My Mine

My Mine
Kembali bersatu



Khanza terus menatap Uci yang tak bergeming namun badan uci bergetar, mereka tau Uci pun menangis dalam diam.


" Ci.. pernahkan gw punya salah sama lo, kalau ya coba katakan, gw gak mau kehilangan lo, dan gw gak mau persahabatan kita juga hancur gara-gara gw..." lirih Khanza, Uci masih diam tak bergeming.


" Ci akan gw ceritakan kisah, mungkin kalian juga semua tau, dulu gw punya sahabat yang sangat gw sayangi... dia begitu kesepian orang tuanya sangat sibuk, dengan tangan terbuka, gw selalu membawa dia ke rumah dan gw selalu minta kepada bunda, agar menerima dia juga sebagai anaknya." Khanza terisak, dadanya sesak ketika harus mengingat masalalu.


" dulu gw ngelakuin semua itu dengan bahagia, tak pernah punya niat jahat sekalipun tapi dia menanggapinya dengan cara yang salah, hingga dia berhianat dan dengan jahatnya dia membalikan kehidupan gw dari bahagia menjadi sangat menderita.." Khanza terisak di rangkulnya Khanza oleh Ayu dan Mita merekapun ikut terisak.


" kebahagiaan yang selalu gw berikan, dia menganggapnya hanya penghinaan karena dia pikir, kebahagiaan yang selalu gw berikan itu adalah sesuatu yang di sengaja karena dia tak mampu... " sakit dadanya tak mampu ia tahan lagi, Khanza tau Uci menangis, Khanza beranjak dan memeluk Uci, terlihat tidak ada penolakan dari Uci dan ia juga terisak.


" ci.. gw bahagia temenan sama kalian, berteman dengan kalian tidak ada kebohongan, maafin gw ci kalau ada salah, jangan sembunyiin kekesalan lo, gw gak papa ci, gw gak bisa lihat lo begini.." isak Khanza.


" zaa.. maafin gw za... "Uci terisak dan berbalik lalu memeluk Khanza, Uci dan Khanza sama-sama terisak dalam pelukan


" maafin gw Za.. gw egois.. maafin gw za.." uci terisak, Khanza menggeleng cepat,


" tidak ci... lo gak salah , gw ngerti apa yang lo rasain.." isak Khanza juga.


teman-temannya menyaksikan itu penuh haru mita dan Ayu ikut merangkul mereka berdua dengan bahagia,.. lama dalam keadaan itu, uci menyadari satu hal, teman adalah segalanya, ia sangat bahagia.


Uci paham terlalu maksain perasaan panji, untuk itu mulai saat ini ia berjanji akan mengembalikan semuanya seperti semula, tidak ada cinta hanya persahabatan yang mereka jalin dengan bahagia Uci akan membebaskan perasaannya dan juga panji, ia tidak akan memaksakan perasaan laki-laki itu lagi, dia berjanji dengan dirinya sendiri.


tok tokk tokkk


pintu di ketuk masuk lah panji keruangan itu, mereka semua menatap panji yang penampilan nya acak-acakan. dimas sampai mengernyitkan sebelah alisnya.


laki-laki yang mati gaya itu, berjalan sempoyongan masuk menghampiri mereka.


" emmm.. sepertinya kita semua harus keluar biarkan mereka bicara.." kata Dimas.


" selesaikan kesalah pahaman kalian ya.." Ucap Khanza dan Uci mengangguk lalu tersenyum,


semua orang yang di ruangan itu keluar dan hanya menyisakan panji dan Uci.


" mudah-mudahan semuanya cepat membaik. " kata Ayu.


" Amin " timbal Mita.


......................


panji duduk di samping ranjang pasien Uci, tangan nya gemetar dia meraih tangan Uci yang terlihat pucat, menyesali kesalahannya karenanya Uci harus di rawat.


" panji .." kata Uci.


" iya sayang.." lirih panji, tak hentinya ia mengecupi tangan uci penyesalannya begitu besar.


" mulai hari ini aku mengikhlaskan kamu.." lirih Uci Air matanya kembali menetes, panji menggeleng cepat, di kecupnya tangan uci berulang-ulang panji menangis bersimpuh memegang tangan Uci.


" maafin aku sayang kita jangan berpisah, aku mohon " panji menghiba hatinya sakit wanita yang sudah mengisi ruang kosongnya akan meninggakkannya.. Uci menggeleng cepat.


" Aku tidak bisa melihat kamu tidak bahagia.."


" tidak sayang... aku sangat bahagia, kita hanya sama-sama egois, maafin aku, aku akan mencoba mengerti kamu, mengerti apa yang kamu mau mengerti semuanya.." panji terus menghiba.


" tapi panji. aku ingin kita selesai. " lirih Uci, Air matanya tidak mau berhenti jatuh hati dan pikirannya bertolak belakang.


" sayang aku janji akan ngelakuin hal yang kamu suka, sudah tidak ada siapun disini. hanya ada kamu.." panji menempelkan tangan ke dada bidangnya.


" seharus nya aku ngerti kalau kamu cemburu, berarti kamu takut kehilangan aku, aku egois aku hanya mentingin perasaan aku sendiri, maafin aku sayang jangan minta berpisah aku mohon." panji tertunduk tak lepas menciumi tangan Uci, panji menyadari kesalahannya, sudah di cintai begitu dalam namun ia tak sadar, dia hanya mentingin perasaannya tanpa melihat Uci yang selalu berusaha membuat dia bahagia.


"jangan pergi dari aku sayang, jangan benci aku.. " lirih panji, Uci terisak ia mengelus kepala panji sayang, panji menengadahkan kepalanya melihat uci, dan uci tersenyum dalam tangisnya.


panji berdiri dan langsung memeluk uci berulang-ulang panji mencium kening uci sayang..


" maafin aku sayang .. " Uci mengangguk, ia menyembunyikan kepalanya di dada bidang panji, uci bahagia panjinya kembali, panji mengangkat wajah uci mencium bibir uci sekilas dan kembali memeluknya erat, seolah tidak mau kehilangan lagi wanitanya.


" maafin aku sayang, aku gak peka, tapi aku sayang sama kamu, aku gak sadar samasekali, aku baru sadar perasaan aku, aku bodoh yank " lirih Panji.


Uci makin mengeratkan pelukannya, memejamkan matanya seolah mencari kenyamanan disana.


" aku juga minta maaf ya, aku juga egois aku juga selalu menyinggung perasaan soal perasaan kamu di masalalu, maafin aku yank.. " lirih uci


mereka terkekeh bersama mengingat hal yang tak dewasa yang mereka lalui itu, sekaligus bahagia, karena masalah inipun membuat hubungan mereka menjadi semakin erat.


......................


Khanza berlari ke luar lobby rumah sakit, setelah mendapat telepon dari Nanda bahwa laki-laki itu sudah di rumah sakit menjemputnya, Khanza sangat lega karena hubungan yang di jalin oleh kedua sahabatnya itu sudah baik-baik saja, sudah tak ada kesalahpahaman lagi di antara mereka, makanya Khanza memutuskan untuk pulang, haripun sudah semakin sore.


" lama gak Nunggu.." tanya Khanza. ketika sudah masuk ke mobil Nanda."


" lumayan.. " kata Nanda singkat, dia mulai melajukan mobilnya. keadaan menjadi canggung kembali, Khanza bingung jika sudah dekat dengan Nanda perasaan nya menjadi tak karuan,


sedangkan Nanda merasa sangat jengkel, khanza benar-benar tak pernah menghubunginya, Khanza tak peduli dengannya yang merasa khawatir,


mereka berkalut dengan pikuran masing-masing.


" kok tau aku di rumah sakit.." Khanza memecahkan kecanggungan itu.


" dari Deri.." Jawab Nanda sangat singkat, Khanza mengangguk dia kembali terdiam, sepertinya Nanda sedang tak mood di ajak bicara, Khanza memilih tidur dan menghiraukan Nanda.