
.
.
.
Gio berjalan gontai memasuki kamar hotelnya, ia melihat istrinya sudah tertidur sangat pulas.
" cihhh menjijikan.." Gio berdecak, dia mengambil baju tidur dan mandi, tubuhnya sedikit lelah setelah mengetahui sesuatu hal yang sebelum nya ia tak mau tau, kini ia tau, istrinya bukan orang yang sembarangan...
setelah selesai mendapati kesegaran, ia keluar dari kamar mandi.
" yank udah pulang.." tanya Sisil yang sudah bangun dari tidurnya. dia duduk di pinggiran ranjang.
" ciihhh." Gio keembali berdecak, merasa jijik dengan istrinya, benar saja, sisil bisa bersikap biasa aja setelah ada kejadian itu di kamar ini, pembohong besar, penjahat bermuka dua adalah istrinya, bahkan ia mengutuk kenyataan itu.
" ada apa sih kamu.. " tanya sisil Heran.
" gak ada apa-apa, tidur lah lagi, saya belum ngantuk, mau nonton tv dulu.." Gio bisa saja, mencabik mencakar, memukul atau menceraikan istrinya saat ini juga, namun emosi itu ia tahan, demi rencana yang Nanda sudah jalankan, Gio tidak boleh membuat istrinya curiga.
mendengar jawaban kecut dari suaminya Sisil kembali merebahkan tubuhnya dan kembali tidur.
Sedangkan Gio, dia juga membaringkan tubuhnya di kursi, memejamkan matanya perlahan, pikiran dan tubuhnya sangat lelah saat ini, dan ia juga berlayar di alam mimpi...
.
.
.
.
" papah.." teriak kedua anak kembar menyapa Gio.
" iya anak-anakku, papa udah Rindu sekali. " Gio memeluk kedua anak kembar itu.
" papa kenapa tidak pernah mencari kami, padahal kami sangat merindukan papa, kami ingin punya papa sama seperti yang lainnya,." ujar key dia menatap lekat wajah Gio,
" ya papa... tapi sekarang kami sudah bersama ayah, dia sangat mencintai kami papa... " tambah kel.
" papa kami ingin meluk papa.. boleh kah???." tanya key dengan wajah polosnya, mata bulat nya tetap menatap Gio.
" tidak nak, papa tak pantas memeluk kalian, papa punya kesalahan yang besar yang mungkin tak bisa kalian maafkan,,," Gio tertunduk air matanya tak terasa mengalir.
tak perlu aba-aba kedua anak menggemaskan itu memeluk Gio erat.
" jangan menangis papa!!, kami tidak benci papa, pasti ada alasan kenapa papa tidak mencari kami, ibu tidak pernah mengajarkan kami untuk membenci orang tanpa alasan.." tangan mungil kel mengusap air mata Gio.
sedangkan Gio semakin terisak, dia memeluk kedua anak itu erat..
.
" anak-anakku.." lirih Gio. di barengi dengan terbangunnya ia dari mimpi indah itu,
" hanya mimpi." lirihnya lagi, ia mendudukan badanya tangan nya meraba kedua pipinya yang basah, ternyata beneran menangis, mimpi itu terasa nyata untuknya, anak-anak itu memanggilnya papa, dan tidak membencinya..
apakah ini pertanda, bagaimana cara ia agar mengetahui kedua anak itu adalah anak-anaknya, setelah masalah ini selesai, dia akan bertanya memberanikan diri bertanya semua kebenarannya, dia akan mencari tau semuanya..
Gio berjalan dan keluar ke balkon hotel, kerlap kerlip lampu jalan, dan suasana selepas hujan itu membuat suasana hatinya semakin resah,
mengenang wanita yang tak bisa ia lupakan satu detik pun, semua tentang kebersamaannya sampai ia menyakiti hatinya tetap terkenang di memori ingatannya.
sakit sekali, memikirkan Khanza menangis pada saat itu, sakit sekali bila memikirkan pada saat itu kalau benar Khanza sudah mengandung anaknya, sejak kapan ia menjadi jahat, padahal niat awalnya memang untuk balas dendam, tapi setelah mengenal Khanza lebih jauh, perasaan nya itu nyata, dia sangat menyesali waktu dia menyetujui semua rencana sisil.
DIA MENYESAL😴😴..
.
.
.
matahari telah menampakan sinarnya, Gio terbangun dari tidurnya, dia sudah mendapati istrinya duduk di kursi itu.
" kok tidur di kursi.." tanya Nya heran melihat Gio berbaring.
" ohhh.. aku udah pesen sarapan biar di anterin ke kamar, mandi dulu gih kita sarapan bareng.."
" kamu duluan saja.." ucap Gio sambil melengos dari hadapan istrinya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
" kamu kenapa sih dari malam dingin banget.." teriak Sisil, dia jengah dengan sikap Gio yang semakin aneh.
" bukan urusan kamu, saya cape dengan kerjaan.. jadi tolonglah jangan nambahin pikiran saya.."
" terserah lah.."
Tanpa menjawab apapun lagi Gio masuk ke kamarnya, begitulah kiranya setiap hari mereka, tak ada kata romantis, ataupun ucapan sayang, hanya pertengkaran mengisi hidup keduanya setiap hari, jangan kan mengurus Gio, istrinya itu hanya sibuk dengan kehidupan sosialitanya, .
Gio menarik napas panjang, masih memikirkan soal mimpi semalam, pasti ada alasan kenapa dia sampai bermimpi seperti itu, pirasat nya tak enak, dia harus mencari tau, Gio mempercepat acara mandinya, dia tak boleh sampai kehilangan jejak istrinya...
" sarapan dulu yank..!!!" ujar Sisil ketika mendapati suaminya keluar dari kamar mandi.
tanpa menjawab Gio sudah duduk di meja makan menyusul sang istri untuk sarapan pagi.
" hari ini mau kemana?" tanya Sisil.
" aku masih harus meeting.."
" aku boleh pergi dong ya.."
" mau kemana.." tanya Gio.
" ada urusan sama temen-temen sekarang mereka juga ada di jakarta.. "
" iya.. jangan macem-macem kamu ya.."
" iya enggak.. oh ya. soal uang yang aku minta.."
" udah aku transfer.." jawab Gio singkat.
" terimakasih ya sayang.." Sisil tersenyum, justru itu membuat Gio sangat jijik. sebelum nya Sisil sudah meminta uang sama Gio yang nominalnya sangat besar sekali, Gio berpikir itu untuk menjalankan semua rencananya...
terpaksa Gio memberikan uang itu, untuk melihat apa yang bisa istrinya lakukan di belakang nya saat ini, sudah saatnya semua orang tau dengan kelakuan sisil, sudah saat nya alam menghukum wanita licik ini.
" aku akan pulang telat hari ini.." ucap sisil.
" segitu penting nya urusan itu.." selidik Gio.
" sangat penting, ini masalah masa depan aku.."
Gio hanya mengangguk, dan mengiyakan perkataan sisil tanpa bertanya apapun lagi, sudah gila sisil ini, lirihnya dalam hati, perempuan macam apa yang sudah ia nikahi ini.
" aku berangkat duluan.." ujar Gio.
" ya hati-hati sayang.."
tanpa menjawab apapun lagi, Gio keluar dari kamar hotel dan pergi ke suatu tempat,..
selang beberapa saat sisil juga keluar dari kamar hotelnya, dia tersenyum Ria, hari ini adalah hari yang membahagiakan untuknya, membayangkan bagaimana ia akan menjadi nyonya di keluarga adji prasta akan berhasil sebentar lagi.
rencana demi Rencana sudah ia jalankan, dan semua akan berhasil menurutnya. menyingkirkan orang-orang yang membelenggu bagai tumbuhan yang menempel di dedaunan.
dia akan menyingkirkan orang-orang itu,
dia tertawa saat sudah di dalam mobil, membayangkan wajah Khanza yang akan memelas kepadanya memohon ampunan, seperti dulu, sungguh hidupnya akan bagai di surga ketika melihat Khanza menderita.
" akan ku buat hidupmu menderita hahhaa" sisil tergelak,
" bukan hanya itu, kau akan mati perlahan-lahan.."
Sisil terus tergelak membayangkan rencana nya akan menyakiti Khanza akan berhasil.
.
.
.
.