
Tidak ada satupun orang yang siap dengan kehilangan
_EvaYulian_
-
"Jenny ku mohon!" Pinta Carra lagi, ia sudah terduduk di lantai dengan bersandar pada kursi usang
"Tidak akan Carra!" Kekeh Jenny dengan tangan terlipat di dada
"Juan" Lirih Carra
"Juan"
"Help me" Lirihnya lagi dengan penuh harap
Dan pintu yang terbuka dengan keras mengalihkan perhatian keduanya. Wajah Jenny nampak memucat, ia mundur satu langkah
Juan sudah berdiri dengan wajah yang siap membunuh, kedua tangannya terkepal dengan sempurna, tatapan matanya dengan tajam menghunus ke arah Jenny
"Ju_ Juan"
Tak memberi Jenny kesempatan untuk bernafas, Juan menghampirinya dan langsung mencekik leher Jenny, menyudutkannya pada tembok dengan keras
Tidak ada kata yang ingin dikatakannya, matanya sudah ditutupi oleh amarah yang mendalam
"Ju_ Juan, lepaskan" Jenny memohon dengan suara tercekat, Juan menggeleng
"Apa saat Carra memohon padamu untuk di lepaskan kau mengabulkannya?"
"Apa kau mengasihaninya?" Teriak Juan dengan tangan yang semakin menekan leher Jenny, wanita itu sudah hampir kehabisan nafas
Abram dengan Alex yang baru datang segera menghampiri Carra
"Carra, kau tidak apa apa?" Tanya Abram dengan khawatir
"Abram" Lirih Carra sambil mencengkram lengan Abram dengan kuat
"Darah!" Decak Alex saat melihat darah pada kaki Carra
"Juan" Abram berteriak
"Aku tidak akan mengampunimu!" Desis Juan sambil melepaskan Jenny dengan kasar
Jenny terbanting dan kembali membentur tembok, ia memegang lehernya sambil terbatuk batuk
"Carra jauh lebih membutuhkanmu, biar aku yang akan mengurus wanita itu!" Sahut Alex tatapan mata tajamnya mengarah pada Jenny yang sudah pucat dihadapannya
"Sayang" Juan menghampiri Carra, menyibakan rambut wanita itu yang menutupi wajahnya
"Kau akan baik baik saja!" Ucap Juan, lalu cepat menggendong Carra. Membawanya keluar dari gedung itu
Robert yang panik saat melihat Juan menggendong Carra segera menghampiri
"Tuan, apa yang terjadi?"
"Kita harus segera membawa Carra ke rumah sakit" Sahut Juan dengan raut wajah amat khawatir, terutama saat ia melihat darah ditangannya yang berasal dari Carra
Robert segera menuntun Juan ke arah helikopter yang sudah datang 5 menit yang lalu
"Sayang, bertahanlah" Bisik Juan dengan lirih ditelinga Carra, sedangkan Carra sudah sangat lemas
"Sakit Juan" Carra bersuara dengan sangat lemah, sambil memegang perutnya
Juan memejamkan matanya, bahkan matanya pun sudah berkaca kaca, ia tidak tega melihat Carra yang begitu kesakitan dihadapannya
"Sayang kau akan baik baik saja, kau harus baik baik saja"
"Kau harus bertahan" Ungkap Juan dengan raut frustasi
"Jangan tertidur!"
Juan takut jika Carra tidak akan bangun lagi
"Juan, aku mengantuk. Aku ingin tidur saja!" Lirih Carra dengan mata yang sudah terpejam
Juan menggeleng
"Jangan Carra. Carra" Juan sudah semakin frustasi saat Carra tak kunjung membuka matanya
"Kau harus baik baik saja sayang, kau_"
Juan mendekap Carra dengan erat, dengan air mata yang sudah merembes membasahi pipinya
Robert hanya melihat sang majikan dengan raut wajah yang cemas, terutama melihat kondisi Carra yang begitu mengkhawatirkan
-
"Iblis!" Desis Alex, Jenny menggeleng
"Kau ini wanita macam apa Jenny? Kau tega menyakiti orang yang lemah?" Tanya Alex dengan tatapan meremehkan
"Neraka adalah tempatmu jika saja Carra sampai keguguran karena kau!" Maki Alex tanpa ampun
Jenny menggeleng, mundur satu langkah dan kemudian merogoh sakunya. Wajahnya nampak semakin panik
"Kau mencari ini?" Tanya Abram sambil mengangkat sebuah kunci ditangannya. Tadi ia memang menemukannya didekat Carra terduduk, mungkin terjatuh saat Carra memberontak untuk dilepas pada Jenny
"Kembalikan!" Teriak Jenny
"Kembalikan dan kau akan melarikan diri?" Tanya Abram dengan sarkas
"Tidak semudah itu!" Sahut Abram lagi dengan penuh penekanan
Ia bukanlah tipe laki laki yang suka menyakiti wanita, tapi melihat Carra sengsara seperti tadi. Abram sungguh dendam pada Jenny
"Urus dia Lex!" Sahut Abram, lalu pergi meninggalkan ruangan terkutuk itu sebelum amarahnya kian besar pada Jenny
Alex mengangguk, lalu menarik tangan Jenny dan mendudukannya dikursi bekas Carra tadi
"Tenanglah Jenny, kau tidak perlu di penjara. Kau hanya akan langsung masuk... Ke neraka!"
-
Beberapa kali Juan mengganti posisinya, ia sudah duduk beberapa kali. Dan terus mondar mandir tidak karuan. Sedangkan Robert hanya berdiri dengan tenang didepan pintu ruangan Carra. Dokter sedang memeriksa keadaan Carra di dalam, dan tak lama, Max datang dengan Sonya dan Della
"Juan, apa yang terjadi?" Tanya Sonya dengan tampang cemas
"Bagaimana keadaan Carra?" Tanya Max yang tak kalah khawatir saat mendapat kabar dari perusahaan jika Juan meninggalkan perusahaan berikut dengan Robert, Abram dan Alex
Ditambah dengan Robert yang meminta anak buahnya untuk mengirimkan helikopter
Juan hanya menggeleng, Sonya yang mengerti lantas hanya menggandeng putranya itu, menguatkannya.
"Berdo'alah, istrimu akan baik baik saja" Sahut Sonya
Dan pintu ruangan Carra yang terbuka mengalihkan perhatian mereka
"Dok, bagaimana dengan keadaan menantuku?" Tanya Max dengan nada suara yang dibuat setenang mungkin
Juan yang berada dalam dekapan sang ibu lantas lantas melepaskan diri dan mendekat pada Max dan Dokter yang tadi menangani Carra
"Nona Carra sudah melewati masa kritisnya, tapi_" Dokter itu menggantung kalimatnya
"Katakan!" Sahut Juan dengan penuh penekanan, tatapan matanya tajam. Membuat Dokter wanita yang sudah separuh baya itu brigidik ngeri melihat ekspresi pemilik rumah sakit itu
"Nona Carra mengalami pendarahan hebat, janin yang tengah dikandungnya tidak dapat kami selamatkan, mohon maaf Tuan" Sahutnya dengan suara lemah
Juan menggeleng, mengacak rambutnya dengan frustasi. Menjatuhkan bogem pada tembok berkali kali, Max nampak kewalahan menenangkannya
"Juan, tenanglah sedikit" Ucap Max sambil menahan bahu putranya itu
"Ayah," Keluhnya dengan air mata yang sudah mengucur deras
Dua nyawa sekaligus Tuhan mengambilnya dari Juan. Dan Juan tidak siap untuk kehilangan, kehilangan calon buah hatinya
"Juan, tenanglah Nak. Tenang!" Sonya dalam dekapan Della juga berusaha menenangkan Juan
Juan menggeram, mengatur nafasnya yang memburu, tangannya mengepal dengan mata yang memerah karena kabut amarah
"Ayah, aku titip Carra" Ucapnya
"Kau mau kemana nak?" Tanya Max dengan khawatir
"Membereskan sesuatu!" Ucap Juan yang kemudian melangkah dari tempatnya itu
-
Abram dengan yang lain terkesiap saat melihat sebuah mobil datang, terlihat Juan keluar dari mobil dengan aura pembunuh yang begitu terpancar dari tubuhnya
"Dimana wanita itu?" Tanya Juan dengan geram
"Di dalam" Alex menyahut
Juan dengan langkah lebar masuk ketempat dimana ia menemukan Carra tadi. Dan kemudian matanya terbelalak saat melihat di ruangan itu sudah tidak ada siapa siapa
Alex, Robert, Abram dan Ray yang menyusul pun juga ikut kaget saat melihat kursi yang tadi di duduki Jenny kosong, hanya tersisa tali yang sudah terpotong dengan sebuah kaca kecil. Sepertinya Jenny menggunakan kaca itu untuk memotong tali yang mengikatnya
"Sial!" Umpat Juan dengan geram
"Dia belum jauh" Sahut Abram
"Hutan" Ray menyahut, ia berlari ke arah jendela yang terbuka dan menerobos ke tengah hutan
Yang lain mengikuti
"Aku tidak akan membiarkanmu lolos! Wanita licik!" Desis Juan sebelum ia berlari menyusul Ray
-
Sedangkan ditengah hutan, Jenny tengah kelelahan mencari jalan keluar. Seandainya ia bisa mendapatkan kunci mobilnya, maka ia tidak akan menderita seperti ini
Bahkan tadi kakinya menginjak kayu runcing sampai membuat kakinya berdarah, Jenny harus terpaksa membuang sepatu tingginya karena menghambat langkahnya. Sehingga itulah akibatnya
"Aku harus kemana?" Tanya Jenny dengan panik. Ia tau bagaimana kemarahan Juan, dia akan menghilangkan nyawa orang tanpa berfikir dua kali. Juan adalah orang yang kejam, terlebih jika menyangkut urusan keluarganya
"Jenny"
Jenny membelalakan matanya saat mendendengar seseorang memanggilnya
"Mereka mengejarku!" Desisnya. Kemudian ia cepat berlari kemanapun langkah kakinya membawanya pergi
"Berhenti!"
Seketika Jenny menghentikan langkahnya saat seseorang menyuruhnya berhenti. Ia berbalik, terlihat seorang pria bertopi berdiri di hadapannya
"Berhenti disitu Nona, atau kau akan menyesal nanti!"
"Persetan dengan kau!" Desis Jenny yang kemudian malah terus berlari. Ray tidak bisa mencegahnya
"Berhenti disitu!" Sahut Juan dengan nada rendah yang penuh dengan penekanan
Jenny memejamkan matanya untuk beberapa saat, ia hafal suara bariton itu
"Apa yang kau inginkan Juan?" Tanyanya dengan berteriak
Juan tersenyum dengan sinis
"Nyawamu!" Sahut singkatnya
Jenny menggeleng
"Ku mohon tidak Juan, jangan!"
Lagi lagi Juan hanya tersenyum
"Setelah kau menghilangkan dua nyawa sekaligus, kau memintaku untuk berhenti Jenny?" Desis Juan, matanya sudah berair saat membayangkan bagaimana penderitaan Carra tadi, dan bagaimana reaksi Carra setelah ia tau nanti jika anak mereka tidak dapat tertolong
"Kau sudah membunuh kedua anakku Jenny, kau sudah menghancurkan hidupku!" Teriaknya dengan penuh amarah
Jenny menggeleng
"Aku memberimu pengampunan karena kau dulu pernah menyelamatkan Syan, aku berhutang nyawa padamu!"
"Tapi sekarang, kita impas. Dan kau, kau berhutang satu nyawa padaku" Sahut Juan, ia mengeluarlan pistol yang berada di balik jas yang dikenakannya
Sedangkan yang lain hanya menyaksikan apa yang sedang Juan lakukan. Tidak ada yang berani menghentikan aksi Juan, bahkan Abram sekalipun.
Jenny menggeleng saat Juan mengarahkan pistol itu padanya, ia sudah menarik pelatuknya dan......
Duarr
"Argghhh!"
"Oww" Sahut Juan dengan raut wajah kasihan yang dibuat buat
"Melesat!" Ungkapnya
Mati matian Jenny menahan sakit ditangannya akibat tembakan Juan
"Langsung bunuh saja Juan!" Ungkap Alex yang sudah sangat geram
"Aku hanya ingin memperlambat kematiannya, tenang saja" Juan menyahut dengan seringai licik. Ia memang sengaja melesatkan tembakannya, semata mata agar membuat Jenny merasakan penderitaannya
"Apa yang sekarang kau rasakan, tidak sebanding dengan rasa sakit ku. Tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Carra, tadi" Ungkap Juan
Dan Jenny tidak bisa melakukan pembelaan, dirinya memang salah. Dirinya memang pantas di perlakukan seperti ini oleh Juan
"Aku beri kau kesempatan untuk lari! Silahkan kabur dariku" Ungkap Juan sambil memutar mutar pistol ditangannya
"Aku beri kau waktu lima menit!" Teriak Juan yang membuat Jenny refleks berlari menjauhi lima laki laki itu
"Tuan muda_" Robert nampak ragu
Abram dan juga Alex cukup merasa heran dengan Juan yang membiarkan Jenny lolos begitu saja
Sedangkan Ray hanya tersenyum
"Oow, keputusan yang bagus Tuan muda. Target berlari ke arah yang tepat" Decak Ray dengan tangan yang terlipat didada
-
Jenny terus berlari dengan sisa sisa tenaganya, menyeret kakinya yang mulai lemas. Darah segar dari luka ditangannya terus menetes dan membuatnya kehilangan banyak darah, wajahnya mulai memucat. Sedangkan yang ditemuinya adalah jalan buntu, dirinya ada di tebing yang curam, dengan jurang yang dalam
"Waktumu sudah habis Nona"
"Kau tidak bisa lari kemana mana lagi"
"Silahkan katakan apa keinginan terakhirmu!"
Jenny terkesiap saat mendengar suara Juan. Ternyata adalah pilihan yang salah saat dirinya malah mengibarkan bendera perang pada Juan, Juan yang akan jadi pemenang. Dan dirinya, berada di ambang kematian
"Aku beri kau penghargaan. Mmm, baiklah, kau boleh memilih, kau ingin aku menembakmu dimana?" Tanya Juan dengan senyum penuh kemenangan
"Kepala, atau tepat di jantungmu" Tawarnya yang sudah bersiap menarik pelatuk
"Hentikan!" Teriak Jenny yang sudah tidak menghiraukan rasa sakitnya lagi, ia sudah diambang kematian. Memohon pun percuma
"Aku memang salah Juan, aku memang salah!" Akunya
"Aku sudah dibutakan oleh perasaanku padamu. Aku hanya tidak ingin Carra hidup bahagia disisimu!"
"Hentikan omong kosongmu itu. Aku hanya memberimu penghargaan untuk jalan kematian yang akan kau terima, aku tidak menyuruhmu untuk banyak berbicara!"
"Baik, aku memang lebih memilih mati Juan, mati bersama dengan perasaan cintaku untukmu!"
"Selamat tinggal" Ungkapnya yang kemudian lebih memilih mundur, berbalik dan kemudian meloncat dari tebing
Juan dengan yang lainnya hanya terperangah, tapi tidak perduli juga dengan wanita berhati iblis itu
Rasa cinta yang berlebihan, memang akan membutakan perasaan
"Temukan dia dalam keadaan hidup ataupun mati!" Perintah Juan yang mengarah pada Robert dan Ray
"Baik Tuan"
Juan kemudian melangkah dan meninggalakan tempat itu, disusul oleh Abram dan Alex
Mungkin Juan bukanlah orang suci, apa yang dilakukannya hari ini memang tidak akan merubah apapun, tidak akan merubah kenyataan jika dirinya dengan Carra sudah kehilangan anak mereka
Tapi setidaknya dengan hal itu. Juan fikir ia sudah memusnahkan kemungkinan yang akan datang dimasa depan
Nyawa, harus dibalas dengan nyawa
-
My Teacher Handsome up hari senin yah😁