
Araga mengusap rambutnya yang masih sedikit basah. Ia sudah mandi dan berganti memakai piama. Sementara Syan terlelap dibawah selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Cklek.
Araga tentu saja merasa sedikit terkejut saat membuka pintu dan mendapati Erick berdiri disana.
"Sejak kapan, kau berada disini?" tanya Araga dengan mata memicing menatap sang skretaris.
"Euu, sejak ....,"
Erick menggaruk tengkuknya. Haruskah ia bilang jika dirinya mendengar semua yang terjadi di dalam sana? Ahh, sepertinya tidak usah. Toh dia juga baru saja kembali setelah mengurus apa yang diperintahkan oleh Araga.
"Baru saja, bos."
Araga mengangguk. Kemudian berjalan menuruni anak tangga. Erick mengikutinya.
"Bagaimana?" tanyanya yang kemudian duduk di sofa lantai dasar apartementnya. Erick juga duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan Araga.
"Aku sudah menyelidikinya. Salah satu karyawan disana memang memasukan obat pada minuman nona Syan,"
"Obat?"
"Aphrodisiac."
"Sial!" umpat Araga dengan tangan terkepal sempurna. Ia sudah menduganya, menduga jika obat yang dimasukan dalam minuman Syan adalah zat untuk meningkatkan gairah ****. Wajar jika Syan bertingkah seperti tadi.
"Siapa dibalik semua ini?"
"Putri dari nyonya Asmita dan tuan Jodi."
"Gadis yang tadi pagi berbuat ulah?" tanya Araga dengan mata menyipit.
Erick mengangguk.
"Kau urus dia nanti. Sekarang beristirahatlah, kau sudah sangat bekerja keras hari ini." sahut Araga dengan tulus. Ia sangat beruntung karena memiliki Erick, rekan kerja sekaligus sahabat terbaiknya yang dapat di percaya.
"Terimaksih!"
"Ayolah, bos. Aku tidak suka jika kau berterimakasih." sahut Erick dengan tidak enak.
Araga tertawa.
"Baiklah, kalau begitu beristirahatlah!"
"Bos, bagaimana tuan Juan?"
Araga diam sebentar.
"Akan sulit menjelaskannya sekarang. Biarkan saja, aku yang akan menjelaskan padanya nanti."
"Baiklah!"
Araga bangkit, kembali ke kamarnya. Meninggalkan Erick yang bernafas lega karena sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik hari ini.
Ia melirik jam dinding, pukul dua pagi. Araga benar, ia membutuhkan istirahat sekarang.
Istirahat untuk sekarang, besok ia harus menghadapi berbagai pekerjaan lagi.
**
Sementara Araga, ia membaringkan tubuhnya disamping Syan yang pulas tertidur dengan posisi sama saat ia meninggalkannya.
Araga menyibak sebagian rambut Syan yang menutupi wajah cantiknya.
"Sayang, maafkan aku. Kau pasti merasa terpukul dengan masalah ini."
"Tapi percayalah, aku akan selalu disini. Aku akan selalu ada untukmu,"
"Aku tidak pernah meragukanmu, Syan. Aku tidak perduli dengan statusmu sebagai anak angkat keluarga Zhucarlos, atau apapun itu. Aku tidak perduli,"
Araga menghela nafas. Kemudian mengecup kening Syan dan membaringkan kepalanya diatas bantal yang sama dengan Syan. Mendekap erat tubuh gadis itu.
Mungkin Syan akan membencinya, tapi mereka sudah terlanjur melakukannya, dan Araga tidak dapat mengembalikan apa yang sudah ia ambil dari Syan, meski gadis itu sendiri yang menyerahkannya. Yah, dalam kondisi tidak sadarkan diri.
**
Syan menggelengkan kepalanya, menolak kenyataan yang melintas dikepalanya begitu ia bangun dan mendapati dirinya di kamar beraroma maskulin, dengan tubuh terbalut selimut tanpa sehelai pun pakaian.
"Apa aku dengan Araga, melakukannya?" ia bermonolog, menggigit bibir bawahnya keras keras begitu mengingat kejadian semalam. Sampai kemudian pintu kamar terbuka, menampilkan Araga dengan stelan rapihnya, juga nampan ditangannya, dan paper bag di tangan kirinya. Ia tersenyum, sementara Syan mengalihkan tatapannya ke aran lain. Ia malu sekali, malu karena hal semalam.
Bahkan ia juga ragu dengan hubungannya dan Araga, terlebih selama dua hari ini Araga terus menghindarinya, mustahil jika ia tidak mengetahui fakta bahwa dirinya hanyalah anak angkat keluarga Zhucarlos.
"Kau sudah bangun?"
Araga metakan nampan yang dibawanya diatas nakas, ia duduk di tempat tidur. Setengah mencondongkan tubuhnya ke arah Syan.
"Ada apa?" tanyanya pada Syan. Syan hanya menggeleng kaku.
"Sayang, kau tau. Aku begitu panik saat mencarimu, kenapa kau tidak langsung menghubungiku?"
"Bukankah akhir-akhir ini kau yang sulit dihubungi!" sahut Syan tanpa mau menatap pria itu.
Araga terdiam.
"Maafkan aku, Syan."
"Kau tidak bersalah, tidak perlu meminta maaf. Faktanya aku memang hanya anak angkat keluarga Zhucarlos, normal jika kau menjauhiku, bahkan memutuskan pertunangan kita "
Araga menggeleng, dengan cepat mendekap tubuh Syan yang masih berbalut selimut. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Syan.
"Jangan mengatakannya! Bukan itu yang aku fikirkan. Aku tidak perduli hal itu Syan, sekalipun kau anak salah satu pelayan di mansion Zhucarlos, aku tidak perduli. Aku tetap mencintaimu. Aku mencintaimu Syan!"
Sahutnya dengan panjang lebar. Sementara Syan hanya terdiam dengan cairan bening yang tumpah dari matanya.
"Beruntung, aku yang menemukanmu kemarin, dan ...,"
"Jangan membahasnya!" potong Syan dengan cepat. Ia malu, sangat malu karena hal tersebut. Araga tersenyum, kemudian perlahan melepaskan pelukannya. Tersenyum melihat Syan yang menghapus air mata dengan tatapan kesalnya.
"Syan,"
Syan menoleh, menghentikan gerakannya menghapus air mata dan menatap Araga dihadapannya. Pria itu menggapai tangannya, mengecupnya cukup lama.
Syan hanya diam. Menatap Araga yang tengah menatapnya dengan sorot mata tulusnya, Syan tersenyum, kemudian mengangguk.
"Katakan kau juga mencintaiku!"
Syan lagi-lagi mengangguk, kemudian mengikuti perintah Araga.
"Aku juga mencintaimu."
Araga tersenyum puas, tapi matanya tak lepas menatap Syan dihadapannya. Saat kemarin ia kehilangan jejak Syan, ia sudah sangat putus asa. Takut jika tidak akan lagi berjumpa dengan Syan.
Tapi, melihat Syan dihadapannya sekarang. Ia merasa sangat lega.
"Araga,"
"Hmm."
"Aku ingin ke kamar mandi!"
Dahi Araga berkerut.
"Kau ingin di gendong, Syan?"
"Bukan! Maksudku, keluarlah!" suruh Syan setengah malu.
Araga tersenyum miring.
"Atas dasar apa kau mengusirku dari kamarku sendiri?"
"Hmm?"
Syan berdecak.
"Araga,"
Pria tampan itu tertawa, mengusap puncak kepala Syan.
"Baiklah, baiklah. Itu pakaianmu, cepat mandi dan sarapan. Aku akan mengantarkanmu pulang." sahutnya dengan lembut. Syan mengangguk.
Begitu Araga keluar dari kamar, Syan mendesah. Ia sudah salah menilai Araga, pria itu begitu tulus padanya. Araga benar, beruntung pria itu yang menemukannya. Ia tidak bisa membayangkan jika saja orang lain yang menemukannya dalam keadaan kacau, dan memanfaatkannya.
Sekarang, Syan bisa bernafas lega. Araga tidak akan meninggalkannya, dan ia bahagia.
**
Carra dan Juan segera berhambur memeluk Syan saat Araga mengantarkannya pulang ke mansion, Syan menerima pelukan itu dengan rasa yang amat bahagia. Kemarin ia sudah sangat berkecil hati, ia sampai melupakan satu hal, jika dirinya memiliki Carra dengan Juan yang begitu mencintainya.
"Kau tidak apa-apa kan, Syan?" tanya Carra dengan raut khawatir. Bahkan semalam ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan keadaan Syan.
Syan hanya menggeleng. Beralih memeluk Adella dan Dinara yang ternyata tidak pulang semalam karena menunggu kepulangan Syan.
"Araga, terimakasih." Juan beralih pada Araga.
"Tidak perlu berterimakasih, Om. Aku calon suami Syan, aku juga bertanggung jawab atas keselamatannya." sahutnya dengan tulus. Juan tersenyum, sambil menepuk bahu Araga, ia senang mendengarnya. Ia senang Araga tetap tulus mencintai Syan, meski sudah mengetahui fakta yang sebenarnya tentang Syan.
Setelah mengantarkan Syan ke mansion Zhucarlos. Araga meminta Erick untuk mengantarkannya ke kediaman Dimitry. Ia perlu berbicara dengan Ardana mengenai hal ini. Dan nampaknya, Ardana pun berfikir demikian. Karena begitu tiba di mansion, ia langsung mengajak Araga untuk masuk ke ruang kerjanya.
Araga duduk dengan tenang, menunggu Ardana membuka percapakan, suasana hening terasa begitu mencekam di ruangan tersebut. Sementara Ardana juga duduk tak kalah tenang dengan tangan yang bertumpu diatas meja.
Ia masih memikirkan diksi yang tepat untuk dikatakannya pada sang putra.
"Araga."
Araga menatap sang ayah yang memanggil namanya.
"Kau sudah mengetahui fakta tentang, Syan?"
Ardana tersenyum, senyum yang sungguh tidak bisa diartikan.
"Kau tau bukan, dia hanyalah anak angkat keluarga Zhucarlos?"
"Ayah. Aku tau hal itu, dan aku harap Ayah tidak berubah fikiran mengenai hubunganku dengan Syan."
"Apa maksudmu?" tanya Ardana dengan dahi berkerut.
"Ayah. Aku tau, Syan hanyalah anak angkat. Dia berasal dari keluarga dengan khasta yang berbeda dengan kita. Tapi ku mohon, Ayah. Tetap restuilah kami. Aku mencintainya,"
Ardana terdiam. Menatap Araga yang berkata dengan sungguh-sungguh dihadapannya.
"Bagaimana jika Ayah, tidak merestuimu?"
Inilah yang Araga takutkan. Ia tidak meragukan Syan bahkan saat tau jika Syan hanyalah anak angkat keluarga Zhucarlos. Tapi restu sang ayahlah yang ia ragukan. Ia takut Ardana tidak memberi restu padanya untuk bersama sama dengan Syan.
Araga bangkit.
"Aku akan tetap bersama dengan, Syan. Sekalipun dia anak salah satu pelayan disana, aku tetap mencintainya, Ayah."
Ardana terdiam, menatap Araga. Kemudian, ia tertawa lepas melihat tingkah putranya, ia menggeleng pelan dan membuat Araga heran.
"Apa yang kau lakukan, putraku? Duduklah!" sahut Ardana dengan sisa tawanya. Setengah heran, Araga kembali duduk.
"Memang siapa yang tidak memberikanmu restu, hmmm?"
"Maksud Ayah?"
"Nak, sejak dulu Ayah tau jika Syan anak angkat Om Juan. Ayah dengannya berteman baik sejak dulu. Bahkan Ayah sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi besannya."
Araga terdiam dengan heran sekaligus takjub pada penuturan sang ayah.
"Jadi?"
"Tentu saja Ayah merestui, kalian." Ardana tersenyum hangat saat mengatakannya.
Araga sudah tidak dapat lagi menahan senyumnya. Ia bangkit menghampiri Ardana dan memeluknya. Mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya. Juga meminta maaf karena sudah sempat membentak sang ayah.
Ia sudah beberapa langkah berada di depan, dan Syan akan menjadi miliknya, untuk selamanya.
Semoga semesta juga akan turut merestui.
TBC