
Juan merebahkan tubuhnya di sofa, ia benar benar lelah sekali setelah seharian ini bekerja. Badannya terasa pegal, sungguh ia benar benar butuh orang yang bisa menghapus rasa lelahnya dan orang yang bisa melakukan hal itu hanya Carra. Hanya istrinya
Tapi entahlah orang itu kemana, Juan tidak melihat istrinya sejak datang ke mansion mereka
Sampai kemudian ia melihat tirai balkon yang tersingkap oleh angin, dan ia melihat seorang wanita tengah berdiri disana
Juan perlahan berjalan, setelah melepas jas resminya, kemudian menghampiri sang istri yang tengah menikmati pemandangan kota di sore hari
Carra cukup terkejut saat tiba tiba saja seseorang mencium pipi kanannya, kemudian memeluknya dari belakang. Namun kemudian ia hanya memegang tangan orang itu yang melingkar di perutnya setelah mencium aroma parfum yang amat familir di tubuh orang itu, yang menubruk indra penciumannya
"Sudah pulang?" Tanyanya kemudian
"Sudah!"
Kemudian hanya hening yang tercipta setelahnya, sampai suara Carra lebih dulu memecah keheningan
"Tadi Mami menelpon"
"Dia merindukanmu?" Tanya Juan, Carra mengangguk
"Aku juga merindukannya"
Juan membalikan tubuh Carra menghadap padanya tanpa melepaskan rengkuhannya ditubuh sang istri
"Kau mau berkunjung ke sana?" Tanya Juan seolah membaca aksara di mata Carra
"Memangnya boleh?" Tanya Carra. Karena sejujurnya dia memang rindu pada kedua orang tuanya, rindu kembali ke LA
Bukan apa apa. Hanya saja ia cukup tau dengan kesibukan suaminya itu yang tidak mungkin mengantarkannya ke LA
"Siapa yang bilang tidak?"
Carra diam, artinya suaminya itu akan mengabulkan keinginannya
"Kau ingin kapan kita pergi kesana?" Tanya Juan saat Carra hanya terdiam menatap dirinya
"Besok!"
Juan diam, bagai berfikir. Kemudian..
"Baiklah" Sahutnya sambil berlalu dari balkon
Carra tersenyum senang, kemudian mengikuti suaminya dari belakang
"Tiga ronde untuk malam ini" Sahut Juan sambil membuka satu persatu kancing kemejanya
Carra mencebik, kemudian mendorong bahu suaminya
"Memangnya kau kuat?" Malah pertanyaan semacam itu yang keluar dari mulut Carra
Juan yang sudah membuka tiga kancing kemeja tangannya terhenti, menatap sang istri yang tengah menatapnya dengan tangan terlipat di atas dada
"Kau menantangku? Baiklah. Kalau begitu mari empat ronde" Sahutnya yang kemudian mencium leher Carra dengan tangan yang berada di pinggang wanita itu
Lagi, Carra mendorong suaminya itu
"Kau mau membunuhku, dengan empat ronde?" Tanya Carra yang tidak mendapat jawaban apa apa dari Juan
"Silahkan pergi saja ke ring tinju jika ingin puas!" Sambungnya dengan wajah kesal
Juan tertawa, kemudian hanya mencium pipi istrinya dan melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi
"Biar ku siapkan air hangat" Ujar Carra akhirnya, sambil berlalu ke arah kamar mandi
Dan setelah Carra berlalu, justru Juan malah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kancing kemeja yang sudah terlepas semua
"Dia tidur?" Fikir Carra begitu ia keluar dari kamar mandi dan mendapati suaminya yang malah berbaring
"Juan"
Carra menyentuh lengan pria itu yang menutupi matanya
Carra menggut manggut, ternyata suaminya itu bener benar tidur. Merasa bosan akhirnya Carra juga malah merebahkan tubuhnya di samping Juan
Dengan menyangga kepalanya dan miring menghadap Juan, perlahan Carra memindahkan lengan Juan yang menutupi matanya itu dengan hati hati. Jangan sampai membangunkan macan yang sedang tidur, fikirnya
"Kau tampan jika sedang tertidur" Lirihnya sambil membelai sisi wajah Juan, hal yang benar benar sudah menjadi candu baginya
"Maka tidurlah saja. Kau menyebalkann jika sedang terbangun!" Sambungnya lagi
"Kata Syan, ada nenek sihir yang selalu gencar mengganggumu. Aku penasaran, siapa nenek sihir itu" Sahutnya, bercerita kepada Juan yang tengah tertidur
"Apa dia mantan kekasihmu? Atau bahkan mungkin dia masih berstatus kekasihmu?"
"Syan tidak menceritakannya padaku" Ungkap Carra, matanya tidak lepas menatap wajah Juan yang ada di hadapannya
"Aku mandi dulu, kau tidur saja. Jangan bangun sebelum aku kembali!" Ujar Carra sebelum beranjak, seolah memerintah suaminya. Kemudian mencium bibir Juan sekilas dan segera berlalu
Ia jadi senyum sendiri setelah melakukan hal macam itu
*
"Kapan kalian akan berangkat?" Tanya Max saat Juan dan Carra izin akan berangkat ke LA untuk berkunjung ke rumah orang tua Carra
"Besok Ayah"
Max manggut manggut
"Juan, apa tidak sebaiknya kita mengajak Syan?" Tanya Carra
Juan terdiam, Max dan Sonya juga. Sedangkan Abram hanya duduk dengan laptop di pangkuannya. Seperti tidak perlu berikut campur dengan apa yang tengah di bahas orang orang itu
"Tidak perlu!" Putus Juan akhirnya
Carra mengangguk, bagaimana pun keputusan ada ditangan Juan. Begitu fikirnya, meskipun ia juga berfikir jika dirinya akan membujuk Juan untuk mengajak Syan ikut dengan mereka
"Kalian akan menginap berapa hari?" Sonya yang sedari tadi menyimak kini ikut berbicara
"Hanya dua malam saja Bu, aku juga banyak yang harus di urus setelahnya" Tukas Juan
Setelah mengutarakan tujuannya, lantas Juan dan Carra kembali ke kamar mereka
"Bagaimana jika Syan marah karena tidak kita ajak Juan?" Rengek Carra, sepanjang perjalanan menuju kamar mereka, Carra terus saja membahas hal yang sama
"Tidak akan sayang"
"Darimana kau tau?" Tanya Carra sambil melepaskan tangan Juan yang ada dibahunya
"Secara aku adalah Dady nya. Apa kau lupa?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya tidak tega jika meninggalkannya" Sahutnya dan masih berdiri di dekat pintu. Sedangkan Juan sudah berbaring di tempat tidur mereka tanpa memperdulikan rengekan istrinya
"Dady macam apa kau ini" Lirih Carra saat melihat Juan yang malah memejamkan matanya
"Kita belum berpamitan pada Syan, Juan," Rengeknya lagi
Dia sudah ada di tempat tidur dan mengguncang pelan tubuh Juan
"Kita akan berangkat pagi pagi sekali, bagaimana jika kita berangkat dan Syan belum bangun tidur" Rengek Carra lagi
Rasanya gendang telinga Juan ingin pecah mendengar rengekan Carra yang tidak berhenti. Bahkan ia jauh lebih manja daripada Syan
Seingat Juan, Syan tidak pernah merengek sambil menarik narik baju Juan jika menginginkan sesuatu. Seperti yang saat ini sedang Carra lakukan
"Juan!" Sahut Carra lagi dengan suara yang pelan
Tapi Juan tak kunjung memperdulikannya membuat Carra keki sendiri
"Baiklah. Kalau kau tidak mau membuka matamu, jangan harap kau dapat jatah malam ini!" Ancam Carra yang spontan membuat Juan yang awalnya tidak ingin memperdulikan istrinya kini justru malah meraih tangan sang istri dengan mata yang terbuka sempurna
"Sayang" Lirihnya, terlihat sekali raut wajah memelas tercetak sempurna disana
Carra tak menggubrisnya
"Apa yang harus ku lakukan?" Tanya Juan akhirnya, lalu ia juga ikut duduk bersila dan berhadapan dengan Carra
"Bujuk Syan untuk ikut dengan kita" Pinta Carra
"Kalau dia tidak mau?"
"Kau bahkan belum mencobanya Juan"
"Sayang, dengarkan aku dulu. Syan tidak pernah ingin ikut denganku, dia lebih suka di mansion dengan Rose atau diajak ke taman hiburan. Hanya itu" Tutur Juan, yang sejujurnya dia tidak ingin mengajak Syan karena putrinya itu pasti akan menguasai sang Momy dan mengambil waktu untuknya nanti
Ahh, Juan tidak ingin berbagi, sekalipun itu dengan putrinya.
"Tapi aku ingin Syan ikut. Biar dia bertemu dengan Oma dan Opah nya di LA" Rengek Carra dengan sorot mata memohon
Membuat Juan tidak tega jika menolak keinginannya
"Baiklah!" Putus Juan akhirnya. Yang membuat Carra seketika berhambur ke dalam pelukan suaminya
"Tapi berjanjilah satu hal padaku!"
"Apa itu?" Tanya Carra sambil mendongak, menatap Juan
"Kau, hanya akan menghabiskan waktu denganku!" Sahut Juan dengan seringai jahil yang sudah dapat Carra tebak apa maksudnya
Ahh, Carra ingin mengajak Syan, selain karena memang ingin mengajak putrinya itu jalan jalan, juga mengenalkannya pada orang tua Carra. Ia juga tidak ingin hanya menghabiskan waktu dengan Juan, tapi ternyata Juan jauh lebih cerdas daripada dirinya