My Best Match

My Best Match
Surprise dari Araga



"Menyebalkan!" gerutu Syan saat ia tak lagi mendapat balasan pesan dari Araga. Ada pesan darinya mengganggu, tidak ada, ia selalu menunggu. Ironis bukan?


"Ada apa Syan, kau bertengkar lagi dengan Daren?" tanya Zoey saat melihat Syan yang nampak murung. Dosen sudah keluar, yang lain juga sudah menikmati waktu istirahatnya


Syan menoleh


"Bukan!"


"Kau tau sendiri, sudah beberapa hari ini Daren begitu tidak memperdulikanku. Aku tidak tau apa alasannya, yang pasti, dia terlihat menyebalkan sekarang!"


"Bukankah dimatamu dia memang selalu menyebalkan, Syan." Lucy tertawa


"Yah. Dan dia sekarang jauh sangat lebih menyebalkn."


"Kau juga menyebalkan Syan,"


Syan mendelik pada Lucy, tapi enggan menanggapi gadis itu.


"Syan...,"


Syan menoleh ke asal suara yang memanggilnya, begitu juga Zoey dan Lucy. Terlihat seoarng siswi berdiri diambang pintu kelasnya


"Ada apa?" tanya Syan dengan dahi berkerut


"Datanglah ke kantin lantai 3."


Dahi Syan berkerut. Semua orang bebas datang ke kantin, kantin mana saja terserah. Tapi kenapa tiba tiba ada yang mengaturnya untuk datang ke kantin lantai 3 seakan ia tidak boleh memilih kantin sendiri.


"Ada apa menyuruhku datang ke kantin sana?"


"Datang saja. Atau kau akan menyesal nanti!" siswi itu berlalu, membuat Syan geram sekaligus heran


"Siapa yang berani mengancamku," lirih Syan yang kemudian bangkit dari duduknya


"Kau ingin ditemani, Syan?" tanya Zoey saat melihat Syan yang hendak beranjak. Syan mengangguk. Lucy dan Zoey akhirnya ikut bangkit dan mengikuti langkah Syan menuju kantin lantai 3


"Bagaimana, kau sudah mengatakannya pada kakakmu?" tanya Lion pada Daren yang asik sendiri bermain kubik. Ia menyebut kakakmu dengan penuh penekanan


Mereka sekarang sedang berada di sebuah ruangan khusus tempat biasa mereka nongkrong didekat gudang kampus.


"Sudah!" sahut Daren dengan singkat


"Lalu bagaimana responnya?" Renard dan Ram bertanya secara bersamaan


Daren tertawa hambar, kemudian meletakan rubiknya dimeja kayu dihadapannya


"Dia menertawakanku,"


Ketiga kawan Daren mengernyit heran


"Dia mengira jika aku bercanda, dia tidak percaya,"


Lion tertawa, membuat tatapan tiga pemuda itu mengarah padanya dengan heran dan kesal, terutama Darendra


"Apa yang kau tertawakan? Aku yang ditolak, yang ditertawakan, yang tidak dipercayai. Atau apa?"


"Kau yang mengungkapkan cinta pada kakakmu sendiri!" Lion menyahut cepat


"Aku menertawakan itu Daren. Yang benar saja! Wajar jika Syan merespond kau dengan cara mengenaskan, kalian adik kakak. Sekalipun Syan menganggap kau serius, dia tidak akan mau menerima kau!" ocehnya dengan panjang lebar


"Ohh, begitu ya." Daren bagai berfikir dengan tatapan sinis pada kawannya itu


"Jangan berlebihan Daren, kendalikan perasaanmu. Kau bukan hanya harus memikirkan dirimu sendiri dan Syan, tetapi juga keluargamu. Terutama Om Juan," Lion mengingatkan. Daren terdiam, mempertimbangkan sesuatu dan kemudian mengangguk anggukan kepalanya


"Apa yang sekarang kau fikirkan?" tanya Ram saat Daren tiba tiba saja tersenyum


"Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan Syan!"


Ram dan Renard nampak tercengang, sementara Lion hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia benar benar tidak habis fikir pada orang yang sedang dimabuk cinta


Sementara itu, Syan mematung pada saat ia sudah menginjakan kakinya di kantin lantai 3. Kantin itu biasanya memang tidak terlalu ramai seperti kantin lantai 2, dan mungkin karena alasan itulah seseorang itu berada disini. Di meja nomor 11 dengan banyak makanan yang sudah terhidang disana. Seperti biasa, skretarisnya dengan setia berada dibelakangnya


Bahkan Syan tidak melihat mahasiswa lain berada di kantin. Yang artinya, kantin lantai 3 sudah di booking oleh Araga. Memangnya boleh? Batin Syan bertanya tanya


"Dia sudah gila," lirih Syan ketika melihat Araga bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahnya dengan senyum menawan


Zoey dari arah belakang sudah berkasak kusuk dengan Lucy, Syan tidak tau mereka sedang berbicara, atau memikirkan apa. Karena Araga sudah berdiri dihadapannya dan sedikit membuatnya gugup


"Baguslah kau datang. Aku sudah lama menunggu." Sahutnya sambil mengulurkan taangannya pada Syan. Setengah ragu, Syan menerimanya dan berjalan dengan dituntun pria tampan itu. Erick juga nampak menghampiri Zoey dan Lucy, mengajaknya duduk di meja yang sedikit jauh dari Araga agar tidak mengganggu acara kencannya dengan Syan


"Kenapa kau tidak duduk?" tanya Zoey saat Erick malah akan beranjak setelah mempersilahkan mereka duduk


"Tidak nona," tolaknya dengan lembut


"Jika aku memintamu duduk, bagaimana?" Zoey seolah memaksa. Erick tersenyum


Zoey bangkit


"Ayolah. Kau hanya duduk dan menemani kami disini, lagi pula kau disana juga hanya akan menjadi obat nyamuk bagi Bos mu dan gadis pujaannya." oceh Zoey yang mati matian membujuk Erick agar mau bergabung dengannya


Erick terdiam, kemudian menoleh pada Araga dan Syan yang sudah terlibat obrolan, ah ralat. Terlibat perdebatan sepertinya


"Bagaimana?" Zoey kembali meminta kepastian, sementara Lucy hanya asik bermain ponsel tanpa mau perduli pada empat orang yamg berada disana. Karena disana atau ditempatnya sekarang, ia hanya akan menjadi obat nyamuk untuk mereka


"Baiklah." Erick akhirnya duduk pasrah dengan dua gadis itu, membuat Zoey tersenyum dengan bahagia, dan Lucy nampak biasa saja


Berbeda dengan Syan yang terlihat kesal pada pria dihadapannya


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan kesal


"Memangnya apa?"


"Ini?" Syan melihat sekeliling mereka yang nampak lengang, barangkali kantin lantai atas sekarang sedang ramai ramainya karena para mahasiswa yang biasa datang ke kantin lantai 3 mau tidak mau harus datang ke kantin lantai 2


"Tidak papa, Syan. Aku hanya mengosongkan kantin dan mengundangmu datang kesini?"


"Ada yang salah?" sambungnya dengan percaya diri


"Ada!"


"Apa?" dahi Araga berkerut


"Isi kepalamu!"


Araga tertawa


"Aku hanya ingin makan siang denganmu, dan kau bilang jika kau sedang di kampus. Maka aku yang berbaik hati untuk datang kemari, kau seharusnya berterimakasih Syan,"


Syan tertawa hambar


"Apa dengan kau melakukan ini aku harus merasa beruntung, Tuan Araga?" tanya Syan dengan sinis


Araga tersenyum manis. Kemudian menyahut datar


"Tidak perlu!"


Ia mengambil sendok dan memakan makanannya, sementara Syan hanya tersenyum melihat tingkah pria itu, lalu ia pun memakan makanannya, dengan sesekali tersenyum melihat ekspresi kesal Araga


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanyanya disela sela makan


Araga mendongak, wajah kesalnya mendadak berubah menjadi jenaka seperti biasanya


"Kau mulai perhatian padaku Syan?" tanyanya dengan senyuman. Syan terpaku menatap pria itu, sampai kemudian ia tersadar dan malah menunduk mengaduk aduk makanannya. Araga tersenyum, lalu melanjutkan makan


Sedangkan Syan justru terdiam bimbang


"Tidak perlu sungkan Syan. Calon suamimu juga tidak akan marah, dan Daddy kau juga tidak akan tau hal ini. Percayalah!"


Syan tersenyum


"Tidak papa. Biar nanti kau yang disalahkan jika sampai Daddy tau kau datang ke kampusku dan memaksaku untuk makan siang bersamamu,"


"Aku siap dengan apapun hukuman yang akan diberikan Om Juan."


Syan hanya tertawa mendengar ocehan Araga yang terdengar begitu pasrah


**


Kantin lantai 2 sedang ramai ramainya dipadati para mahasiswa yang menikmati waktu istirahatnya. Membuat Daren dan kawan kawannya merasa heran dengan keadaan yang tidak biasa mereka lihat itu


"Ada apa. Tidak biasanya anak kantin lantai 3 berada disini," Renard nampak heran. Terlebih mereka tidak kebagian tempat karena sudah penuh


"Aku tidak tau, tapi sepertinya tidak ada tahap renovasi apapun di sana. Mengapa anak kantin lantai 3 mengungsi kemari." Ram juga ikut berkomentar. Daren dan Lion hanya terdiam saja


"Hey, ada apa di kantin lantai 3, mengapa semua mahasiswa makan disini?" tanya Ram pada salah satu mahasiswa yang lewat membawa piring makan ke arah luar kantin. Sepertinya ia tidak kebagian tempat duduk


"Ada pemilik kampus. Dia sedang menyiapkan surprise untuk pacarnya,"


"Pacarnya?"


"Kakaknya Darendra yang cantik itu," sahutnya dengan satu alis terangkat


"Syandu Anjasmara?" tanya Ram dengan dahi berkerut


Mahasiswa itu mengangguk. Sementara Ram melongo, kemudian menatap Daren yang ternyata mendengarkan obrolannya dengan siswa tadi sejak lama


Daren terlihat mendesah, kemudian berlalu dari kantin. Ia tau siapa pemilik kampus ini, dan ia merasa gamang. Kesal. Marah. Rasanya ingin mengacak acak isi dunia saat mendengarnya.


TBC