My Best Match

My Best Match
Wanita dari Masa Lalu



FLASHBACK ON


"Apa kabar?"


"Ada apa kau menelponku malam malam begini. Kau mengganggu!" Maki Juan dengan suara pelan


"Aku hanya merindukanmu. Apa aku salah?" Tanyanya dengan nada sensual


"Aku rindu tidur, dan bergulat denganmu diatas ranjang!" Sahutnya dengan nada yang semakin menggelikan bagi siapapun yang mendengarnya


"Hentikan omong kosongmu. Jenny!"


"Ada apa sayang?" Terdengar wanita itu sama sekali seperti tidak takut dengan gertakan Juan


"JANGAN PERNAH MENGGANGGU HIDUPKU!"


"Kenapa? Kau takut aku mengganggu rumah tangga kalian?"


"Oh yah, aku belum memberi ucapan selamat kepadamu atas pernikahan kalian. Aku banyak melihat foto istrimu di berbagai media. Mm, menurutku dia cantik"


"Sangat cantik, pantas saja kau lebih memilihnya daripada aku. Tapi sayang, dia benar benar sial karena menikah dengan pria bejad sepertimu!"


Juan meremas erat ponsel yang menempel di telinganya. Jenny benar benar menguji tingkat kesabarannya


"Oh, dan. Apa dia bisa memuaskanmu diatas tempat tidur? Ayolah katakan dia tidak bisa lebih dariku bukan?" Ucapnya dengan penuh kegirangan


Juan menyeringai,


"Wanita sialan!" Sahutnya. Lalu menutup telpon begitu saja. Akan pecah kepalanya jika terus mendengarkan racauan Jenny yang tidak masuk akal


Jenny hanya tersenyum, kemudian melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Seorang pria baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya, sedangkan wanita itu sendiri. Ia juga memakai baju mandinya dengan rambut yang disanggul tinggi


Sudah biasa baginya mandi malam, setelah memuaskan kliennya


"Kau habis menelpon siapa sayang?" Tanya pria itu sambil memakai sebagian pakaiannya


"Cepat transfer uangnya, dan saat aku keluar dari kamar mandi. Ku harap kau sudah tidak ada disini!" Ungkapnya yang lalu cepat bergegas ke kamar mandi. Meninggalkan pria itu yang sedang mengotak atik ponselnya, mentrasfer sejumlah uang yang telah ia janjikan pada wanita tadi


FLASHBACK OFF


*


"CARAMELL"


Suara keras yang memekakan telinga itu begitu nyaring terdengar didalam sebuah rumah besar kediaman keluarga Araganta


Carra yang semula sedang asik merapihkan rambut Syan lantas menoleh, dan mendapati seorang gadis dengan pakaian super minimnya itu tengah merentangkan tangan dengan senyum secerah bulan purnama pada Carra


"Apa?" Tanya Carra dengan tangan yang terlipat di depan dadanya. Tatapannya seolah tidak tertarik, atau tidak rindu pada wanita itu


"Memang siapa yang mengizinkanmu untuk memeluk istriku?" Tanya Juan yang tiba tiba saja muncul dari arah belakang Carra dengan pakaian santainya


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan memelukmu saja!" Sahutnya yang mulai melangkah mendekati Juan, dan dengan cepat Juan menggendeng Carra, membuat langkah kaki


Jasmine terhenti


"Stupid!" Umpatnya


Carra hanya tersenyum, kemudian memeluk Jasmine dengan penuh rasa rindu. Wanita yang selalu mengganggunya jika di kampus dulu


Juan hanya tersenyum, lalu menghampiri Syan


"Mengapa sudah jadi ibu rumah tangga pun kau malah semakin cantik saja Carra?" Tanyanya kemudian, sambil mengamati wajah Carra


"Karena suamiku itu tampan" Sahut Carra yang kemudian tertawa


"Dasar, maksudmu auranya tertular padamu, begitu?" Tanya Jasmine dengan jengah


"Kurasa begitu!" Sahut Carra, lalu menggandeng Jasmine untuk duduk di sofa, disana Juan sudah duduk dengan Syan


"Hey, kau Syan?" Tanya Jasmine pada anak kecil itu


"Iya tante"


"Hmm, kau cantik, apa karena Dady mu tampan?" Tanya Jasmine yang membuat Syan tertawa


Sampai kemudian datanglah pelayan yang mengantarkan minuman untuk Jasmine


"Apa kau akan lama disini Carra?" Sambil meneguk minumannya, matanya mengerling pada Carra


"Oh, tidak! Besok aku akan segera kembali ke new york"


"Cepat sekali"


"Juan tidak bisa meninggalkan perusahaannya begitu saja Jas"


"Oke, aku tau suamimu itu adalah Bapak Presdir yang terhormat!" Sahutnya, matanya mengerling pada Juan yang tengah memainkan sebuah game ponsel dengan Syan


Laki laki itu hanya menggeleng, tidak terlalu antusias


"Iya. Maka dari itu kami harus secepatnya kembali ke new york"


"Baiklah nyonya Zhucarlos!" Sahut Jasmine dengan tingkah patuh


Dan setelah itu, keduanya larut dalam obrolan seputar kehidupan selama dua bulan terakhir


Juan nampak tidak terganggu dengan kehadiran Jasmine yang mengambil alih istrinya, ia cukup paham jika istrinyapun pasti merindukan saudara sepupunya yang selalu memakai pakaian kurang bahan itu