
"Yang benar saja? Aku tidak mau putus denganmu!" Gadis berambut pirang itu melipat tangannya di dada. Sementara pemuda yang baru saja menyatakan berakhirnya hubungan mereka hanya duduk santai sambil memainkan video game di ponselnya dengan santai, mulutnya tak berhenti bergerak karena permen karet yang sedang dimakannya
"Darendra. Aku sedang berbicara denganmu!" Bentaknya sambil merebut ponsel bergambar apel tergigit itu dari Daren. Daren bangkit dari posisi duduknya. Untung saja saat itu, koridor sedang sepi, sehingga tidak ada yang melihat perdebatan antara keduanya
"Ya, aku tau kau sedang berbicara Meilin, itulah kenapa aku mendengarkan. Bersyukurlah!"
"Dengar Daren! Aku TIDAK MAU PUTUS denganmu!" Kekeuhnya
"Dengar Meilin! Jika aku sudah bilang ingin putus, maka yasudah. Kau hanya punya satu pilihan!"
"Apa itu?" Tanya Meilin dengan dahi terlipat
"Putus!"
"Tidak. Daren, kau sudah pernah menciumku!"
"Hanya mencium. Perlu ku bayar berapa?" Tanya Daren dengan gaya santainya
"Hanya cium?" Meilin mendengus, kemudian kembali bersuara
"Aku menawarkan tubuhku, tapi kau yang menolaknya!"
"Karena aku merasa tidak sudi!"
"Aku tidak ingin menikmati tubuh wanita yang menyerahkan diri secara mudah padaku!"
Meilin nampak terpaku ditempatnya, nafasnya memburu, naik turun tidak beraturan
"Aku menerima ajakan kau untuk berpacaran dan memberimu kesempatan selama 2 minggu untuk membuatku jatuh cinta. Waktumu sudah habis dan hatiku tetap sama!"
"Aku tidak mencintaimu!"
"Jangan memaksaku!"
Daren beranjak setelah mengambil ponselnya dari genggaman gadis yang baru saja menjadi korban percobaan hatinya
Meilin hanya mematung tak percaya. Susah payah ia merayu Daren untuk jatuh kepelukannya, tapi tetap saja, ia bernasib sama seperti mantan mantan Daren sebelumnya. Tidak bisa membuat seorang Darendra takluk padanya
Pesona pemuda itu sudah menjatuhkannya terlalu dalam, tapi dirinya sendiri tak mampu terjerumus pada pesona gadis manapun. Sekalipun dirinya adalah putri tunggal seorang mentri, nampaknya Daren tak perduli dengan hal itu
"Sial!"
"Syanduuuuuuuuuuuuu"
Syan hanya menutup kedua telinganya saat seseorang muncul dengan suara nyaring memanggil namanya
Dengan langkah pasti, Lucy mendekat pada Syan yang sedang menikmati waktu istirahat dilantai 3 kantin. Suara gadis itu jelas saja menyita sebagian besar orang orang yang sedang berada di kantin kampus
"Ada apa?" Tanya Syan dengan enggan
"Darendra dengan Meilin sudah putus"
Decaknya dengan bahagia, membuat keriuhan terjadi untk beberapa saat. Sebagian kaum hawa cepat cepat membuka ponsel mereka dan membuka media sosial, melihat postingan terbaru selebgram Darendra yang biasanya akan mengumumkan masa jomblonya jika sudah putus dari pacar kilatnya. Tapi anehnya, para gadis tidak pernah ada yang kapok menjalin cinta dengan playboy super tampan itu. Mereka selalu mengantri untuk menjadi pacar Daren selanjutnya meski tau akan berujung patah hati
Syan menaruh tangan diatas keningnya melihat kelakuan Lucy, juga melihat sederet para gadis yang berkasak kusuk memproklamirkan diri akan menjadi pacar Daren setelah ini
"Mereka semua benar benar sudah gila kan Zoey"
Zoey hanya mengangkat bahu saja melihat Syan yang frustasi sendiri
"Darendra" Lucy berdecak saat menatap foto Daren dengan Syan saat berada di Amsterdam, Belanda. Foto itu diambil bulan lalu saat Carra meminta Juan untuk cuti kerja dan berlibur kesana
"Ayolah Zoey, katakan padaku jika mereka semua benar benar sudah gila!" Pinta Syan lagi, sementara gadis berdarah Belanda yang diajaknya berbicara itu hanya menggeleng saja
"Kau harus mengakui pesona yang dimiliki adikmu itu, Syan. Belajarlah untuk terbiasa dengan keadaan saat ini" Sahut Zoey dengan jari telunjuk mengarah ke belakang Syan, Syan lantas menoleh
Renard Sraja, putra tunggal pemilik perusahaan Gold yang bergerak di bidang perhiasan. Ram Evans, putra bungsu dari Marko Evans, pengusaha yang bergerak di bidang furniture, dan juga Lion Orlando, putra tunggal seorang SechDev atau Mentri Pertahanan Amerika Serikat, dalam Angkatan Bersenjata Amerika Serikat
Mereka digilai oleh para wanita seisi kampus, selain karena tampang mereka yang memabukan, latar belakang keluarganya juga menjadi pilihan dan pertimbangan para wanita
Tapi begitulah, mereka juga tidak asal dalam memilih pacar. Melihat para wanita cantik yang terlalu terobsesi padanya, justru mereka memilih untuk tidak memperdulikannya
"Baru putus?" Tanya Ram setelah memasukan ponsel ke saku celananya. Ia menatap Daren yamg baru saja tiba dan membuat suasana kantin gemuruh
"Masa percobaan sudah habis, tidak ada yang perlu di pertahankan lagi!" Sahutnya dengan acuh
"Badboys!"
Daren hanya berdecak tidak perduli saat kawan kawannya itu mencibir dirinya. Justru pandangannya fokus pada gadis familiar yang memunggunginya dari jarak jauh
"Dengar Lucy, jangan berlebihan. Kau berhak mendapat yang lebih segala galanya dari Daren"
"Jangan menyakiti dirimu sendiri karena berpacaran dengannya nanti, baik?"
"Berhenti menasihatiku Syan, aku tidak perduli. Yang penting, aku masuk dalam list, gadis yang pernah singgah dihati adikmu itu. Oke"
Syan menghela nafas, kemudian tersenyum
"Dengar! ....,"
Baru Syan akan melanjutkan kalimatnya. Suara pesan masuk diponselnya sudah lebih dulu membuat perhatiannya teralihkan
Syan meraih ponsel yang berada di atas meja kantin
Crazy Brother 🔥
Jangan bicara macam macam tentangku, Kakak Tersayang
Syan menggeleng, menoleh pada Daren yang berada dibelakangnya dengan jarak beberapa meter. Pemuda itu nampak hanya mengangkat alisnya, kemudian menentang ponselnya ke udara
"Dengar apa Syan?" Lucy menegur setengah malas, pasalnya orang yang ia anggap calon kakak ipar ini mustahil memberikannya restu untuk berpacaran dengan Daren
"Lupakan! Aku sedang tidak ingin apapun. Aku akan ke kelas!" Pamit Syan yang kemudian beranjak dari tempat duduknya. Bahkan ia tak menghiraukan saat dirinya tak sengaja menyenggol gelas diatas meja, menumpahkan minuman disana dan membuat Lucy berdecak kesal
"Daren! Daren! Daren. Apa tidak bisa jika anak itu tidak usah membuat masalah dan membuatku pusing karenanya?"
"Di mansion, di kampus, sama saja seperti di neraka jika ada anak badung itu!" Syan terus menggerutu sepanjang perjalanan ke kelas
Sejak kecil, Daren selalu mengganggunya, selalu membuat hidupnya tidak tenang. Meski tak ayal, kehadirannya dalam keluarga Zhucarlos memanglah membawa kehangatan luar biasa. Apalagi setelah insiden kecelakaan Carra belasan tahun silam yang harus kehilangan dua nyawa sekaligus dalam hidupnya
"Ahh, tetap saja. Dia menyebalkan!"
"Ada apa Daren?" Tanya Renard saat Daren hanya diam dengan ponsel yang ia ketuk ketukan pada meja
"Tidak apa apa!"
"Sudah ingin mencari incaran lagi?" Tebak Lion, sarkasme
"Hay man! Bukan Daren yang mencari mangsa. Tetapi mangsalah yang menyerahkan diri pada seorang Darendra!" Ram angkat suara sambil menepuk bahu Daren beberapa kali
"Ya, ya. Sudah, jangan katakan jika Darendra adalah yang paling segala segalanya. Aku benci mendengarnya"
"Terus saja mengoceh, Lion. Aku tau kau memang hanya seorang singa!" Sinis Daren dengan seringai penuh ejekan
"Kau memang selalu menang Darendra!" Lion akhirnya mengalah
TBC