My Mine

My Mine
sebuah kenyataan



masih lanjut ya readers 😘🌺


Khanza masih mengelus kedua anaknya sayang, di dekapnya sang anak itu,...


sambil sedikit bernyanyi, agar kedua anaknya kembali tertidur.


setelah anak-anak nya kembali berkalut ke alam mimpi, Khanza membersih kan badanya,


cukup melelahkan pikirnya.. merendam tubuh nya di bathup, dan menyalakan lilin aromatherapi agar pikiran nya kembali rileks..


satu jam ia baru selesai dengan acara mandinya itu Khanza keluar dan memakai piyama tidurnya, dia mendapati sang babysiter si kembar nya itu belum tertidur..


"belum Tidur bi.. " tanya Khanza.


" belum non, takut ada yang masih Non perluin.. " ucap Bi Indri.


" kaya nya gak ada deh, tidur aja bi, udah malam.".


Kata Khanza.


" kalau gitu bibi tidur duluan ya Non.. " ucap bi Indri..


" Iya bi selamat malam.. "


" iya non.. "


Khanza memilih pergi ke balkon dan berbaring di sana, sambil menikmati kopi latte kesukaan nya.


dia melihat hingar bingar kota jakarta selatan dari atas sana, sesekali menyeruput kopi nya, dan memikirkan, besok malam ia harus sudah makan malam bersama keluarga Adji Prasata, itu artinya besok ia akan ketemu dengan calon suami nya, sungguh ini hal yang paling mendebarkan menurut Khanza...


" aku yakin ini yang terbaik dan sudah jalan takdir ku tuhan, tak apa ia tak mencintaiku, asal kan ia mencintai kedua anakku. " lirihnya...


kemudian Khanza memejamkan matanya, dan sedikit membenarkan posisinya agar lebih nyaman.


.


.


.


sementara Riski dan Nanda masuk ke kediaman adji Prasta, mereka di sambut oleh asisten nya, yang merasa senang, bahwa tuan nya pulang ke rumah.


" bii.. mama sama papa dimana.. " tanya Nanda, yang tak mendapati kedua orang tuanya.


" ibu sama bapak, ada di ruang baca tuan.. " ucap sang asisten itu.


" oke terimakasih... Riski kamu boleh pulang sekarang.. " titah Nanda.


" terimakasih tuan, kalau begitu saya pamit, selamat malam tuan.." ucap Riski.


" ya malam.. "


riski keluar dari kediaman itu, dan Nanda pergi keruang baca untuk bertemu dengan orang tuanya.


" eh nak.. tumben pulang.. " sapa bu Laras, mendapati anaknya masuk..


Nanda memeluk kedua orang tuanya itu bergantian.


" ma ada yang mau Nanda omongin.. " ucap Nanda kemudian.


mereka duduk di kursi yang ada di ruangan itu, dan keadaan pun berubah menjadi tegang, seolah akan ada pembicaraan serius.


" ini soal perjodohan Nanda. " Kata Nanda.


" ada apa Nak, apa sekarang kamu udah menerima nya, besok malam kita ada makan malan bersama loh.. " ucap sang ibu lembut.


" boleh di ceritaan soal wanita yang akan menikah dengan Nanda itu. " kata Nanda. kedua orang tua itu saling berpandangan, lalu pak Bayu mengangguk, seolah membolehkan istri untuk bercerita.


" Namanya Khanza,.. " ucap sang ibu


jelas itu membuat Nanda sangat terkejut, dia menyesali kenapa ia tak pernah bertanya soal nama orang yang akan di jodohkan dengan nya itu.


" saat pertama kali Almarhum Diana menemukan nya pingsan di jalan, di ketahui ia mengandung si kembar. dia di bawa kerumah sakit, karena keadaannya memang sangat kritis, Khanza sedang hamil muda saat itu dan dia punya beban pikiran yang sangat berat. " ucap bu Laras tertahan.


" waktu itu Khanza bercerita, bahwa dia tak punya siapa-siapa di jakarta, ia sengaja pergi dari keluarganya, karena ada janin di perutnya, dia tak bisa membuat keluarga nya menambah penderitaan karena aib nya, karena khanza tidak bisa membuang janin nya pada saat itu.. "


Nanda mendengarkan cerita bu Laras tak bergeming, dia meresapi kata demi kata agar ia mengerti.


" akhirnya Diana mengangkat dia sebagai anak, membuat Khanza bahagia, dan Khanza harus melupakan kesedihan nya. waktu itu diana meminta mama, untuk menjodohkan kalian, karena waktunya diana tidak akan lama, dia di diagnosa punya kanker rahim Diana meminta setelah dia tiada, keluarga kita akan menggantikan mengurus khanza, karena Diana ingin Khanza bahagia... " kata bu Laras menghentikan ceritanya.


Nanda tertunduk lemas, begitu menderitanya wanita yang dia cintai itu. dia menyesali tak mau menemui Khanza dari awal, dia menyesali tak bisa ada saat wanita itu membutuhkannya..


air matanya mengalir.


" kenapa mama dan papa gak pernah cerita dari awal.. " lirih Nanda.


" Diana melarang kita, dia gak mau kamu menikahi Khanza karena kasihan, dia Ingin Khanza bahagia, kamu harus menikahi nya karena kamu memang mencintainya, itu sebab nya lima tahun ini dia memberikan kesempatan.." Bu Laras menjelaskan.


" kau tau Nanda, setelah papa bertemu dengan Khanza, pertama kalinya, papa langsung suka, anak nya sangat baik, dan sangat cantik. papa yakin kamu akan suka. " kata Pak Bayu.


Nanda masih mencerna apa yang orang tuanya bicarakan, ia menyesali sepanjang ia terus menolak menemui Khanza selama ini...


" kapan acara jamuan makan malam itu.?.. " Nanda bertanya kepada orang tuanya.


" besok malam nak, kamu harus mau ya.. " ucap sang mama penuh harap.


" baik lah ma... "


kedua orang tua itu memeluk anaknya, merasa bahagia karena anaknya pada akhir nya mau untuk menikah, setelah bertahun tahun ini kekeh dengan pendirian nya


" Nanda ke kamar ya ma pa, mau istirahat dulu.. "


kedua orang tua itu mengangguk setelah anak nya keluar mereka berpelukan merasa bahagia, dengan keputusan putra semata wayangnya itu.


Nanda naik ke kamarnya, setelah membersihkan badan. Nanda membaringkan tubuhnya di ranjang, memikirkan wajah wanita yang di cintai itu, terus mengutuki kebodohannya, hingga bertahun-tahun ini membiar khanza menderita..


" bodohnya kamu Nanda, padahal khanza berada dekat di sekitar kamu, bahkan anak-anaknya pun, sangat dekat dan sering bertemu, kenapa tidak kamu sadari Nanda, bahwa benar, anak-anak itu sangat mirip dengan Khanza, kenapa cinta ini malah membuat kamu tak ingin bertemu dengan jodohmu Nanda.. " lirihnya, Nanda terus memaki dirinya sendir.


dia terus termenung, entah harus bahagia atau sedih, dia bahagia ternyata usaha nya tidak pernah menghianati hasil, cintanya itu akan kesampaian Khanza akan menikah dengan nya..


Nanda ingin semuanya cepat terjadi, Nanda ingin segera memiliki Khanza, dia senang memikirkan Khanza waktu itu bilang akan menikah, Khanza tidak tau bahwa dialah yang akan menjadi suaminya....


" baiklah Khanza tunggu aku, kita akan bahagia sama-sama, maafin aku Khanza, hanya bisa mencintai kamu dalam diam, dan dalam doa, aku senang kita akan segera bersatu, setidaknya aku tidak perlu mengutarakan isi hatiku, aku tidak perlu takut akan kehilangan kamu lagi, kamu akan menjadi milik ku selamanya.. " Lirih Nanda..


dia mulai memejamkan matanya, sambil bermimpi akan bertemu sang pujaan yang selalu dia impikan itu