
*
*
Begitu duduk di kursi meja makan, tak lama Juan menyusul dan duduk di samping Carra. Syan sepertinya sudah main di taman samping, hanya Juan dan Carra saja yang sarapan karena yang lain sudah menyelesaikan sarapannya dan mulai menjalankan kesibukannya masing masing
Carra agak canggung, terlebih Juan juga duduk begitu saja tanpa bersuara. Dan mengingat kejadian di kamar tadi, malah membuat Carra menjadi semakin gelisah
Sampai kemudian, salah satu pelayan bersuara dan memecah keheningan yang tercipta di ruang makan mansion
"Tuan muda, apa anda ingin dibuatkan coffee?" Tanya salah satu pelayan yang berdiri di samping Juan
Juan menoleh,
"Biar aku saja" Carra menyahut cepat. Kemudian beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur
Sang pelayan tadi hanya mengangguk pasrah, saat majikannya segera mengambil alih tugasnya. Ia memang tau, setelah Tuan mudanya menikah, orang yang selalu membuatkan coffee untuknya itu memang selalu istrinya itu
Carra membuat coffee di mesin coffee, fikirannya masih pada kejadian beberapa waktu lalu yang terjadi di kamar. Ia masih mengutuki dirinya sendiri karena kebodohan yang diperbuatnya itu, membuat dirinya sendiri tidak nyaman
"Carra"
Panggilan itu sedikit mengagetkan Carra yang sedang melamun, ia seketika saja menoleh ke asal suara dan mendapati Juan yang tengah berdiri di belakangnya
"Iya" Carra menyahut kikuk setelah cukup lama hanya terdiam
"Aku ada meeting penting hari ini, Robert sudah mejemputku" Sahutnya yang terdengar seperti sebuah teki teki di indera pendengaran Carra
Kata katanya seolah bermakna. Carra, tidak perlu membuat coffee. Aku akan segera pergi. Ya, seperti itu
"Baiklah" Carra menyahut singkat
Setelah Carra mengatakan begitu, lantas Juan berlalu begitu saja tanpa ada pergerakan apapun lagi. Tidak ada kecupan di dahi, tidak ada ucapan selamat tinggal. atau basa basi seperti umumnya pasangan suami istri, saat suaminya akan pergi bekerja
Tidak ada!
Juan berlalu begitu saja meninggalkan Carra yang terpaku menatap kepergiannya
Jujur, Carra semakin tidak memahami dengan bagaimana Juan yang sebenarnya. Carra hanya ingin mencoba menjadi istri yang baik untuk Juan, tapi sepertinya Juan memang terlanjur kecewa kepadanya. Tapi Carra harus bagaimana? Ia saja amat tidak mengerti dengan kekeliruan yang sedang terjadi saat ini
Sungguh, Carra sudah tidak mencintai Abram, ia hanya belum siap dengan Juan. Itu saja
Apa Juan menganggapnya berlebihan?
"Momy"
"Mom"
Carra segera menoleh saat Syan memanggilnya. Suara itu membuyarkan lamunan Carra, dan sepertinya bocah manis itu sudah cukup lama memperhatikannya
"Kau bersedih Mom?" Tanyanya
"Tidak, untuk apa bersedih" Dusta Carra, lalu menuntun Syan untuk duduk di meja makan
Bahkan Carra lupa jika dia ternyata belum menghabiskan sarapannya
"Mom, apa Momy mencintai Dady?" Tanya Syan tiba tiba. Carra yang sedang mengunyah nasi gorengnya sedikit tersentak mendengar pertanyaan Syan
Carra seperti tercekat. Harus bagaimana dia mengatakannya, rasanya berdusta tentang perasaan itu sulit. Jika jujur, apa yang harus dikatakannya?
Dan Rose yang sedang tersenyum di samping Syan semakin membuat Carra malah jadi salah tingkah
"Syan, kau masih kecil. Jangan berbicara tentang cinta" Sahut Carra dan melanjutkan sarapannya
"Mom, kau tau?"
"Apa?"
"Dady, sangat mencintaimu" Sahutnya dan membuat Carra benar benar mengakhiri sarapannya. Ia melegut segelas air putih dan menyisakanya sedikit, matanya fokus pada Syan yang sepertinya akan melanjutkan kalimatnya
"Aku membenci Dad saat dia sibuk mengunjungimu dan melupakanku" Sahutnya dengan dahi berkerut seolah marah pada Carra
"Tapi saat pulang, dia bilang jika ada wanita yang ingin dibawanya ke mansion ini. Katanya, dia tidak akan pulang sebelum berhasil membawa wanitanya itu" Sambungnya
Carra mendengarkan dengan antusias, begitu juga Rose yang ikut mendengarkan
Carra menggut manggut dengan penuturan putrinya itu
Sepertinya Juan sudah bercerita banyak tentang Carra kepada putrinya ini
"Jadi kau belum merestui kami?" Tanya Carra dan membuat Syan seperti terkejut. Mungkin ada yang salah memang dengan kalimat yang dilontarkannya pada sang Momy
"Hah? Aku.."
"Aku mendukung kalian.Tapi aku hanya ingin memastikan jika Momy juga mencintai Dady, aku tidak ingin Dady sakit hati nanti" Sahutnya
Ahh Carra malah tersenyum, bagaimana seorang anak berusia lima tahun pandai berbicara macam itu seperti orang dewasa?
"Bagaimana anak sekecil kau pandai berbicara macam itu, hmm?" Tanya Carra, gemas sambil menarik dagu Syan
"Kau sangat menyayangi Dady mu, ya?"
"Ya, tentu saja"
"Percayakan pada Momy. Mom tidak akan menyakitinya, kau percaya?" Sahut Carra dengan yakin
Syan mengangguk dan lalu memeluk Carra
ia percaya pada istri Dady nya ini jika ia juga mencintai Dady nya
Kemudian setelah itu, Syan banyak bercerita pada Carra tentang Juan. Tentang Juan yang amat sayang kepada keluarga dan patuh terhadap kedua orang tuanya
Syan bercerita banyak mengenai Juan yang selalu menjadi kebanggannya. Pengusaha muda, dan Dady yang hebat baginya
Tapi diam diam Carra berfikir, apa Syan tidak pernah sekali saja menanyakan tentang siapa ibu kandungnya?
"Momy, apa kau juga mengagumi Dady?" Tanya Syan begitu ia mengakhiri ceritanya tentang semua kehebatan Juan
"Hmm, ku kira begitu. Dia memang diidolakan oleh semua perempun" Sahutnya yang menjawab sendiri pertanyaannya
"Darimana kau tau?" Tanya Carra
"Aku tau semua tentang Dad, Mom" Sahutnya dengan mata yang membulat sempurna, menatap Carra
"Baiklah, sepertinya kau memang anak yang baik" Sahut Carra sambil manggut manggut mengiyakan apapun yang dikatakan Syan
"Yah, dan Dady sangat menyayangiku" Sahutnya sambil melipat tangan di dadanya
"Kau pernah bertanya pada Dad, siapa yang paling Dad sayangi, hmm?" Tanya Carra seolah meruntuhkan harapan dan tingkat kepercaya dirian Syan
Ia memicingkan matanya pada Carra
"Akan aku tanyakan nanti" Sahutnya
"Ohh, rupanya sekarang kau malah mengajak Mom bersaing Syan?" Tanya Carra dengan sinis
"Baiklah. Bagaimana jika Dady lebih menyayangi Mom?" Tanya Carra, kemudian mengikuti gaya Syan. Yaitu melipat tangan di depan dadanya
Perkataannya barusan membuat perubahan yang amat ketara dengan ekspresi Syan
"Mom, mengalah saja padaku. Kau bahkan setiap malam tidur dengan Dad" Rengeknya sambil menarik narik tangan Carra
Meminta Carra agar mengalah saja padanya, dan biarkan sang Dady hanya menyayanginya saja
"Itu sudah kewajiban ku Syan, artinya Dady mu itu memang lebih sayang pada Mom" Sahut Carra dengan tawa kemenangannya dan membuat Syan mendengus kesal
"Baiklah, akan aku tanyakan nanti jika Dady sudah pulang" Sahutnya dengan wajah cemberut pada Carra
Carra tertawa, kemudian memeluknya
"Aku juga menyayangimu" Sahut Carra membalas perkataan sinis Syan dengan kasih sayangnya
Syan masih cemberut dan semakin menambah Carra gemas melihatnya
Dan Rose juga hanya tersenyum melihat kedua majikannya yang nampak saling menyayangi itu
Dua wanita, yang sangat di cintai oleh Tuan mudanya