My Best Match

My Best Match
MY BEST MATCH SEASON 2 (Dunia yang Baru)



Hallo, apakabar?


Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Allah swt, para readersku tercinta❤


Aku sudah menamatkan cerita ini beberapa bulan yang lalu, ada beberapa request yang meminta bonus part, dan juga cerita lanjutan tentang kisah anak Carra dengan Juan


Dulu aku masih berfikir dan pertimbangin dengan matang. Karena jika membuat alur cerita yang asal asalan, aku takut ngecewain kalian


Btw, aku baca ulang My Best Match. Dan entah kenapa aku ada ketertarikan dengan karakter Syan, juga Darendra, putra Carra dan Juan. Meski ia muncul di part terakhir, tapi karakternya kuat sekali untuk di buatkan squel


Dan setelah difikir fikir, aku ada ide buat lanjutin cerita ini di Season 2. Dengan tokoh Syan dan Daren yang pastinya lebih mendominasi


Maka munculah cerita ini


My Best Match Season 2


Ini tentang Syan dan Daren,


tentang mereka yang sudah lama


bersama dalam satu atap yang sama. Ribut dan bertengkar setiap hari, namun nyatanya waktu membuat semuanya berbeda, ketika mulai ada percikan cinta dihati keduanya


Penasaran?


Selamat membaca:")


Semoga suka ya:")


-


Beberapa tahun berlalu dan Carra selalu merasa bahagia dengan kehidupan dikeluarga kecilnya. Ia merasa menjadi ibu rumah tangga yang sempurna. Carra merasa dunianya benar benar penuh cinta. Ia memiliki suami yang sangat mencintainya, dan juga anak anak yang tampan dan cantik yang juga sangat menyayanginya


Syan, yang kini sudah dewasa dan sedang melaksanakan studynya di perguruan tinggi di New York tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, hidup dalam didikan keluarga terpandang membuatnya juga menjelma menjadi gadis yang cerdas. Tapi seperti biasa, kebiasaannya dengan Daren masih sama seperti dulu. Mereka masih suka bertengkar dan ribut tidak karuan. Tapi Carra selalu senang melihatnya, mereka sumber kebahagian bagi Carra


Daren, jagoan Carra dengan Juan itu tumbuh menjadi pemuda tampan yang persis dengan sang Dady. Ia baru saja menyelesaikan Sekolah Menengah Atasnya dan berkuliah di campus yang sama dengan Syan. Satu hal lagi, nampaknya, sifat playboynya pun menurun dari Juan, ia sering bergonta ganti pacar seperti berganti baju saja. Membuat Syan sering sekali mencibirnya karena Daren yang ia anggap laki laki murahan


Meski sampai detik ini keduanya masih sering bertengkar, faktanya mereka tetap lah saling menyayangi. Bahkan ada sedikit emosi berbeda yang terlihat diantara keduanya, yang tidak dapat dibaca secara pasti


"Tidak. Aku tidak ingin kau menumpang dengan mobilku. Enak saja, kau bawa mobilmu sendiri. Atau kau bisa meminta saja pacarmu datang kemari dan menjemputmu"


"Yah, dan satu hal lagi, jangan pernah menggangguku! Tolong jangan so akrab jika sedang di kampus. Aku tidak suka!"


Syan terus saja mengoceh selama mereka menuruni anak tangga. Dan pemuda dibelakangnya hanya acuh tak acuh saja sambil mengenakan jaketnya


"Kau bosan hidup yah. Mau ku bunuh?"


"Bunuh aku dengan cintamu!" Katanya sambil berlalu melewati Syan, Syan menarik jaket Daren


"Apa yang kau katakan? Anak nakal! Berbicara manislah pada kakakmu yang cantik ini" Pintanya dengan terssnyum manis


"Of cours no!"


"Tuan Zhucarlos muda, kau manis sekali. Apa tidak bisa sedikit saja lebih sopan padaku?"


"Tidak"


Daren setengah berlari menuruni anak tangga setelah menepis tangan Syan yang meremas jaketnya. Meninggalkan Syan yangnampak geram padanya


"Ada apa? Ribut? Bertengkar? Momy lelah dengan kalian!" Keluh Carra saat Daren duduk disampingnya dengan nafas yang sedikit terengah engah. Sedangkan Juan yang sedang menyesap coffee nya hanya tersenyum saja melihat sang putra


"Pemanasan Mom. Akan tidak enak rasanya memulai hari jika tidak ribut dengan kakak tercinta" Sahutnya setelah memasukan sandwich ke mulutnya


"Apa aku benar Dad?" Ia meminta pendapat sang Dady


"Yah, kau benar sekali!"


"Yayaya. Dukung terus putramu yang gila wanita itu Dad" Sambar Syan yang baru saja datang dan kemudian duduk di kursi yang bersebrangan dengan Daren. Laki laki itu tengah asik makan tanpa memperdulikan ocehannya


Menjengkelkan!


"Dad tidak mendukungnya Syan!"


"Pembohong!" Cibir Syan pada Juan yang tersenyum simpul


"Sudahlah. Kalian ini!" Carra menengahi putra putri dan suaminya itu


Begitulah mereka setiap pagi, Carra sudah terbiasa. Tapi juga tidak ingin untuk selalu membiarkannya


Daren mengangguk patuh, melanjutkan sarapan setelah sempat menjulurkan lidah pada Syan yang tidak ditanggapi oleh gadis cantik itu


Mereka menikmati sarapan dengan tenang. Hanya ada mereka berempat dimeja makan. Max, dan Sonya. Mereka memilih untuk tinggal diluar kota, mengistirahatkan diri dan menikmati masa tua. Awalnya Juan merasa keberatan dengan keputusan Ayah dan Ibunya itu, tapi demi ketenangan mereka berdua, akhirnya dengan terpaksa Juan mengizinkannya dan akan berkunjung kesana setiap dua bulan sekali dengan keluarganya


Ia beruntung memiliki Carra, memiliki Syan yang sudah beranjak dewasa. Juga memiliki Daren yang tubuh sebagai copy paste nya