My Mine

My Mine
Acara jamuan



Khanza turun dari lantai dua rumah nya, semua asisten, anak-anaknya, dan para penjaga memandangnya takjub.


malam ini Khanza luar biasa sangat Cantik, ini adalah ulah sahabat nya Ayu,


ya karena setelah menikah Ayu dan Deri memutuskan tinggal di rumah Khanza, itu atas dasar permintaan Khanza yang memang tak bisa di bantah.


Ayu sengaja membuat tampilan Khanza sedikit berubah, Ayu juga membubuhkan Makeup tipis di muka Khanza, tak lepas dengan gaun yang sangat anggun, sangat pas di pakai oleh Khanza.


alhasil meskipun tidak percaya diri Khanza tetap turun menemui semua orang yang sudah menunggunya turun..


" ibu... cantik banget si.. " kata Kel, ya anak laki-laki Khanza itu memang sangat suka dengan perempuan cantik.


" terimakasih anak ibu.. " ucap Khanza sambil mengelus pipi anak laki-lakinya itu.


" kalian beneran gak mau ikut.. " kata Khanza kepada kedua anaknya, mereka menggeleng cepat.


" kata ateu Ayu gak usah biar ibu cepat nikah.. " ucap key jujur. Ayu dan semua yang ada di sana terkekeh..


" ayuu.. " ucap khanza dan melihat ayu,


" hehehe maaf Za.. kan biar gak ganggu, gak papa anak-anak kan ada aku sama Deri.. " kata ayu sedikit terkekeh.


" Yaudah Nitip anak-anak ya yu.. "


" siap... "


.


.


.


.


Khanza berjalan sangat anggu masuk ke kediaman Adji Prasta, dia begitu gugup dan sedikit gerogi,


" silah kan non.. " ucap sang asisten menuntun Khanza menuju taman rumah kediaman itu...


Khanza melihat dua orang tua itu sudah berada disana bersama satu orang lelaki, ia tak bisa melihat nya karena lelaki itu duduk membelakanginya...


" Selamat malam sayang Cantik banget.. " sapa bu Laras memeluk Khanza sekilas.


Khanza mencium tangan bu Laras dan Pak bayu bergantian, Dia masih tidak menyadari keberadaan Nanda disana, sedangkan Nanda sudah memandangnya penuh kagum, wanita di depannya selalu menarik perhatiannya, Khanza terlihat sangat cantik malam ini. gaun panjang menjuntai, menutupi kaki jenjangnya, dengan sedikit terbuka di lengan nya, malam ini Khanza terlihat sangat sempurna, Nanda terus menatapnya tak bergeming..


" Ini loh anak papa za.. " ucap pak bayu, Khanza menatap Nanda, saat Nanda sedang menatapnya. keterkejutan Khanza membuat pak bayu dan bu Laras bertanya-tanya. Khanza diam menatap Nanda tak bergeming, tak percaya bahwa sahabatnya ada di depan nya saat ini..


" Nanda ini Khanza.. cantik kan dia.. " Kata bu Laras membuyarkan keterkejutan Khanza.


" iya ma.. sangat cantik.. " Lirih Nanda pelan.


sang papa terkekeh... dan sedikit menepuk pundak anak semata wayang nya itu.


" papa sama mama tidak akan salah pilih menantu. " bu Laras memegang tangan Khanza.


sedangkan Khanza masih dalam masa terkejutnya, keringat dingin mulai bercucuran, dia tak nyaman, bagai mana mungkin, Nanda akan jadi suaminya, bukan hanya itu saat ini pun Nanda tau kalau dirinya mempunyai dua anak, bagaimana kalau Nanda itu bicara dengan orang tuanya. Khanza sangat takut, ia terus menatap Nanda sedangkan Nanda nampak sangat tenang menikmati makan malam nya itu,


" za makan yang banyak ya, jangan takut gemuk.." kata bu laras.


" iya ma.. " ucap Khanza gugup..


Nanda tersenyum dalam diamnya, hatinya berbunga-bunga, tak sanggup menatap Khanza, dia terus menatap piring miliknya sambil sesekali menyuapi nasi beserta lauk pauk nya ke dalam mulut nya itu.


jika mau Nanda bisa saja berhambur ke pelukan Khanza, bicara pada dunia bahwa dia sangat bahagia akan memiliki Khanza, impian nya selama ini terwujud, Khanza yang selalu ia pandangi saat tersenyum, kini akan menjadi kekasihnya seumur hidup..


cintanya begitu besar, hingga dia tidak peduli dengan masalalu Khanza, dia akan menganggap kedua anak Khanza seperti anaknya sendiri, lagi pula mereka sudah sangat akrab, pasti tidak akan sulit mendapatkan empati mereka.


makan malam pun telah usai, Khanza melewati semuanya dengan perasaan campur aduk, dia takut Nanda marah kepadanya, dia takut Nanda akan berbicara dengan orang tuanya, ketakutan itu membuat Khanza semakin gelisah.


" emmmm... papa benar juga, yaudah kita masuk yu.. " ucap bu Laras membenarkan.


" kalian ngobrol lah dulu, kami masuk dulu.. " ucap pak bayu.


" iya pa.. " ucap Khanza masih gugup,


Nanda tak lepas memandaangi Khanza hingga Khanza pun mempertanyakan hal itu, kenapa Nanda terus menatapnya, apa dia marah Karena Khanza tidak jujur soal anak-anaknya batin Khanza.


" hai .. Khanza .. " Nanda sedikit menekan ucapan nya, membuat Khanza menjadi tak karuan.


Nanda menghampiri Khanza..


" kenapa gemetar gitu.. " tanya Nanda, ketika mendapati lengat Khanza sangat gemetaran.


" gak papa ko cuma gugup aja.. "


Nanda terkekeh.


" kaya beneran pertama ketemu aja.. " Khanza sangat heran, Nanda sangat biasa-biasa saja, dia tidak terkejut sama sekali, wajah nya sangat datar.


" kok kamu biasa aja sih, aku malah terkejut banget.. " gerutu Khanza.


" hehehe.. pantesan ya berisi, udah punya anak dua.. " Nanda sedikit mengejek Khanza.


" Nanda apaan sihh.. " Khanza sedikit memanyunkan bibirnya kesal.


" becanda.. "


keadaan kembali hening cukup lama, mereka berdua sama-sama bingung mau bicara dari mana..


" Nanda.. " lirih Khanza.


" ya... Khanza.. " jawab Nanda.


" waktu itu Nanda bilang, ada perempuan yang Nanda sukai, gimana udah bilang sama perempuan itu.. " tanya Khanza.


Nanda hanya tersenyum.


" maafin aku ya Nanda, meskipun Nanda tidak suka dengan perjodohan ini, tapi aku mohon, jangan di batalin, kita harus menikah.. " ucap Khanza sungguh-sungguh.


" oh ya.. apa alasan nya.." tanya Nanda.


" Aku harus balas budi sama ibu Diana, beliau mau aku menikah dengan kamu, Aku tau dari awal kamu menolak perjodohan ini, itu pasti karena wanita yang kamu sukai itu ya.." tanya Khanza.


" yaudah kita akan menikah.. " ucap Nanda..


hati nya sangat bahagia, dia berjanji meski Khanza tidak mencintai nya, dia akan mencintai Khanza sepenuh hati.


" maafin aku ya Nanda.. " lirih Khanza.


" it's oke, .. " Nanda tersenyum


mereka kembali larut dalam pemikiran masing,


" Khanzaku.. aku tau kamu tidak mencintaiku, aku akan berusaha membuat kamu jatuh cinta kepadaku, kau tau bahagiaku tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.. " lirih Nanda dalam hati.. tak lepas dia terus memandangi Khanza yang nampak gelisah itu.


" soal anak-anak, aku mohon kamu jangan bilang ke keluargaku.. " ucap Khanza.


" apa alasan nya.. " tanya Nanda.


" aku gak bisa membuat mereka malu, aku lari dari masalah, aku lari dari keluarga ku, demi si kembar, aku gak bisa membuang mereka pada saat itu, merasa gak salah apa-apa.. "


Nanda menutup mulut Khanza, lalu ia menggeleng, meminta Khanza tidak melanjutkan pembicaraannya.