My Best Match

My Best Match
Sebuah Kebahagiaan



"Bagaimana?" Tanya Juan saat Abram yang katanya akan melamar itu sudah datang ke mansion


Carra yang semula asik menonton tivi dengan Syan lantas menoleh pada Abram yang nampak berpakaian rapih. Khas orang yang sudah melangsungkan lamaran


Abram yang hendak berjalan menuju kamarnya lantas berbelok menghampiri Juan yang berada di ruang keluarga bersama anak dan istrinya.


"Lancar?" Tanya Juan lagi saat Abram sudah duduk di sofa tunggal diantara mereka


"Lancar!" Abram menyahut seperlunya, dengan tangan yang sibuk membuka dasinya


"Baguslah. Mau ku bantu mempersiapkan acara pernikahan kalian?" Tanya Juan setelah menyesap coffee buatan Carra tadi


"Tidak perlu, terimakasih. Aku sudah meminta tolong pada Alex"


"Hanya Alex? Aku juga saudaru Abram, jangan sungkan untuk meminta bantuanku" Sahut Juan yang merasa tidak di anggap oleh Abram


"Aku tidak ingin merepotkan"


"Bagaimana mungkin merepotkan, kau saudaraku. Seperti pada orang lain saja!" Rutuk Juan


Abram hanya tersenyum, sekilas ia menoleh pada Carra, juga pada tangan wanita itu yang di genggam oleh Juan. Menyebalkan! Seperti akan menyebrangi jalan raya saja


"Akan ku suruh orang orangku untuk mengatur semuanya, kau tidak perlu memikirkan apapun. Kau hanya perlu mempersiapkan diri lahir dan batin!" Cerocos Juan


Abram hanya mengangguk patuh, bagai sedang di ceramahi oleh seorang Ayah


"Benar itu Abram, kami ini kan keluarga kamu. Jangan sungkan" Sambar Max yang muncul dari arah kamarnya bersama dengan Sonya


Ia memang sudah sampai di mansion sore tadi


"Iya Om"


"Kau sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri Abram, bila membutuhkan sesuatu. Maka katakan saja" Timbrung Sonya


"Iya Tante, pasti" Abram menyahut patuh


Ia memang sangat perlu bersyukur pada Tuhan dan banyak terima kasih kepada kedua orang tua Juan yang sudah mengurusnya sejak kedua orang tuanya meninggal


Bahkan mereka sudah menganggap Abram sebagai anak kandung mereka sendiri. Sejak kecil, Sonya dan Max tidak pernah membeda bedakan dalam memberi kasih sayang pada Juan maupun dirinya


Mungkin itu sebabnya Abram selalu mengalah pada Juan dalam hal apapun, termasuk merelakan Carra. Mungkin hal itu dilakukannya sebagai bentuk terimakasih pada orang tua Juan karena sudah berbaik hati padanya selama ini


"Kau bawa calon istrimu kemari besok" Sahut Max, sontak hal itu cukup membuat Abram sedikit terkejut


"Untuk apa Om?" Tanya Abram akhirnya


Carra nampak biasa saja mendengar hal itu. Ia justru sibuk menghindari Juan yang sedari tadi meniup niupi tengkuknya


Dan Juan hanya tertawa kecil saat Carra menggerutu, bahkan mencubit paha-nya


"Dia calon menantu kami, apa kami tidak boleh bertemu dengan dia?" Tanya Max


"Besok hari minggu bukan. Jadi, ajak dia kemari" Imbuh Max yang tidak bisa di bantah


"Baik Om"


Abram lagi lagi menyahut dengan patuh


-


"Carra, kita ke kamar" Bisik Juan, saat yang lain masih sibuk mengobrol tentang rencana pernikahan Abram dengan Della


Carra menoleh


"Syan belum tidur" sahut Carra yang juga ikut ikutan berbisik


"Dia sedang menonton tv sayang"


"Ya, dan dia akan meminta ikut saat kita pamit ke kamar nanti" Sahut Carra yang membuat ekspresi sedih dari Juan keluar


Laki laki itu mengacak rambutnya dan menjatuhkan diri di pundak Syan, membuat bocah yang sudah mulai mengantuk itu menggerutu marah karena ulahnya


"Grandfa" Teriaknya dengan nyaring


Max yang semula sibuk mengobrol dengan Abram mengenai gedung yang akan di pilih untuk acara respesi lantas menoleh pada Syan yang tiba tiba saja berteriak


"Ada apa sayang?" Tanya Max begitu ia bertatapan dengan mata bulat Syan


"Marahi anak mu yang nakal ini Grandfa!" Rutuk Syan sambil berusaha mendorong kepala Juan agar enyah dari pundaknya


Sesaat suasana tiba tiba saja hening. Sampai kemudian para orang dewasa itu tertawa mendengar kalimat yang di lontarkan Syan barusan


Termasuk Carra yang merasa lucu dengan ucapan Syan tadi. Ia tertawa dengan lepas, dan hal itu tidak luput dari perhatian Abram


"Menyebalkan!" Gerutu Syan saat semua orang bukan membela, justru malah menertawakannya


"Kau lucu Syan, Dady ini bukan anak Grandfa" Sahut Juan sambil mengacak rambut Syan dan lagi lagi membuat gadis kecil itu menggerutu kesal padanya


"Momy" Syan mengadu pada Momy nya. Carra hanya tertawa, lalu merapihkan rambut Syan yang diacak oleh Juan tadi


"Sudahlah Juan, kasihan putrimu" Sonya menengahi


"Hanya menggodanya Ibu. Hukuman untuk pengganggu!" Sahut Juan yang lalu melipat tangan di dadanya


Syan yang dikatai seperti itu lantas menoleh pada Juan


"Apa maksudmu Dad, aku mengganggu apa?" Tanyanya dengan raut wajah yang terlihat begitu kesal


"Mengganggu Momy dengan Dady!" Sahut Juan


Syan cemberut, lalu juga melipat tangan di dadanya seperti Juan setelah mencubit lengan laki laki itu. Sonya dan Max hanya menggeleng mendengar ucapan Juan


Putranya itu sekarang semakin berbeda setelah menikah dengan Carra. Sekarang, ia menjadi jauh lebih terbuka


"DADY!" Teriak Syan saat Juan masih juga menggodanya dengan kembali mengacak rambutnya


Dan Carra hanya tersenyum sambil menggeleng melihatnya. Melihat kelakuan dua orang yang sama sama sedang menempel pada tubuhnya


Carra bahagia berada di tengah tengah keluarga ini. Ia bahagia memiliki suami seperti Juan, dan putri kecil seperti Syan yang sangat menggemaskan


Benar, kebahagiaan memang sesederahana ini


"Jangan mengganggunya terus Juan, nanti dia tidak tidur tidur!" Lerai Carra sambil memindahkan Syan yang semula ada di pangkuannya menjadi kesamping kiri Carra, memisahkannya dari jangkauan Juan


"Kau bahkan merebut perhatian istri Dad, Syan"


"Jangan salahkan aku Dady!"


Alhasil Carra hanya memegang kepalanya, pusing menghadapi dua bocah di sekitarnya ini


Diam diam Abram meninggalkan ruang keluarga itu dengan senyuman tipis di bibirnya


"Mintalah tidur di kamar Dady, malam ini Syan" Sahut Max dengan kekehan kecil sambil berlalu dengan Sonya menuju kamarnya


"Ayah!" Rutuk Juan dengan sedikit berteriak. Dan Max hanya tertawa mendengarnya


Lagi lagi Carra hanya tersenyum, dengan tingkah orang orang di mansion ini yang terlampau asik


Carra bahagia berada disini