My Best Match

My Best Match
Sebuah Keluarga



*****


**Semoga suka part yang ini❤❤❤


****/****/****/***//**


Setelah Carra keluar dari kamar mandi, Juan masih berada di posisinya. Ia masih di tempat tidur dengan bersandar pada kepala ranjang. Dengan ponsel ditangannya yang setau Carra, itu adalah ponsel milik Carra


Carra menghela nafas, meraba lehernya. Tiba tiba saja ia merasa merinding, entahlah karena apa, bukan karena ponselnya yang kini ada di tangan Juan, tapi lebih karena mengingat kejadian tadi pagi.


Kemudian cepat ia bergegas menuju ruang ganti sebelum nanti Juan menahannya lagi. Bukankah suaminya itu memang sering berbuat seenaknya saja?


Setelah berganti pakaian, Carra menyisir rambutnya dan kemudian menghampiri Juan yang masih mengotak atikan ponselnya


Carra melangkah dengan ragu, kemudian berhenti sejenak dan malah memutuskan untuk keluar dari kamar. Meninggalkan Juan yang sebenarnya amat berharap mendapatkan sapaan dari Carra


Carra terlihat begitu dingin, tentu saja Juan merasa kecewa melihat hal itu


Ia meletakan begitu saja ponsel Carra di atas tempat tidur. Baru ia akan beranjak menuju kamar mandi, tiba tiba saja pintu kamarnya kembali terbuka. Nampak Carra muncul dengan panci kecil di tangannya yang berisi air, lalu ia juga membawa sebuah handuk kecil


"Biar aku obati dulu luka mu" Sahut Carra, Juan yang hendak beranjak akhirnya tetap berada di posisinya


Diam diam Juan merasakan kesenangan yang luar biasa. Awalnya ia fikir bahkan Carra tidak perduli dengannya, tapi ternyata dugaannya salah. Justru jika Juan boleh kepedean, ternyata istrinya amat begitu perhatian


Tanpa ragu, Carra mendekat dan duduk berhadapan dengan Juan


"Kau bertengkar dengan siapa?" Tanya Carra sambil fokus mengompres luka yang sudah mulai membiru di ujung bibir Juan. Ia yakin jika luka Juan adalah hasil pukul tangan manusia, bukan jatuh atau kecelakaan kecil


Juan hanya tersenyum, bukan apa. Hanya saja sekarang ia merasa seperti anak kecil yang sedang ditanyai oleh ibunya karena habis bertengkar memperebutkan mainan dengan anak tetangga


Carra yang merasa heran dengan Juan, akhirnya sedikit menekan luka Juan yang sedang di kompresnya


"Aww, pelan pelan sayang" Sahut Juan dengan ekspresi teramat begitu kesakitan.


Carra sedikit tertegun dengan panggilan sayang yang terlontar begitu saja dari bibir Juan, tapi dengan cepat Carra segera tersadar


Toh bukan hanya sekali Juan memanggilnya begitu


"Harusnya semalam kau membangunkanku, jika telat di obati, maka lukamu akan membengkak" Sahut Carra dengan cuek. Persis seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya


Juan tak menyahut, ia malah memandangi wajah Carra dengan penuh perhatian


"Mandilah. Aku akan menyiapkan pakaianmu" Sahut Carra lagi setelah selesai mengobati luka Juan, ia juga risih terus terusan di pandangi oleh Juan yang hari ini nampak terlihat aneh. Kemudian kembali ia keluar tanpa bisa untuk Juan tahan


*


Semuanya sudah berada di meja makan untuk menikmati sarapan, tak terkecuali Abram yang juga sudah kembali ke mansion


Carra merasa ada yang tidak beres dengan kedua pria tampan di meja makan yang memiliki luka di ujung bibir yang sama


Apa mereka berdua bertengkar? Lalu apa yang di pertengkarkan?


Carra mulai berperang dengan fikirannya sendiri, sampai kemudian Syan datang dan memecah keheningan di meja makan


"Kau sudah sarapan Syan?" Tanya Juan saat Syan datang dan mengambil posisi duduk di samping Abram


"Yes" Syan menyahut seperlunya


Anak itu memang jarang sarapan dengan keluarga yang lain, ia selalu sarapan lebih awal dengan Rose


Dan, di dalam keluarga Juan memang tidak ada larangan berbicara di meja makan saat sedang makan


Justru saat sarapan, ataupun makan malam adalah waktu yang tepat untuk saling mengobrol bertukar cerita. Mengingat memang jarang ada waktu bersama karena sibuknya urusan masing masing


"Morning Syan" Sapa Max, pada cucu angkatnya itu


"Morning Grrandfa" Syan menyahut riang


Kemudian para orang dewasa pun melanjutkan sarapannya


"Ohh, yah. Dady kau belum menjawab pertanyaanku semalam" Sahut Syan yang membuat Juan menghentikan makannya. Ia seperti mengingat ingat sesuatu


"Kau lupa?" Tagih Syan


"Tidak" Juan menyahut. Sekilas ia melirik pada Carra yang tengah sarapan di sampingnya


"Ada apa memangnya Syan?" Tanya Sonya yang mulai penasaran


Nampaknya juga menarik perhatian yang lain, sehingga semua orang di meja makan memperhatikan Syan. Tak terkecuali dengan Abram


"Hmm, jadi bagaimana? Siapa yang lebih kau sayangi? Aku? Atau Mom?" Tanya Syan dengan tampang menuntut jawaban


Carra meraih gelasnya, minum dengan pelan pelan. Jujur, ia tidak menyangka jika Syan akan benar benar menanyakannya pada Juan


Max dan Sonya hanya tersenyum, sedangkan Abram, ia kembali melanjutkan sarapannya


"Dady menyayangi kalian berdua" Sahut Juan dengan santai, kemudian melanjutkan sarapannya


"Itu tidak adil Dad, kau harus memilih salah satu di antara kami, benarkan Mom?" Sahut Syan yang kemudian meminta pendapat sang Momy


Samar, Carra terpaksa mengangguk


Juan hanya tersenyum menanggapi kekeraskepalaan putrinya. Meskipun di dalam tubuh Syan tidak mengalir darah Juan, namun anak itu seperti menuruni sedikit sifat dari Juan


"Dad menyayangimu, karena kau putri Dad"


"Dad juga menyayangi Momy, karena dia istri Dad Syan. Dad menyayangi kalian berdua" Sahut Juan, Syan memperhatikan


"Kita keluarga, kita harus saling menyayangi. Kau paham?"


Syan tersenyum, seperti mengerti.


Sedangkan yang lain, mereka hanya tersenyum saja dengan tingkah malaikat kecil di mansion itu


Juan tersenyum dan mengangguk


"Mom, ucapkan terimakasih pada Dady!" Suruh Syan


Carra tersenyum, sekilas menoleh pada Juan dengan mengucapkan terimakasih


"Berilah Dad ciuman singkat tanda terimakasih Mom" Sambungnya yang membuat Carra tercengang, begitu juga Juan, ia juga sedikit terkejut. Ia tidak yakin Carra mau melakukannya


"Lakukan saja Carra" Sahut Sonya


Ahh, mengapa Syan selalu berbuat ulah?


Setengah mati Carra malu jika harus mencium Juan di depan orang tuanya, dan juga di depan... Abram


"Mom benar benar bukan istri yang pengertian" Ledek Syan dengan tampang kecewa


"Memangnya kau tau apa anak kecil!" Sahut Abram sambil mengacak rambut Syan, membuat anak kecil itu mencebik karena rambutnya sedikit berantakan


"Lakukan Mom, agar aku segera pergi bermain" Bujuk Syan. Ia seperti sengaja membuat ulah agar Momy dan Dady nya itu pamer kemesraan di depan keluarga


Ahh, meski ragu. Carra lebih baik segera melakukannya agar semuanya cepat berakhir. Ia sudah tidak tahan dengan tatapan penasaran dari semua orang di meja makan, terkecuali Abram. Ia nampak tidak terlalu tertarik


Sepertinya Juan harus segera menelan rasa kecewa karena Carra yang memang menolak untuk menciumnya, tapi kemudian


Cup


Satu kecupan dari Carra mendarat di pipi kiri Juan, tepat saat Abram melihatnya


"Owww, manisnya" Decak Syan dengan binar kebahagiaan di matanya


Sedangkan kedua orang tua Juan hanya tersenyum melihat keharmonisan rumah tangga anaknya itu


Dan setelah membuat ulah, Syan berlalu begitu saja menyusul Rose yang berdiri di pintu kaca menuju taman samping mansion, taman biasa Syan sering bermain di sana


Meski agak canggung, tapi kemudian suasana di meja makan berlalu begitu saja. Semuanya kembali normal


*


"Ohh, yah Juan" Panggil Max, setelah cukup lama mereka saling terdiam menikmati sarapannya


"Hari ini, Ayah dan Ibu akan pergi ke LA" Sambung Max lalu mengelap mulutnya dengan tisu, sepertinya ia sudah menyelesaikan sarapannya


"Mengapa mendadak sekali Ayah?" Tanya Juan yang menghentikan makannya sejenak, menunggu jawaban Max


"Tidak mendadak nak. Ayah sudah akan mengatakannya kemarin kemarin, tapi kau sangat sibuk" Sahut Max


Juan mengangguk


"Baiklah, nanti aku akan menyuruh orangku menyiapkan jet pribadi untuk Ayah dan Ibu"


"Tidak perlu nak. Ayah akan menggunakan pesawat komersil saja, Ayah sudah memesan tiketnya" Tutur Max yang dijawab anggukan oleh Sonya


"Mengapa tidak memakai pesawat pribadi kita saja Ayah, agar lebih cepat"


"Iya om" Abram yang sedari tadi diam kini angkat bicara. Sedangkan Carra hanya memperhatikan saja


"Tidak papa nak" Sonya yang kali ini angkat bicara


"Apa kami perlu mengantar ke bandara Ibu?" Tanya Carra yang kali ini juga angkat bicara


"Tidak usah nak, kami akan berangkat di antar para pengawal saja" Sahut Max


Carra mengangguk, begitu juga Juan. Ia tidak bisa memaksa kan. Jika Max memang ingin begitu, maka ia tidak bisa di bantah


***


Seusai sarapan, Carra mengantar Juan sampai di teras mansion. Sekalian mengantar kedua mertuanya juga yang akan segera meluncur ke LA


Robert sudah menunggu Juan di samping mobil


"Nak, Ibu titip Syan sementara ya" Sahut Sonya sebelum berlalu


"Tidak Ibu, jangan berbicara seperti itu. Dia juga putriku, kau tenang saja. Yah" Sahut Carra dengan tulus


Sonya tersenyum, kemudian memeluk menantunya


"Hati hati Bu" Sahut Carra kemudian


Sonya mengangguk, kemudian beranjak ke dalam mobilnya dengan Max. Abram juga masuk ke dalam mobil Juan


Hanya tinggal Juan saja yang masih berdiri di teras dengan Carra


Carra memandang Juan, agak canggung karena kejadian di meja makan karena ulah Syan tadi. Sedangkan Juan, ia dengan tenang memandang Carra


"Aku akan segera kembali" Sahut Juan


Meraih pinggang Carra, kemudian mengecup kening sang istri. Cukup lama, sudah beberapa hari Juan tidak melakukannya karena merasa kesal dengan Carra


Tapi sekarang, kesalahpahamannya sudah berakhir. Ia hanya tinggal meminta maaf saja pada Carra, tapi ia juga butuh waktu yang tepat


"Juan. Kau lupa, kita ada meeting dengan beberapa investor pagi ini" Sahut Abram sambil membuka kaca jendela mobil


Membuat Juan merasa terganggu, dalam hati ia mengumpat karena Abram mengganggu dan merusak suasananya dengan Carra


"Cepatlah kembali, aku menunggumu" Sahut Carra yang seketika saja membuat senyuman di bibir Juan terbit dengan begitu tulus


Dengan senyum yang masih mengembang, Juan segera melangkah ke mobilnya, lalu masuk setelah Robert membukakannya pintu


Carra hanya memandang mobil yang di tumpangi Juan itu sampai menghilang, keluar dari gerbang utama, beriringan dengan tiga mobil hitam lainnya yang di tumpangi Max, Sonya dan beberapa pengawal


/*/*/