
.
.
.
.
.
setelah menidurkan si kembar, Khanza harus kembali ke kamarnya, Khanza harus bertemu dengan suami yang sudah menunggunya,
ia bukan tak ingin namun keadaannya memang sedikit susah di kontrol akhir-akhir ini. Khanza selalu tak pernah menolak semua sentuhan suaminya, bahkan jika harus jujur ia seperti tak tahu malu, ketika sudah di sentuh suami nya, ia selalu meminta lebih.
Khanza masuk ke kamarnya, dan mendapati sang suami sudah berada di atas ranjang, dan duduk disana, di pangkuannya terdapat sebuah laptop yang menyala, suami nya masih bergelut dengan laptopnya.
terkadang Khanza merasa bersalah dengan suaminya, bahkan dalam keadaan di rumah pun suami nya masih harus bekerja, jika di lihat Nanda sangat tampan ketika serius seperti itu... lagi dan lagi Khanza terpesona oleh suaminya.
kadang Khanza suka aneh, kenapa tidak dari dulu ia mempunyai perasaan suka ini. aura ketampanan Nanda memang tak bisa Khanza elakan, ia paham kenapa dulu di kampus cewe-cewe selalu histeris ketika melihat Nanda, termasuk Cerly yang ia ketahui begitu tergila-gila dengan Nanda.
Khanza berjalan dan ikut bergabung di ranjang ia sedikit membaringkan tubuhnya.
" mas!!. masih kerja aja." kata Khanza ia melihat suami nya begitu pokus dengan layar laptopnya.
" iya sebentar lagi selesai.." Nanda tetap tak lepas dari layar laptopnya..
Khanza paham kerjaan suaminya ini memang sangat banyak, di tambah dengan tanggungan dari perusahaannya, namun suami nya sama sekali tidak terlihat lelah, Khanza melihat bahwa suami nya sangat menikmati semua pekerjaannya.
mata Khanza masih terbuka, ia menunggu suaminya menyelesaikan semuanya pekerjaan, rasa aneh jika Khanza meninggalkan suaminya tidur.
" yank!!, belum tidur. " Nanda mematikan laptopnya, dan ikut berbaring bersama Khanza. dia mencium kening sang istri sayang.
" aku nungguin kamu mas. "
perlakuan Nanda selama ini tidak membuat Khanza sadar bahwa suaminya ini begitu mencintainya, begitu pun dengan Nanda ia tak pernah tau apa yang di rasakan oleh Khanza selama ini.
alhasil keduanya saling menikmati kebersamaan tanpa tau perasaannya masing-masing.
" yank.!! aku mau nagih apa yang kita bicarakan tadi hehehe.." goda Nanda.
" ih kamu apaan si.. " Khanza semakin membenamkan kepalanya di balik dada bidang sang suami, ia begitu malu dengan Nanda yang selalu mengodanya.
" hehehe.. " Nanda hanya terkekeh gemas.
Nanda kembali menatap wajah lekat sang istri, sangat dalam.. dia menilisik semua keraguan yang dia rasakan. namun lagi-lagi ia sadar perasaan nya kepada sang istri begitu dalam ia rasakan,
kini posisi Nanda berada di atas Khanza, namun ia tidak menindih area perut Khanza karena ia tau di sana ada dede hasil buah cinta nya bersama sang istri.hehhe....
Khanza ******* pelan bibir sang istri, sangat dalam dan penuh perasaan. Khanza juga merespon semua perlakuan sang suami perlahan memejamkan matanya, menikmati sentuhan sang suami yang selalu membuatnya terbang bagai ke langit ke tujuh.
" mas.. " lirih Khanza suaranya sangat parau... keadaannya yang sedikit panas. karena suaminya sudah memainkan lidahnya di leher jenjang milik nya.
Lagi-lagi Khanza tidak menolak, dia tercekat, dengan desahan tertahan.. lagi-lagi tubuhnya selalu meminta hal-hal lebih dari itu...
mereka kembali saling terpagut, Nanda pun mengeksplore semua kerinduan disana, tubuh sangat istri benar-benar candu, yang tak pernah bosan ia sentuh....
" sayang... i love you sayang.. " begitulah racau Nanda ketika mereka saling terpagut. mereka sama-sama terbang ke langit ke tujuh, hingga Khanza pun tidak menghiraukan apa yang di racaukan sang suami. ia juga menikmati apapun yang di lakukan suaminya.
setelah beberapa Jam terpagut. akhirnya Nanda menyelesaikan pagutannya, setelah Khanza sudah pelepasan berkali-kali, tapi Nanda sangat kuat hingga baru pelepasan setelah dua jam mereka terpagut..
" aarrgggghhh.. " racau keduanya ketika mendapati pelepasan. berkali-kali Nanda mencium dahi Khanza yang di penuhi peluh keringat.
.
.
.
.
.
Achad Yani International Airfort.
.
.
.
sekumpulang orang berada di sana, pesawat yang di tumpangi mereka sudah landing.
" Khanza..." teriak Uci dan Mita.
terlihat Khanza mengacungkan tangan nya dan melambai-lambai meminta para sahabatnya itu ikut gabung..
" syukurlah udah kumpul semua nih.." ujar Ayu dia melihat satu persatu teman-temannya sudah lengkap.
" langsung ke penginapan apa ya.." tanya Panji.
" emm pegel nih udah pengen baringan.." sambung Dimas, terlihat dimas sangat kerepotan membawa tas miliknya dan milik Mita juga.
" kalau mau nginep nya di rumah aku aja, biar sekalian ngumpul rame-rame.." ujar Nanda.
sontak semu mata menatap nya heran, dan penuh prtanyaan.
" broo.. emang kamu ada rumah di sini..???" tanya Deri. yang lain pun masih melihat ke arah Nanda.
" punyalah... cukup kalo buat nampung lo semua disini hahaha.. " gelak tawa Nanda membuat semua orang brigidig ngeri, iya semua orang tau, dia adalah salah satu orang no satu di indonesia, Hanya beli rumah di semarang aja sangat kecil untuknya.
akhirnya mau tak mau semua ikut dengan Nanda mobil jemputan mereka konpoi menuju kediaman Nanda yang ada di semarang.
ya... mereka sekarang sedang berada di semarang, dua hari lagi Hendrik akan menikah, sesuai yang Khanza bicarakan sebelumnya semua teman-temannya ikut.
sengaja ia datang lebih awal, mereka ingin menghabiskan waktu lebih lama di semarang, katanya kota itu banyak sekali wisata untuk bersantai, dan banyak pula pantai-pantai yang indah. itulah sebab semua teman-teman Khanza sangat antusias ketika mereka di ajak oleh Khanza ke tempat kelahirannya.
" ibu kami ngantuk.. " ujar si kembar, mereka masih dalam perjalanan. mata si kembar terlihat sayu.
" yaudah sini bobo dulu nak. " Khanza dengan telaten membaringkan si kembar agar mereka Nyaman untuk tidur. Nanda hanya melihat tingkah gemas si kembar, selama di pesawat si kembar tidak tidur sama sekali, mereka terlalu bersemangat untuk bertemu kakung, uti dan pakde nya. alhasil sekarang mereka kelelahan dan meminta tidur.
padahal perjalanan dari bandara ke kediaman Nanda memang masih sangat Jauh...
Khanza melihat ke arah jendela, kota kelahiranya sudah ia tapaki sekarang, ia sedikit terharu, karena bisa menginjakan kaki di kota kecil penuh cerita itu. awalnya ia tak pernah punya pikiran akan kembali ke semarang.
bayang-bayang semasa ia kecil dulu juga terlihat di sana, ketika ia melewati taman kota, yang sering ia kunjungan kalau untuk membeli jajanan angkringan. dia begitu merindukan sesuatu yang memang tidak bisa kembali terulang.
Nanda melihat perubahan mimik wajah Sang istri, ia mengelus halus tangan sang istri,
" bukankah semua masih tampak sama.." tanya Nanda dan Khanza mengangguk pelan.
dia ingin pergi ke tempat yang paling ia sukai di sana, ia akan memberi tahu teman-temanya jikalau masa kecilnya begitu sangat membahagiakan di sana....