
suara tertawa perempuan itu hampir terdengar memekat di telinga, dentumannya menggema, di karenakan ruangan itu kosong dan sudah lama tak terpakai..
" bos harus kami apakan mereka.." ucap salah satu anak buah nya itu.
" saya akan bikin nyonya Khanza Brama Wijaya itu bertekut lutut dan menyerahkan suaminya kepada saya..." terpancar senyum sinis dari wanita itu, dia seperti ular berbisa, yang kapan saja bisa memberikan racunnya jika dia mau.
Sisil terlihat memainkan handphone nya, dia menghubungi Khanza..
" hallo dengan siapa ya.." jawab Khanza dari balik teleponnya.
" hai Khanza.."
" ss-sisil.." ucap Khanza terbata.
" ya ini gw, kenapa lo terlihat gugup Gitu."
" tidak.." jawab lantang Khanza.
" ada apa sil... dari mana lo punya no
handphone gw." tanya Khanza lagi.
" Khanza... Khaanza... lo pikir saya akan tinggal diam melihat lo bahagia!!, hahhaa... jangan mimpi..." ucap sinis sisil, hatinya menggebu-gebu penuh dengan dendam.
" apa maksud lo.?" tanya Khanza.
" nyawa anak lo!!, ada di tangan gw za..!!"
" jangan gila..!! tak ada yang bisa nyakitin anak saya,... "
" hahhahahaaa.. pede banget lo!!!, kalau mau anak lo selamat, datanglah ke alamat yang udah gw share location, kalau mau anak lo selamat.."
" jangan gila sisill..." teriak Khanza, di barengi dengan Terputusnya sambungan telepon itu.
sisil kembali tergelak, dia begitu bahagia mendengar Khanza yang panik.. baginya tak ada yang lebih menyenangkan melihat temannya itu menderita sebelum kematiannya.
.
.
.
Khanza terlihat gemetar, tangan nya tak sanggup lagi memencet tombol di handphone nya, dia begitu gelisah, semua pikiran buruk ia tekan kuat, dia tetap positif tinking jika anak-anaknya baik-baik saja dan sekarang sedang di perjalanan pulang dari sekolahnya,
namun hatinya lagi-lagi gelisah, mengingat seharusnya mereka sudah sampai di rumah, Khanza menelpon bi Indri berkali-kali tetap tak ada jawaban, dia juga menelpon pak Halim tetap tak ada jawaban, tubuh nya mulai gemetar hebat, kemana mereka pekiknya. tak ada yang bisa menjawab rasa kekhawatirannya sebelum mendapat jawaban dari kedua orang itu.
Khanza terus menelpon pak halim dan bi Indri berkali-kali..
" hh-hallooo non.." ucap pak halim terbata, dia begitu sangat kesakitan seluruh tubuhnya memar ..
" pak.. bapakk dimana,?? dimana anak-anak??
mereka aman kan pakk.." ucap Khanza gemetar, dia tetap optimis bahwa anaknya memang baik-baik saja.
" mm-mmaaf kan ss-saya non, m-maafkan saya."
" pakk bapakkk.." teriak Khanza dia tak bisa menyembunyikan lagi kepanikannya. namun tak ada ada jawaban lagi dari pak halim.
handphone nya jatuh ke atas lantai, Khanza terduduk di lantai, tubuhnya bergetar hebat, dia mulai terisak..
" anakku... kalian dimana nak..?" lirih Khanza.
dia kembali mengambil Handphone nya, dan mulai melihat lokasi yang di berikan Sisil, dan sisil meminta agar Khanza pergi sendiri tanpa memberitahukan siapapun, sesuai kemauan sisil, Khanza harus pergi sendiri demi menyelamatkan anak-anaknya.
Khanza menuruni tangga dengan tergesa-gesa. bahkan teman-temannya pun sangat keheranan.
" za, mau kemana..?" tanya Ayu.
" gw pergi ada urusan penting, oh ya, tolong cari tau lokasi pak halim saat ini, bantu dia, dia butuh pertolongan..." ucap Khanza, teman-teman Khanza juga tau bahwa Khanza saat ini sedang panik.
" iya za tapi lo mau kemana.."
" gw gak bisa kasih tau sekarang. gw harus pergi,, tolong ya yu.." ..
Khanza berlari dan mulai menaiki mobil, dia tak menghiraukan apapun lagi selain keselamatan si kembar, bagi nya itu sangat penting sekarang.
sama dengan Ayu dan kedua sahabat nya mereka juga keluar untuk ke lokasi pak halim saat ini, untung saja lokasi di hanphone nya aktif saat ini, jadi mereka bisa tau keberadaan pak halim ada dimana sekarang..
" hallo sayang.." ucap Ayu dia sedang menelpon Deri.
" iya ada apa.."
keadaannya sangat panik sekali,
sayang ada apa ini??"
" apa.. " pekik Deri.
" kamu di mana sekarang,," tanya nya lagi.
" aku sama temen-temen mau jemput pak halim kayanya ada sesuatu terjadi." ucap Ayu bergetar, dia sangat panik juga.
" oke sayang... kamu tenang ya., jangan mikir apapun, sekarang jemput pak halim ya, ada apa-apa hubungin aku langsung ya.."
" oke sayang.."
.
.
.
sedangkan wanita itu sedang bersantai dengan kursi putarnya, sesekali dia menghisap rokok yang tersalip di jarinya,,..
seorang laki-laki yang tak lain adalah suaminya sudah di sana sejak lama, dan dia juga melihat tubuh-tubuh mungil tak berdosa itu tergeletak begitu saja karena pengaruh obat bius,
sesekali ia mengusap kasar wajahnya yang penuh dengan peluh keringat. dan mengutuk istrinya yang kelakuan sudah seperti binatang, bahkan dengan lantang ia mengancam Khanza, dia mendengar wanita itu sangat panik..
setelah kejadian itu dia langsung melapor ke Nanda dan memberitahukan kejadian dan kronologisnya,.
..
.
" gawat ini gawat." ucap Deri.
" ada apa Der. tenangkan diri lo dulu." ujar Nanda, ia tau kepanikan dari sahabatnya.
" Barusan Ayu menelpon, Kalau Khanza keluar rumah, dengan wajah yang sangat terlihat panik, dan tidak bisa di cegah.." jelas Deri.
" apa.." lirih Nanda, ia terpatung, rupanya Sisil sudah menjalankan aksinya.
" tuann.." ucap Riski yang ikut gabung masuk keruangan Nanda.
" lihat ini tuan.." riski memperlihatkan hasil retasan CCTV dan menampilkan orang-orang yang tengah menculik si kembar..
" ternyata rencana nya di luar ekspetasi kita tuan, mereka menculik si kembar untuk mengancam nyonya Khanza,, dan lihat ini tuan.." Riski kembali memperlihatkan isi pesan Dari Gio bahwa ia sudah berada di dekat sisil, dan melihat langsung kalau si kembar sudah menjadi sandra sisil saat ini, dan sisil juga mengancam Khanza akan membunuh si kembar jika dia tidak datang...
" "aarrhhgggg.. biadap.!!!" satu pas bunga yang ada di meja kerja Nanda melayang jauh. dan hancur luluh lanta saat mengenai lantai.
" tenangkan diri lo nda.. gw tau lo pasti
marah.." Deri mencoba menenangkan sahabatnya itu.
" gw gak bisa ngebiarin orang-orang itu mengganggu anak-anak gw
tidak bisa!!!.. mereka harus di hukum mati atas perbuatannya!!, gw akan pastikan itu.." ucap Nanda, muka nya memerah, pupil matanya hampir saja keluar menahan Marah, Nanda marah kepada orang-orang itu...
" iya bro iya.. lo tenang ya.. tahan emosi demi mereka, jangan sampai karena lo emosi, mereka akan kena bahayanya, inget itu..!!"
Nanda menarik Napas panjang, agar mengembalikan ketenangan nya lagi..
" Riski,,, siap kan orang-orang kita,!!! kepung tempat itu, usahan mereka tidak menyakiti istri dan anak-anak saya.. " titah Gio
" baik tuan.."
" jalan kan rencana kita Riski.."
" sesuai perintah anda tuan.."
" pastikan Gio tetap berada di tempat itu, dan terus memantau manita jahat itu.."
" iya tuan ."ucap Riski patuh..
.
.
.
yeee happy reading 😘