My Best Match

My Best Match
Sekelumit Rasa



Setelah kejadian di dapur mansion tadi, cepat Carra kembali ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan merapat pada Juan.


Juan yang sadar jika sang istri kembali dan memeluknya lantas membuka mata


"Carra" Panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur


"Kau bangun Juan?" Tanya Carra begitu mendengar suara Juan yang memanggilnya


"Kau kenapa?" Tanya Juan yang melihat ada keanehan pada diri Carra, tidak biasanya istrinya itu merapatkan diri padanya saat akan tidur, kecuali jika memang sudah pulas tertidur dan ia melakukannya tanpa sadar


Carra diam, apa dia harus bercerita pada Juan jika tadi dirinya berjumpa dan mengobrol dengan Abram di dapur mansion. Sepertinya harus, jangan sampai Juan tau sendiri dari cctv nanti dan malah akan salah paham pada Carra


"Aku tadi bertemu dengan Abram"


Tutur Carra


Juan yang tadinya sudah akan kembali menutup mata justru kini malah membulatkan matanya dengan sempurna


"Lalu?" Tanyanya, antusias


"Lalu, apa? Memangnya kau berharap apa?"


"Jangan bercanda Carra!"


Carra diam, kemudian menghela nafas cukup panjang


"Aku tidak yakin dengan keputusannya yang tiba tiba saja ingin menikah!" Sahutnya yang membuat Juan mengernyitkan dahi karena heran


"Memangnya kenapa Carra?"


"Juan, sebagai orang yang pernah jauh mengenal Abram. Aku cukup tau dia bagaimana, dan dia juga mengatakannya padaku jika dia tidak mencintai wanita yang akan dinikahinya"


Juan diam mendengarkan


"Jangan terlalu di fikirkan Carra. Abram sudah dewasa, dia bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Kita tidak bisa ikut campur, itu sudah menjadi keputusannya apapun yang terjadi"


"Aku tau, tapi aku mengkhawatirkannya Juan!"


Sekejap Carra terdiam karena merasa ada yang salah dengan ucapannya. Dia hanya refleks saja tadi, dia tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan Juan. Dan merasa Juan tidak bereaksi apapun membuat Carra cemas bukan main, bagaimana jika Juan mengamuk?


"Juan. Aku tidak bermaksud__,"


"Tidak apa apa! Lebih baik tidur Carra. Jangan terlalu difikirkan" Ucap Juan yang sudah merasa jengah dengan kelakuan Carra yang berlebihan pada Abram


"Maaf"


"Tidak usah meminta maaf!"


Carra akhirnya menurut, memejamkan matanya dan benar benar kembali tidur. Akan sangat berbahaya jika dirinya terus saja mengoceh tentang masalah Abram nanti


Selepas Carra terlelap, justru sekarang Juan yang menjadi gelisah. Kekhawatiran Carra pada Abram benar benar berlebihan dan jujur hal itu membuat Juan cemburu. Ia takut apa yang dikhawatirkannya benar benar terjadi jika sebenarnya Carra masih menyimpan rasa dengan Abram


Pada dasarnya hal ini memang tidak benar, jika membiarkan Carra tetap tinggal satu atap dengan Abram, tapi saat Juan mengajak Carra untuk cepat pindah, justru Syan yang malah melarangnya dan memaksa Juan untuk tetap tinggal di mansion


Begitu Carra mengiyakan permohonan Syan, maka Juan tidak bisa berbuat apa apa lagi


"Carra! Carra!" Decak frustasi Juan


-


"Ada apa?" Tanya Abram saat Juan menyuruhnya untuk datang ke ruangannya


"Carra mengatakan sesuatu padamu semalam?" Tanya Juan, to the point


Abram terdiam, bagai berfikir. Semalam? Kemudian ia tersenyum saat mengingat sesuatu, dan hal itu tidak lepas dari pengamatan Juan


"Dia tidak mengatakan apapun!" Sahutnya setelah cukup lama terdiam. Juan menatapmya penuh selidik. seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Abram


"Sungguh?"


"Untuk apa aku berbohong?"


"Dia hanya mengutarakan keheranannya saja dengan keputusan yang aku ambil. Tapi sudah kukatakan, jika aku yakin dengan pilihanku"


"Tapi hatimu tetap untuk Carra?"


Tembak Juan, Abram terdiam. Seperti mempertimbangkan sesuatu


Jujur apa yang dikatakan Juan memang benar, mungkin sampai kapanpun memang akan begitu. Hatinya hanya untuk Carra, sampai kapan pun


"Dia milikmu Juan, aku tidak akan mengambilnya!" Tuturnya dengan santai


Penuturannya seolah mengklim jika apa yang ditanyakan oleh Juan itu adalah kebenarannya


"Sampai kapan kau akan terus mencintai istriku?" Tanya Juan, ia betul betul mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Abram


Abram tersenyum mendengar pertanyaan Juan


"Aku tidak akan mengambilnya darimu. Sungguh!"


Juan benar benar merasa geram dengan jawaban Abram yang bertele tele. Ingin rasanya Juan memberikan bogem mentah tepat diwajah Abram yang so santai itu


"Juan"


Abram yang semulai duduk di sofa kini berpindah pada kursi di balik meja kerja Juan, ia duduk disana dan berhadapan dengan Juan yang duduk dikursi putar kebanggannya


"Kau pun tau sendiri, sampai kapanpun aku akan tetap mencintai Carra. Tidak perduli dia milik siapa" Tutur Abram lagi lagi dengan gelagat santai khasnya


Mati matian Juan menahan gejolak emosinya yang benar benar sudah membara bahkan sudah sampai ke ubun ubun


"Tapi aku cukup sadar, jika hati Carra sudah bukan untukku lagi. Sepenuhnya hatinya sudah menjadi milikmu. Kau tidak perlu meragukannya lagi Juan"


"Dan, biarkan perasaanku tetap seperti ini pada Carra. Aku tidak akan mengusik kalian, aku berjanji"


"Carra sudah menganggapku sebagai kakaknya sendiri. jangan salah menafsirkan kekhawatirannya padaku"


Juan hanya bisa merenung saat Abram sudah pergi dari ruangannya setelah mengatak rentetan kalimat itu


Sejujurnya apa yang tadi dikatakan oleh Abram tidak terlalu buruk, dia sudah jujur dengan perasaannya meskipun membuat Juan naik darah


Bahkan Abram seolah memberi penerang pada Juan jika Carra sepenuhnya sudah mencintai Juan


Tapi hal itu tetap saja tidak membuat Juan serta merta percaya dan yakin begitu saja. Meski Carra sudah membuktikannya sendiri dengan bersedia menyerahkan dirinya pada Juan