My Best Match

My Best Match
One Day with Araga



"Welcome nyonya muda Dimitry." Araga merentangkan tangan saat sudah sampai diruangannya, Syan hanya menatap pria itu dengan dahi berkerut setelah mengamati seluruh interior di dalam ruang kerja Araga.


"Kenapa kau mengajakku datang kesini?"


Araga berjalan mendekat, gadis yang masih berdiri diambang pintu itu juga melangkah. Keduanya saling mendekati hingga saling berhadapan.


"Memangnya kau berharap aku membawamu kemana?"


"Ke tempat romantis?"


Syan mengangguk. Membuat Araga spontan tertawa.


"Nanti akan aku siapkan, Syan. Kau ingin yang seperti apa, makan malam ditepi pantai, berjalan jalan di pusat perbelanjaan, menghabiskan waktu seharian di kamar. Atau apa?"


Untuk yang terakhir, Syan menghadiahi Araga dengan pukulan dilengannya. Pria itu meringis dan tertawa secara bersamaan.


"Aku hanya bercanda," Araga mengklarifikasi.


"Dan kau tidak lucu." sinis Syan.


"Yang penting kau mencintaiku!"


Syan berdecih, memilih untuk tidak perduli dan melangkah kearah sofa disudut ruangan. Mendudukan bokongnya disana, sementara Araga memperhatikannya ditempatnya berdiri.


"Kenapa berdiri disana. Ayo duduk," gadis itu bertingkah seolah dirinya adalah pemilik tempat. Araga menggeleng dengan kekehan, kemudian menghampiri Syan dan duduk disana, disamping gadis itu dengan posisi tubuh yang menghadap pada Syan. Menatap Syan dengan tatapan tak percaya.


"Ada apa?"


"Boleh kau jujur tentang sesuatu padaku." pintanya tiba tiba saja.


Syan mengerutkan kening.


"Tentang adikmu." Araga langsung menjawab keheranan diwajah gadisnya. Sementara Syan terdiam, menerka nerka apa sekiranya yang berada dalam fikiran pria dihadapannya.


"Maksudmu?"


Araga hanya menaikan satu alisnya, "adikmu menyukaimu?" tebaknya kemudian.


"Darimana kau tau?"


"Jadi benar?"


Syan mengangguk setengah ragu.


"Semalam kau datang menemuinya dan mengacaukan pertemuan kita?"


"Kau membuntutiku?" tanya Syan dengan penuh selidik. Araga tertangkap basah.


"Bukan Syan, hanya mengawasimu. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan padamu."


"Aku melihat mobilmu keluar dari mansion, dan ...,"


"Menyuruh seseorang untuk mengikutiku?"


"Cerdas!" sahutnya sambil mengacak rambut Syan. Gadis itu berdecak sebal dan tidak terima.


Araga mengggantung tangannya di udara, kemudian mengangguk pasrah, ia memang salah karena mengganggu privasi calon istrinya.


"Baiklah. Maafkan aku, tapi mari kita ke topik awal dan ceritakan tentang Darendra!"


"Apa yang harus aku ceritakan. Kau sudah mengetahuinya bukan,"


"Secara spesifik Syan,"


Syan diam. Menatap Araga lekat, kemudian menundukan kepalanya.


"Aku tidak tau sejak kapan dia menyukaiku. Yang aku tau, kami sering bertengkar setiap hari. Tapi akhir akhir ini, Darendra memang berbeda. Dia sering mengungkapkan perasannya dan memaksaku untuk melakukan hal yang sama." sahutnya dengan panjang lebar dan sendu.


Araga menatapnya sedari tadi. Kemudian setelah Syan selesai bercerita, ia menghela nafas panjang, seolah mengeluarkan beban yang sedari tadi ia tahan.


"Dia tau jika aku calon suamimu, Syan."


Syan menyipitkan mata pada Araga dihadapannya. Setengah tak percaya dengan Araga yang memiliki pengetahuan luar biasa banyak mengenai keluarganya.


"Dari mana kau tau?"


"Aku pernah sekali bertemu dengannya dalam acara resmi."


"Hmm, lalu?"


"Aku mwngobrol banyak dengan om Juan dan dia mendengarkan. Dari caranya menatapku, dia memang langsung tak menyukaiku saat tau bahwa aku adalah calon kakak iparnya." terangnya yang dijawab anggukan oleh gadis dihadapannya.


"Yah. Kurasa dia memang tidak menyumakaimu," lirih Syan. Ingatannya melintas pada kejadian tempo lalu saat Darendra menemukannya berada di ruang kesehatan dengan Araga. Dan dia memang marah karena hal itu.


"Lalu, bagaimana dengan perasaanmu padanya?"


"Hah?"


Araga menghela nafas.


"Apa kau juga menyukainya. Atau pernah menyukainya?"


"Kau ingin aku jujur?"


"Tentu saja, Syan. Dengar, setelah ini, tidak boleh ada rahasia diantara kita. Jangan menutupi apapun dariku. Kau mengerti?"


Syan tertawa, sementara Araga berdecak pelan memandang gadis itu yang meremehkannya.


"Don't laugh dear!"


"Because you make me want to eat you."


Syan berdecih, kemudian terdiam dan suasana menjadi hening diantara mereka. Tapi Syan masih ingat dengan apa yang sudah ditanyakan Araga.


"Aku pernah jatuh hati pada Darendra."


Deg. Araga menjatuhkan tatapannya semakin dalam pada gadis dihadapannya.


"Tapi aku sadar dengan perasaanku, rasaku hanya kesalahan. Dan aku tidak bisa melanjutkannya."


"Kau melupakan perasaanmu pada Darendra?"


Syan mengangguk.


"Kau berhasil?"


"Mungkin tidak?"


"Jika aku tidak dipertemukan dengan kau,"


Syan tersenyum sementara ekspresi Araga nampak tidak bisa dijabarkan.


"Jadi, kau bersyukur bertemu denganku Syan?" tanyanya dengan menaik turunkan alisnya sekilas. Syan membuang tatapannya ke arah lain. Sementara Araga tertawa.


"Baiklah. Jangan membahas apapun lagi. Lebih baik kita membahas hubungan kita ke depan,"


"Hubungan seperti apa yang kau maksud?"


"Kau menginginkan hubungan yang seperti apa Syan?" tanyanya dengan nada yang menggoda.


Sementara digedung kampus, Daren berjalan cepat menuju kelas Syan untuk mengajak gadis itu ke kantin, kebetulan ia bertemu dengan Lucy didepan kelas.


"Hey,"


Lucy mematung, menatap pria dihadapannya dengan tatapan penuh kekaguman. Apa ia sedang bermimpi? Darendra Fray Zhucarlos, menyapanya? Momen langka yang perlu dicatat dalam sejarah peradaban dunia.


"Hey," sekali lagi Daren menyapa. Kali ini ia melambaikan tangan didepan wajah gadis yang malah melamun itu.


"Kau berbicara padaku?" gadis itu meyakinkan diri agar tidak terkesan kegeeran.


"Ya, memangnya dengan siapa lagi. Hanya kau yang berada disini."


Lucy kicep. Ia tau Darendra tak akan mampu bersikap baik padanya.


"Ya, ada apa?" gadis itu bertanya dengan nada pasrah.


"Syan ada didalam?"


Lucy menengok ke dalam kelas meski ia tau Syan sudah pergi dalam jangka waktu yang lama.


"Tidak ada,"


"Dia sudah ke kantin lebih dulu?"


"Tidak. Dia jemput tuan Araga sejak satu jam yang lalu?"


"Dijemput?"


Lucy mengangguk. Darendra diam sebentar, kemudian beranjak begitu saja mengabaikan gadis itu, bahkan tidak bersuara kembali sekedar berterimakasih pada Lucy karena sudah memberi informasi mengenai Syan.


"Pria tampan memang berbeda," lirihnya putus asa


**


Syan berjalan kedalam mansion dengan tampang yang tak henti hentinya tersenyum. Waktu sudah sore dan seharian ini ia hanya menghabiskan waktu dengan Araga diperusahaan pria itu. Sekedar mengobrol remeh temeh yang sebenarnya hanya menguras waktunya. Tapi itu membuatnya bahagia, dan Syan tak ingin menghindarinya.


"Ada apa dengan senyummu itu?" tanya Juan begitu melihat sang putri yang nampak berbinar. Syan tersenyum pada Juan dan Carra, kemudian ikut bergabung dengan mereka. Tak lama, Darendra muncul sambil memangku laptopnya, dia memang akan mengerjakan tugas sambil bertanya banyak pada Juan mengenai duni perbisnisan.


"Seharian ini kau dengan Araga?" tebak Juan dengan tersenyum jahil. Carra juga tersenyum keculi Daren yang berada disana dan terpaksa mendengarkan tanpa minat.


"Daddy kenapa tidak bilang jija Araga lah orangnya?"


Persis seperti apa yang sudah diperkirakan Daren tadi siang jika Araga pasti akan menceritakannya pada Syan. Memberitahukan statusnya pada gadis itu bahwa dirinya adalah calon suami Syan. Menjengkelkan!


"Kejutan untukmu, Syan."


"Dan aku sangat terkejut dengan itu Dadd,"


"Tapi kau terlihat begitu senang, Syan " Cuap Carra. Sekilas, Daren menoleh dan melihat wajah sang kakak. Wajah gadis itu memang penuh binar kebahagiaan, Daren tidak tau apa yang dilakukan Araga sampai senyum Syan seawet ini. Asli, tanpa memakai formalin.


"Kau mencintai Araga?"


Deg


Syan hanya mematung, bukan ia tidak yakin dengan perasaannya. Hanya saja ia merasa canggung karena ada Darendra disana.


"Jangan kau tanyai seperti itu Juan. Senyum di bibir Syan sudah dapat kita simpulkan, senyumnya adalah jawaban."


Juan mengangguk, setengah tertawa mengiyakan apa yang dikatakan Carra. Sementara Syan hanya mampu menyembunyikan rona merah diwajahnya.


"Syan, kau cepatlah mandi. Nanti kita makan malam." sambung Carra yang langsung diiyakan oleh Syan. Gadis itu beranjak, ia sempat menatap Darendra, tapi pria itu tak menghiraukan dan malah sibuk di depan laptopnya.


Syan merasa jika Darendra marah padanya. Dia terlihat cuek, padahal kemarin hubungan keduanya sudah jauh lebih baik dari hari hari sebelumnya.


Tapi mau diapakan? Toh anak itu memang sering bertingkah menjengkelkan!


TBC