
hari itu terasa lebih indah dari hari sebelumnya, keempat manusia sedang bercerita Ria, mereka merasa bahagia dari hari kemarin yang kelam, tawa si kembar menandakan bahwa mereka sudah merasa lebih baik sekarang.
Nanda harus ektra hati-hati menjaga anak-anak dan istrinya mulai sekarang, dia akan berusaha menjauhkan mereka dari marabahaya.
setelah lama berlalu, kedua anak kembar itu kembali tertidur, Dengan sayang Khanza mencium kedua anaknya.
" tidurlah anak-anakku, mimpilah yang indah, lupakan lah masa yang buruk di hari lalu, " lirih Khanza.
Nanda meraih badan sang istri di peluknya erat Khanza.
" aku tau anak-anak pasti kuat, masa itu tidak akan menjadi trauma untuk mereka.." ujar Nanda.
" semoga saja ya mas.."
" aku berjanji akan melindungi kalian"
mendengar hal itu, Khanza tersenyum merasakan nyamannya berada di pelukan sang suami, Dia makin mengeratkan pelukannya.
" terimakasih ya mas."
" sama-sama sayangku, aku cinta kamu.."
" hehehe aku juga.. ðŸ¤ðŸ¥°." .
mereka masih berpelukan, tak mau saling melepaskan, seolah cinta nya semakin bersemi, seolah semuanya hanya milik mereka berdua saja ,, "
tok tokk tokk pintu di ketuk, dan masuk lah Riski ke sana, dia melihat bos nya yang saling berpelukan, merasa malu, dia langsung membalikan tubuhnya.
" maaf tuan saya kira.. " ucap Riski terpotong.
" tidak apa-apa Riski, masuk saja." jawab Nanda.
" iya tuan.." Riski masih tertunduk bukan enggan melihat bos nya namun ia sangat malu melihat-lihat hal seperti itu.
" kamu si mas...tuh lihat kan Riski jadi canggung gitu." gerutu Khanza. Nanda hanya terkekeh.
" gak papa yang dia harus terbiasa, hehehee"
" uhhh kamu ini.." Khanza mencubit hidung mancung sang suami.
" aduduuduuuh sakit yank!!maaf yank maaf " Nanda meringis kesakitan,
" awas aja kamu!! jangan ngajarin yang aneh-aneh sama Riski.."
" iya yank!! enggak akan!! maaf nona bos maaf!!"
Riski terkekeh pelan, melihat tingkah kedua bos nya itu, ia tau Nanda begitu mencintai istrinya, dan seperti nya juga Khanza mencintai bos nya,, tingkah mereka lucu, bikin iri saja hehe..
sepertinya memang sudah saat nya ia juga mencari orang yang tepat, di umur yang sudah menginjak dua puluh empat tahun riski sama sekali belum pernah berpacaran, menurutnya buang buang waktu saja, mencari pun harus memulai nya bagaimana ia pun tidak mengerti.
" Riski ada apa kamu mencari saya.."
" maaf tuan, tapi tuan Gio sudah sadar.." kata Riski
" oh syukurlah..." ujar Nanda ia bernapas lega.
" yank ayo kita kesana.." ajak Nanda kepada Khanza. Khanza hanya mengangguk dia mengikuti sang suami untuk keruangan Gio.
setelah berjalan hanya beda beberapa ruangan saja dari ruangan si kembar, sampailah ke ruangan Gio, Khanza dan Nanda masuk ke dalam disana terlihat Gio tengah berbaring, beberapa peralatan masih terpasang di tubuhnya, termasuk infus dan alat napas, Gio tersenyum menyambut Nanda dan Khanza.
" kalian baik-baik saja.." tanya nya..
" kami baik-baik saja, terimakasih tuan Gio, anda telah menyelamatkan istri saya.." ujar Nanda..
" sama-sama.. bagaimana dengan yang lain, apakah masih ada yang terluka.."
" mereka juga dirawat, alhamdulillah semua masih bisa terselamatkan.." jawab Nanda.
" syukurlah.." Gio bernapas lega.
" bagaimana dengan istri saya.." tanya nya lagi.
" Sisil sudah di tangani oleh kepolisian, maaf sebelum nya tuan Gio, tapi sepertinya istri anda kejiwaan nya sudah sakit..." Nanda memcoba membicarakan soal mental Sisil yang memang sudah sakit, mengingat dia juga sudah menyakiti beberapa pihak kepolisian saat dia mengamuk di kantor polisi.
" saya rasa juga begitu, terimakasih ya tuan Nanda."
Nanda tersenyum tulus..Khanza hanya terpaku mendengarkan obrolan kedua laki-laki itu, jadi maksud mereka sisil sudah sakit jiwa!! tapi mengapa? bukan kah dulu ia baik-baik saja. beberapa pikiran muncul di benak Khanza.
" sekali lagi terimakasih, saya ngerepotin jadi nya.."
" ah itu tidak masalah tuan..."
" bagai mana kabarmu ca.." tanya Gio..
" ahhh a-kku.." Khanza terlihat gugup, mendapat pertanyaan dari Gio.
" iya kamu.." Gio tersenyum.
" seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja, terimakasih semua berkat kamu Gio."
Gio tersenyum menanggapi perkataan Khanza, syukur lah wanita itu baik-baik saja, dia lega. mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menebus semua dosa-dosanya kepada perempuan itu..
" mas.."
" iya sayang.."
" bolehkah aku berbicara dengan nya, berdua saja.." ujar Khanza.. Nanda melihat Khanza sekilas, sepertinya istrinya akan membicarakan semuanya dengan Gio, baiklah tidak apa-apa, sudah seharusnya Gio tau si kembar adalah anak-anaknya, Sebagai suami dan ayah, dia tidak boleh egois..
" tentu!!, aku keluar ya." ujar Nanda.
" mas.. terimakasih, " Nanda tersenyum dan mengangguk mengusap lembut rambut sang istri dan mencium keningnya sekilas.
" iya sayang.. mas keluar ya." ujar Nanda, lalu ia keluar dari ruangan Gio,
tinggalah Hanya Khanza dan Gio saja di ruangan, keadaan pun kembali canggung, hanya ada keheningan keduanya merasa bingung mau memulai pembicaraan dari mana.
" Zaa. kamu terlihat berisi sekarang, lebih cantik " Gio memulai percakapan.
" terimakasih.."
" za.. apa kamu bahagi.." tanya Gio.
" ya aku sangat bahagia.."
" syukurlah aku lega dengarnya.."
" aku mau bicara soal anak-anak, sebenarnya mereka adalah anak-anak kamu, kamu ayah biologis mereka.."
" aku sudah tau." jawab Gio.
" benarkah.."
Gio kembali mengangguk, ada kebahagiaan tersirat di wajahnya, akhirnya Khanza sendiri lah yang berbicara kepada dirinya, kebahagiaannya tidak bisa di jelaskan oleh apapun, selain itu. wanita yang di cintai nya itu mau berbicara dengan nya lagi.
" khanza kau tau, melihat wajah mu saja aku sudah bahagia, apalagi kau mau berbicara denganku, cintaku... terimakasih telah mau membesarkan anak-anakku." lirih Gio dalam Hati.
" kamu bisa kok ketemu sama mereka kalau mau.." ujar Khanza.
" za.. apakah mereka mau ketemu sama aku.."
" pasti.. mereka mau, Nanti aku akan bicara dengan mereka, menjelaskan kepada mereka baik-baik.." jelas Khanza.
" terimaksih za, "
" aku yang seharusnya berterimakasih, kalau kamu tidak ada waktu itu, mungkin nyawaku sudah gak ada.."
" jangan berbicara seperti itu za, aku tak suka.."
" kamu masih saja seperti dulu." ujar Khanza, dia tersenyum.
" tidak ada yang berubah za.. semuanya masih sama, termasuk perasaanku."
Khanza paham akan hal itu, Namun semua nya sudah berubah untuknya, dahulu ia pun begitu mencintai Gio, perasaan itu sudah sepenuhnya milik sang suami sekarang, tapi ia berjanji akan berhubungan baik dengan Gio, bagaimanapun Gio juga korban, Khanza tidak meminta semua nya bisa di ulang, dia bersyukur kesalah pahaman ini telah terpecahkan, dan Dia berharap Gio akan di pertemukan dengan orang yang lebih baik kedepannya.
..
.
.
.
.