My Best Match

My Best Match
Tamu



Alhasil, Juan yang sudah rapih dan siap untuk pergi ke kantorpun harus berganti pakaian dan membatalkan sebagian agendanya hari ini demi menemani sang istri


Berbaring disamping Carra dengan posisi tengkurap sambil memandangi wajah istrinya


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Juan dengan tangan yang membimbing tangan Carra untuk ada disisi wajahnya


"Kau" Sahut Carra, spontan dan membuat Juan tersenyum bahagia


"Aku ada disini" Sahut Juan dengan tersenyum, yang dibalas senyuman pula oleh Carra


"Dimana Syan?" Tanya Carra akhirnya


Juan menggeleng, lalu merubah posisinya menjadi miring pada Carra


"Kenapa?" Tanya Carra yang heran dengan tingkah Juan


"Tidak apa apa. Hanya ingin tidur saja" Sahutnya, mengecup pipi Carra dan memejamkan matanya. Dia benar benar akan tidur dan Carra hanya memandanginya saja


-


Adella hanya duduk disofa kamarnya sambil membaca majalah. Ia sungguh merasa kesepian, inginnya mengobrol dengan Carra. Tapi keadaan Carra tidak meyakinkan, bahkan Juan saja melarang semua orang untuk masuk ke kamarnya kecuali dia yang memanggil


"Apa aku menyusul Abram saja ke kantor?" Fikirnya sambil membuka lembar demi lembar majalah ditangannya


Tapi sejurus kemudian, ia merasa berubah fikiran


"Ahh, untuk apa. Yang ada nanti dia menyuruhku untuk pulang dan tidak mengganggunya, atau kemungkinan terburuknya dia memaki maki ku nanti"


"Aku kan hanya istri yang tidak ia harapkan!"


"Menyebalkan!"


Adella menggerutu sendiri, bingung juga ingin menghabiskan waktu seharian dengan melakukan apa. Ditambah dengan Abram yang akan pulang larut karena mendapat tugas dari Juan tadi pagi


"Ternyata begini rasanya menjadi Nyonya Lucas" Sahutnya dengan miris


-


Akhirnya Della memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Carra yang menuruni anak tangga


"Hey, Carra" Sapanya dengan raut wajah sumringah karena bebas dari rasa kesepian


"Hay" Balas Carra, lalu keduanya melangkah menuju ruang utama mansion dan duduk pada sofa disana


"Carra, selamat untuk kehamilanmu" Ucap Della dengan tulus


"Terimakasih Adella. Maaf tadi malam tidak menyambut kalian"


"Tidak apa apa, hanya masalah kecil"


Carra hanya mengangguk. Sampai keduanya terdiam dengan fikiran masing masing


"Bagaimana hubunganmu dengan Abram?" Carra merubah haluan


Della menoleh, kemudian tersenyum kecut. Bagaimana dirinya dengan Abram? Jawabannya sangat menyedihkan


Carra menggapai tangan wanita itu, sejauh pengamatannya. Itu artinya, belum ada kemajuan dengan pasangan pengantin baru ini


"Mungkin aku tidak akan mendapat posisi di hati Abram, Carra. Aku tidak akan pernah menggantikan posisimu" Sahutnya dengan senyum sendu


"Adella. Dengarkan aku, kau hanya perlu waktu. Abram laki laki yang baik, kau hanya harus menyesuaikan diri dengannya"


"Sudah Carra"


"Belum Adella, bahkan kalian masih dalam tahap perkenalan" Sanggah Carra


Della terdiam, sepenuhnya apa yang dikatakan Carra adalah benar. Bahkan Della belum mengenal Abram dengan baik, dan sebaliknya. Abram pun begitu, belum sepenuhnya mengenal dirinya


"Abram orang yang baik Della. Dia sangat menghargai perempuan, jika itu tidak berlaku untukmu, maka kau hanya perlu mengikuti apa kemauannya. Dengan pelan pelan kau akan memahami dirinya"


"Bagaimanapun aku mengenal Abram dengan baik, dan aku tidak mungkin memberitahumu hal yang sesat"


"Della. Mungkin aku berdosa karena sudah menikah dengan saudara sepupu dari Abram, mungkin aku berdosa karena menyakiti perasaannya. Tapi bagaimanapun, takdir sudah menentukan jalan hidup kami. Dan aku sudah mencintai Juan, kami sudah berbahagia sekarang"


"Aku juga ingin Abram bahagia, dan aku percaya kau bisa membuatnya bahagia Adella"


"Mungkin jika aku ingin Abram mencintaiku, maka aku harus menjadi kau Carra" Pasrah Della dengan senyum terpaksa


"Tidak perlu Adella. Kau cukup menjadi dirimu sendiri, jika kau menjadi aku, maka Abram akan mencintaimu sebagai Carramell. Bukan sebagai Adella" Tutur Carra dengan hati hati. Agar wanita dihadapannya ini mampu mencerna ucapannya


Dan Della hanya tersenyum, ia tau jika wanita dihadapannya memang wanita yang baik dan tulus


-


Setelah perbincangan seriusnya dengan Della, Carra memutuskan untuk bersantai di teras mansion dengan Syan yang asik bermain dengan bonekanya. Sedangkan Della pamit untuk keluar sebentar


"Momy, aku akan bermain dengan Rose di halaman samping, kau ikut?" Tanya Syan sambil menentang boneka besar ditangannya


"Momy, akan masuk ke dalam saja. Mungkin Dady sudah bangun" Sahut Carra, mengelus puncak kepala Syan sebelum gadis itu berlalu menuju tempat yang dimaksudnya tadi


Sedangkan Carra, ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mansion. Baru ia memegang handle pintu, tapi suara ribut dari arah gerbang menginterupsinya


Carra menoleh, dan melihat penjaga gerbang sedang mencegah seorang wanita yang hendak menerobos masuk


Penasaran, Carra akhirnya berjalan kearah gerbang


"Hey, aku hanya ingin masuk. Aku tidak akan membuat kekacauan!" Paksa wanita itu yang dihadang mati matian oleh para Bodyguard Juan


"Tapi Tuan muda tidak mengizinkan anda untuk masuk nona"


"Hey, ada apa?" Tanya Carra setelah ia sampai didekat gerbang


"Maaf Nona Carra. Tapi nona ini memaksa masuk, dan Tuan muda tidak memberi izin pada kami untuk memperbolehkan dia masuk" Tutur Bodyguard bertubuh tegap dengan sopan kepada Carra


Carra terdiam, kemudian tatapannya beralih pada wanita dengan pakaian sexi yang dicegat oleh para penjaga tadi. Entah mengapa Carra tidak enak melihatnya, untuk apa wanita seperti ini datang ke mansion keluarga Zhucarlos?


"Hay, Nona Carra. Apakabar?" Tanyanya dengan ramah, seolah sudah sangat kenal dengan Carra


Carra hanya mengerutkan dahi


"Aku bertamu untuk kau, ku harap kau mau menyambut kedatanganku" Sambungnya


Carra bisa merasakan jika tutur kata wanita dihadapannya ini begitu manis dan memabukan


"Tuan muda melarang anda untuk menginjakan kaki disini nona!" Sahut salah satu penjaga berbadan kurus dengan suara tegas, bahkan wanita itu nampak sedikit terkejut. Tapi sepertinya dia sudah terbiasa dengan hal itu, terlihat dari raut wajahnya yang tetap santai setelahnya


"Biarkan dia masuk!" Sahut Carra dengan acuh


Meski keberatan, para penjaga itu akhirnya hanya menuruti perintah nona muda mereka, meski rasa takut akan kemarahan Tuan mudanya cukup membuat mereka merinding


-


Carra membawa wanita itu ke arah kolam renang, duduk di kursi kayu di dipinggir kolam itu


Tak lama seorang pelayan yang diminta Carra untuk mengantarkan minuman datang menghampiri mereka


"Ohh, kau lupa, aku tidak suka juice. Buatkan aku coffe saja!" Perintahnya, seolah ingin menunjukan pada Carra jika dirinya cukup dikenal di dalam mansion ini


Carra hanya mengernyitkan dahinya, hatinya bertanya tanya tentang siapa sebenarnya wanita dihadapannya ini


"Kau tidak dengar?" Jenny berbicara pada pelayan dengan nada melengking, tapi nampaknya pelayan itu tidak mau mendengarkannya


Carra mengangkat tangannya, memberi isyarat pada pelayan itu untuk membuatkan pesanan tamu tak diundang ini, dan pelayan itu menurut


Jenny hanya mengibaskan rambutnya, dengan jengah


Carra meneguk juice nya, tanpa memperbulikan Jenny. Dan membuat wanita itu jengkel karena merasa tidak di perdulikan


"Oh, yah. Kita belum berkenalan" Sahutnya, mengawali pembicaraan, lalu mengulurkan tangan pada Carra


"JENNY" Sambungnya


Carra sempat memaku. Rasanya ia akrab dengan nama tersebut, tapi kemudian Carra hanya mengatur nafasnya. Berusaha untuk tetap tenang agar tidak terpancing oleh wanita perusak ini


"Carramell" Sahut Carra dengan senyum sejuta gula


"Kau lebih cantik dari sekedar hanya dalam foto"


"Aku tidak punya media sosial"


"Tapi kau sebagai istri Tuan Zhucarlos. Foto pernikahan kalian menyebar di setiap media masa" Tuturnya


Carra terdiam, tentu saja ia tau hal itu. Hanya saja Carra tidak terlalu perduli


"Aku tidak terlalu memperhatikan" Carra menyahut dengan santai


Tak lama pelayan yang membuatkan coffee untuk Jenny datang menghampiri mereka


"Kau boleh kembali ke tempatmu" Sahut Jenny


Pelayan itu menurut dan kembali setelah lagi lagi, Carra mengibaskan tangannya


"Kau bilang kau bertamu untukku. Ada kepentingan apa?"


"Aku merasa tidak mengenal kau"


Yah, Carra bukanlah orang yang suka berbasa basi


"Hanya ingin mengenalmu lebih jauh Carra"


"Apa keuntungan mu?" Tebak Carra


Dan Jenny hanya tersenyum


"Kau tau perihal aku dengan Juan?" Jenny mulai memancing


"Kau hanya masa lalunya, aku tidak perduli!"


"Kau yakin. Meski aku mengatakan jika aku pernah tidur dengan Juan?" Tanya Jenny dengan santainya, seolah dengan mengatakan hal itu, maka ia yang akan mengendalikan keadaan


Carra terdiam, berusaha meredam gejolak emosinya yang perlahan membuncah


"Kau yakin?" Tanya Jenny lagi


"Apa tujuanmu memberitahukan aib mu itu padaku?"


"Aku merasa hal itu tidak penting!"


"Kau hanya wanita penggoda!"


"WANITA PENGGODA!" Sahut Carra dengan penuh penekanan, ia sudah muak dengan Jenny yang terus terusan menghubungi dan mengganggu Juan


Jenny hanya melotot, hampir hampir tidak percaya dengan ucapan Carra


"Kau tidak jauh berbeda dengan wanita wanita mainan Juan, yang setelah itu dibuang. Kau sama seperti mereka, pada akhirnya Juan menyingkirkanmu, dan lebih memilih untuk menikahi ku"


"Memangnya apa yang bisa kau banggakan dari kisah satu malammu dengan Juan?"


"Kau yang dia suruh enyah dalam hidupnya?"


"Atau apa?" Carra mulai membentak


Jenny diam membatu, tidak menyangka jika istri dari Juan Zhucarlos sama saja adalah duplikat dari Juan. Sikapnya sama saja dengan laki laki itu. Tegas dan keras kepala, tidak mudah dibodohi


"Kau fikir jika Juan yang memilihmu maka kau adalah segala galanya?" Tanya Jenny, kali ini nada bicara wanita itu meninggi. Tidak sesantai tadi


"Mungkin tidak, tapi pada kenyataannya Juan tetap memilihku sebagai istrinya!"


"Dan sebentar lagi kami akan dikaruniai seorang anak!"


"Kau tau, dalam sebuah ikatan suami dan istri, kehadiran seorang anak akan menjadi pengikat yang paling kuat? Ku pasti kan tak akan ada celah sedikitpun untuk kau menghancurkan aku dan Juan!" Sahut Carra dengan berapi api


"Ku kira kau cukup tau diri. Maka silahkan pergi!" Imbuh Carra dengan tangan yang mengepal sempurna


Jenny hanya mampu menahan amarahnya dengan nafas yang memburu, bahkan ia juga mengepalkan tangannya tak kalah sempurna.


"Dengarkan aku baik baik!"


"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia!" Sahutnya dengan jari telunjuk yang ada tepat didepan wajah Carra


Carra mengalihkan tatapannya, setengah risih. Tapi juga tidak ingin jika dianggap lemah


"Pintu keluarnya disebelah sana! Silahkan keluar!"


"Baik, permisi!"


Jenny melangkah dengan kaki yang dihentak keras ke lantai


Dengan segera Carra mengusap dadanya yang dirasa sesak.


Ia tak menyangka jika ternyata di dunia ini ada wanita macam Jenny, awalnya Carra hanya melihat wanita wanita perebut suami orang di tv tv saja. Tapi kali ini bahkan ia sendiri yang menghadapinya


"Tamu sialan!" Rutuk Carra dengan nafas yang memburu