My Mine

My Mine
sisil dengan sifat aslinya



🌺🌺🌺


.


.


.


kejadian di Kaffe itu masih terngiang di pikiran Khanza, dia menyenderkan kepalanya di jendala mobil..


" sayang... " tanya sang suami, dia begitu yakin istrinya masih syok karena pertemuan dengan mereka.


" ya.. " lirih Khanza ia menatap suaminya.


" tidak perlu kamu pikirkan tidak akan terjadi apa-apa."


" aku percaya sama kamu mas.." Khanza memegangi tangan suaminya, berharap apa yang di bicarakan suaminya benar adanya...


dia hanya takut sisil mengganggunya kembali, ketakutan itu benar adanya, karena ia tau, sisil selalu nekat jika sudah melakukan sesuatu, tapi mudah-mudahan saja orang itu memang sudah berubah. dan tidak kembali mengganggu keluarganya.


Khanza dan semua orang telah sampai di kediaman Nanda mereka masuk dan sama-sama merebahkan tubuhnya di ruang keluarga.


" bentar ya yank, aku harus kerja.." kata Nanda.


" iya sayang.."


Nanda berlalu dari kumpulan orang-orang itu dan terlihat memasuki ruangan kerja nya.


sedangkan teman-teman Khanza yang lain masih bertukar cerita ria, sesekali mereka tertawa..


"zaa... gw tebak, pasti cewe tadi adalah sahabat lo yang lalu kan.." dari tadi memang Uci sangat penasaran, dan benar saja Khanza mengangguk membenarkan


" WHAATT." pekik Uci, lagi-lagi ia menampilkan ekspresi yang tak biasa.


" dan laki-laki itu mantan lo za. " tanya mita.


lagi-lagi Khanza mengangguk, dia menghela napas berat lalu memejamkan matanya.


" mau ngapain lagi mereka za," ujar panji.


" entahlah.." dia pun sangat bingung dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba.


meskipun begitu, pikirannya tetap positif tinking, tak mau punya pikiran buruk tentang mereka, Khanza selalu berpikir bahwa benar mereka menyesal dengan perbuatannya..


.


.


.


di sisi lain Nanda sedang melakan telepon dengan asistennya. dia sedang berbicara serius dengan asisitennya itu.


" gimana riski..." tanya Nanda.


" belum ada perubahan tuan, sepertinya Tuan Gio Pernando tidak melakukan pencari tahuan lagi, memangnya kenapa tuan.. "


" entahlah Riski sepertinya ada yang tidak beres dengan mereka.."


" tuan tenang saja saya akan melakukan pencegahan sebisa saya, jangan Khawatir tuan!!,"


" saya percaya sama kamu Riski, lakukan apapun untuk melindungi istri saya.. "


" baik tuan." jawab Riski patuh.


Nanda mematikan sambungan teleponnya.


dia sedikit menyenderkan kepalanya, dan memijik pelipisnya yang sedikit agak pusing...


lagi-lagi ia harus berhadapan dengan orang-orang seperti mereka, ia yakin mereka tidak tulus, apalagi ketika melihat dan menyelidiki mimik wajah sisil, yang nampak masih sangat kaget dengan kemajuan Khanza sekarang, perempuan itu pasti semakin membenci Khanza ketika tau Khanza selalu berada di atasnya.


.


.


.


.


.


" kamu sudah tau keberadaan Khanza kenapa tidak memberitahu ku.." pekik Sisil kepada suami nya,


" untuk apa saya memberi tau kamu semuanya, tak ada guna nya bukan.."


" aarrrrggghhhh" Sisil mengerang.


ia marah.. apalagi tau sekarang Khanza sudah sukses punya perusahaan sendiri, dan suami seorang CEO, berani-beraninya Khanza merebut Nanda darinya, begitulah pikiran sisil.


dia marah, kenapa dunia selalu berpihak kepada Khanza, padahal ia ingin melihat Khanza terpuruk karena masalah yang ia hadapi dahulu, ia ingin mental moral Khanza rusak karenanya, ia benci dengan kenyataan bahwa Khanza baik-baik saja.


" jangan pernah macam-macam kamu, saya tidak ingin punya masalah apapun... " tegas Gio sebagai suaminya ia tak bisa membiarkan istrinya melakukan apapun.


" Banci..." teriak sisil, ia beranjak dari hadapan suaminya masuk ke kamar dan membanting pintu dengan sangat keras.


Gio hanya menghela Napas berat begitulah istrinya, selama ini ia juga tertekan dengan semua sikap Sisil, namun mau bagaimana lagi, sikap sang istri tidak bisa ia rubah, seorang pembangkang yang akan sangat murka ketika di kasih tau.


Gio tidak habis pikir, padahal yang ia tau, Sisil sangat lembut ketika dulu berteman dengan mantan pacarnya, apakah kelembutan nya juga hanyalah sebuah topeng, entah lah Gio pun tak tau, dia membanting kan tubuhnya di atas kursi dan bernapas sangat berat, ternyata rasa Dendam ini telah banyak memberikan penderitaan dalam hidupnya..


" Khanza... " lirihnya, tiba-tiba ia teringat dengan kedua anak itu, anak yang begitu mirip dengan nya, kenapa ia merasa bahwa itu adalah anaknya,


" benarkah mereka anakku," lirih Gio.


satu air matanya menetes,..


sudah terlambatkah, jika ia ingin mengakui mereka, apakah Khanza akan membiarkan ia bertemu dengan anak-anaknya kembali.


" tuhan.. kau boleh menghukumku atas semua kejahatanku, tapi jika memang benar mereka anakku, kasih aku kesempatan agar mereka juga bisa memanggil aku papah, dan menganggap aku sebagai ayah biologisnya. " lirih Gio.


semua sikap semua perlakuan dan semua kasih sayang yang ia berikan kepada Khanza adalah nyata, bahkan malam itu, ia merasa beruntung karena dia adalah orang yang pertama mengambil kesucian milik Khanza, dia melakukannya dengan sangat lembut, dia melakukan nya atas dasar cinta,,, lagi-lagi Gio mengutuk dirinya sendiri karena sudah membiarkan cinta nya pergi, beribu-ribu penyesalan penusuk nalurinya dan pikirannya.


.


.


.


" sayang makan dulu.." ujar Khanza, ia mendapati suami nya tengah tertidur dengan kepala menengadah ke atas, suami nya tertidur di ruang kerja, mungkin ia kecapean pikir Khanza.


" sini sebentar.." panggil Nanda, dengan patuh Khanza menghampiri suaminya, di tarik nya tangan Khanza hingga perempuan itu duduk di pangkuan Nanda. suaminya itu menatap lekat Khanza, mencium bibir Khanza sekilas, seolah itu menjadi magnet, rasa lelahnya hilang seketika.


" aku sayang kamu.." ucap nya kemudian.


" iya suamiku aku juga.." Khanza tersenyum menanggapi suaminya.


" boleh kah aku tau sejak kapan perasaan di hati kamu ada.." tanya Nanda, ia sedikit penasaran dengan perasaan istrinya.


" sejak awal perjodohan kita, aku sudah belajar mencintai kamu, mencintai calon suamiku, dan setelah aku ketemu kamu,!! tau kalau kamu adalah calon suamiku!!. perasaan ini semakin tumbuh.." jawab jujur Khanza, ia mengeluar kan semua isi hatinya. mencintai Nanda adalah sebuah keberuntungan, karena Nanda pun mencintainya, cinta nya tak bertepuk sebelah tangan.


" sayang I love you❤."


" I love you to.."


keduanya kembali saling berpagut dalam kebahagian, Nanda mengeksplore semua hal yang ia rindu, meny*sap setiap inci dari rongga mulut sang istri, mel*mat nya habis tanpa rasa jijik. keduanya sedang di mabuk cinta... mereka larut dalam keindahan yang berlayar..


" emmm yank,.." Khanza melepas kan pagutan bibirnya.


" kenapa yank.. " Nanda kebingungan tiba-tiba istrinya menghentikan aktivitasnya.


" kita harus makan dulu."


" sayang tapi aku mau.." Nanda memanyunkan bibirnya..


" dasar mesum!!," Khanza sedikit menjitak kepala sang suami.


" hehehe.. tapi kamu suka kan.."Nanda selalu mengoda istrinya..


" iya..iya suami selalu menjadi yank terbaik.. "


.


.


.


.


🌺🌺🌺