My Mine

My Mine
waktu bersama



setelah menyelesaikan semua pekerjaan Nanda terlihat menaiki tangga dan masuk ke kamarnya, ia tertegun berdiri di ambang pintu melihat sang istri sedang tertawa bersama anaknya. lama dalam keadaan itu.


Khanza melihat sang suami, dan ia tersenyum.


" mas... " sapa Khanza.


Nanda masuk bergabung dengan sang istri dan anak-anaknya, tanpa meminta izin Nanda ikut berbaring dengan mereka, tentu itu menjadi hal yang menyenangkan untuk si kembar, mendapati kedua orang tuanya ada di rumah.


harapan si kembar menjadi kenyataan mendapati keluarga yang lengkap seperti ini.


" sudah selesai kerjaannya mas.." tanya Khanza kepada suami nya.


" sudah... oh iya yank, kamu tidak usah ke kantor lagi atau mengurus pekerjaan apapun selama hamil, kamu hanya perlu di rumah bersama anak-anak.. " ujar Nanda.


" kenapa seperti itu mas.." Khanza heran, ada apa lagi dengan suaminya itu mana bisa dia meninggalkan pekerjaan, pasti Deri akan sangat kerepotan.


" ini demi kebaikan kamu, mas gak mau kamu kecapean. dan untuk semua urusan kantor biar mas yang urus, mas bisa ko. mas udah atur semuanya.." jelas Nanda. dia hanya berharap Khanza mengerti, lagi pula ini untuk kebaikan Khanza..


Khanza hanya diam tak bergeming, terlihat ia sedang memikirkan hal itu.


" sayang-sayangnya ayah kalian senangkan kalau ibu ada di rumah, bisa antar kalian sekolah pula.." kata Nanda menatap si kembar.


" jadi ibu akan di rumah gak bekerja ayah.. " tanya kel. menatap Nanda dengan mata polosnya, dan Nanda mengangguk tak lupa ia selipkan senyum untuk meyakinkan putranya.


" hore... kami mau ayah, kami mau ibu gak kerja.." ucap si kembar, mereka berhamburan memeluk Nanda.


Khanza hanya menatap adegan itu, ia hanya tersenyum begitu bahagianya anak-anak kalau Khanza berada di rumah.


selama ini memang dia sering tidak ada waktu untuk si kembar, sibuknya pekerjaan harus membuat Khanza pulang larut malam.


dan ketika pulang si kembar sudah tertidur pulas, Khanza sering merasa bersalah akan keadaan itu ia ingin menghabiskan banyak waktu untuk anak-anaknya, Namun keadaan menuntut Khanza jauh dengan anak-anaknya.


.


.


.


si kembar meminta Nanda membacakan buku cerita sebelum tidur, dengan telaten Nanda membacakan cerita itu, si kembar hanya mendengar apa yang Nanda bacakan dari buku cerita, sesekali si kembar meminta Nanda membaca ulang setiap Kata yang mereka tak mengerti Dengan telaten Nanda akan membacakan lagi.


Khanza hanya menatap keadaan itu, sesekali ia melihat sang anak yang pokus mendengarkan cerita dari Nanda ia tersenyum bahagia keluarga lengkap ini yang selalu Khanza harapkan, keadaan ini yang selalu ia bayangkan.


setelah mendengar cerita si kembar tertidur , Nanda juga membenarkan letak tidur si kembar agar lebih nyaman untuk mereka.


" biar aku panggil bibi untuk mindahin mereka ya mas.." ujar Khanza.


" jangan sayang biarkan mereka tidur sama kita malam ini." bantah sang suami.


" emang nya gak apa-apa mas.. " tanya Khanza.


" gak apa-apa dong sayang "


Khanza tersenyum


" sudah ngantuk belum." tanya Nanda. Khanza menggeleng.


" belum mas "


" nonton tv yu. " ajak Nanda.


kedua manusia itu duduk di kursi, dan Nanda menghidupkan tv, dengan Nyaman Khanza menyenderkan kepalanya di pundak Nanda. dan Nanda juga merangkul tubuh sang istri dengan penuh kasih sayang.


selama ini kehidupannya sudah banyak berubah karena kelahiran si kembar, berlipat-lipat kebahagiaan yang di berikan oleh sang ibu, dan tuhan juga memberikan sosok suami yang penyayang, Nanda sangat menyayangi anak-anaknya, Khanza sangat bersyukur dia membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.


" mas.. " kata Khanza.


" iya sayang. " jawab Nanda.


Nanda menghadapkan tubuh Khanza dengan nya, dia menatap wajah sang istri lalu menciumnya bibirnya sekilas.


" sudah seharusnya aku melindungi kamu dan anak-anak, tidak akan ku biar kan siapapun berani merusak rumah tangga kita. " ujar Nanda.


tak segan Khanza memeluk tubuh Nanda erat, kebahagiaan nya tidak bisa di jelaskan oleh apapun, Khanza kembali menatap wajah sang suami, dia memajukan wajahnya dan memberanikan diri mencium sang suami terlebih dahulu.


dengan senang hati Nanda menerima perlakuan sang istri, ia mulai mel*m*t bibir sang istri dengan lembut, mengeksplor semua kerinduannya, tidak ada Nanfsu, mereka berciuman dengan penuh kasih sayang saling bertautan seolah lagi menjelaskan betapa mereka saling menyayangi, Nanda melepaskan ciumannya dan mencium kening Khanza lembut, menatap wajah sang istri yang begitu di cintainya itu, ia ingin berkata kepada dunia bahwa dia begitu mencintai istrinya, namun lagi-lagi ketakutan di benci oleh sang istri muncul dalam pikirannya.


Nanda kembali mencium istrinya dengan lembut, mereka kembali berciuman. Nanda sangat membenci pikiran itu, namun ketakutan di tinggal sang istri benar adanya, belum pernah ia merasakan cinta yang luar biasa seperti ini.


malam itu mereka hanya berciuman saja tanpa melakukan hal-hal yang lebih dari itu. Nanda takut sang istri kecapean dan harus di rawat lagi, itu alasan nya ia menahannya. meski ia ingin, sudah berhari-hari ia tak menyentuh tubuh istrinya, Namun Nanda menekan kuat rasa egoisnya, agar sang istri selalu baik-baik saja.


Nanda hanya memeluk tubuh sang istri kemudian ia tertidur. sedangkan Khanza hanya terkekeh geli, ia tau bahwa sang suaminya itu menginginkan dia, saat suami nya memeluk Khanza dari belakang, Khanza juga merasakan kepunyaan suaminya sudah on fire.


Akhirnya Khanza ikut tertidur menyusul sang suami dan si kembar untuk berkalut di alam mimpi.


.


.


.


semilir angin pagi menyeruak, keadaan hujan pagi itu membuat ke empat manusia itu tampak nyaman di balik selimut.


Khanza mengercipkan matanya ia terbangun mendapati sang suami dan anak-anaknya masih terlelap berkalut di alam mimpi masing-masing.


Khanza mencium kedua anaknya dan beranjak untuk membersihkan badannya, keadaan masih sangat pagi untuk membangunkan suami beserta anak-anaknya. setelah membersihkan badan Khanza turun dan membantu sang asisten menyiapkan sarapan pagi.


" selamat pagi non.. " sapa bi susi ketika mendapati Khanza ada di dapur.


" pagi bi.. "


datang juga Ayu ke dapur, dia sudah terbiasa menyiapkan sarapan untuk suami nya juga.


" zaa.. lo ngapain di dapur.." ujar Ayu. ia sedikit khawatir dengan keadaan sahabat nya itu.


" gw juga mau ikut membuat sarapan.." jawab Khanza.


" emang udah gak apa-apa za. " tanya Ayu.


" aman ibu Ayu.. "


keduanya pun terkekeh..


Akhirnya mereka berkolaborasi membuat sarapan untuk para suaminya.


Ayu juga senang sahabatnya itu tidak akan pergi bekerja, sesama ibu hamil keduanya akan melakukan aktivitas seperti senam dan hal yang lain nya bersama-sama.


mereka tersenyum senang masakan hasil kolaborasinya tertata rapih di meja makan.


terlihat para istri itu masuk ke kamarnya untuk membangunkan para suaminya itu untuk bersiap-siap bekerja dan sarapan pagi bersama.


.


.


.


.


.


🌺🌺🌺🌺🌺