
*
"Kau ingin makan?" Tanya Carra saat suaminya itu keluar dari kamar mandi dengan
rambut basah
"Apa kau sudah lapar?"
"Mm tidak. Tapi Mami dan Papi sudah menunggu di bawah untuk makan malam" Ujar Carra
Juan mengangguk
"Istriku, tolong ambilkan ponsel" Suruh Juan saat ia sedang menyisir rambutnya di depan cermin di meja rias
Carra menggapai ponsel Juan yang berada di nakas, tak sengaja ia menghidupkan ponsel suaminya itu dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari nomor tidak di kenal
"Ada apa?" Tanya Juan saat Carra hanya terpaku di tempatnya sambil menatap ponsel Juan
"Nomor tidak di kenal" Sahut Carra, lalu melangkah mendekat pada Juan dan menyerahkan benda persegi itu
"Mungkin dari klien"
"Kenapa harus menelpon ke ponsel pribadi mu?" Carra mulai curiga
"Aku juga tidak tau Carra!" Kilah Juan, ia mengecek ponselnya. Memeriksa nomor baru yang dimaksud sang istri. Juan sempat terpaku
Tapi kemudian hanya bersikap biasa saja
"Hanya telpon dari klien" Sahutnya kemudian
Carra diam dengan tangan yang menyilang di dadanya matanya menatap Juan dengan penuh pertanyaan
"Percayalah sayang!" Bujuk Juan, menggapai tangan Carra dan menggenggamnya
"Apa kau bisa di percaya?"
"Aku juga tidak yakin" Lirihnya
"Hah?" Pekik Carra dengan keras
Juan menghela nafas, ia sudah salah berbicara tadi. Bodoh!
"Mami dan Papi sudah menunggu kita!" Juan mengalihkan pembicaraan
Carra mau tak mau menurut. Ia juga tidak ingin memperpanjang masalah dan nantinya dicurigai oleh kedua orang tuanya. Yasudah, biar nanti Carra akan menanyakannya lagi pada Juan
-
Banyak dari mereka yang berlari pada alkohol jika ada yang sedang mengganggu pikiran dan perasaannya. Atau hanya sekedar bersenang senang saja untuk menikmati minuman itu
Dan Abram adalah salah satu diantara orang orang itu. Entahlah apa yang selalu mengganggu pikirannya akhir akhir ini. Yang pasti, 3 botol minuman beralkohol sudah berhasil ia tandaskan
Bahkan mungkin ia masih akan menambah jajaran botol kosong. Karena di table VVIP nya sudah tersedia bermacam macam minuman yang masih bersegel. dan juga beberapa minuman bersoda. Setelah ia memaksa kepada salah satu bartender tadi untuk menyediakannya banyak minuman
Dan sekarang, mata sayunya hanya menatap lurus pada orang orang yang tengah berjoged ria di bawah kilatan lampu strobo di lantai dansa club. Abram mulai merasakan berat luar biasa dengan kepalanya, bahkan pandangannya kadang kadang kabur tanpa bisa ia kejar. Sama seperti Carra yang sudah tidak dapat ia kejar
Yang sudah terlanjur ia serahkan pada Juan. Munafik rasanya jika Abram mengatakan dia sudah tidak mencintai Carra
Karena faktanya, alasan kenapa sampai sekarang dirinya masih sendiri adalah karena Carra. Karena dirinya masih mencintai wanita itu
"Abram"
"Hey"
"Abram, kau"
-
"Bagaimana hubungan mu dengan Carra?" Itu adalah pertanyaan pertama dari Stev saat ia mengajak menantunya untuk mengobrol di ruang keluarga
Sedangkan Carra berada di kamar tamu untuk menemani Syan tidur. Dan Ratna sepertinya berada di tempat lain
Juan diam setelah tadi menyeruput coffee nya
"Memang bagaimana Pih, kami baik baik saja" Sahut Juan dengan senyum penuh arti, menutupi kenyataan jika faktanya ia dan Carra sebelumnya tidak seharmonis sekarang
"Baguslah. Papi hanya takut kalian tidak bisa saling membuka hati"
"Semuanya adalah proses pih"
"Apa Carra sudah sepenuhnya melupakan Abram?"
Kali ini Juan terdiam. Ia sungguh tidak tau harus berkata bagaimana, sesungguhnya Juan tidak benar benar tau bagaimana perasaan Carra kepada Abram sepenuhnya
Juan hanya takut jika apa yang selalu dikatakan Carra tidak sama dengan hatinya
"Sepertinya sudah Pih" Hanya jawaban singkat itu yang keluar dari mulut seorang Juan setelah tadi ia diam beberapa saat
Stev nampak mengangguk, seperti mempertimbangkan sesuatu
"Apa tidak sebaiknya kau mencarikan wanita untuk saudara mu itu, Juan?"
Juan tersenyum, seperti heran dengan saran mertuanya itu
"Kenapa kau malah tersenyum?"
"Papi, dia sudah dewasa. Aku tidak bisa serta merta mencarikan wanita untuknya"
"Setidaknya kau akan tenang jika dia sudah memiliki wanita"
Lagi, Juan terdiam. Berfikir seolah mengapa bisa mertuanya ini seperti memahami perasaannya? Mengerti dengan apa yang ditakutinya?
"Aku percaya kepada Carra. Dia tidak mungkin menghianatiku"
"Bagaimana jika Abram yang menghianatimu"
"Papi tidak ada maksud untuk memengaruhi, atau menjelekan saudara mu Juan. Hanya saja papi takut jika dia masih mencintai Carra"
-
"Syan, kau belum ingin tidur?" Tanya Carra saat Syan masih membuka matanya, padahal Carra sudah selesai membacakan dongeng untuknya
"Belum Mom"
"Kalau begitu, mari kita bercerita!" Pancing Carra. Jujur ia penasaran pada nenek lampir yang dimaksud oleh Syan beberapa waktu yang lalu
Ditambah dengan nomor asing yang beberapa kali menghubungi ponsel pribadi Juan, mau tak mau hal itu membuat Carra menaruh curiga pada Juan
Karena bagaimana pun, Carra tau bagaimana sisi gelap suaminya yang memang suka bermain wanita itu
"Kau ingin aku bercerita tentang apa Mom?"
"Tentang Dady!"
Syan menatap sang Momy yang tengah menatap penuh harap padanya
Membuat Carra sedikit mencebik karena Syan yang dirasa cukup berlebihan dalam memuji dan mengagumi Dady nya itu
"Mm, tentang mantan pacar Dady?"
"Dady tidak punya mantan pacar Mom!"
Carra mengerutkan dahi. Tidak punya mantan pacar?
"Dady tidak pernah membawa wanit ke mansion
"Siapa tau Dady mu membawa wanitanya ke apartementnya"
"Aku tidak tau"
"Kenapa Momy tidak menanyakannya secara langsung pada Dad?"
"Mmm, karena Momy ingin tau dari kau saja Syan"
Kedua wanita itu terdiam dalam beberapa saat, sampai kemudian..
"Bagaimana dengan nenek sihir yang pernah kau katakan itu Syan?"
Syan diam, mengingat ingat apakah pernah ia mengatakan hal itu pada Momy nya
"Syan"
"Apa nenek sihir itu kekasih Dad?"
"Bukan!"
"Lalu siapa, siapa dia Syan?"
"Dia wanita yang ingin dijadikan istri oleh Dad"
"Hah?"
"Iya. Dia Jenny"
"Jenny?"
"Iyah. Dia pernah datang ke mansion dan membawakan aku banyak cokelat"
"Dia juga sering mengunjungi Dady ke perusahaan" Tuturnya dan seperti menerka nerka
"Kau tau darimana?"
"Dia sering mengobrol denganku Mom"
"Dia baik?"
"Baik, tapi aku tidak suka!" Ketusnya
"Kenapa?"
"Karena Dad juga tidak menyukainya Mom"
-
Juan berbaring di tempat tidurnya menunggu Carra yang tak kunjung kembali. Dan obrolannya dengan sang mertua tadi cukup mengganggu fikirannya
Sampai kemudian lamunan itu buyar begitu pintu kamar terbuka
"Kau melupakan syarat yang sudah aku katakan istriku?" Tanya Juan saat Carra baru kembali dari kamar Syan
Sedangkan ia sudah cukup lama menunggu Carra saat setelah selesai mengobrol dengan mertuanya
Carra menggerai rambutnya, dan sedikit merapihkannya tanpa mau menyahuti apa yang dikatakan Juan barusan
Lantas ia berbaring begitu saja di samping suaminya. Juan yang tidak mendapat respon hanya mendesah pasrah
Mengingat terakhir kali ia memang sedikit berdebat dengan Carra karena sebuah nomor asing di ponselnya
"Kau tidak mendengarku?" Tanyanya lagi
Carra masih tak menyahut, sampai kemudian ia memejamkan matanya begitu saja tanpa memperdulikan Juan dan ocehannya tadi
Juan mendekat, memindahkan bantal guling yang menjadi pemisah diantara dirinya dengan Carra
Carra membuka matanya saat ia merasakan tangan Juan yang melingkar di perutnya juga kaki Juan yang diangkat dan menindihi kaki Carra
"Aku tidak bisa bernafas Juan!" Protesnya
Bagai tuli, Juan tak menggubris protes dari istrinya itu. Ia malah semakin mendekap tubuh Carra bahkan menaruh kepalanya di dada Carra
"Juan!"
Carra mulai berontak dan justru malah membuat Juan semakin tidak ingin menghiraukan Carra. Dan kini tangannya dengan lihai malah membuka satu persatu kancing piama Carra
Carra hanya pasrah, terutama saat Juan sudah mulai menciumi lehernya dan memberikan tanda disana, cukup sering dan membuat Carra sering pula mencengkram piama yang dikenakan Juan
"Aku tidak suka saat berbicara dan kau tidak memperdulikanku" Sahut Juan, lalu kembali melancarkan serangannya
"Aku mengerti!" Lirih Carra yang malah menarik rambut Juan. Membuat laki laki yang sedang beraktivitas dengan lihai itu sekejap menghentikan aksinya
"Carra!"
Rintihnya saat dirasa rambutnya pasti telah rontok
"Pelan pelan. Sakit!" Rintih Carra
Juan mengangguk, menyatukan tangannya dengan tangan Carra kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya
Carra hanya tersenyum, dengan sesekali meringis karena merasakan sakit di bawah sana. Yah, Juan memang ahlinya dalam hal semacam ini
Atau hal semacam apapun
Mrskipun Carra bukanlah wanita pertama yang mendapat kehangatan dari tubuh Juan
-
Juan membanting tubuhnya di samping Carra setelah selesai dengan aktivitasnya. Nafasnya begitu memburu dengan kulit tubuhnya yang sedikit mengkilap karena keringat
Aktivitas yang menguras tenaga.
Juan mencium puncak kepala Carra, wanita itu sudah kelelahan dan mulai memejamkan matanya. Sedangkan Juan lebih memilih untuk kembali mandi
Ia merasa tidak akan bisa tidur dengan lengket di tubuhnya
-
Juan menggapai ponselnya yang berkedip diatas meja rias
Nomor asing yang sama. Juan membuang handuk putih kecil bekas mengeringkan rambutnya itu ke sofa. Lalu dengan langkah hati hati ia pergi ke balkon untuk mengangkat telpon dari nomor asing tersebut