
Khanza terus melihat-lihat laporan perusahaan, dia sama sekali tidak ke susahan, baginya ini terpelajari semasa kuliah. Deri memperhatikan seksama bos nya itu, bos sekaligus calon istri sahabatnya, meskipun Deri paham Nanda belum menerima pernikahan itu, namun pernikahan ini pasti terjadi.
sebenarnya Khanza sangat cantik pikir Deri, dia sangat baik hati dan ramah, pasti suatu saat Nanda juga akan terpikat oleh nya.
" Za sudah waktunya makan siang.. " ucap Deri.
menghentikan aktifitas Khanza sejenak.
" Oh iya Der, bentar nih nanggung.. " Khanza masih pokus sama semua laporan yang ada di atas mejanya.
" kerja itu jangan terlalu keras, harus ingat badan juga.. "
khanza terkekeh mendengar Deri itu, entah bagai mana mereka bisa se akrab itu. yang jelas diantara mereka sudah tidak ada penghalang anatara bos dan pekerja. Khanza sudah menganggap Deri sebagai kakak nya, selain Dewasa Deri juga selalu ngasih Khanza masukan yang baik. sama Seperti apa yang selalu Hendrik lakukan kepadanya dulu.
"baik lah ayo kita makan siang dulu.. " ucap Khanza kemudian.
" baik ibu bos ayo.. "
mereka keluar dari ruangan itu, semua orang terlihat menyapa Khanza, dan Khanza sangat menyambut dengan ramah. seketika di area kantor sudah tersebar luas bahwa dirinya yang menjadi direktur. itulah sebab mereka ramah kepada Khanza.
Khanza juga akan makan di kantin, sekalian dia mengecek makanan apa yang kantor sediakan untuk para pekerjanya itu.
" za semua orang mandangin lo, gak risih apa? ."
Khanza melirik sekitarnya dan melihat memang semua orang melihat ke arahnya.
" sudahlah biarkan.. " Khanza memang sudah terbiasa mendapati hal seperti itu, baginya itu sangat wajar.
setelah makanan datang, Khanza makan dengan para pekerja yang lainnya tanpa rasa risih, mungkin karena sipat nya yang sederhana, Khanza tidak ingin di cap menjadi bos yang sombong untuk para pekerja nya itu.
sesekali Khanza tersenyum dengan orang-orang yang menyapanya..
Setelah selesai makan, Khanza dan Deri kembali keruangan direktur untuk kembali bekerja, Deri membawa dua cup kopi latte untuk nya dan untuk sang bos, Deri sangat tau bos nya itu akan lebih rileks ketika minum kopi kesukaan nya.
" Gila direktur nya cantik banget.. " ucap salah satu pekerja.
" gue gak nyangka bu Diana punya anak secantik dia. "
"pokonya gue bakal betah deh kerja sambil lihat dia, apalagi dia ramah banget, semua orang yang nyapa dia senyumin. "
begitu lah obrolan para pekerja di sana ketika sudah melihat Khanza, mereka sangat terpesona apalagi para pekerja laki-laki. medapati direktur barunya masih muda dan sangat cantik, mereka menjadi begitu bersemangat.
pak Yusril datang ke ruangan Khanza dan duduk dengan Deri di sana..
" saya senang sekali nona Khanza, anda sangat menarik perhatian mereka semua,,, " ucap pak Yusril lalu Khanza tersenyum. dia tahu para pekerja itu senang menadapati direktur barunya masih muda dan cantik.
" mungkin mereka masih tak percaya, perempuan seperti saya menjadi direktur.. " jawab Khanza pandangan nya tak lepas dari layar laptop di meja nya.
" ternyata benar kata ibu Diana, bahwa anda sangat baik nona.. "
Khanza tersenyum, menanggapi pak Yusril itu. sedangkan Deri juga pokus ke layar laptop miliknya.
" Nona Khanza. saya sudah bicara dengan keluarga adji prasta tentang perjodohan itu, " ujar pak Yusril
Deggg.... Khanza menghentikan jari nya yang sedang mengetik di laptop nya. dia juga sedikit penasaran, apalagi ini menyangkut kehidupan ia selanjutnya.
" lalu gimana pak?. " tanya Khanza penasaran.
" minggu depan akan diadakan jamuan makan malam, nona dengan anak tunggal adji prasta harus bertemu dulu... " jelas pak Yusril.
" oke kalau gitu, terimakasih ya pak Yusril.. " ucap Khanza.
" saya sudah menjalankan kewajiban saya nona, ini adalah pekerjaan saya.. "
" saya senang, ternyata ibu punya orang-orang yang baik sekali. selama ini ibu tidak pernah cerita apapun kepada saya mengenai semuanya!!. saya juga akan menjalan kan kewajiban saya sebagai anak beliau.. " jelas Khanza.
mereka kembali berkalut dengan pekerjaan masing-masing, Khanza juga sangat menikmati masanya, dia juga sama sekali tidak kesulitan, karena Khanza sudah pernah di latih bagai mana menjadi seorang pemimpin.
Deri dan pak Yusril juga sudah menjelajahi dunia bisnis nya.
ketika menjelang malam, Khanza bersama pak Yusril dan Deri beranjak dari ruangan untuk siap-siap pulang.
semua mata tertuju pada mereka, sesekali Khanza menjawab sapaan para karyawan itu ketika ia berjalan di koridor kantor.
" selamat malam bu Khanza.. " ucap salah satu pekerja.
" malam.. " Khanza juga tersenyum ramah kepada mereka..
mereka sangat meyukai pemimpin barunya itu, selain cantik, berkarisma, Khanza juga sangat baik hati, tidak sombong sama sekali.
Khanza dan Deri masuk ke mobil dan deri mulai melajukan mobil nya.
" melelahkan ya Der.. " ucap Khanza bersandar ke jendela mobil.
" begitulah.. " Deri masih pokus dengan stir kemudinyaa.
" jemput Ayu dulu der.." ucap Khanza.
" loh kenapa.. " tanya Deri heran.
" anak-anak mau ngumpul di rumah, mau pada bakar-bakar, yang berempat sudah pergi belanja, cuma Ayu yang minta jemput.. " jelas Khanza..
" baiklah kalau gitu.. " antusias Deri, wajah yang di tekuk karena cape tiba-tiba berubah sumbringah karena mau bertemu sang pujaan yang beberapa hari lagi akan menjadi istrinya itu.
" cie senang nya.. " ledek Khanza.
" hehehe.. " Deri nyengir kuda.
mobil pun melesat menyusuri jalanan kota, dari Cikini raya menuju lebak bulus, tempat Ayu tinggal,, Khanza melirik jalanan yang sudah nampak gelap, hanya lampu jalan dan lampu dari kendaraan saja yang kerlap kerlip membuat malam itu nampak indah terlihat.
Khanza memandang jalanan dengan tatapan nanar, sebentar lagi dia pun akan menikah, bayangan tentang indah nya dunia pernikahan harus ia kubur perlahan, bagaimana mungkin pernikahannya akan bahagia. menikah dengan orang yang tak ia ketahui sipat dan sikap nya membuat Khanza brigidig ngeri, menikah dengan orang yang jelas sangat menolaknya dari awal. Khanza sudah membayangkan akan seperti apa rumah tangganya Nanti.
Khanza hanya menerima takdir, beberapa kali semasa hidup sang ibu membawa kebahagiaan untuk nya, tak mungkin sang ibu menjerumuskan ia kepada duka, dengan menikahkan ia kepada orang yang salah.
Khanza percaya, bahwa apapun yang sudah menjadi pilihan ibunya adalah yang terbaik untuk kehidupan nya, dan untuk kehidupan anak-anak nya..
" saya tau apa yang kamu pikirkan za. " ucap Deri membuyarkan lamunan Khanza.
" emang apa yang kamu tau.. " tanya Khanza.
" kamu ragu menerima pernikahan itu, kamu takut Nandana tidak bisa mencintaimu.. " ucap Deri kemudian.
" sepertinya kamu harus jadi tukang pembaca pikiran deh, kamu selalu tau, apa yang saya pikirkan.. "
Deri terkekeh, kemudian dia menatap Khanza dari kaca spionnya, melihat betapa gelisah sang majikan nya itu.
" saya hanya senang membaca pikiran orang lain, namun yang aku tau, meskipun Nandana tidak mencintaimu nanti, dia tidak akan pernah jahat sama kamu, saya kenal dia sudah lama, dan kamu beruntung sebelum menikah pun dia sudah menyukai anak-anakmu, percayalah perlahan pun dia akan mencintai kamu.. "
Khanza kembali terdiam, memikirkan apa yang baru saja Deri bicara kan dengan nya. dan mudah-mudahan saja bisa seperti itu.
.
.
.
.