My Mine

My Mine
lemas dan pucat



Khanza merapihkan semua keperluan Nanda untuk dua hari di luar kota, dengan telaten ia masukan barang-barang itu satu persatu ke koper milik suaminya, besok suaminya akan pergi keluar kota sesuai yang mereka bicarakan sepulang kantor tadi.


Nanda masuk ke kamarnya, memandangi punggung sang istri dari belakang..


" yank.. makan dulu yu.. " kata Nanda mengajak sang istri yang masih pokus dengan barang-barang yang akan di bawanya.


" Nanti saja mas, nanggung sedikit lagi.. "


" aku bantuin ya.. " Nanda ikut merapihkan semua keperluannya, membantu sang istri.


dia melirik sang istri yang terlihat sangat berbeda, wajahnya penuh dengan keringat, dan sangat pucat.


" yank kamu sakit ya.. " Nanda menempelkan tangannya ke kening sang istri.


" enggak ko, cuma sedikit gak enak badan.. "


" aku bilang juga apa, jangan cape-cape, ini kan bisa besok, aku berangkat nya juga siang kok.." kata Nanda, ia begitu Khawatir dengan sang istri.


" mas aku gak papa beneran. " Khanza meyakin kan sang suami, menatapnya sangat dalam.


Nanda berdecak, benar juga istrinya ini tidak bisa di larang, akhirnya ia membantu sang istri untuk menyelesaikan tugasnya.


setelah selesai mereka keluar kamar, dan ikut gabung bersama yang lain nya di meja makan.


Ayu dan Deri terlihat sangat bahagia, akhir nya Deri mengetahui kalau sang istrinya itu sedang mengandung anaknya, minggu lalu mereka jadi baby moon ke australi sesuai yang di janjikan Khanza.


" senang nya yang mau jadi ayah.. " ucap Khanza sedikit terkekeh, melihat tingkah kedua manusia itu.


" hehe iya za.. setelah menikah banyak banget hal yang membuat gw bersyukur.. " kata Deri.


" syukurlah kita senang dengernya ya yank.. " ucap Nanda memegang tangan sang istri, ia sedikit Khawatir, istri nya sedang sakit, badannya sangat lemas. senyum tersungging dari balik bibir Khanza.


" jadi kami akan punya teman balu.. " kata kel.


" iya tentu sayang.. " ucap Ayu.


" holeeee.. " ucap si kembar sangat antusias..


semua yang di sana terkekeh, melihat si kembar termasuk Khanza sang ibunya, setelah selesai makan malam, seperti biasa mereka akan kumpul di ruang keluarga.


" bi Indri.. " panggil Khanza.


" iya non.." Bi indri datang ke ruangan itu.


" bi tolong tidurin anak-anak yah, saya sangat pusing mau istrihat juga. " kata Khanza memberikan titah.


" baik non. "


" nak tidur nya sama bibi dulu yah.. " kata Khanza kepada ke dua anaknya.


" ibu sakit.. " kata key, wajah kedua anak kembar itu berubah cemas.


" hanya sedikit, ibu hanya perlu tidur, habis itu besok sembuh.. " sebisa mungkin Khanza meyakin kan agar kedua anaknya tidak merasa Khawatir..


" yaudah cepet sembuh ibu.,, " si kembar memeluk sang ibu mereka, Nanda menyaksikan hal itu bahagia, iya begitu beruntuk mempunyai anak seperti si kembar, Khanza sangat pintar merewat mereka, hingga mereka menjadi sepintar itu.


kedua anak itu masuk ke kamarnya bersama pengasuh mereka


" yaudah kalau gitu ayo, kamu juga harus istrihat." kata Nanda, khanza tersenyum dan mengangguk. kedua nya juga masuk ke kamar mereka, menyisakan Deri dan Ayu disana.


" yank.. " kata Deri, dia tak berhenti mengelus perut rata Ayu sayang, ada buah hatinya yang hidup di dalam sana.


" apa sayang.. "


" sebenarnya ada sesuatu yang sedang Nanda rencanakan. " kata Deri.


" apa itu. " Ayu merasa ada yang aneh dengan suaminya.


terlihat Ayu tersenyum.


" baiklah sesuai perintah suamiku.. " Deri kembali merangkul sang istri. sebenarnya Ayu sangat penasaran, tapi dia gak berhak ikut campur soal apapun.


tadi siang Nanda menelpon Deri, Nanda menceritakan semua rencana yang dia akan jalani bersama sang asisten, mungkin itu sedikit tedengar gila, tapi hanya itulah satu-satunya jalan agar Cerly berhenti mengganggu keluarganya, Deri teringat kejadian dua minggu lalu, saat ada dua orang bertubuh besar, memiliki rencana jahat Kepada Khanza, atas suruhan Cerly, untung Khanza diam-diam sudah ada bodyguard yang mengikutinya, dan mereka juga yang menggagalkan aksinya itu, tentu itu tanpa sepengetahuan Khanza,


menurut Deri memang teman SMA nya itu sudah gila, memang benar Cerly sangat digilai oleh Nanda dulu, Deri juga tau bagaimana terluka nya Nanda saat perempuan itu berhianat kepadanya, dan sekarang Nanda sudah bahagia, dia akan merusaknya, tentu itu tidak akan deri biarkan, Deri akan mendukung semua rencana Nanda, meski resikonya sangat besar.


.


.


dua manusia itu tengah berbaring dan berpelukan, Nanda begitu Khawatir dengan istrinya yang tiba-tiba sakit dan lemas. dia terus mengelus rambut Khanza sayang berharap istrinya nyaman berada di pelukannya.


" sayangku.. " ucap Nanda.


" emmmm.. "


" apa besok aku gak jadi pergi aja.. "


" kenapa.." tanya Khanza.


" aku khawatir sama kamu.. "


" aku tidak papa pas, masih ada yang lain yang bisa jagain aku, mas pergi aja.. " jawab Khanza.


" baiklah.. yasudah sekarang tidur.. " Khanza mengangguk, dan mendalam kan kepalanya di dada bidang sang suami nya itu.


mereka tertidur bersama saling berpelukan,..


.


.


matahari sudah menampakan sinarnya, Khanza terbangun dari tidurnya, dia mendapati sang suami sudah tidak ada di sampingnya, Khanza begitu panik, gak mungkin suaminya pergi tanpa pamit kepadanya. dia melirik kesegala arah, dan mendapati kover sang suami masih ada, itu artinya Nanda belum pergi kemana-mana, Khanza menarik napas lega.


badannya masih terasa lemas, ia berjalan gontai keluar dari kamar. Khanza mendengar riuh para asisten nya itu tertawa, dan sesekali ia juga mendengar suara suaminya dari arah dapur.


Khanza berdiri di ambang pintu melihat sang suami sedang memasak di bantu oleh bi Susi dan bi Ranti, senyum tersungging dari bibir manis nya..


" eh sayang sudah bangun.. duduk di meja makan ya, aku siapin sarapan nya. " kata Nanda.


" baiklah.. "


Khanza berjalan menuju ruang makan, yang sudah ada si kembar dan sepasang suami istri itu..


mereka menunggu sarapan nya jadi, Nanda melarang Ayu ikut masak di dapur, pagi ini Nanda benar-benar menguasai dapur.


" ternyata CEO kita itu jago masak juga ya.. " Ayu terkekeh,


" kamu gak tau yank, dulu aku sering banget di masakin dia.. " kata Deri.


" oh ya.. wah jadi gak sabar, nyobain masakannya.. " Ayu antusias.


Khanza hanya menatap kedua manusia yang membicarakan suaminya itu, mood nya benar-benar hilang, badan nya terasa sangat lemas..


ia beranjak dari ruang makan, menaiki tangga kembali menuju kamarnya.


" kenpa za sarapan dulu.. " kata Ayu.


" kalian sajalah.. badan ku lemas, hanya pengen baringan.."


Deri dan Ayu saling tatap merasa heran dengan sikap khanza, tumben lemes gak energik, pasti Khanza masih sakit pikirnya.