My Mine

My Mine
pertemuan dengan Nanda



pagi itu Deri dan Khanza berangkat ke tempat yang sudah di tentukan oleh pimpinan yang menanam saham terbesar di kantornya, mereka akan meeting membahas projek baru yang sebelumnya sudah di bicarakan sang pengacara, Deri dengan gagahnya memakai setelan yang rapih seperti pekerja kantor pada umum nya, semua orang di Kantor termasuk pak Yusril memuji betapa gagah nya Deri saat ini, Khanza pun ikut senang akan hal itu.


mereka memasuki Kaffe tempat mereka meeting, Khanza dan Deri menghampiri meja yang sudah ada orang menunggu mereka di sana,


"Permisi, maaf kami terlambat.. " Sapa Khanza kepada orang yang sudah menunggunya itu.


" Dengan nona Khanza, Direktur utama dari PT.COP COPRATION.. " tanya nya.


" Benar saya sendiri.. " ucap Khanza dia menyalami orang itu tak lupa ia selipkan senyum ramahnya.


" silahkan duduk Nona, .. " ujar Riski.


Khanza dan Deri duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk mereka.


" sebelum nya Perkenal kan nama saya Riski Danuarta, saya selaku Asisten pribadi CEO dari perusahaan CV. INTERNATIONAL, senang sekali bisa bertemu langsung dengan direktur utama COPRA. " Ucap Riski memperkenal diri sebagai asisten pribadi dari pimpinannya.


" saya juga senang dalam kesempatan ini, bisa bertemu langsung dengan anda.. " ucap Khanza tanpa sungkan.


" sebelum nya perkenal kan Deri asisten saya.. " kata Khanza memperkenalkan Deri.


Deri menyalami Riski tanda perkenalan dan mereka kembali membicarakan materi untuk meeting.


" sebelum nya saya minta maaf sekali, pimpinan kami sedikit terlambat,.. " ucap Riski.


" sama sekali tidak masalah Tuan, kita bisa membicarakan nya sekarang tanpa halangan apapun, . " kata khanza, Riski pun tersenyum mengiya kan.


mereka bertiga berkalut dengan pembicaraan rencana pembangunan Resort di daerah dago Bandung.


projek baru perusahan memang akan membangun sebuah resort di bandung, dan perusahaan CV. INTERNATIONAL adalah penanam saham terbesar di projek ini.


satu jam telah terlewati, strategi demi strategi pembanguna sudah mereka bahas dan Khanza sangat puas untuk meeting kali ini.


" maaf saya terlambat,," ucap seorang laki-laki yang menghampiri meja mereka.


Khanza melihat orang itu, bagai jatuh dari atas pohon yang tinggi, Khanza melihat teman lama nya ada di depan dia, dan dia adalah partner kerja nya saat ini. Entah harus senang atau takut, Khanza tidak bisa berkata apapun, lidahnya sangat kelu, dia hanya terpaku di tempatnya.


Nanda pun merasakan Hal yang sama, wanita yang di cari-carinya selama ini, wanita yang sangat ia rindukan, wanita yang ia cintai, Hadir di depan nya bahkan sebagai partner, hal yang tak terduga sebelumnya oleh dirinya.


mereka berdua tercengang, berkalut dengan pikiran nya masing-masing.


sedangkan Deri hanya tersenyum menyaksikan calon suami istri ini terpana saat pandangan pertama. dia tak mengetahui apapun kalau ternyata kedua manusia ini sudah saling mengenal, bahkan lebih dari kata mengenal.


" eeekheem.. " Riski berdehem, membuyar kan Khanza dan Nanda yang saling tatap dan tak bergeming itu.


" Tuan,, ini nona Khanza Brama Wijaya, dia adalah direktur utama dari PT. COPRA, dan ini adalah Deri asisten pribadinya. " ucap Riski.


Nanda mengangguk mengerti, dia masih tak bergeming dan masih sedikit kebingungan dengan apa yang terjadi di hidupnya.


" Deri sejak kapan beralih menjadi Asisten, bukannya dia jadi bodyguard di rumah almarhum tante Diana.!! " lirih Nanda dalam hati ia benar-benar kebingungan.


Khanza diam tak bergeming, keadaan nya menjadi sangat kaku, Khanza bingung harus ngomong apa jika Nanda bertanya sesuatu kepadanya, ahh ini sangat rumit sekali Bantin Khanza.


" saya permisi ke toilet sebentar.. " ucap Nanda undur diri..


mereka semua mengangguk, Khanza berniat akan segera pulang jika meeting sudah selesai, sebisa mungkin dia harus segera pergi dari hadapan Nanda sebelum laki-laki itu bertanya sesuatu, Khanza harus menjelaskan dari mana jika laki-laki itu bertanya yang aneh-aneh kepadanya.


" saya rasa, saya harus pulang sekarang pak Riski, pembahasan nya mungkin cukup sampai disini saja dulu, nanti akan saya bahas dengan para petinggi perusahaan .. " ucap Khanza.


" baiklah nona Khanza, saya ucapkan terimakasih banyak.. "


Khanza mengangguk, dan menyalami Riski kemudian undur diri, ia masih sangat syok setelah bertemu Nanda. bahkan laki-laki itu sudah bertahun-tahun hilang dari pikirannya. bagaimana kalau dia masih suka berhubungan dengan keluarganya, apakah dia akan bilang kepada mereka semua kalau dia menemukan Khanza. bagaimana ini, kenapa dunia ini terasa sangat sempit bagi Khanza, pegitulah isi pikiran Khanza di tengah ketakutannya.


Khanza dan Deri pergi ke parkiran untuk menaiki mobil nya.


" za.. boleh aku minta sekarang pulang lebih awal.. " minta Deri. Khanza mengernyitkan sebelah alisnya


" hari ini mau mempersiapkan semuanya kebetulan keluarga dari jogja datang sekarang, dan mulai hari besok aku cuti ya za.. " jelas Deri.


Khanza mengangguk pelan, dan meng iya kan permintaan Deri. persiapan pernikahan sangat penting untuk Deri sekarang.


" boleh banget Der, nanti aku yang urus-urus ya di kantor. dan good luck ya Der.. " ucap Khanza.


" makasih ya za, oh ya gak papa bawa mobil sendiri, aku mau langsung nih. "


" iya gak papa hati-hati Der.. "


" beres bu Direktur.. " ucap Deri dan berlalu meninggalkan Khanza.


khanza menggeleng sedikit kepalanya dan terkekeh pelan, dia tidak menyadari bahwa ada sosok mata yang memandang nya tajam dari jauh.


" aku rasa sangat tidak sopan meninggal kan klien tanpa pamit terlebih dahulu.. " ucap Nanda Lantang.


Khanza melihat ke arah Nanda dan mata mereka kembali bertemu, begitu mendebarkan menurut Khanza, dia ketakutan, Nanda sekarang sudah banyak berubah menurutnya.


" Nanda.... hai.. " Khanza sangat gugup terlihat dari badannya yang gemetar. dia memberanikan diri menyapa.


Nanda menghampiri Khanza, dia menatap lekat wajah yang dia Rindu selama ini.


" Aku rasa kita perlu bicara za.. " ucap Nanda.


" bb boleh.. " ucap Khanza, dia benar-benar gugup. takut Nanda bertanya hal-hal yang tak ingin ia bicarakan.


" mobil kamu.." Nanda menunjuk mobil honda jazz kesayangan Khanza.


" iya.. kenapa.. " tanya Khanza.


" mana kuncinya.. "


dengan lemas, Khanza memberikan kunci mobil milik nya kepada Nanda.


" masuk.. " ucap Nanda ketika ia sudah memasuki mobil dan duduk di stir kemudi. mau tak mau Khanza masuk mengikuti permintaan Nanda.


" kita mau kemana,," tanya Khanza.


" tempat dimana yang orang tidak tau.. " Nanda masih menatap Khanza dingin.


di benak nya begitu banyak pertanyaan, kenapa dia meninggal kan nya tanpa kabar, Khanza harus bertanggung Jawab dengan semua penderitaan yang ia rasakan selama ini, Nanda akan meminta pertanggung jawaban itu dari Khanza.


khanza diam tak bergeming, dia takut dengan ekspresi Nanda yang tak bisa ia baca, namun Khanza memilih diam dan mengikuti kemana Nanda membawanya pergi.


mobil terparkir di sebuah basment apartemen mewah di daerah jakarta pusat, tempat Nandana tinggal sendiri. Nanda meminta Khanza turun dan mengikutinya, dengan terpaksa Khanza mengikuti Nanda, baginya teman yang sekarang ada di hadapan nya sangat berbeda dengan teman yang dulu pernah mengisi hari-hari Khanza.


Nanda yang ada di hadapan nya begitu dingin, tatapan nya tidak terbaca, dia mengutuki dirinya sendiri kenapa dia tidak mencari tahu dulu, siapa yang akan menjadi partner kerjanya itu.


Khanza duduk di ruang apartemen milik Nanda, ia celingak celinguk melihat-lihat interior ruangan itu.


" Nanda.. apa yang ingin kamu tanyakan dengan saya.. " tanya Khanza.


" pertama-tama saya ingin bertanya, kenapa kamu menghilang??.. " Nanda malah balik bertanya, pertanyaan yang sulit Khanza jawab. inilah yang Khanza takutkan.


" maafin saya Nanda.. " Lirih Khanza, tidak tau apa yang harus dia bicarakan dengan Nanda.


Nanda masih memandangi Khanza penuh dengan pertanyaan, rasanya isi kepala nya pun penuh dengan kata kenapa ia meninggal kannya dan menyiksa batinnya selama ini.


"tolong Khanza jangan buat aku tersiksa setidak nya berilah kepastian. " batin Nanda.


Bersambung🌺