
"Aku hanya sedang mencoba meyakinkan perasaanku!"
Syan mengerutkan kening, kemudian tertawa
"Ada apa? Kau sedang jatuh cinta tuan muda?"
"Baiklah, katakan padaku siapa gadis malang yang tiba tiba saja mendapatkan cintamu itu?"
"KAU!"
Syan seketika menghentikan tawanya dan mematung ditempat. Apa dia salah dengar? Apa Daren bercanda?
Beberapa detik kemudian, gadis itu tertawa. Sementara Daren mengerutkan keningnya
"Jangan bercanda dan cepat. Atau kita akan terlambat ke kampus!" Sahutnya sambil menepuk bahu Daren, membuat tatapan Daren fokus pada tangan gadus itu yang berada di bahunya
"Aku serius, Syan." Sahutnya dengan suara lemah
"Benarkah? Kalau begitu kau menang. Kau hebat sekali, leluconmu ini membuatku sedikit terhibur" Sahut Syan yang kemudian beranjak, meninggalkan Daren yang nampak serba salah
"Menyebalkan!" Lirihnya sambil menatap kepergian Syan yang masuk ke mobilnya
Sementara Syan merebahkan kepalanya pada gagang stir, jantungnya berdetak tidak wajar. Tapi ia juga tidak ingin kembali jatuh cinta pada Daren, adiknya sendiri. Meski mereka ...., tidak memiliki hubungan darah
Benar. Bagaimanapun pesona Daren memang mampu memabukan siapapun, dan Syan pun pernah terjebak pada pesona seorang Darendra ketika ia duduk di bangku SMA. Tapi Syan sadar, meski ia dan Daren tidak memiliki ikatan darah, tapi tetap saja. Mereka tumbuh dalam kasih sayang orang tua yang sama, sehingga Syan berusaha menepis perasaannya pada Daren. Dan ia berhasil
Ia tidak ingin terjebak dengan perasaan itu lagi. Tapi ketika Daren mengatakan hal tadi, jujur perasaan Syan merasa bimbang. Meski ia tidak akan mungkin menerima perasaan tak wajar itu. Apalagi usianya sekarang sudah dewasa, cepat atau lambat, Juan akan mengenalkan calon tunangannya. Dan ia tidak mungkin membuat Juan kecewa
"Tenang!" Syan menenangkan diri. kemudian menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya keluar dari gerbang utama mansion
Meninggalkan Daren yang masih menatapnya
**
"Bagaimana Syan?" Tanya Zoey saat mereka berpapasan di parkiran kampus
"Sudah jauh lebih baik. Kau tau, sebenarnya aku tidak papa, hanya saja. Yah orang tuaku!" Syan malas mendeskripsikannya. Toh Zoey juga sudah sangat tau mengenai Carra dengan Juan
"Karena orang tuamu menyayangimu, Syan."
Syan tersenyum. Ia harus merasa bangga dengan hal itu. Berada dalam keluarga Zhucarlos dan menjadi orang yang sangat disayangi tanpa di beda bedakan. Carra dan Juan adil dalam memberikan kasih sayang
**
"Aunty Carra!" Dinara berteriak saat menuruni anak tangga. Carra mengernyit
"Ada apa?"
"Kenapa tidak ada yang membangunkanku?" Tanyanya. Ia cukup terkejut tadi saat bangun dan waktu menunjukan sudah pukul 10 pagi
Carra mengangkat kedua bahunya
"Syan sudah membangunkanmu. Tapi kau tidak menyahut dan pintu kamarmu dikunci. Bagaimana?"
Dinara merebahkan kepalanya di atas meja makan. Carra hanya menoleh, dan kemudian menggeleng
"Kau melakukan apa semalaman huh? Bergadang?"
"Hanya bermain game Aunty!"
"Sampai larut malam?"
"Hmmn"
Lagi. Carra menggeleng melihat gadis itu. Tapi diam diam ia tersenyum, Carra jadi membayangkan, seandainya yang menikah dengan Abram adalah dirinya. Apakah mereka akan memiliki putri seperti Dinara? Yang cantik dan juga centil?
"Astaga!" Carra menyadarkan dirinya. Apa yang difikirkannya tidaklah benar
"Ada apa Aunty?"
Carra menggeleng
"Lebih baik kau makan. Kau pasti lapar kan?" Tanya Carra, mengalihkan pembicaraan
Dinara mengangguk. Kemudian Carra menyuruh Pak Abas untuk menyiapkan makanan yang di inginkan Dinara
"Pot roast" Pinta gadis itu, Carra yang semula menunduk tiba tiba saja nenoleh. Melihat binar bahagia dari Dinara saat meminta makanannya
"Kamu persis seperti Abram, Dinara" Lirihnya
"Aunty mengatakan sesuatu tentang Papa?"
Spontan Carra menggeleng. Dinara tersenyum
"Aunty tidak perlu sungkan. Aku mengetahui kisah kalian"
Carra terdiam, jujur ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Bagaimana mungkin Dinara mengetahui kisah kelam antara dirinya dengan Abram
"Aku pernah tidak sengaja mendengar obrolan Mama dan Papa" Jujurnya. Dan Carra hanya mendengarkan
"Aku merasa sangat beruntung karena terlahir dari rahim Mama Adella, dan tumbuh dalam kasih sayang Papa Abram. Mereka saling mencintai, dan juga mencintaiku"
"Aku rasa Kak Syan dan Daren pun merasakan hal yang sama. Mereka pasti merasa beruntung karena tumbuh dalam kasih sayang orang tua yang saling mencintai" Tuturnya dengan terrsenyum. Carra juga tersenyum
"Aku yakin Aunty dan Papa sudah bahagia dengan pasangan masing masing"
"Kau benar Dinara. Aku bahagia dengan Juan, dan aku yakin. Jika Abram-pun berbahagia dengan Adella"
Dinara mengangguk setuju. Untuk beberapa waktu, keheningan terjadi disana, sampai kemudian kedatangan Daren memecah keheningan
"Kenapa sudah pulang?" Tanya Carra saat melihat putranya yang duduk begitu saja disalah satu kursi meja makan
"Bagus!" Dinara berdecak bahagia
"Jadi kau bisa mengantarku ke rumah nenek dan kakek"
"Hey nona Maharani. Apa tidak bisa jika tidak merepotkanku?"
"Tuan muda Zhucarlos, aku bisa saja tidak metepotkanmu, tapi aku sangat ingin membuatmu repot. Bagaimana?"
"Terserah!"
Dinara tertawa sementara Carra hanya tersenyum saja melihat tampang Daren yang nampak kesal pada gadis itu
**
"Apa Daren tidak masuk kelas?" Tanya Syan saat ia berpapasan dengan Renard di gedung fakultas Daren, ia memang sengaja ingin mendatangi Daren
"Tidak. Dia hanya menitip absen!"
"Apa dia sakit?"
"Kurasa begitu!"
"Sakit apa?"
"Hati. Mungkin!"
Syan mendengus. Renard nyengir sambil menggaruk tengkuknya
"Tidak penting!" Lirih Syan yang kemudian berlalu tanpa memperdulikan Renard
Syan lantas berjalan keluar gedung kampus menuju salah satu stand eskrim yang berada di sebrang jalan. Sepertinya ia memang membutuhkan eskrim untuk membuat mood nya menjadi lebih baik
"Pak, eskrim rasa vanila 1"
"Dua"
Syan mengerutkan kening saat mendengar suara seseorang dari arah belakang tubuhnya. Kemudian ia berbalik
"Kau?"
"Ada apa?"
"Kau mengikutiku?"
Araga mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng
"Kau berharap begitu. Nona Syan?"
Syan tak menyahut. Sampai kemudian tukang eksrim dibelakangnya memanggil dan menyerahkan satu cup eskrim padanya. Araga juga menerimanya
Syan menikmati eskrimnya dengan cuek tanpa memperdulikan Araga yang juga tengah menikmati eskrim
"Kau lihat!" Araga menunjuk ujung jalan, Syan mengikuti petunjuk laki laki itu, tapi ia tak mengerti apa maksudnya
"Kenapa?" Gadis itu akhirnya bertanya
"Ban mobilku pecah, aku malas menunggu disana. Aku merasa haus dan akhirnya datang kemari"
"Dan Tuhan mempertemukan kita, disini!"
Dahi Syan berkerut. Kemudian ia memilih untuk tidak perduli
"Kenapa tidak menyuruh Skretaris kesayanganmu yang kemari?"
Araga menggeleng enggan
"Akan berbeda cerita jika Erick yang datang kesini. Artinya Tuhan mempertemukan kalian, bukan kita!"
Blusshh
Ingin rasanya Syan nengumpat pada laki laki tampan dihadapannya ini, tapi demi menjaga nama baik sang ayah, ia tidak boleh melakukannya
"Oh yah. Bisa pinjam ponselmu?"
Syan menoleh
"For what?"
"Pinjam saja!"
Syan mendengus, tapi kemudian merogoh saku jeansnya dan menyerahkan benda pipih itu pada Araga
"Aku lupa menaruh ponselku" Katanya sambil mengutak atik ponsel milik Syan. Syan hanya diam, sampai kemudian terdengar dering telpon di sekitar tubuh Araga. Dan ponselnya berada dibalik jas formal pria itu
Syan menggeleng. Pria itu hanya sengaja, bukan benar benar melupakan dimana ponselnya
"Oh ini dia ponselku. Aku sudah mencarinya kemana mana" Sahutnya pada dirinya sendiri
"Terimakasih" Sambungnya sambil menyerahkan ponsel Syan. Syan menerimanya sambil mengangguk
Araga nampak mengutak atik ponselnya, kemudian ada telpon masuk dari Erick yang memberitahunya jika ban mobil mereka sudah selesai di perbaiki
"Aku duluan. Oh yah, save nomerku" Sahutnya sambil berlalu. Sementara Syan hanya mematung sambil menatap layar ponselnya yang tadi dipakai oleh Araga
Kemudian tatapannya beralih pada punggung Araga yang kain menjauh, sampai kemudian hilang dari pandangannya saat laki-laki itu sudah masuk kedalam mobilnya
TBC