
-
Selesai nonton, berbelanja dan bersenang senang. Dua wanita cantik itu melanjutkan mencari tempat makan di dalam pusat perbelanjaan
Duduk dengan tenang sambil mengobrol, menghabiskan waktu menunggu pesanan mereka datang
"Ku lihat kau begitu mencintai Juan" Della membuka percakapan
"Yah, begitulah" Carra menyahut seperlunya
Dan begitu pesanan mereka datang, keduanya mulai menikmati hidangan dengan diiringi obrolan obrolan ringan
"Mm, kau sudah berapa lama menjalin hubungan dengan Abram?" Tanya Carra, Della hampir hampir tersedak mendengar pertanyaaan itu
Memang apa yang harus ia katakan pada Carra?
Bilang jika sebenarnya pernikahan dirinya dengan Abram akan terjadi karena sebuah kecelakaan?
Dan bahkan mereka tidak menjalin hubungan sama sekali. Semuanya terjadi begitu saja, bahkan Della saja rasanya hampir hampir tidak percaya
"Ku lihat kau juga sangat mencintai Abram"
"Mm, yah. Kau benar, jika aku memang sangat mencintai Abram" Sahutnya dengan senyum getir
Carra hanya mengangguk
"Tapi sayang, dia masih mencintai mu Carra"
"Uhukkk"
Della segera menyodorkan minuman ke hadpan Carra, ia tau jika ekspresi Carra akan seperti apa yang sudah diperkirakannya
Della bukan ingin merusak suasana, hanya saja ia ingin nendengar semua cerita Carra dengan Abram di masa lalu, meski pasti akan menorehkan luka lama. Terutama bagi dirinya
Carra dengan ragu menatap Della yang duduk dan tengah tersenyum padanya dengan tenang
"Aku tau itu Carra" Sahutnya saat melihat tatapan penuh tanya dari mata Carra
"Maaf, aku tidak berniat untuk merusak suasana, atau membuatmu harus membuka luka lama. Hanya saja aku ingin tau banyak tentang Abram darimu Carra" Tuturnya
Carra menghentikan makannya, menatap Della dan berusaha menjadi pendengar yang baik untuk partnernya ini
"Kau benar, aku sangat mencintai Abram. Tapi dia tidak" Sahut Della dengan miris. Yang membuat Carra refleks memegang tangan wanita itu, sedikitnya menyalurkan kekuatan
"Dia masih mencintaimu Carra"
Mata keduanya saling bersitatap. Carra masih terdiam dan enggan membuka suara
"Aku sudah mencintai Juan, Dell. Hubunganku dengan Abram sudah berakhir, dan kami sudah damai dengan hidup masing masing" Tutur Carra dengan lembut
"Aku takut Abram tidak akan pernah mencintaiku sampai kapanpun"
Carra menghela nafas, sejujurnya ia juga tidak tau akan menjawab seperti apa perkataan Della, ia hanyalah pendengar yang baik. Bukan penasihat yang baik
"Aku takut Carra, aku takut dia akan tetap mencintaimu dan kau tetap menjadi bayang bayang Abram dalam rumah tangga kami"
"Jadi aku harus seperti apa Della. Sungguh, aku sudah tidak mencintai Abram sedikitpun, sejak awal aku tau jika Abram saudara sepupu Juan. Aku selalu mencocoba menghapus perasaan itu, karena aku tau itu hanyalah sebuah kesalahan jika kami tetap saling mencintai"
Adella menghela nafas, ia sadar ia sudah salah berbicara seolah dirinya menyalahkan Carra. Padahal tidak demikian
"Maaf Carra, aku tidak bermaksud menyalahkanmu"
"Tidak papa"
Keduanya terdiam, berperang dengan fikiran masing masing. Mendadak sekarang suasana diantara keduanya malah menjadi canggung
"Semuanya adalah proses Della, sama halnya antara aku dengan Juan. Aku sama sekali tidak mencintainya dulu, tapi seiring berjalannya waktu, semuanya berbeda"
"Takdir siapa yang tau. Dan pada kenyataannya sekarang kami sangat saling mencintai. Kau pun akan bisa menaklukan hati Abram suatu saat nanti"
Carra memberi semangat pada Della dengan penuh senyuman. Bersungguh sungguh, jika yang dikatakannya adalah kebenaran. Ia sudah tidak mencintai Abram, dan mendukung penuh hubungan Abram dengan Della
"Aku tidak yakin" Della berucap lirih
Mengingat bagaimana Abram yang tidak pernah memperdulikannya. Mengingat bagaimana Abram masih selalu memperhatikan Carra. Dan itu selalu membuat Della ragu untuk percaya, ragu untuk memulai, ragu untuk meyakinkan diri
"Itulah modal utama yang harus kau tanam, Della. Kau harus yakin"
"Kau harus yakin dengan Abram, dengan perasaanmu. Dengan rumah tangga yang nantinya akan kalian bina" Ujarnya
Della tersenyum, ia benar benar tidak salah menilai Carra. Dia adalah wanita yang tulus dan baik hati, sama sekali tidak terdengar ada nada kebencian disetiap kalimatnya. Ia mengatakan semuanya murni dengan penuh ketulusan
"Terimakasih Carra"
"Jangan berterimakasih padaku" Sahut Carra dengan tawa rendahnya
Kemudian, Della banyak bertanya tentang Abram dimasa lalu pada Carra. Awalnya Carra ragu, tapi Della mengatakan tidak apa apa
Dan akhirnya Carra menceritakan kisahnya dengan Abram dahulu, kadang kadang keduanya tertawa, dan ada juga beberapa sisi dalam cerita yang membuat Carra terpaksa harus merasakannya kembali
Seolah mengulang masa yang paling pahit dalam hidupnya saat ia harus berpisah dengan Abram dimasa lalu
Tapi Carra bersyukur, Tuhan ternyata amat baik padanyaa. Saat ia mengirimkan Juan padanya sebagai pengganti Abram dalam hidupnya
Dan Juan, adalah pasangan terbaik bagi Carra. Dulu, Abram juga memberi cinta. Tapi dengan Juan, semuanya berbeda. Dan Carra bahagia