My Best Match

My Best Match
Harus Merelakan



Syan merebahkan diri diatas tempat tidur. Mengayunkan kakinya ke udara berulang kali. Ia senang, sekaligus bimbang. Nama yang pertama kali diingatnya adalah Araga, calon suaminya. Pria kedua yang membuatnya jatuh cinta setelah adiknya. Darendra.


drrt drrtt


Syan menggapai ponsel disampingnya, membaca siapa nama sang penelpon. Ia segera menggeser ikon hijau dengan senyum bahagianya.


"Ada apa? Sudah merindukanku?" tanya Syan dengan tingkat kepercayaan dirinya yang begitu tinggi menyaingi burung terbang diangkasa.


Araga tertawa di ujung sana.


"Dari mana kau tau, sayang?"


Syan menggigit bibir bawahnya. Nada bicara Araga manis sekali.


"Apa kau bisa membaca fikiranku sekarang?"


"Tidak!"


"Lantas?"


"Aku hanya menebaknya, Araga. Kau ini," gadis yang tersipu malu itu menggerutu.


"Kau harusnya tak perlu menebak-nebak. Kau bahkan mengetahui isi hatiku, Syan."


Syan tertawa.


"Baiklah baiklah. Jangan membahasnya lagi, aku geli mendengarmu berbicara seperti itu," tuturnya sambil menahan tawanya yang akan kembali pecah mendengar Araga menggerutu di ujung sana.


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Syan. Kali ini ia serius.


"Membahas pertunangan kita. Bagaimana?"


Syan melongo tak percaya. Bahkan keduanya baru saling jujur mengenai perasaan mereka kurang dari 24 jam. Dan Araga ingin segera membahas pertuanangan? Yang benar saja.


"Bagaimana, Syan?"


"Euuu, apa?"


Araga tertawa.


"Kau tidak perlu gugup seperti itu sayang. Bukankah itu tujuan kita di pertemukan. Syan, kau adalah alasan kenapa aku di ciptakan."


Syan terdiam. Kenapa bicara Araga manis sekali? Bahkan sangat manis dari permen kapas.


"You talk to much sugar!"


"Aku serius, Syan."


"Jadi, aku harus bagaimana. Calon suami,"


Araga terkekeh diujung sana mendengar Syan yang menyebutnya calon suami dengan nada gemas.


"Kita bahas hal ini, sekarang juga."


Syan mengembangkan senyum. Sesekali tertawa mendengar ocehan Araga diujung sana yang bercerita mengenai keinginan pesta pertunangannya dengan Syan.


"Memangnya boleh?" tanya Syan saat Araga ingin melaksanakan acara pesta pertunangan mereka minggu depan.


"Kita yang akan bertunangan, sayang. Sesuai keinginan kita saja. Tak perlu mendengarkan orang lain."


"Kita memiliki keluarga, Araga. Memangnya tidak perlu mempertimbangkan pendapat mereka,"


"Mereka akan mendengarkanku, Syan. Kau tenang saja,"


Syan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Baiklah, aku mengikutimu saja."


"Cerdas,"


"Yah, memang."


"Aku tutup telponnya, Syan. Aku mencintaimu,"


"Aku juga mencintaimu,"


Panggilan terputus. Syan menatap layar ponselnya, kemudian tersenyum dan mendekap ponselnya erat erat. Kenapa jatuh cinta pada Araga semembahagiakan ini?


"Araga Dimitry. I love you," setelahnya. Syan tersenyum sendiri, malu pada dirinya sendiri karena terlalu berlebihan dengan perasaannya.


**


Hari ini, Syan menyambut pagi dengan penuh kebahagiaan. Ia seolah terlahir kembali, ia seolah mendapatkan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Ia sudah rapih dengan pakaian yang dikenakannya untuk ke kampus.


Berjalan menuruni anak tangga dengan tampang yang terus tersenyum. Duduk di kursi miliknya di meja makan. Juan dan Carra hanya tersenyum melihat putri mereka yang nampak berbahagia. Berbeda dengan Darendra yang tetap memalingkan muka.


"Oh, ya Syan."


Syan yang sedang memasukan sandwich ke mulutnya menoleh pada Juan.


"Dad?"


"Semalam Araga menelpon Dad,"


Syan terdiam. Tiba tiba saja ia mengingat obrolannya dengan Araga semalam mengenai rencana pertunangan mereka.


"Kenapa?"


"Apa yang dia katakan?" tanya Syan. Beruntun, sekilas ia juga menoleh pada Daren disampingnya. Ingin melihat ekspresi pemuda itu yang hanya diam dengan cuek saja ternyata.


"Membahas tentang pertunangan kalian,"


Brak!


Daren bangkit dari duduknya sebelum menyelesaikan sarapan.


"Daren," Juan menegur putranya.


"Maaf Dad, aku sudah selesai. Aku harus buru buru ke kampus,"


Carra menatap putranya. Tak mengerti, akhir akhir ini Daren sering sekali bersikap aneh dan berbeda dari dirinya yang biasanya.


"Berhati hati lah," pesan Carra.


Daren mengangguk. Mengambil tasnya dan kemudian berlalu begitu saja. Sementara Syan, bahkan ia tidak berani sedikitpun menatap sang adik.


"Yasudah, biarkan saja." Juan memecah keheningan di meja makan yang tiba tiba saja tercipta setelah kepergian Darendra.


Syan mengangguk, begitu juga Carrra yang melanjutkan sarapannya yang belum selesai.


"Syan,"


Syan mengangkat pandangannya. Menatap Juan lebih dalam.


"Ada apa, Dad?"


"Apa kau benar benar mencintai Araga dan yakin dengan hubungan kalian ini?"


Syan sejenak terdiam. Ia merasa aneh dengan sikap sang Daddy yang tiba tiba saja bertanya mengenai hal ini.


"Maksud Dad, bukan karena kau mau membahagiakan Daddy dan terpaksa menerima perjodohan ini?"


Syan dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Sedikitpun aku tidak terpaksa, Dad. Aku tulus mencintai Araga." sahut Syan dengan yakin. Sementara Juan mempertimbangkan apa yang tadi menjadi jawaban putrinya. Lalu melempar pandangannya pada Carra. Carra hanya menggerakan matanya, bingung.


"Apa sebelum kau jatuh cinta pada Araga, ada seseorang yang lebih dulu menyinggahi hatimu?"


Kali ini Syan tidak langsung menjawab. Ia malah diam seperti patung. Ia tidak mau berbohong pada Juan, tapi juga tidak mungkin jujur jika ada yang pernah menyinggahi hatinya sebelum Araga. Yaitu Darendra, adiknya.


"Syan,"


Carra menyadarkan. Syan terhenyak, tapi kemuduan ia dapat dengan cepat menguasai diri.


"Tidak ada Dad, tidak ada yang pernah menyingghi hatiku. Bukankah aku selalu mengunci rapat pintu hatiku untuk siapapun, selain calon suamiku yang sudah kau pilihkan." tutur Syan dengan panjang lebar dan penuh keyakinan. Meski sebagian cerita yang disampaikannya adalah kebohongan.


Juan mengangguk mantap. Ia melihat kesungguhan dimata putrinya saat mengatakan jika dirinya mencintai Araga.


Satu minggu setelah itu, pesta pertunangan mewah antara Syan dengan Araga digelar disebuah hotel bintang lima milik Ardana Dimitry.


Acara berjalan dengan lancar sampai sesi pemotretan keluarga. Raut bahagia sangat jelas tercetak diwajah dua orang pemilik acara, Syan dengan Araga. Satu minggu Araga disibukan oleh pekerjaan dan persiapan untuk pesta pertunangan antara dirinya dengan Syam, hari ini ia dapat bernafas lega karena dalam jari manisnya, sudah ada sebuah cincin yang melingkar dijari manisnya dan jari manis Syan.


Jangan salahkan dirinya jika mulai hari ini, ia mengklaim bahwa Syan, adalah miliknya, milik Araga Dimitry.


Di keramaian pesta, diantara orang orang yang berbahagia. Satu wajah nampak terlihat berbeda dari yang lainnya. Wajah tampannya seperti tidak bahagia dengan acara meriah dihadapannya. Dia adalah Darendra.


Ingatannya justru berlari pada kejadian 2 hari yang lalu saat Juan masuk ke kamarnya.


"Dad,"


Juan tersenyum, melangkah ke arah putranya yang sedang duduk di hadapan meja belajarnya. Kemudian duduk di tepi tempat tidur, menatap Daren yang tengah mengerjakam tugas kuliahnya.


"Lanjutkan saja!" sahut Juan agar Daren tetap mengerjakan tugasnya.


Daren mengangguk dan kembali berkutat dengan laptopnya. Setelah selesai, ia berbalik pada Juan yang menunggunya dan nampak memperhatikannya penuh arti. Ia mulai penasaran.


"Ada apa Dad. Ada hal penting yang ingin kau katakan?"


"Biar ku ingat ingat, kau sudah sangat lama tidak datang ke kamarku."


Juan tertawa menanggapi ucapan putranya.


"Maafkan Dad, Dad terlalu sibuk bekerja."


Daren hanya tersenyum menanggapi ungkapan jujur Juan tentang kesibukannya. Setelah tawa Juan reda, suasana menjadi hening, Juan bingung harus mulai mengatakannya dari mana pada Darendra. Sedangkan Darendra sendiri bingung dan bertanya tanya mengenai kedatangan Juan yang datang ke kamarnya.


"Daren,"


"Hmm?"


"Apa, ada gadis yang membuatmu jatuh cinta?"


Darendra memicingkan mata.


"Ada apa Dad, kenapa kau tiba tiba saja bertanya seperti itu. Kau ingin aku membawakanmu calon menantu?" candanya yang seperti tertangkap basah dan mendapat jebakan dari pertanyaan Juan.


"Syan akan segera bertunangan dengan Araga,"


Senyum dibibir Daren lenyap begitu saja mendengar penuturan Juan yang seolah memojokannya.


"Maksud, Dad?"


"Aku ayahmu, Daren. Aku tau kau memiliki hati untuk Syan. Lebih dari sekedar adik dan kakak. Bukankah begitu?" tanya Juan tanpa basa basi.


"Dad, jangan bercanda." pemuda itu masih saja mengelak. Menolak membuka fakta mengenai perasaannya. Ia payah, takut Juan akan marah padanya dan mempermalukan nama keluarga besar Zhucarlos jika ia nekat berhubungan dengan Syan.


"Katakan yang sejujurnya Darendra." kali ini Juan justru mendesak.


Daren terdiam, ia hanya mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Iya Dad. Aku memang mencintai Syan."


Juan mengangguk.


"Baguslah. Kau memang harus jujur,"


"Dengar Daren. Dad memahami perasaanmu, tapi Dad berharap jika kau masih sadar akan status kalian,"


"Aku tau Dad,"


"Syan mencintai Araga."


"Aku tau."


"Relakan saja dia. Kau akan tetap menjadi orang berharga dalam hidup Syan."


"Seandainya Syan mencintai kau pun, kalian belum tentu dapat bersama."


Daren kali ini menatap mata sang ayah. Ada nyeri dihatinya mendengar pernyataan Juan.


"Apa aku tidak bisa jika melakukan apa yang Dad, lakukan dimasa lalu?"


Juan menatap putranya dengan dahi berkerut, tidak mengerti.


"Maksudmu?"


"Melakukan apa yang Dady lakukan pada uncle Abram. Merebut Momy?"


Juan tersentak. ia terdiam untuk beberapa saat. Dari mana Darendra tau mengenai masa lalunya. Sampai kemudian perlahan senyumnya mengembang.


"Kau sudah salah paham," Juan menyahut dengan nada super tenang.


Sekarang, giliran Daren yang terdiam tak mengerti.


"Kau tanyakan sendiri pada Momy. Apa pernah Dad memaksa momy untuk menikah."


Daren terdiam. Mencerna baik baik apan


yang baru saja dikatakan oleh Juan.


"Apapun kata hatimu. Kau harus percaya jika merelakan Syan adalah jalan terbaik bagi kalian."


Juan menghela nafas, kemudian bangkit dan berlalu dari kamar Daren setelah menepuk bahu putranya. Ia tau Syan mencintai Araga, dan ia tidak ingin jika nanti Daren memisahkan Syan dengan Araga. Ia tidak ingin putrinya menderita


Daren? Ia hanya belum menemukan gadisnya. Dan ia harus bisa merelakan, membiarkan Syan dengan Araga, ia harus mencari penggantinya.


TBC