My Best Match

My Best Match
Pertemuan Keluarga



Daren membanting tubuhnya diatas tempat tidur yang berseprai bendera amerika. Ia mengguyur rambutnya ke belakang, frustasi.


Belum pernah ia sekacau ini sebelumnya, belum pernah juga ia bertengkar hebat dengan Syan seperti tadi


Rasanya kepalanya ingin pecah. Ia tidak tau jika dirinya akan senekad itu mengatakan perasaan cintanya pada Syan


"Damn!" umpatnya yang kemudian menaruh bantal didepan wajahnya. Ia ingin menenangkan diri untuk sementara waktu dengan tidur


Sore hari di mansion keluarga Zhucarlos. Dinara berteriak dengan hebohnya saat memasuki mansion, diikuti sepasang suami istri dibelakangnya yang nampak tersenyum


"Aunty Carra .....,"


"Om Juan .....,"


"Kak Syan ....,"


Teriaknya yang mendapat gelengan kepala dari kedua orang tuanya. Carra yang sedang menonton tv dengan Syan lantas beranjak


"Uncle Abram," decak Syan yang langsung berhambur pada pelukan sang uncle, Abram menerimanya dengan tangan terbuka


"Apa kabar, Syan?" tanya Abram setelah melepas pelukannya


"I'm fine" gadis itu menyahut sumringah. Kemudian beralih untuk memeluk Adella


"Apa kabar aunty?"


"Baik, Syan. Kau, bagaimana?" Adella balik bertanya dengan ramahnya


Syan merentangkan tangannya


"Persis seperti yang aunty lihat. Aku baik baik saja." sahutnya dengan binar bahagia. Sejenak ia melupakan jika tadi siang dirinya sudah bertengkar hebat dengan Darendra


Adella perlahan melangkah menghampiri Carra yang hanya mematung di dekat sofa


"Apa kabar Carra?"


Carra terkesiap. Spontan bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Baik, kau sendiri bagaimana? Apa perjalanannya menyenangkan?"


Adella mengangguk. Carra lantas melangkah menghampiri Syan dan menggandeng putrinya itu setelah menyapa Abram sekilas. Entahlah, rasanya selalu ada yang janggal bila bertemu, meski sejujurnya mereka sudah berdamai dengan masa lalu


Adella juga mengkhawatirkan hal itu, bagaimanapun. Ia tau seluruh masa lalu suaminya dengan Carra. Tapi ia percaya, mereka sama sama sudah saling merelakan


"Carra, apa Juan belum pulang dari kantor?" tanya Abram saat mereka sama sama sudah duduk di sofa. Ia berusaha bersikap normal seperti biasanya


"Oww, Juan. Sebentar lagi dia akan pulang, sekarang dalam perjalanan." Carra menyahut kalem


Pak Abas datang dengan dua pelayan yang membawa minuman


"Oh yah, lalu. Dimana Darendra, aku merindukannya."


"Darendra?"


"Dia ada di kamarnya,"


Dinara mengerling pada Syan. Gadis itu tiba tiba saja merubah ekspresi saat nama Darendra disebut disini


"Syan, coba kau panggilkan Daren."


Syan terkesiap, spontan ia mengangguk. Ia memang tidak bisa mengatakan tidak pada Carra. Syan beranjak meninggalkan ruang utama, kemudian melangkah menapaki anak tangga untuk ke kamar Darendra


"Sayang, aku pulang." Terdengar teriakan Juan, tak lama ia muncul diikuti Robert dibelakangnya


Carra bangkit dari duduknya untuk menyambut kepulangan sang suami


"Waw, ada tamu rupanya." sahutnya begitu masuk ke ruang utama mansion. Abram bangkit dari duduknya dan kemudian menghampiri saudara sepupunya yang songong itu


Lalu keduanya berpelukan dengan akrab. Layaknya memang saudara yang saling merindukan setelah beberapa tahun tidak berjumpa


"Apa kabar Abram?"


"Baik Juan, aku akan selalu bain baik saja."


"Baguslah,"


Para orang tua itu kemudian duduk di sofa, bercengkrama melepas kerinduan. Dinara menjadi pendengar yang baik disana, memilih untuk lebih fokus saja pada layar ponselnya.


Syan mengetuk pintu kamar Daren setengah ragu, pria didalam sana menyuruhnya untuk langsung masuk saja. Syan masuk


Darendra yang sedang memakai kaosnya setelah tadi mandi hanya menoleh, kemudian melanjutkan kegiatannya. Awalnya ia mengira jika yang datang adalah Carra, ternyata Syan


"Dilantai bawah ada uncle Abram dan aunty Adella dari LA. Mereka menunggumu untuk makan malam," sahut Syan tanpa mau menatap Darendra. Daren yang sudah selesai memakai kaosnya dan melihat Syan dipantulan cermin lantas menoleh


"Syan,"


"Hmm." Spontan Syan mengangkat pandangannya, matanya bertemu dengan mata elang Daren. Keduanya saling terdiam, terutama Syan yang lebih memilih bungkam. Beberapa waktu ini ia seringkali merasa canggung jika berhadapan dengan Darendra. Terutama setelah pemuda itu serius mengatakan cinta padanya


Syan segera mengalihkan tatapannya dari Daren. Membuat Daren ambil tindakan dan melangkah mendekati gadis itu


"Kau bahkan tidak mau menatapku?" tanyanya. Syan tak menggubris


"Jika kau sudah selesai maka cepatlah. Mereka sudah menunggu dibawah," Syan mengalihkan pembicaraan dan beranjak ke arah pintu keluar, tapi dengan cepat Daren mendahuluinya dan cepat pula mengunci pintu


"Daren," Syan protes. Tapi Daren tak memberikan kunci pintu itu pada Syan


"Katakan apa setelah ini kau malah akan menghindar dan membenciku?"


"Jangan berbicara sembarangan!"


"Kau adikku, mana mungkin aku membencimu!"


"Jangan ingatkan aku tentang status itu, Syan!" nada bicara Daren meninggi


Syan terdiam, Daren mendekat padanya. Membuat Syan mundur teratur dan berakhir bersandar pada pintu kamar Daren yang terkunci


"Darendra," lirihnya saat Daren justru menaruh satu tangannya di sisi kepala Syan, wajahnya kian mendekat. Iya, Syan tau Darendra tampan seperti Juan, tapi dalam posisi sekarang dan beberapa tetes air yang jatuh dari rambut basahnya lalu turun ke hidung mancung Daren, hal itu sungguh membuat lututnya melemas


"Darendra,"


"Salah, jika aku mencintaimu?"


"Cintamu tidak salah Daren, tapi mungkin takdir yang salah karena membuat kita memiliki ikatan darah."


Daren terdiam


"Berdamai lah dengan perasaanmu dan silahkan lupakan aku," sambungnya yang membuat Daren menggeram tidak terima


"Syan, kau ...,"


"Kak Syan. Darendra." terdengar suara teriakan dari luar kamar, suara Dinara. Syan bernafas lega, ada yang menyelamatkannya dari situasi menyeramkan ini


"Daren mundur beberapa langkah, kemudian menyodorkan kunci pada Syan tanpa melihat wajah gadis itu


Syan menerimanya dengan cepat dan membukanya sehingga ia dapat segera keluar dari kandang macan yang begitu menyeramkan. Meninggalkan Daren yang memilih berjalan ke arah cermin dan menyisir rambutnya. Perasaannya masih sangat geram


"Lama sekali. Ada masalah?" tanya Dinara saat ia berjalan dengan Syan nenuruni anak tangga. Darendra berada dibelakangnya menyusul


Syan hanya menggeleng menyahuti pertanyaan Dinara tadi


"Hay. Darendra,"


"Uncle."


Mereka berpelukan, berbasa basi dan berakhir dengan obrolan panjang sebelum memulai makan malam


"Oh yah. Mumpung kita sedang berkumpul, aku ada berita bagus untuk kita semua," sahut Juan disela sela makan malam berlangsung


Orang orang yang awalnya fokus makan lantas mendongak, menatap Juan yang terlihat amat berbinar


"Berita bahagia, apa itu?" tanya Abram, yang lain menunggu jawaban


"Syan," lelaki tampan itu beralih pada Syan. Syan mendongak, menatap Daddynya tanpa bisa membaca ekspresinya, satu hal yang Syan tau, jika saat ini Juan sedang serius dengan kabar yang akan disampaikannya


"Dad?"


"Daddy sudah berdiskusi dengan calon mertuamu,"


Deg


"Besok malam akan ada pertemuan keluarga,"


"Kau akan segera bertemu dengan calon tunanganmu."


Bukan hanya Syan saja yang terkejut, tapi Daren lebih dari terkejut. Sebisa mungkin Daren menguasai dirinya agar tidak emosi. Sedangkan Syan memilih untuk memaksakam diri tersenyum.


Sementara yang lain nampak berbinar bahagia mendengar kabar itu


"Daddy mu tidak akan salah pilih, Syan. Tenang saja." sahut Abram saat melihat kegelisahan diwajah Syan


"Iya uncle,"


"Aku ingin segera melihat calon tunangan Kak Syan, aku setuju dengan Papa. Om Juan tidak akan salah memilih," Dinara angkat bicara, sementara Syan hanya menanggapinya dengan tersenyum


"Aku sudah selesai. Masih ada beberapa tugas kuliah yang harus aku kerjakan," sahut Daren yang tiba tiba saja beranjak. Carra mengernyit heran, Daren belum menghabiskan makannya, tidak biasanya ia seperti itu


"Baiklah Daren," sahut Juan yang kemudian membuat Daren benar benar pergi dari meja makan. Syan tau Daren pasti marah, sementara Dinara juga heran dengan sikap aneh Daren, ia merasa ada yang tidak beres dengan saudaranya itu.


Syan kembali ke kamar setelah menyelesaikam makan malamnya, sementara para orang tua masih mengobrol di ruang keluarga


Syan tidak tau dengan perasaannya, dulu dia siap dengan perjodohan ini. Tapi ketika sekarang waktunya sudah tiba, justru ia merasa ragu dengan keputusannya sendiri. Terutama mengingat Araga, ia semakin tidak siap saja dengan kenyataan yang nanti akan dihadapinya, tapi ia juga tidak ingin membuat Juan dan Carra kecewa


Bersamaan dengan perasaannya yang resah, sebuah panggilam vidio dari Araga masuk ke ponselnya. Spontan Syan menggeser ikon hijau, berbicara dengan Araga adalah hal terbaik untuk saat ini


"Hay," sapa Araga. Pria tampan itu nampak sudah memakai piama dengan rambutnya yang acak acakan. Syan hanya tersenyum tipis


"Ada apa dengan wajah cantikmu yang berubah menjadi murung begitu?" tegur Araga ketika mengamati perubahan diwajah Syan


"Tidak papa. Oh yah, maaf untuk tadi siang," tiba tiba Syan mengingat acara makan siang mereka yang kacau karena Daren


"It's okey, no promblem"


Syan tersenyum


"Katakan padaku ada masalah apa?"


Syan hanya terdiam


"Ayolah." Araga membujuk


"Kau tau, jika seperti itu kau malah semakin menggemaskan Syan." goda Araga yang diakhiri dengan tawa, Syan menggerutu


"Jika aku katakan, apa kau tidak akan sakit hati?"


Araga mengernyit


"Kau mengkhawatirkan perasaanku, Syan?" tanyanya dengan aksen tengil yang justru malah terlihat menggemaskan


"Kalau aku mengatakan iya, bagaimana menurutmu?" Syan justru malah balik menggoda, membuat Araga mematung disana. Tapi perlahan, senyum Araga terbit


"Aku senang mendengarnya, Syan." sahutnya yang membuat Syan hanya mencebikan bibir


"Yasudah, jangan membahasnya. Cepat ceritakan, apa yang membuatmu begini?"


Syan diam sebentar, kemudian berkata


"Aku akan segera bertunangan," terangnya. Matanya tak luput menatap air muka Araga melalui layar ponselnya


"Kau tidak terkejut?" tanyanya saat melihat Araga yang nampak tenang tenang saja. Jauh dari perkiraannya


"Kau berharap aku menangis Syan?"


Syan menggeleng. Entah kenapa ia merasa kecewa dengan sikap acuh tak acuh Araga


"Berbahagialah, aku yakin kau akan berbahagia dengan dia, Syan." sahut Araga yang kemudian menutup sambungan vidio call. Membiarkan Syan merasa resah tidak karuan. Sementara tanpa ia tau, jika Araga tersenyum disana. Dan sangat menantikan pertemuan keluarga yang nanti akan segera terlaksana


TBC