
.
.
.
" ibu..." lirih key yang bangun terlebih dahulu.
" nak syukurlah sayang kalian sudah sadar.." Khanza merangkul kedua anaknya, dia menangis bahagia, melihat putra dan putrinya sudah sadar.
" kami di mana ibu.." tanya kel, dia kebingungan. terakhir kali mereka di bawa oleh orang yang tak mereka kenal, dan sekarang mereka sudah ada di rumah sakit.
" kalian sudah aman. maafin ibu ya nak.." Khanza tak berhenti menangis haru.. bersyukur atas keselamatan mereka, Khanza membayangkan kalau suami nya telat datang saat itu, entah apa yang akan terjadi kepada dirinya dan anak-anaknya. bahkan bayi di dalam perutnya pun tidak apa-apa dia seperti penopang kekuatan Khanza pada saat itu.
si kembar juga di peluk oleh semua sahabat Khanza, mereka sangat bahagia melihat si kembar kembali pulih..
" uncle panji senang deh kalian sudah sehat sekarang.." ujar Panji. dia mengelus lembut rambut kedua anak itu.
" terimakasih uncle.. " .
si kembar juga bercerita, bagai mana saat kejadian itu, saat mereka dan bi Indri di bawa dengan paksa oleh orang-orang bertubuh besar yang mereka tak tau siapa.
bahkan mereka melihat pak Halim yang di pukuli, sampai beliau terkapar.
sungguh miris, anak-anak seperti mereka harus menyaksikan kejadian itu, Khanza menangis. apa yang harus dia lakukan agar anak-anaknya bisa lupa akan hal menakutkan itu, anak-anaknya tidak boleh merasa takut, atau hal itu akan menjadi trauma untuk mereka.
" nak.!! apa kalian takut?" ujar Khanza, dia menatap lekat wajah anak-anaknya.
" kami takut ibu,.." lirih Key, hati Khanza bergetir mendengar pernyataan dari anak-anaknya.
" mulai sekarang jangan takut lagi ya,
semua akan baik-baik saja, ibu sama
ayah akan menjaga kalian.." ujar Khanza ia kembali memeluk anak-anak nya.
" iya ibu kami tidak takut lagi, " kata key.
" emmm ibu, lagi pula kel akan punya
adik lagi, kel akan jadi kakak yang kuat
untuk adik nya kel hehe.."
Khanza sedikit terkekeh dalam tangisnya, dia bangga mendengar pernyataan itu dari anak-anaknya.
.
.
.
Khanza memasuki ruangan tempat bi Indri dan pak Halim di rawat, di sana sudah ada bi Susi dan bi Ranti yang menjaga keduanya.
" non.. anda kesini.." ujar bi Susi, ia langsung mminta Khanza duduk di sana. bi Indri dan pak Halim mencoba duduk dari baringan nya karena sang bos datang keruangan mereka.
" gak usah duduk, gak papa tiduran aja.." ujar Khanza.. pak Halim dan bi Indri dengan patuh membaringkan tubuhnya lagi.
" non apakah kel sama key baik-baik
saja?" tanya bi Indri, sebagai pengasuh mereka sejak kecil, tentu kekhawatirannya ada, bi Indri sudah menyayangi mereka lebih dari apapun.
" mereka sudah baik-baik saja, bibi tidak
usah Khawatir.." lirih Khanza.
dia menatap Nanar kepada kedua nya, banyak luka lebam di wajah mereka, apa yang harus Khanza lakukan agar bisa menebus dosanya, mereka terluka karna nya.
" bi.. apakah sakit..? tanya Khanza dia memegang tangan bi indri.
" sekarang sudah tidak non.!!. kami
sudah baik-baik saja." jawab Bi Indri dia tersenyum, melihat sang bosnya dan si kembar baik-baik saja sudah lebih dari cukup.
" maaf.. karena saya kalian jadi terluka.." lirih Khanza dia kembali terisak.
kami benar baik-baik saja.." jawab pak halim
" apa yang harus saya lakukan agar bisa
menebus dosa ke kalian.." lirihnya.
" non jangan bicara seperti itu.. sungguh
kami baik-baik saja, melihat non dan si kembar baik-baik saja sudah lebih dari cukup non.." jawab bi Indri.
" hiks.. hiks.. kalian baik sekali, maaf kan saya.." Khanza terisak, rasa bersalah nya menyeruak, apapun yang terjadi dengan mereka dia adalah penyebabnya. mereka tidak berdosa, dan mereka harus ikut terluka, sungguh kali ini Khanza akan menjadi manusia egois, dia tidak akan memaafkan sisil atas semua kejahatannya, ini sudah di luar batasan, dia sudah menyakiti orang-orang di sekitar Khanza.
" sudah non.. jangan menangis, sudah kewajiban kami melindungi Non, kami selalu ada dan setia untuk non.. " ujar bi Ranti..
" terimakasih.." lirih Khanza.
dia merentangkan tangan nya, dan para asisten itu, tak segan memeluk nya.
Khanza sangat beruntung banyak orang-orang baik di sampingnya. mereka dengan sigap akan melindungi Khanza, bagi mereka Khanza adalah bos yang mereka kagumi, bahkan Khanza sudah menganggap mereka sebagai keluarga sendiri, mencukupi segala kebutuhan mereka. itulah sebab mereka sangat mengagumi bos yang sangat baik itu, mereka berjanji akan bersama dengan Khanza apapun yang terjadi.. bi Indri tersenyum dia mengelus tangan Khanza yang sejak tadi memegang nya.
" pokonya tenang aja, pak Halim dan bi Indri, akan saya berikan cuti, kalian harus benar-benar istirahat dulu." Khanza berucap.
" tidak usah non Khanza, kami akan beristirahat di rumah non saja, " ujar pak Halim.
" yasudah kalau gitu, cepet sehat ya pak bi.." lirih Khanza, di barengi dengan anggukan dari pak Halim dan bi indri.
.
.
.
Nanda bersama termenung saat berhadapan langsung dengan sisil, wanita itu sudah ada di depannya, dengan tampilan yang sangat acak-acakan, menurut kepolisian Sisil mengaduh hingga membuat beberapa aparat terluka karena ulahnya.
" apa maksud tujuan kamu, untuk apa semua ini.." tanya Nanda, ia sudah geram, sisil hampir saja mencelakai Khanza istrinya.
" semua ini gara-gara perempuan itu,
kalau saja dia hancur pada saat itu
gw tidak akan bertindak seperti ini.." jawab sisil, matanya tetap menatap Nanda, dia tetap menyalahkan Khanza, tidak ada raut takut di sana. dan Sisil sama sekali tidak merasa bersalah, meski ia sekarang sudah di tahan.
" lo tau gak sil, apa yang lo lakuin semuanya
salah. lo mikir gak semua yang lo lakuin akan ngebuat hidup lo malah jadi nambah sengsara."
" gw gak peduli, yang gw mau Khanza mati.." ujar nya .
sungguh Nanda tidak habis pikir dengan wanita di depannya, dia sudah terobsesi hingga membuat dia sakit mental seperti ini..
" suami lo terbaring di rumah sakit, itu semua gara-gara lo.." ujar Nanda
" dia bukan suami gw, dia hanya mesin uang gw, lagi pula, salah sendiri nembak gw duluan, kena kan akibatnya.."
" lo udah Gila, ngapain juga gw ngomong sama orang yang udah gak punya hati nurani."
" haaahahaa gw gila!!hahhaa gw gila hahaa" Sisil terus tertawa. Nanda hanya menggeleng, sepertinya memang perempuan itu butuh perawatan di rumah sakit jiwa.
Nanda keluar dari ruangan itu, dan sisil pun sudah di bawa lagi oleh petugas kepolisian.
" Riski... urus semuanya, dan masukan sisil ke rumah sakit jiwa.." perintah Nanda.
" baik Tuan.." Nanda dan Deri kembali ke rumah sakit sedangkan Riski masih mengurus-urus persoalan Sisil di kantor polisi.
...
.
.
Happy readingš