
.
.
.
🌺🌺🌺
.
.
setelah kejadian kemaren malam, Nanda terlihat terus membuntuti sang istri, Khanza sama sekali tak menjelaskan apapun, membuat suaminya itu sangat butuh penjelasan, setelah pengungkapan nya bahkan istrinya tak menjawab iya atau tidak soal perasaannya.!! tentu itu membuat Nanda sedikit kesal, sudah lama ia ingin mengungkap kan semua isi hatinya, dan Khanza malah bersikap biasa aja seolah tak ada kejadian apapun..
" yank..!!!" rengek Nanda.
" apa.."
" ih yankk!!." Nanda selalu mengekor kemanapun Khanza pergi, sampai-sampai saat Khanza membuat sarapan bersama teman-temannya, Nanda juga ikut ke dapur, membuat semua teman Khanza meresa heran dengan sikap Nanda akhir-akhir ini.
" kamu duduk gihh.. sama yank lain di meja, aku kesusahan di ekorin kamu terus.." gerutu Khanza, ia kesal pada suaminya yang mengekori dirinya sejak tadi.
" gak mauu..."
" kamu kenapa.."
Nanda menggeleng, Khanza hanya menahan tawanya melihat tingkah suaminya sedikit menggemaskan menurutnya.
" yuu.. sarapan dulu." ajak Khanza.
seperti sebelum nya Nanda selalu mengekor, kemanapun Khanza pergi..
mereka semua duduk di meja makan, dan sarapan dengan penuh suka cita.
sangat jarang bisa berkumpul bersama semuanya. apalagi menikmati sarapan pagi bersama seperti ini.
" kalian Nanti mau pada kemana.." tanya Ayu kepada teman-temannya.
" belum tau gw nihh.. pengen nya jalan tapi kan kita gak tau tempat bagus itu ada di mana,." sambung Uci, menimpali ucapan Ayu.
" kalau gw sih.. mau ke tempat bunda!!. mau bawa anak-anak kesana.. " ujar Khanza.
" emmm gimana kalau kita juga ikut za.. sekalian Nanti kalau pulang nya ajak kami jalan." saran Dimas..
" emm boleh juga tuh yank,,, bunda pasti seneng kalau kita rame-rame.." tambah Nanda. Dan Khanza mengangguk membenarkan.
" yaudah boleh kalau gitu.. " katanya kemudian..
mereka semua kembali menikmati sarapan paginya... .
.
.
.
tiga mobil Klasik masuk di kediaman Brama Wijaya, Khanza, Nanda dan si kembar keluar dari mobil urutan pertama..
seorang Asisten menatap Khanza lekat, lalu dia berhambur ke pelukan Khanza..
" non Khanza.." teriak bi ijah, tak segan ia memeluk majikannya itu, yang sudah bertahun-tahun tidak pernah pulang ke rumah semarang..
" bi apa kabar..." tanya Khanza tak lepas Khanza tersenyum ramah.
" bibi baik.. yaallah non, sekarang makin cantik ya.. "
" hehehe bibi bisa aja.. ini anak-anak Khanza, " tunjuk Khanza kepada si kembar..
" yaallah... bibi merasa ini seperti mimpi.." semua orang tercekat tertawa, melihat tingkah asisten di rumah Khanza itu.
" ayo ayo masuk.., ibu ada di dalam.." ujar bi ijah kemudian.
" yaudah ayo.."
mereka semua masuk ke dalam, Khanza masih di sambut haru oleh semua asistennya, mereka sangat terharu, melihat nona perempuan nya pulang ke rumah. kebahagiaan mereka juga bertambah ketika melihat si kembar.
" ayahh.." lirih Khanza, dengan cepat memeluk sang ayah erat..
" bunda... da... lihat caca pulang..." teriak tuan Brama..
" mana ayahh.. " bunda Doris membuka pintu kamarnya, dia juga sangat antusias mmenuruni tangga. dan memeluk putri semata wayangnya, menghujani Khanza dengan ciuman tanpa berhenti...
" emmm bunda.. geli.." kata Khanza barulah sang bunda berhenti menciumi nya.
" hehehe habis bunda rindu nak.."
" iya bunda, caca juga..."
Nanda juga menyalami kedua tangan mertuanya dengan penuh rasa hormat, teman-teman Khanza juga terlihat menyalami orang tua Khanza bergantian, dan kedua orangtua itu menyambut semuanya dengan perasaan hangat.
mereka semua berkumpul di ruang keluarga di rumah itu, tak lepas orang tua itu menggendong si kembar, mereka begitu merindukan cucu-cucunya.
" dimana mas Hendrik bunda.." tanya Khanza, dia celingak celinguk karena tak mendapati Kakanya ada di sana.
" dia lagi pergi sama calon istrinya, mencari berlian untuk sang istri, " jawab sang bunda.
" begitu ya bunda, caca udah gak sabar pengen cepat lihat kakak ipar caca." ucap Khanza.
" iya sayang, mas mu itu sangat jago, orang nya cantik banget namanya crystal.. " tambah sang ayah.
Khanza hanya mengangguk mengerti..
" ayo anak-anak turun dari pangkuan kakung sama uti, kasian loh mereka pegel.. " ujar Nanda melihat anak-anaknya tak lepas dari pangkuan mertuanya.
" udah gak apa-apa,!! biar kan saja toh juga kita jarang ketemu sama cucu-cucu yang gemas ini.." kata tuan Brama tak lepas ia memeluk cucunya yang gemas...
mereka semua menikmati jamuan yang ada di rumah itu, kedua orang tua Khanza benar-benar menjamu mereka dengan sangat hangat...
terutama teman-teman Khanza itu, Bunda Doris sangat senang akhirnya anak perempuan nya itu mempunya banyak teman, tak seperti waktu dulu, ia tau dulu tak ada yang mau berteman dengan nya, entah apa alasannya dia pun tak tau.
padahal anaknya cukup trendi waktu itu, sampai pada masa ia tau, ternyata yang menyebabkan Khanza seperti itu adalah teman dekatnya sendiri, yaitu sisil, ia sudah menganggap sisil seperti anaknya sendiri, dan ia juga tak menyangka sisil bisa melakukan hal yang jahat seperti itu.
ah sudah lah,, itu semua hanya masalalu dan sekarang Khanza pun sudah banyak berubah, anaknya sudah tumbuh dengan orang-orang yang baik di lingkungannya, bahkan teman-temannya juga terlihat sangat tulus sekarang. Khanza trlihat sangat bahagia, terlebih dia sudah menikah, dengan laki-laki baik seperti Nanda. orangtua Khanza sangat bersyukur akan banyak kebahagiaan yang menyertai putrinya.
.
.
.
Khanza terlihat memasuki kamar masalalunya, tidak banyak yang berubah, termasuk foto-foto kebersamaan Khanza dengan sahabatnya sisil di masalalu masih tertempel apik di dinding kamarnya.
Dia memegang satu persatu foto itu, rupanya orang-orang di rumah ini tak mengubah apapun atau membuang apapun yang berada di kamarnya.
" ekkheemmm.. " deheman itu langsung membuat Khanza tersadar dari sebuah pemikirannya.
" mas.. aku kaget loh.." kata Khanza ketika melihat suami nya sudah berada di ambang pintu.
" hehehe iya maaf, habis istriku melamun, ngelamunin apa.." tanya Nanda, terlihat ia menghampiri istrinya.
" aku hanya ingat betapa dulu persahabatan kami sangat bahagia, hanya belum percaya saja, dia berhianat di belakang ku.." Khanza masih lekat menatap foto dirinya bersama sisil, disana terlihat mereka dengan baju seragam SMA sedang tertawa.
" tidak semua orang bisa melihat sisi manusia dari luarnya, kamu harus bersyukur telah di jauhi oleh orang-orang seperti dia.." lirih Nanda, dia memeluk istrinya yang tengah mematung dari belakang.
" kamu benar mas... lagi pula sekarang aku bersyukur banget, sudah punya kamu, anak-anak, dan semua sahabat-sahabatku. "
" sebentar.. kamu bersyukur punya aku.. " Nanda meminta Khanza mengulangi ucapannya, kata-kata itu begitu indah terdengar di telinganya.
" aku bersykur punya kamu mas... " Khanza berkata dengan malu-malu.
" sayang benarkah itu.. " tanya Nanda.
Khanza tersenyum dan mengangguk, Nanda makin mengeratkan pelukannya, dia sangat bahagia...
.
.
.