My Mine

My Mine
pendarahan



hari ini Khanza terlihat sangat pucat, seperti tidak ada gairah, apalagi semenjak kepergiannya dari kemarin sang suami sama sekali tidak menghubunginya, Khanza begitu Khawatir, namun saat ia menghubungi Riski, perasaan nya kembali sedikit lega, suami nya sangat sibuk hingga ia tak sempat mengabari begitulah kata sang asisten suaminya itu..


" za... yakin lo baik-baik aja.. " tanya Mita. Khanza mengangguk.


" cuma pengen baringan aja ko, gak papa." ucap Nya dan kembali berbaring..


khanza sangat ingin Nasi goreng buatan sang suami, terakhir Nanda sebelum berangkat membuat kan nasi goreng untuk Khanza, dan itu adalah nasi goreng terenak yang pernah Khanza makan, saat ini ia begitu mengingin kan nasi goreng buatan sang suami itu, tampak nya selera makan nya gak ada untuk makanan yang lain.


Karena Khawatir Ayu memanggil semua sahabatnya untuk datang kerumah, Khanza gak mau di bawa periksa padahal keadaannya sangat jelas sedang tidak baik..


" keluarlah.. gw mau tidur.. " kata Khanza meminta para sahabatnya itu keluar dari kamarnya.


mau tak mau mereka semua keluar, mereka Khawatir Khanza tidak mau makan apapun, tapi apa boleh buat, mereka tak mau memaksa kan sahabatnya itu.


dering telpon berbunyi, begitu bersemangat nya Khanza ia pikir itu dari suaminya, ternyata no baru lagi, tapi ia angkat karena itu bukan no Cerly yang terakhir kali dia menelpon Khanza.


" hallo .. " Khanza menjawab telpon itu.


" sebentar lagi, suami lo akan jadi milik gw.. " kata seseorang di balik telpon itu.


" siapa ini.. " air mata Khanza sudah berderai, perasaan nya begitu sensitif sekarang, apalagi mendengar perempuan itu berkata lagi dan lagi akan merebut suaminya.


" jangan mimpi.. dia suamiku, dia milikku." lirih Khanza.


" akan gw tunjukan sesuatu, setelah ini, pergi dari hidup Nanda, perempuan tak tau malu kaya lo gak pantes sama dia.. " kata Cerly sambil sesekali berdecak.


sambungan telpon pun berakhir, lalu Khanza menangis, bisa-bisanya perempuan itu terus menganggu kehidupannya.


satu pesan whatsapp masuk Khanza membuka poto yang masuk ke handpone nya, seketika pertahanan nya runtuh handpone jatuh dan berserakan ke lantai


air matanya tak henti terjatuh, melihat sang suami sedang mencium tangan perempuan itu..


" mas... sakit.. " khanza meremas dadanya menahan rasa sakit di hatinya..


ia terus menghiba, suami nya bukan bekerja dia pergi menemui perempuan lain, hati nya sakit, tangisannya tertahan. ia terus menerawang apa yang sudah di lakukan suaminya bersama perempuan itu,


" mas aku benci kamu mas.. sakit.. " lirihnya, Khanza memukul-memukul dadanya itu, tangisan nya pecah, ia menangis sejadi jadinya.


semua orang yang ada disana berhamburan ke kamar Khanza, mendengar Khanza, mereka mendapati Khanza yang duduk di lantai dengan handpone yang sudah rusak berserakan di lantai..


" za.. ada apa.. " tanya uci dan semua teman-temannya..


" sakitt.. sakit.. " Khanza terus memukul dadanya, dia terus menghiba, selang beberapa saat Khanza jatuh pingsan..


semua sahabatnya panik, melihat Khanza menjadi lemah tak berdaya seperti ini.


" darah.. " kata ayu, dia terpaku mendapati darah segar mengalir dari paha Khanza..


" semua tolong.. Khanza pendarahan.." teriak Ayu.


Deri yang berada di sana dengan sigap menggendong tubuh Khanza membawanya keluar menuju mobilnya, semua sahabat Khanza berlari keluar mengunakan mobil nya masing-masing untuk mengikuti mobil Deri dan ayu.


si kembar juga ikut bersama Mita dan uci mereka masih kebingungan mendapati sang ibu pingsan dan menangis seprti itu.


.


.


.


.


seorang perempuan cantik berdiri mematung di toilet sebuah restoran mewah...


keadaan hatinya sungguh sedang baik, dia berhasil mengirimkan foto kebersamaan nya dengan Nanda kepada Khanza.


" pasti dia sangat syok.. " ucapnya, sambil terkekeh.


" itulah akibatnya karena sudah merebut Nanda dari pemiliknya.." ucap nya lagi,


dia merasa puas akhirnya Nanda akan kembali bersamanya, akhirnya Nanda sadar bahwa dirinyalah yang terbaik, mereka sudah bersama selama satu hari satu malam di sana, bahkan dirinya dan Nanda menginap di kamar yang sama.


" sayang ko lama sekali.. " kata Nanda.


ketika mendapati Cerly mengahampirinya.


" emmmm biasa lah sayang aku dandan dulu, oh ya baby akhirnya kita akan sama-sama lagi, aku sangat bahagia... " kata Cerly manja, ia terus bergelayut di tangan Nanda, Nanda terkekeh,


" iya aku juga senang, maaf ya aku telat menyadari bahwa kamu adalah yang terbaik.. "


" iya baby gak apa.." tanpa malu Cerly mencium bibir Nanda manja, dengan sigap Nanda melepaskan ciuman itu.


" why baby..." Cerly tak suka.


" sayang ini tempat umum. "


" oh come on baby, semalam kita sudah panas sekali, tapi ko kamu tiba-tiba melepaskan aku, meninggal kan aku, ayolah baby aku mau.. " ucap manja Cerly.


ya malam itu hampir saja terjadi, tiba-tiba Nanda pergi dari kamarnya, dan meninggalkan Cerly seorang diri, Cerly sangat kesal, padahal semalam ia sudah sangat bernafsu, akhirnya dengan terpaksa ia main sendiri, Karena Cerly sangat membutuh kan pelepasan.


Nanda menarik napas panjang.


" baik lah ayo kita kekamar hotel. " kata Nanda..


tentu itu membuat Cerly sangat senang, harga dirinya pun sudah tidak ada demi mendapatkan Nanda kembali, ia tak masalah sama sekali,


justru ia sangat senang, Nanda akan menajadi miliknya lagi.


mereka berjalan memasuki kamar hotel.. saat sampai Cerly langsung berhambur mencium bibir Nanda tanpa ampun, dengan sekuat tenaga Nanda menorong tubuh itu..


" kenapa lagi baby.. " gerutu Cerly kesal.


" aku mandi dulu.. gak lama cuma lima belas menit. " kata Nanda berlari ke dalam kamar mandi, dan ia kunci rapat-rapat.


muka Cerly di tekuk, selalu saja ada alasan, sudah keberapa kali Nanda menolaknya.


.


.


.


semua orang Nampak panik memasuki lobby rumahsakit.


" suster tolong sus... teman saya pendarahan. " dengan panik Deri menggendong tubuh Khanza yang tidak berdaya itu, beberapa suster datang menbawa ranjang pasien, Deri membaringkan Khanza membiarkan Khanza di bawa ke UGD untuk pertolongan pertama..


semua orang tampak gelisah di luar ruang UGD, ia menunggu dokter selesai memeriksa Khanza.


semuanya tampak panik.


" ateu ibu gak papa kan.. " kata key, ini untuk pertama kali nya bagi si kembar melihat sang ibu dalam kondisi seperti itu.


" ibu kalian gak papa, hanya sedikit kecapean, jangan Khawatir ya.. " ucap mita, padahal ia pun tampak panik, namun mereka mencoba kuat demi si kembar.


dokter keluar dari UGD,


" keluarga pasien.. " kata dokter.


" kami keluarga nya dok.. "


" sebagian ikut saya. " pinta sang dokter


Deri dan Ayu mengikuti dokter itu keruangannya.


🌺🌺🌺