My Best Match

My Best Match
Introgasi



Sepanjang jalan Syan hanya meremas ujung dress yang dikenakannya. Daren disampingnya menyetir dengan fokus tanpa rasa cemas sedikitpun. Jalanan sepi membuat Syan merasa hening semakin menyelimuti, hanya terdengar suara deru halus mesin mobil yang paling mendominasi, waktu sudah kian larut dan Syan sibuk berperang dengan fikirannya sendiri.


Ia sudah menggagalkan acara pertemuan keluarga meski bukan sepenuhnya ia yang salah. Ia merasa risih karena setelah ini akan berhadapan dengan Juan yang mungkin akan murka padanya.


"Jangan cemas Syan,"


"Omong kosong!" Syan langsung menyambar dengan sinis pemuda itu.


"Kau berbicara seperti itu karena kau tidak akan terkena marah oleh Dad. Sedangkan aku? Aku tidak tau akan jadi apa setelah aku menginjakan kakiku di mansion nanti,"


Daren tertawa. Membuat Syan menghunuskan tatapan tajamnya.


"Tidak ada yang lucu Darendra. Kau punya dosa besar, karena kau yang membuatku pergi dari mansion dan gagal bertemu calon menantu Daddy."


"Lalu kau menyesal?"


"Aku sedikit bersyukur, tapi tetap saja Daddy akan marah padaku!"


"Aku yang akan melindungimu Syan!"


"Kau sudah memikirkan alasan untuk membohongi Daddy?"


"Kenapa harus berbohong?"


Alis Syan bertaut. Iyakah Daren akan berkata jujur pada Juan jika mereka habis berkencan? Bukan kencan, tapi Syan dijebak untuk menemui pemuda tampan itu dan terpaksa berkencan.


"Kita bilang yang sejujurnya saja," Darendra menyahut mantap.


Syan tidak mau tau. Ia hanya mengacak rambutnya. Frustasi, tidak tau cara bagaimana menghadapi Juan nanti. Membayangkan sang daddy yang marah saja ia tidak berani. Justru sekarang malah dihadapkan dengan hal yang lebih dari sekedar ekspektasi.


Ketika Daren sudah memarkirkan mobil dipelataran mansion dengan mulus, Syan turun dari mobil. Langkahnya berat sekali, Daren yang sudah sampai diteras mansion hanya menggeleng saja melihatnya dan berlalu lebih dulu.


"Oke. Tenanglah Syan," Syan mengatur nafas sebelum melangkah masuk ke mansionnya.


Jantungnya berpacu lebih cepat saat Juan dan Carra menunggunya di ruang utama. Keduanya masih mengenakan pakaian rapih yang membuat Syan semakin merasa tidak enak hati.


Daren sudah berdiri dihadapan mereka. Giliran Syan yang menyusul dengan kepala tertunduk, lalu ia berdiri disamping Daren tanpa berani menatap Juan dengan Carra.


"Ada apa Syan?" dan pertanyaan Juan yang entah apa maksudnya tidak tau harus Syan jawab dengan jawaban seperti apa.


Syan meremas ujung dress yang dikenakannya.


"Kau masih ingat. Tatap mata Dad jika Dad sedang berbicara!"


Syan menghembuskan nafas, mempersiapkan diri dan perlahan mengangkat wajahnya, menatap mata Juan yang nampak menahan amarah tapi tetap bersikap baik padanya.


"Jika kau memang menolak perjodohan ini. Maka katakan pada Dad. Dad tidak akan memaksamu. Bukan dengan cara seperti ini Syan, "


"Maaf Dad," hanya kata itu yang berhasil lolos dari lidah kelu Syan saat ini.


"Kau tau, untung saja tuan Dimitry memaklumi hal ini,"


Juan menghela nafas. Carra mengusap lengan suaminya agar tidak terlalu menunjukan amarahnya. Anak mereka sudah besar dan cara menasihati mereka juga tentu saja sudah berbeda dengan saat mereka kecil dulu.


"Baiklah. Katakan pada Dad kemana tadi kau pergi?"


"Hah?" Syan spontan bereaksi


"Apa yang hah?"


Syan menggigit bibir bawahnya. Daren nampak bersikap tenang tenang saja tanpa melakukan pembelaan padanya. Menjengkelkan!


"Eu, aku ....,"


"Syan menemuiku, Dad."


Tatapan Juan dan Carra mengarah pada putra mereka, yang tadi juga tidak ikut hadir dalam acara pertemuan keluarga.


Syan hanya mengerlingkan mata pada pemuda itu. Berharap harap cemas karena Daren akan mengatakan yang sesungguhnya.


"Ada apa memangnya denganmu?" tanya Juan. Tidak sabaran.


"Maaf Dad, ban mobilku bocor di jalanan sepi. Dan aku meminta Syan untuk menjemputku, ya, seperti di film-film hollywood yang sering kita tonton, dalam keadaan genting pemeran utama pasti mengalami masalah dengan ponselnya," Darendra mulai mengarang cerita yang terasa sulit untuk di percaya. Bahkan Syan ingin bertepuk tangan dengan segera.


"Aku pun mengalaminya. Ponselku kehabisan batrai," sambungnga.


Juan dan Carra nampak menyimak dengan ekspresi tak terbaca.


"Lalu, bagaimaba caramu menghubungi Syan, Daren?" tanya Carra. Ada perasaan cemas dihatinya saat tau putranya mendapat kesulitan hari ini. Meski sesungguhnya, apa yang dikatakan Daren hanya cerita karangannya saja.


"Aku menyusuri jalanan dan keberuntungan masih berpihak padaku Mom. Aku menemukan telpon umum dan langsung menghubungi Syan. Karena hanya nomor Syan saja yang aku ingat."


Juan menyipitkan matanya, mencari celah kebohongan diwajah putranya. Mungkin Daren sama seperti dirinya. Bohong atau tidak, mata laki laki itu tetaplah sama.


"Apa benar begitu?"


"Sungguh Dad,"


"Baiklah. Lalu kau Syan, kenapa tidak memberitahu kami dulu dan malah langsung kesana sendiri. Kau bahkan tak membawa ponselmu,"


"Sorry Dad, aku terlalu cemas,"


Ingin rasanya Daren tertawa mendengar jawaban Syan. Terutama saat melihat ekspresi polos sang kakak. Tapi untuk kesempurnaan sandiwara mereka, Daren memilih untuk tidak melakukannya.


Juan menghembuskan nafas berat.


"Baik Dad. Terimakasih "


Juan mengangguk. Syan dan Daren berjalan ke arah kamar mereka.


"Dasar payah. Kau bilang akan jujur, kau justru malah mengarang cerita dengan hebatnya. Sulit di percaya!" desis Syan saat keduanya menaiki anak tangga. Sementara Daren hanya tersenyum saja sambil menggaruk tengkuknya.


Syan masuk ke kamarnya. Begitu juga Darendra.


"Kau mempercayai mereka?" tanya Carra saat ia berjalan dengan Juan menuju kamar setelah kedua anaknya berlalu dari ruang utama.


"Tentu saja tidak. Kedua anakmu berbohong Carra,"


Carra mengerutkan kening, menatap Juan dengan penuh pertanyaan.


"Maksudmu?"


Juan justru malah mendesah, memijit pelipis dan duduk di tepi tempat tidur, Carra mengikuti dan duduk disamping sang suami.


"Kurasa hubungan mereka berbeda, terlebih Daren. Dia jatuh cinta pada kakaknya, Carra."


Carra terdiam tidak percaya.


"Robert bilang, hari ini mereka habis berkencan di taman, itulah kenapa mereka tidak ada di mansion saat acara pertemuan keluarga berlangsung. "


"Lalu bagaimana Juan, apa kita harus menghentikannya?"


"Mereka bisa saja bersama. Di dalam tubuhnya tidak mengalir darah yang sama. Tapi kurasa, hanya perasaan Daren saja yang berbeda, tapi Syan biasa saja."


"Jadi?"


"Terserah Syan akan memilih siapa nanti."


**


Syan baru saja keluar dari ruang ganti, memakai gaun tidur dan mengikat rambutnya. Dan ia baru ingat untuk membuka ponsel, berharap ada notif dari seseorang yang diharapkannya.


Mata bulat Syan melebar saat melihat puluhan panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama, selain dari Juan.


Syan menggigit bibir bawahnya. Fikirannya berkecamuk, bertanya tanya ada apa Arga menghubunginya sampai beberapa puluh kali begini.


Gadis itu memutuskan untuk berjalan ke arah balkonnya. Kemudian berniat menghubungi Araga, menempelkan benda pipih itu ditelinganya dan menunggu respond dari ujung sana. Sampai kemudian panggilan terhubung dan ia mendengar desahan nafas berat dari Araga diujung sana


"Kau berada dimana sekarang?" Dahi Syan berkerut mendengar pertanyaan Araga yang tiba tiba.


"Ada apa?"


"Tinggal kau jawab saja kenapa banyak sekali bertanya!"


"Hey, ada apa. Kau memang siapa berani berteriak teriak padaku?" Syan tidak terima di perlakukan seenaknya oleh Araga. Syan kembali mendengar desahan nafas Araga yang frustasi di ujung sana.


"Baiklah. Kau habis darimana tadi?" nada bicara pria itu terdengar rendah.


"Tidak darimana mana!"


"Kenapa tidak ada di mansion?"


Syan mematung. Apa Araga datang ke mansionnya dan bertemu dengan calon suami Syan? Dan itulah alasan kenapa ia menghubunginya beberapa kali dan marah marah sekarang?


"Lain kali jangan membuatku cemas!"


Panggilan terputus setelah Araga mengatakan hal itu. Membuat Syan hanya terdiam bingung ditempatnya.


"Araga datang ke mansion? Kenapa tadi Daddy tidak cerita?"


Syan mendesah, kemudian memilih untuk kembali ke kamar dan mengistirahatkan dirinya. Hari ini terlalu berlalu begitu berat baginya.


**


"Kau tidak tau kan betapa pusingnya aku karena gagal bertemu dengan Syan." Araga memaki saat Erick berada di ruang kerjanya.


"Aku tau bos. Tapi bukan berarti kau marah marah padaku." sanggahnya. Ia jauh jauh datang dari apartemen ke mansion bosnya dan ternyata Araga menyuruhnya datang hanya untuk memarahinya saja.


"Lantas aku harus marah marah pada siapa? Tadi saja aku marah marah pada gadis itu dan dia malah balas memarahiku,"


Erick nampak menahan tawa saat Araga mengatakannya. Membuat Araga menendang meja dan Erick hanya diam tak bersuara.


"Aku tidak mau tau. Kau urus saja apa yang aku perintahkan dan aku ingin mendengar kabar baik nanti."


Erick mengangguk


"Aku akan melaksanakannya bos. Apapun urusan pekerjaan, aku yang akan membereskannya."


"Ya. Bagus,"


Erick mengangguk, kemudian pamit keluar dari ruangan yang didominasi dengan warna abu itu. Araga hanya menggeleng, kemudian menggapai ponselnya dan melihat foto Syan disana


Ia menghela nafas berat mengingat kegagalan pertemuan mereka dihadapan kedua orangtua masing masing.


"Kau mengecewakanku, Syan." lirihnya


TBC