aja deh mbull..." Kata Kyara.
"Gak mau mbull," Kata Fiqhi sambil memegang tangan Kyara.
"Gak mau kenapa mbull?" Tanya Kyara sambil melepas genggaman Fiqhi.
"Kamu tadi bilang udahan. Aku gamau mbull." Kata Fiqhi.
"Sekarang gini deh mbull. Coba kamu belajar menjadi diriku sedikit saja. Mungkin kamu akan merasakan bagaimana rasanya tidak dihargai." Jelas Kyara.
"Aku nggak ngehargai kamu gimana mbull? Coba jelasin mbull." Kata Fiqhi.
"Kamu gak suka dan cemburu kalo aku deket sama Kak Guna, tapi giliran kamu yang deket sama Kania, apa pernah aku bilang ke kamu? Aku cuma selalu senyum. Tapi kamu apa tau mbull arti senyumku? Enggak kan." Kata Kyara.
"Iya mbull maaf deh aq salah. Tapi Kania itu sebenarnya sepupu ku mbull," Kata Fiqhi.
"Sepupu?" Tanya Kyara terkejut.
"Iya mbull Kania tu sepupu aku yang baru pindah kesini dan untuk yang kemarin di rumah sakit itu Kania dimintai tolong ma Bunda suruh njagain aku. Soalnya kan kita dah deket sejak kecil." Jelas Fiqhi.
"Gitu ya mbull? Berarti aku salah paham yah. Kekanak-kanakan banget sih aku pake cemburu gak jelas gitu sama kamu. Maaf yah mbull." Kata Kyara.
"Enggak papa mbull aku paham kok. Malahan aku suka kamu kayak gitu. Artinya kamu bener - bener gak mau aku deket ma cewek lain." Kata Fiqhi.
"Itu paham." Kata Kyara.
"Buat kesalahanku yang sebelum - sebelumnya, ku minta maaf ya mbull." Kata Fiqhi.
"Iya. Aku juga mbull," Kata Kyara.
"Sekarang aku bakal berusaha untuk jaga perasaan kamu mbull. Dan kamu harus inget mbull kalo dihatiku cuma ada kamu." Kata Fiqhi.
"Iya iya..." Kata Kyara sambil tersenyum.
"Nah gitu dong. Kan kalo senyum manisnya keluar dan bunga - bunga jadi mekar lagi. Embulku manis deh kalo senyum hehe... Gemes..." Kata Fiqhi sambil mencubit pipi Kyara.
"Sakit mbulll." Kata Kyara manyun.
"Yeh manyunnya gak banget mbull. Jangan lagi ya." Kata Fiqhi.
"Insyaallah hehe..." Kata Kyara.
"Ke kelas yuk mbull. Udah mau masuk jugak." Kata Fiqhi.
"Iya ayo." Jawab Kyara.
Fiqhi dan Kyara bergegas menuju kelas sambil bergandengan tangan.
Di kelas
"Udah baikan ni ceritanya." Kata Kania meledek.
"Hehehe... Maaf ya Kan," Kata Kyara.
"Iya gak papa. Besok lagi denger dulu penjelasan dari si kutu kupret ni. Kasihan dia galau mulu dari tadi pagi." Kata Kania.
"Hehe... Kutu kupret? Xixi..." Kata Kyara sambil tertawa.
"Mbull kok tertawa. Seneng yah?" Tanya Fiqhi.
"Hem iyaa. Lucu sih kata - katanya." Kata Kyara.
"Hamdallah deh kalo kamu bisa ketawa. Meskipun aku harus dipanggil kutu kupret hehe..." Kata Fiqhi tersenyum.
"Udah dulu ya mbull lanjut nanti lagi." Kata Kyara sambil menuju kursinya.
"Okee. Lanjut nanti mbull." Kata Fiqhi sambil duduk ke kursinya.
gimana miners episode kali ini? penasaran cerita selanjutnya? tunggu updatenya di next part ya gays...