
empat perempuan cantik itu masuk ke sebuah mall pondok indah, Khanza juga menggandeng kedua anaknya, dulu memang sering mereka jalan seperti itu, dikarenakan sekarang masing-masing diantara mereka sudah bekerja, jadilah waktu kumpul seperti dulu pun tersita.
Uci membawa kan si kembar ice cream, dan di ambil oleh si kembar, memang seperti sang ibu si kembar memang menyukai makanan manis itu.
" emmm.. embull.. " kata Uci sambil mencubit pipi si kembar bergantian.
Khanza menunggu di tempat duduk yang tersedia di mall, bersama sikembar dan uci, sementara Ayu dan mita pergi ke toko perlengkapan baby untuk melihat-melihat dan membeli sesuai yang mereka perlukan..
Ayu dan Mita menghampiri Khanza dan Uci di sana, dengan menenteng barang-barang yang sudah mereka beli..
" duhhh semangat nya mau jadi ibu..." kata Uci terkekeh, melihat sahabatnya itu begitu semangat hingga membeli barang yang cukup banyak.
setelah berkeliling,.. mereka pergi ke restoran jepang, untuk makan siang...
" za.. suami lo gimana.." tanya Uci.
Khanza mengernyitkan sebelah alisnya..
" gimana!!!... gimana maksudnya.?" tanya balik Khanza,
" kata orang suami lo itu dingin banget... kaya lemari es.. " kata Uci polos
" emmm bener banget. " ucap Mita membenarkan ucapan Uci.
" entahlah... mungkin karena kami sudah berteman lama, dan yang gw tau dia tidak sedingin itu.. " kata Khanza.
" atau jangan-jangan suami lo dari awal emang udah suka za sama lo.."kata Ayu
mita dan Uci mengangguk antusias, membenarkan apa Ayu katakan, Khanza hanya menatap teman-temanya itu..
" gak mungkin lah.. waktu itu ia tau kalau aku punya pacar... " kata Khanza. ya bahkan dengan jelas Nanda bicara kepada Khanza bahwa dirinya mencintai seorang gadis, Khanza berpikir sampai kesana, siapa gadis itu, apa Nanda sudah bertemu dengannya, dan berpacaran dengannya, atau gadis itu adalah Cerly, beberapa pikiran tentang suaminya muncul di pikiran Khanza.
" lo harus bersyukur za.. takdir menentukan jodoh lo dengan sahabat lo, setidaknya lo sudah kenal dia lebih lama.." kata Mita.
" iya,, sekarang dia adalah suamiku, teman sekaligus teman hidup.. " Khanza tersenyum, membayangkan sosok suaminya yang begitu hangat, memperlakukan ia dengan sangat lembut,
" lo bahagia za.. " tanya Mita, Khanza mengangguk cepat, dia tersenyum lebar, mukanya berseri menandakan ia sangat bahagia.
" sangat bahagia.. " jawabnya
" syukurlah, kita lega dengarnya. " kata para sahabat Khanza.
bagaimana Khanza harus menjelaskan kepada teman-temannya, bahwa dirinya sekarang telah jatuh cinta, rasa yang sudah lama ia tak pernah rasakan kembali, suaminya begitu mudah membuat ia terpikat, Khanza sudah mencintai suaminya, namun entah kapan perasaan itu ada, yang jelas Khanza sangat bahagia di dekat Nanda.
suara dering telpon membuat Khanza melihat handphone nya, no baru yang masuk menghubunginya..
" hallo.. dengan Khanza disini.. " kata Khanza menjawab telponnya.
terdengar seorang perempuan tertawa, dari balik telpon nya.
" siapa ini.. " kata Khanza lagi.
" hahahaa... siapa lagi, kalau orang yang sangat di cintai suami kamu.. " Khanza mendengarkan itu, namun ia teringat dengan perempuan yang memiliki suara yang sama..
" Cerly.." kata Khanza menebak suara itu..
semua teman-teman Khanza menatap Khanza heran, dengan siapa Khanza berbicara.
" hahahhaaa.. bahkan istrinya pun tau, Nandana sangat mencintai Cerly." ucap Cerly sambil tertawa puas, Khanza sedikit memijit kening nya, ada apa perempuan itu sampai menghubunginya..
" tentu ada urusan, kamu telah merebut laki-laki yang saya cintai, dan yang paling mengejutkan, Nandana Adji Prasta telah menikahi perempuan dengan anak dua hahahaa.. " gelak tawa ejekan terdengar dari balik telpon.
" lalu apa urusan nya dengan kamu." tanya Khanza.
" sadar diri dong jadi perempuan, kamu tak pantas dengan Nanda, meskipun kamu kaya raya, tapi seorang Nanda, tidak pantas dengan perempuan seperti kamu.. "
Air mata Khanza jatuh di pipi mulus nya, semua temannya sangat penasaran apa yang di bicarakan oleh Khanza dengan perempuan di balik telepon itu, sampai Khanza harus menangis.
" ingat kata-kata saya, sampai kapan pun saya tidak akan berhenti merebut Nanda dari kamu.." kata cerly..
dengan cepat Khanza mematikan sambungan telponnya, dia tak bisa mendengar apapun yang di katakan Cerly lagi, dalam dadanya bergejolak, Khanza sedikit menekan dada menahan sakitnya.
semua teman nya beranjak merasa begitu Khawatir dengan Khanza yang berubah secepat itu, hanya karena seseorang yang menelponnya.
sementara seorang perempuan yang sedang bersantai di apartemennya, tertawa sangat puas, di tangan nya terdapat gelas berisi alkohol yang ia minum, dengan mudah ia membuat Khanza merasa ketakukan..
" lihat apa yang bisa gw lakuin, apa yang gw inginkan di dunia ini harus terwujud, termasuk Nanda.. " lirihnya, tak hentinya ia tertawa, obsesinya ingin memiliki Nanda, telah membuat ia bertekad untuk merebut suami orang itu.
.
.
.
Khanza menangis, ia begitu ketakutan, suaminya tak boleh di rebut siapapun, Nanda sekarang adalah miliknya, Nanda adalah suaminya. siapapun tak boleh dengan mudah menghancurkan rumah tangga yang baru saja ia mulai itu.
" za.. kenapa, jangan buat kita Khawatir.. " ucap Ayu, Khanza menggeleng cepat, teman-teman nya melihat mimik muka Khanza yang begitu ketakutan, dan Khanza menangis pasti telah terjadi sesuatu.
Khanza kembali menghubungi seseorang..
" hallo sayang.. " ucap suaminya itu di balik telpon.
" mas.. mas aku takut.. " Khanza terisak. air matanya tak henti menetes.
" kenapa sayang.. " tanya Nanda Khawatir kepada sang istri,..
" mass aku takut huhuhu.." Khanza masih terisak.
" berikan telpon nya sama teman-teman kamu.." kata Nanda ia begitu Khawatir, Khanza memberikan handphone itu kepada Ayu,
sementara Khanza sudah di peluk dengan Mita dan Uci, si kembar pun menatap ibunya penuh pertanyaan, kenapa ibu nya tiba-tiba menangis padahal tadi mereka tertawa bahagia.
" ada apa dengan istriku." tanya Nanda di balik telpon.
" gw gak tau, tiba-tiba saja Khanza penangis setelah menerima panggilan telepon, tapi gak tau dari siapa... " kata Ayu menjelaskan, Nanda sedikit memijit keningnya, pikirannya berkalut, siapa yang telah menyakiti sang istri tercintanya itu.
" yasudah gini, saya sebentar lagi pulang, kalian juga pulang, tolong jaga istriku, buat dia tenang." ucap Nanda kemudian
" oke siap.. " kata ayu lalu menutup teleponnya.
akhir nya mereka semua pulang, tak hentinya Khanza di rangkul Ayu, dan Ayu terus membuat Khanza lebih tenang.
sedangkan si kembar di gandeng Uci, mereka masih keheranan kenapa sang ibu menangis sampai segitunya.
hai readers semua, terimakasih yang udah terus ngikutin cerita ini, jangan lupa komen sama like nya ya biar author makin semangat,
salam sun dari author😘