
Hiruk pikuk kehidupan didalam gedung itu nampak normal, sama seperti biasanya. Banyaknya orang yang berlalu lalang akan melaksanakan istirahat makan siang mulai memadati area kafetaria perusahaan
Nampak seorang wanita cantik tengah berjalan menuju ruang Presdir, ia melewati koridor dan mengamati sekitar, melihat lihat ornamen yang terukir didinding marmer. Padahal bukan hanya sekali dirinya datang ke tempat tersebut, tapi ia merasa asing. Mungkin karena tidak pernah terlalu memperhatikan
"Hey, kakak ipar!"
Carra menghentikan langkahnya saat seseorang memanggilnya. Terlihat seorang pria muda tampan dengan stelan kemeja berwarna marun berjalan menghampirinya, Carra tersenyum
"Hay, Alex" Sapa Carra saat Alex sudah berdiri di hadapannya
"Kau mau menemui Juan?" Tanyanya
"Tentu saja, memang apa lagi?"
Alex nampak mengangguk dengan ekspresi bibir yang seperti meledek
"Oh yah, bagaimana keadaan Syan?" Alex mengalihkan pembicaraan
"Baik, jika kau ingin tau lebih banyak, datanglah ke mansion" Ucap Carra. Yang secara tidak langsung melarang Alex untuk banyak berbicara
Lagi lagi Alex hanya mengangguk
"Jangan mengganggu istriku!"
Alex dan Carra menoleh pada sumber bariton itu, dan terlihat Juan baru keluar dari ruangannya, lalu sedikit menarik Carra untuk berada di sisinya untuk ia rangkul
"Pelit sekali!" Rutuk Alex
"Sayang, apa dia mengganggumu?" Tanya Juan dengan raut khawatir yang dibuat buat. Dan membuat Alex jengkel melihatnya
"Hanya...sedikit" Adu Carra, Alex yang tidak terima hanya melotot mendengar pengakuan Carra
"Yah, pasangan menyebalkan. Kalian serasi!" Decak Alex sambil bertepuk tangan dengan kepala yang menggeleng
Carra dan Juan hanya saling berpandangan dan tersenyum saja
"Kau boleh pergi!" Usir halus Juan pada saudara sepupunya itu
"Terkutuk!" Rutuk Alex sambil berlalu pergi meninggalkan Juan dengan Carra
"Kau mau apa? Mm, makan?" Tanya Juan, Carra mengangguk. Seharusnya Juan tidak perlu bertanya, karena sebenarnya keduanya memang janjian untuk makan siang
Lantas keduanya berjalan ke arah lift untuk sampai dilantai atas kafetaria
-
"Kau akan sampai jam berapa di mansion nanti?" Tanya Carra saat keduanya sedang menikmati makan siang dikafetaria
Juan menghentikan aktivitas sendoknya
"Pukul 7 malam aku sudah ada mansion, kau merindukanku?"
Carra mengangguk
"Kau jangan pulang terlalu larut, perasaanku tidak enak Juan" Tutur Carra yang sedari pagi memang merasa tidak tenang
"Ada apa?"
"Aku tidak tau, tapi perasaanku sedang benar benar tidak enak. Aku merasa tidak tenang!"
Juan tersenyum, menatap istrinya dan menyentuh tangan sang istri yang wanita itu letakan diatas meja
"Hanya perasaanmu saja sayang, tidak apa apa. Kau jangan khawatir, kasihan dia" Sahut Juan, matanya tertuju pada perut Carra
Carra mengangguk
"Yah, ku harap hanya perasaanku saja"
"Tenanglah"
Keduanya kembali melanjutkan makan, dengan Carra yang mengakhiri makannya lebih dulu. Dia terlihat tidak nafsu makan
"Setelah ini, biar ku antar pulang" Sahut Juan setelah ia juga mengakhiri makannya
"Aku akan pulang sendiri"
"Kau yakin?" Carra mengangguk
Juan hanya terdiam, justru dirinya yang merasa tidak yakin
"Biar aku antarkan pulang saja"
"Aku pulang sendiri Juan"
"Patuhlah, Carra"
"Baiklah" Pasrah Carra yang memang tidak akan menang melawan Juan
Setelah selesai makan siang, Carra dengan Juan berjalan menuju loby perusahaan untuk ke parkiran. Baru Juan akan melangkah ke luar, suara Robert dari arah belakang menginterupsi keduanya
"Tuan"
"Kenapa?"
"Anda akan pergi kemana?" Tanya Robert dengan setengah ragu
"Aku akan mengantarkan istriku pulang, ada apa? Ada sesuatu yang aku lupakan?" Tanya Juan dengan dahi berkerut
"Mohon maaf Tuan, tapi 5 menit lagi anda ada pertemuan penting dengan Direktur Utama perusahaan Anderson"
Juan diam
"Ubah saja agendanya!"
"Tapi Tu_"
"Juan, sebaiknya kau temui saja klien mu" Carra menyela
"Lalu kau?"
"Aku akan pulang sendiri, kau tenang saja!"
"Apa kau yakin sayang?" Tanya Juan dengan ragu
"Aku tidak apa apa" Carra meyakinkan
"Baiklah, kau akan diantar oleh sopir perusahaan" Ungkap Juan tanpa mau dibantah
Dan Carra hanya bisa mengiyakannya saja
"Hati hati" Ungkap Juan sebelum ia meninggalkan sang istri untuk ke ruang pertemuan, Carra mengangguk dengan senyum terbaiknya
"Hati hati Nona" Robert pun mengungkapkan hal demikian sebelum ia menyusul sang majikan
-
Mobil yang ditumpangi Carra melaju dengan mulus menyusuri jalanan, dengan sopir perusahaan yang nampak terlihat sedikit misterius. Ia mengenakan topi hitam dengan masker, dan saat Carra bertanya untuk apa menggunakan masker, pria itu hanya menjawab jika dirinya sedang terkena flu. Dan tidak ingin membuat Carra tertular.
Jujur Carra merasa curiga. Tapi ia juga tidak mempermasalahkannya selama orang itu tidak berbuat macam macam padanya
Mobil terus melaju, menyusuri jalanan yang lumayan sepi, dan Carra baru sadar. Jika jalan yang sedang dilaluinya sekarang adalah jalanan asing, bukan jalan yang biasa Carra gunakan menuju mansion
"Tenang saja Nona"
"Ini bukan jalan menuju mansion!" Kilah Carra dengan cepat
"Memang bukan, Nona hanya tinggal duduk diam dan nanti akan tau kemana kita pergi!" Katanya dengan santai
"Aku yakin kau bukan sopir perusahaan!" Tuduh Carra yang sudah yakin dengan asumsinya
"Cerdas, Nona!"
"Sialan!" Rutuk Carra sambil mengepalkan tangannya
"Hey, kau mau membawaku kemana bodoh!"
"Diamlah!" Bentaknya
Carra mulai panik, mobil terus melaju menjauhi kota, yang ada hanya hutan belantara dan jalan ala kadarnya
Beberapa kali Carra menghubungi Juan, tapi tidak ada jawaban. Dan Carra lupa jika saat ini Juan sedang ada pertemuan penting dengan kliennya, ia pasti meninggalkan ponsel diruangannya
"Abram" Lirih Carra
Ia berharap harap cemas menelpon Abram
Tersambung
"Ada apa Carra?" Tanya Abram disebrang telpon
"Abram aku_"
Belum selesai Carra berbicara, sopir sialan itu sudah merampas ponsel ditangan Carra dan melemparnya begitu saja ke luar jendela
"Siapa orang yang menyuruhmu untuk munculik ku?" Tanya Carra sambil mengguncang bahu pria yang tengah menyetir itu
"Diamlah, maka kau akan tau semuanya!"
"Kau akan mennyesal" Lirih Carra
Tidak ada yang bisa dilakukannya, ia hanya bisa berdiam dan menunggu. Berharap dirinya dan janin didalam perutnya baik baik saja
-
"Aku tidak mau!" Teriak Carra saat tiga orang pria berikut sopor palsu berwajah seram itu memaksanya untuk keluar dari mobil
"Turun, atau kau akan tau akibatnya nanti!" Ancam salah seorang dari mereka yang berbadan gempal
"AKU TIDAK MAU TURUN!" Sahut Carra dengan penuh penekanan
Tiga orang itu saling berpandangan
"Baiklah, jangan salahkan kami jika kami berbuat kasar!"
"Lepas! Lepaskan aku!"
Teriak Carra, saat orang orang itu menyeretnya keluar dari mobil dan membawanya masuk menuju sebuah gedung kecil yang sudah tua dan terbengkalai
"Diamlah!"
"Kalian akan membawaku kemana?" Tanya Carra lagi
Orang orang itu tak menyahut dan semakin menyeret Carra untuk masuk.
Dan sampailah mereka disebuah ruangan yang telah usang dan penuh debu, mereka mendudukan Carra dengan paksa di sebuah kursi yang sudah tua, dibawah kursi itu terdapat sarang laba laba
Bahkan semua beberapa yang berada diruangan dimana Carra berada terlihat sudah dipenuhi oleh kecoa dan sarang laba laba. Entahlah sudah berapa lama gedung ini ditinggalkan oleh para penghuninya
"Apa yang akan kalian lakukan?" Bentak Carra saat mereka menatapnya dengan penuh nafsu
"Tentu saja, untuk.... Menikmati tubuh mulusmu" Sahut pria yang tadi menjadi sopir untuk Carra
"Cuihh"
Tanpa segan Carra meludahi wajah pria yang tidak tampan itu,
"Jangan menyentuhku! Sedikitpun!" Perintah Carra dengan penuh penekanan
Pria dihadapan Carra itu hanya menggeram, kemudian
Plaakk!
Satu tamparan darinya mendarat dengan keras di pipi Carra, Carra hanya berusaha menahan rasa sakitnya. Hatinya sangat berharap agar bantuan segera datang
Berharap Juan segera menemukannya
"Wanita seperti apa kau ini, mengapa kau tidak sopan?" Teriaknya sambil mencengkram wajah Carra
"Aku bilang jangan menyentuhku!" Carra berteriak dengan air mata yang sudah mengalir dan membentuk anak sungai di pipinya
Ia cemas, bukan hanya pada dirinya, tapi lebih pada janin yang sedang dikandungnya. Carra tidak ingin terjadi apapun dengan calon anaknya dan Juan
"Siapa yang sudah membayar kalian untuk menyulik ku, aku tidak punya salah apapun pada kalian!" Teriak Carra dengan penuh amarah
"Kau ingin tau?" Tanyanya dengan wajah amat menyebalkan dalam penglihatan Carra
Carra hanya diam dengan tatapan tajam pada pria itu
"Kau akan tau sebentar lagi" Sahutnya, lalu melepaskan cengkramannya dengan keras sampai membuat wajah Carra seakan terlempar ke belakang, terbentur pada sandaran kursi
Carra tidak begitu terkejut dengan itu, justru ia lebih terkejut saat melihat seseorang yang datang dari arah depannya yang mereka sebut sebagai... 'Bos'
-
Epilog
Dengan wajah penuh senyum kebahagiaan, Juan keluar dari ruang pertemuan, ia nampak mengancingkan kancing jasnya dan berjalan ke arah ruangannya
Tapi Robert yang sedang mengobrol serius dengan sopir perusahaan cukup membuatnya heran dan memilih untuk menghampiri mereka
Kebetulan, tadi Robert memang keluar lebih dulu dari ruang pertemuan
"Ada apa?" Tanya Juan yang penasaran dengan obrolan mereka
Sopir itu nampak menunduk, tidak berani menatap Juan
"Tuan, ada yang mencuri mobil perusahaan" Sahut Robert
Juan terdiam, mencerna apa yang dimaksud oleh Robert
"Apa maksudmu?" Tanya Juan dengan sarkas, menolak fakta yang sekarang ada dikepalanya
"Tuan, Nona Carra sedang berada dalam bahaya" Robert memperjelas
Juan menggeleng, kemudian dengan cepat ia berbalik dan kembali ke ruangnnya untuk memastikan sesuatu. Robert cepat menyusul dengan langkah lebar
"Selidiki dimana Nona Carra berada sekarang"
"Cepat!" Sambungnya, kemudian memutuskan sambungan begitu saja setelah mengucapkannnya. Langkahnya semakin cepat menyusul Juan di depan