
*
*
Carra menunggu Juan yang katanya akan pulang satu jam lagi karena ada pertemuan penting. Rasanya Carra selalu tidak sabar untuk segera bertemu dengan suaminya itu, apalagi mengingat sikap manisnya pada Carra sejak tadi pagi
"Apa aku mulai mencintai Juan?" Tanya Carra pada dirinya sendiri. Tidak sadar, ia berfikir sambil menggigit jarinya
Seperti ada perasaan resah di dalam dirinya. Mungkin ini bersangkutan dengan Juan, karena setelah menikah dengan Juan, Carra merasa ia mulai terbiasa dengan apapun yang bersangkutan pada statusnya yang sekarang adalah istri sah dari Juan. Meski ia belum memenuhi kewajiban utama sebagai seorang istri.
Tapi sungguh, Carra berjanji. Jika dirinya sudah yakin jatuh cinta pada Juan, maka ia akan memenuhi kewajibannya tersebut. Ia tidak akan melakukannya secara terpaksa, andai saja perasaannya pada Juan adalah cinta
Maka Carra, akan merelakannya
*
Pukul 11.00 am
"Tuan, ini sudah terlal larut. Biar saya antarkan saja" Sahut Robert saat Juan bersikeras ingin pulang sendiri mengendarai mobilnya, seusai keduanya menghadirii pertemuan penting di salah satu restoran jepang di jantung kota new york
"Robert, aku bisa pulang sendiri. Kau juga lebih baik cepat pulang saja!" Sahut Juan yang di akhiri dengan pelototan pada Robert
Tapi sedikitpun Robert tidak merasa takut, justru rasa khawatirnya pada sang majikan jauh lebih besar
"Tapi Tuan, ini sudah larut. Dan Tuan nampak amat lelah, saya tidak ingin hal buruk terjadi pada Tuan" Tuturnya dengan rasa khawatir
"Hey, kau menyumpahkan aku celaka?" Sinis Juan yang membuat Robert gelagapan
"Tentu saja tidak, Tuan" Sahut Robert, terbata bata
"Ya, aku tau"
"Tapi Tuan"
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan baik baik saja. Percayalah!" Juan meyakinkan sambil menepuk bahu Asistennya itu
Akhirnya, Robert tidak bisa lagi membantah. Ia membukakan pintu mobil untuk Tuannya dan membiarkan dia menyetir sendiri dalam keadaan yang tidak meyakinkan
Begitu mobil melaju, Robert hanya memandang kepergian Tuannya. ada rasa khawatir yang tiba tiba saja mengganggu fikirannya
*
Juan menyetir dengan santai, senyuman penuh bahagia terus saja terpampang di wajah tampannya. Meski ia lelah, tapi ia tetap bersemangat. Bersemangat untuk segera bertemu dengan Carra di mansionnya
Ia tidak akan memaksa Carra untuk mencintainya, atau memaksanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Tidak akan
Tapi Juan akan menunggu, menunggu Carra untuk bisa mencintainya, menunggu Carra untuk dengan sendirinya menyerahkan diri padanya
Juan bukanlah orang yang suka menununggu, justru dirinya itu di tunggu.Tapi untuk Carra, menunggu seribu tahun pun tidak masalah bagi Juan
Entahlah kekurangan ion atau apa, tiba tiba saja rasa kantuk mulai menyerang Juan yang sedang menyetir, ia masih fokus menyetir sambil mengusir rasa kantuknya dengan memutar musik di dalam mobil
Untungnya jalanan saat itu tidak terlalu di padati pengendara, sampai sesaat kemudian tiba tiba Juan kehilangan kendali dan..
Bruuukkk
Dengan keras ia menabrak bahu jalanan, dengan kepala yang terbentur pada stir mobil.
*
Pagi pagi sekali, Carra terbangun. Matanya masih terpejam sedangkan tangannya meraba ke samping, ke tempat Juan
Dan matanya terbuka dengan sempurna begitu ia mendapati tempat itu kosong
"Dia tidak pulang?" Tanya Carra pada dirinya sendiri
Jujur ia merasa kecewa mendapati Juan yang tidak ada di kamar begitu ia bangun tidur
Dan lagi lagi Carra harus merasa kecewa begitu ia melihat tidak ada satu notif chat pun dari suaminya.
Fikiran liar Carra tiba tiba saja tanpa permisi mengambil alih fikiran positifnya. Ia tiba tiba berfikir bahwa Juan semalam bermain dengan para wanitanya dan berakhir dengan tidur di hotel bersama salah satu wanitanya
Ahh, jangan sampai!
Carra dengan cepat menepis fikiran kotor itu, bagaimana pun, ia tidak boleh berfikiran buruk mengenai Juan. Meskipun pada dasarnya sifat Juan memang seperti itu
"Ahh, tidak tidak!" Buru buru Carra, turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Ia butuh mendinginkan fikiran panasnya yang mengganggu dan membuat kegusaran dihatinya
*
Begitu selesai merapihkan diri, Carra turun ke lantai dasar dan mendapati Abas yang sedang memantau para pekerja di dapur mansion
Abas, adalah kepala pelayan kepercayaan Max yang sudah bekerja di mansion sangat lama. Tepatnya satu tahun sebelum Juan lahir, sehingga ia tau betul dengan kejadian apapun yang terjadi di mansion
"Pak Abas" Panggil Carra
Abas yang semula sibuk, sekarang mengalihkan perhatiannya pada Nona mudanya yang tiba tiba saja datang ke dapur mansion. Padahal sarapan sudah di siapkan di meja makan
"Ada apa Nona?"
"Apa ada masalah dengan menu sarapan pagi ini?" Tanyanya khawatir, takut takut Nona mudanya ini akan protes tentang kinerja para pelayan
"Tidak Pak Abas" Sergah cepat Carra
"Lalu?"
"Apa Tuan Juan semalam tidak pulang?" Tanya Carra
Abas nampak terdiam, ia tidak mungkin mengatakan jika Juan mengalami kecelakaan sedangkan Robert, sang asisten Tuannya memang melarangnya untuk memberi tahu orang orang mansion. Terutama pada Carra
"Pak Abas?" Carra menyadarkan
"Lebih baik, Nona sarapan saja. Nanti Tuan Robert akan menjemput Nona kemari" Terang Abas yang kemudian permisi pergi
Carra tiba tiba mematung, ada sesuatu yang berdesir menghampirinya. Membuatnya tidak tenang, ia merasa tidak enak. Seperti sebuah firasat tentang hal buruk
Jangan sampai terjadi apa apa dengan Juan, atau Carra akan gila nanti
*
Carra tidak mengerti mengapa Robert membawanya ke salah satu rumah sakit yang berada di pusat kota, yang setau Carra rumah sakit ini adalah milik keluarga suaminya, milik Juan. Zhucarlos Hospital
Dan Carra hanya mengikuti saja saat Robert membawanya menuju sebuah ruangan VVIP. Dengan dikawal oleh dua bodyguard Carra berjalan santai tanpa banyak bertanya, ia hanya akan mengikuti intruksi Robert dan segera tau dengan apa yang sebenarnya akan di tunjukan oleh asisten setia suaminya itu
"Silahkan Nona" Robert mempersilahkan dengan membuka pintu ruangan itu, Carra masuk dan Robert mengekor di belakangnya. Sedangkan dua pengawal itu berjaga di depan pintu masuk
*
Seketika Carra langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, tiba tiba saja matanya mengenang air yang siap tumpah membasahi pipinya, saat ia mendapati Juan yang terbaring dengan mata terpejam di brangkar rumah sakit
Jadi ini alasan kenapa ia tidak pulang semalam? Bahkan Carra sempat berfikiran buruk tentangnya.
Tapi mengapa tidak ada yang memberia tahunya jika Juan ada di rumah sakit? Mustahil Abas tidak tau hal ini. Bahkan gerak geriknya tadi pagi sungguh mencurigakan saat Carra bertanya tentang keberadaan Juan
Carra memandang Robert sekilas, laki laki itu mengangguk. Seolah menyuruh Carra untuk mendekat pada Juan yang tidur dengan perban di kepalanya, sepertinya benturan di kepalanya cukup keras
Sedetik kemudian air mata Carra sudah menetes. Ia tidak ingin kehilangan Juan! Tidak!
/*/*/*/
Disini ada yang baca nggak?
Maaf jarang up, bukan nggak niat bikin novel atau nggak punya ide. Cuman aku sibuk di novel sebelah soalnya😁