My Mine

My Mine
Hari Khanza dan Nanda



setelah melakukan hal yang sakral tadi sore, akad pernikahannya sudah selesai terlaksana dengan haru dan bahagia untuk semua orang.


seperti yang di impikan Khanza hari itu, ayahnya dengan tangannya sendiri meberikan Khanza kepada Nanda, dengan suka cita dan bahagia,


Khanza menangis setelah lepas berdoa, saat ia mendengar dengan lantang nya Nanda mengucapkan ijab kobul meminta dirinya langsung kepada sang ayah...


......................


Khanza termenung di kamar hotelnya, memikirkan bahwa sang ibupun pasti sangat bahagia di atas sana, karena Khanza sudah menikah dengan laki-laki pilihannya.


" ibu.. " Khanza terisak.


" apakah ibu sudah bahagia disana," lirihnya.


"semoga saja ya bu.. doakan Khanza selalu.." lirihnya lagi.


Khanza menghapus airmatanya setelah mendengar pintu terbuka dan Nanda masuk ke kamar hotelnya itu.


keadaan canggungpun mulai terasa, mereka sama-sama bingung dengan keadaan itu,


" kirain sudah istirahat.. " kata Nanda, mecahkan keheningan


" kamu juga kenapa gak istirahat.. " Khanza balik bertanya.


" ini baru mau.." Nanda berjalan dan naik ke atas ranjang..


" Khanza.. " kata Nanda, Khanza menoleh.


" ya.. " jawabnya.


" sini.. " Ucap Nanda sambil menepuk kasur sebelahnya.


Khanza terpaku, Nanda mengerti apa yang di pikiran Khanza, kemudian Nanda terkekeh merasa gemas.


" aku gak bakal ngapa-ngapain sini istirahat dulu." ucap Nanda lagi.


Khanza berjalan menghampiri Nanda dan naik keatas ranjang, ia juga membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Nanda, Khanza tak kuat menatap Nanda terlalu lama, jantungnya tak bisa di ajak kerja sama, selalu saja berdetak cepat.Nanda terkekeh melihat kegugupan istrinya itu, lalu ia memeluk Khanza dari belakang dan memejamkan matanya.


Khanza terperanjak kaget, namun karena tidak ada pergerakan lagi dari Nanda, dan juga terdengar dengkuran halus dari pria itu, Khanza memilih membiarkan nya, meskipun tak nyaman, ia pun ikut tertidur.


......................


Khanza Dan Nanda sama-sama menunjukan kebahagiaannya ketika menyambut tamu yang memberika ucapan dan doa kepada mereka, banyak kolega dan fartner bisnisnya juga datang, mereka sangat antusias, kedua pemimpin perusahaan besar itu menikah,


resepsi pernikahannya sangat meriah, seperti dugaan Khanza, bu Laras sangat detile dalam menyiapkan pesta itu, jamuan di pesta itu sangat lengkap, membuat para tamu sangat puas..


sosok manusia cantik itu menatap Khanza dan Nanda tak suka.


" ciiihhhh.. " Cerly berdecak saat melihat Nanda dan Khanza tertawa dengan tamu undangan.


malam ini dia begitu kesal, harapan nya seperti terjatuh, Cerly menginginkan posisi Khanza saat ini.


" Nanda tak boleh di rebut siapapun, dia adalah milikku.. "lirihnya


mukanya merah menahan amarah.. dia menghampiri Khanza dan Nanda kepelaminan. senyum indahnya dia tunjukan, Nanda melihat Cerly dengan tatapan tak suka.


" selamat ya.. "kata Cerly langsung memeluk Nanda.


dia benar-benar tak tahu malu meskipun banyak orang menatapnya termasuk Khanza yang melihat adegan itu. Cerly beralih menyalami Khanza.


" makasih ya mba.. " jawab Khanza.


" selamat menikmati malam pengantin.. Nanda itu sangat kuat loh.. " Cerly terkekeh, ia puas dengan wajah terkejut Khanza, dengan santai ia turun dari tempat pelaminan, menyisakan Khanza yang terpaku di tempatnya, begitupun Nanda.


Nanda menangkap mimik wajah Khanza yang berubah namun ia tak bisa menjelaskan apapun, akhirnya Nanda membiarkan Khanza berlarut dalam pikirannya.


.


.


.


tepat jam sembilan malam pesta itu telah usai, kedua manusia yang baru sah menjadi suami istri itu berada di kamar hotel yang sama.


Khanza merendam tubuhnya di bathup untuk membuat pikiran nya rileks, perkataan Cerly berkeliaran di otaknya, membuat moodnya tiba-tiba berubah, dia tak suka dengan perempuan cantik itu perkataan dan tatapannya tajam khanza ingin bertanya kebenarannya dengan Nanda namun ia merasa tak berhak.


Khanza keluar dari kamar mandi dengan stelan piyama tidurnya yang cukup seksi, ini ulah sang mama mertua, yang memintanya memakai baju itu, rambutnya di lilit handuk karena basah, menampilkan leher jenjang mulusnya, Nanda melihat Khanza dari atas sampai bawah, darah kelaki-lakiannya berdesir, ia tergoda dengan Khanza.


Nanda merasakan kecanggungan itu, istrinya tidak mau bicara dari setelah acara itu selesai, Nanda menghampiri sang istri, mengambil handuk dan membantu mengeringkan rambut sang istri.


" kamu cape ya.."tanya Nanda.


" lumayan.. " jawab Khanza singkat. Nanda tau kalau istrinya sedang merajuk.


" dia pacar kamu ya.. " Nanda terkekeh mendapati pertanyaan itu.


" lebih tepatnya mantan, kami sudah lama berpisah." jelas Nanda, Khanza diam tak bergeming hatinya masih merasa kesal.


" jangan dengarkan apapun yang di katakan perempuan itu, dia memang begitu orangnya., "


Nanda mencoba menjelaskan, ia tak mau kesalahpahaman ini terus berlanjut, Khanza mengangguk meskipun masih kesal hatinya sedikit meluluh..


Nanda kembali menyisir rambut Khanza yang udah mulai kering.


dia membalikan tubuh Khanza, ditatapnya wajah Khanza dalam, sekarang wanita di depannya sudah resmi menjadi istrinya, wanita yang ia lihat di taman tepat enam tahun lalu, tak ada penghalang lagi di antara mereka. Nanda mengecup pelan bibir Khanza., pipi Khanza sudah seperti kepiting rebus, namun itu membuat Nanda semakin gemas pada Khanza..


keheningan itu menjadi saksi kedua manusia yang saling mencintai, namun tak ada yang ingin mengutarakan isi hatinya.


Nanda kembali meng*c*p bibir Khanza, tak ada penolakan dari Khanza, Nanda senang, dia terus mendalami kecupannnya, keduanya berpagut dan larut dalam kebahagiaan.


keadaan semakin panas, Nanda menggendong tubuh langsing Khanza ala bridal tanpa melepaskan pagutannya, ia membaringkan Khanza di ranjang.


Nanda tau Khanza sangat lelah, namun ia sangat menginginkan Khanza malam ini, Nanda melepaskan pagutannya dan menatap Khanza dalam,


Nanda kembali mengecup bibir mungil itu, Khanza sama sekali tidak menolaknya, itu membuat Nanda senang. pada kenyataannya memang mereka saling membutuhkan. Nanda mengeksplor setiap inci mulut Khanza seolah tak mau ketinggalan satu incipun.


keadaanpun makin panas keduanya larut dalam keindahan di pikirannya masing2, Nanda turun meng*c*pi leher Khanza lidah nya bermain-main disana, Khanza mengejang tubuhnya seolah menerima semua sentuhan Nanda,


desahannya tertahan, Nanda terus meng*c*pi leher Khanza tanpa ampun, tangannya membuka baju Khanza, setelah berhasil Nanda menatap gundukan indah milik istrinya itu.


Khanza malu di tatap seperti itu, ia memalingkan wajahnya kesegala arah, membuat Nanda sangat gemas kepada istrinya itu, ia kembali mengecup bibir Khanza, tangan nya tak henti begerliya di gundukan milik Khanza, dia mulai mel*m*t p*ting milik Khanza perlahan, Khanza mendesah itu membuat Nanda semakin bernafsu.


setelah penyatuan Nanda memacu dirinya perlahan, ini seperti pertama kali untuk Khanza dia begitu kesakitan, namun yang tengah di kuasai nafsu tak bisa menahan lagi, Nanda menghiraukan Khanza yang merajuk kesakitan, Nanda terus memacu hingga Khanza pun menjadi menikmati.


mereka pun melakukannya berulang, malam itu menjadi saksi, kedua manusia itu memadu kasih..


🌺😘