My Best Match

My Best Match
Meyakinkan Perasaan



"Apa yang terjadi pada Syan?" Tanya Juan saat ia baru saja pulang dari kantor. Carra menyambutnya, membawakan tas kerja Juan dan membantunya melepas jas


"Aku belum memberi tahumu hal ini" Sahut Carra dengan heran karena ia memang belum mengatakannya pada sang suami


"Araga yang mengatakannya"


Carra manggut manggut. Ia paham sekarang


"Apa Syan baik baik saja?"


"Tidak terlalu buruk, hanya terkilir. Dokter Arin juga sudah memeriksanya, dia sedang beristirahat sekarang"


Juan mengangguk


"Sayang"


"Hmm"


"Aku ke kamar Syan dulu"


Carra yang sedang menyimpan jas Juan lantas menoleh


"Pergilah. Aku akan menyiapkan air hangat untuk kau mandi"


"Terimakasih sayang, aku akan segera kembali"


Carra mengangguk, Juan berlalu dari kamar mereka.


Sementara Syan dikamarnya nampak sedang melamun. Sudah hampir malam tapi Daren belum juga datang ke kamarnya sekedar bertanya tentang kabarnya. Ponsel pria itu juga tidak bisa dihubungi dan Syan tidak tau apakah Daren sudah kembali ke mansion atau tidak


Sampai tak lama, ketukan diluar pintu membuat gadis itu menoleh ke sumber suara. Daren? Tidak, tidak. Daren hampir tidak pernah mengetuk pintu jika masuk ke kamarnya


"Ini Daddy, Syan"


"Oww. Masuk Dad!"


Pintu terbuka. Menampilkan Juan yang tampan tersenyum dan kemudian berjalan ke arahnya tanpa menutup pintu


"Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya yang kemudian duduk ditepi tempat tidur


"Sudah jauh lebih baik. Apa Momy menceritakan hal ini?"


"Bukan Mom"


"Lantas?"


"Robert"


"Oww. Yah, aku tidak apa apa. Kau tenang saja. Aku tidak akan cacat dan membuat calon menantumu malu nanti"


"Ahh Syan. Apa yang kau katakan?"


Syan tertawa


"Aku hanya bercanda Dad, kau tenang saja. Oke?"


Juan nampak mengangguk nganggukkan kepalanya, sementara Syan hanya tersenyum saja


"Lalu. Siapa yang menolongmu?" Juan memancing. Syan memicingkan matanya


"Tolong jangan bertanya tentang itu Dad, aku yakin kau sudah tau mengenai hal itu. Benarkan?" Tebaknya yang membuat Juan tersenyum


"Kau benar. Araga sendiri yang sudah memberi tahu Dad"


"Apa dia meminta imbalan?" Selidiknya


"Tentu saja tidak Syan. Dia bukan orang sembarangan, dan hal itu begitu akan terlihat rendah jika dilakukannya"


"Kau sepertinya sangat menyukainya" Tebak Syan setelah mengamati raut wajah Juan kala bercerita tentang Araga


"Daddy menyukai para anak muda yang mau bekerja keras. Seperti Araga"


"Berlebihan!"


Juan tertawa


"Baiklah baiklah. Terserah kau saja. Kau nampaknya tidak suka pada Araga"


"Bukan tidak suka Dad"


"Belum suka?" Tebak Juan, setengah menggoda yang membuat Syan mengerutkan keningnya


"Dad, kau apa apaan. Bukankah aku tidak boleh dekat, apalagi sampai menyukai pria lain, selain calon tunanganku nanti"


"Aku bangga padamu, Syan."


Syan tersenyum


"Istirahatlah. Dady senang kau baik baik saja" Sahut Juan sambil mengelus puncak kepala Syan. Kemudian beranjak keluar dari kamar putrinya. Sementara Syan hanya menatap kepergian sang ayah sampai menghilang dibalik pintu


"Araga" Lirihnya saat mengingat obrolannya dengan Juan tadi. Kemudian ia menggeleng


**


"Nahkan. Untung saja aku sudah berangkat duluan. Coba saja jika aku mendengarkan kata Mama dan berangkat dengan kalian. Pasti sekarang aku masih berada di LA" Dinara menggerutu saat menerima telpon dari Adella yang memberitahunya jika orang tuanya itu kemungkinan, akan berangkat dua hari lagi menyusulnya ke new york


"Iya iya. Baiklah, lalu bagaimana. Apa kau sudah pergi ke rumah nenek?" Tanya Adella diujung sana


"Belum Ma. Aku belum pergi kemanapun selama dua hari ini, besok aku baru akan pergi ke rumah Nenek"


"Baiklah. Mama akan menyuruh sopir disana untuk menjemputmu"


"Tidak perlu tidak perlu. Aku akan meminta Darendra saja untuk mengantarkanku"


"Semakin dia tidak suka, aku akan semakin senang merepotkannya Ma" Sahut Dinara sambil tertawa


"Jangan membuat masalah Dinara. Mama akan malu pada Om Juan dan Aunty Carra nanti"


"Baiklah baiklah. Aku akan meminta tolong pada Darendra, jika dia tidak mau, maka aku akan meminta sopir nenek saja untuk menjemputku"


"Baiklah. Jaga dirimu baik baik dan jangan buat masalah. Mama dan Papa secepatnya akan berangkat ke new york"


"Iya Ma"


Panggilan terputus. Dinara mengotak atik ponselnya, memilih untuk menghubungi Daren karena anak itu belum juga kembali ke mansion sejak tadi pagi


Tapi nomor pemuda itu tidak bisa dihubungi


**


Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Carra berdiri didepan pintu dengan gelisah, karena Darendra yang belum pulang sejak tadi pagi. Terlebih ponsel putranya itu tidak dapat dihubungi, tidak biasanya dia pulang larut dan tanpa kabar seperti ini sampai membuat Carra cemas


Sampai tak lama, sebuah mobil memasuki gerbang utama dan terparkir dengan asal di pelataran mansion. Carra bergegas menghampiri sang pengemudi yang baru saja kekuar dari mobil dan berjalan menuju teras


"Kau darimana saja?" Tanya Carra begitu putranya datang.


Carra nampak khawatir. Daren juga langsung memeluk sang Momy


"Hanya dari luar Mom." Sahutnya dengan tenang


"Kau membuat Momy cemas. Kenapa ponselmu tidak dapat dihubungi?" Tanya Carra dengan kesal


Darendra menggandeng Carra masuk kedalam, tanpa memperdulikan ocehan Carra padanya tadi


"Darendra, kau belum menjawab pertanyaan Momy" kesal Carra


"Aku sedang ada acara diluar Mom, dengan kawan kawanku. Ponselku kehabisan batrai, itu sebabnya kau tidak bisa menghubungiku"


"Kabari Momy jika lain kali kau akan pulang malam. Jangan membuatnya cemas" Sahut Juan yang berada di ruang utama mansion


Darendra menoleh. kemudian menyahut "Lain kali tidak akan aku ulangi Dad"


"Bagus!"


"Maaf sudah membuatmu cemas Mom, maafkan aku"Pemuda itu mendaratkan ciuman permintaan maaf pada Carra di pipi kanan, Carra hanya mengangguk..l Sampai kemudian Daren pamit untuk beristirahat ke kamarnya


"Jangan terlalu mencemaskannya sayang, dia sudah dewasa, dia sudah bisa menjaga diri dengan baik. Kau tidak perlu terlalu khawatir padanya" Sahut Juan saat Carra hanya berdiri sambil menatap kepergian Daren yang menapaki satu demi satu anak tangga


"Aku tau, tapi tetap saja. Aku tidak bisa jika tidak mengkhawatirkannya"


"Baiklah. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Kemarilah"


Juan mengulurkan tangannya, Carra mendekat dan duduk disamping sang suami, Juan membawa wanita itu kedalam pelukannya dan kemudian mendaratkan ciuman dikeningnya


"Tidak perlu cemas!"


**


Darendra berjalan ke arah kamarnya, tapi begitu melewati pintu kamar Syan. pemuda itu berhenti, berdiri cukup lama hanya memandangi pintu kamar gadis itu sampai kemudian ia memutuskan untuk berlalu ke kamarnya


Sudah 2 hari ini, Syan tidak bertemu dengan Daren. Dia akan pergi keluar dan pulang larut malam. Syan jarang menemuinya saat sarapan ataupun makan malam


Dan hari ini, saat ia keluar kamar, pemuda itu juga keluar dari kamarnya. Sehingga keduanya berjalan bersama ke lantai bawah, tanpa bersuara, tanpa sapaan, tanpa perdebatan


"Kau yakin akan ke kampus Syan?" Tanya Carra saat putrinya itu menuruni anak tangga


"Aku sudah tidak apa apa Mom. Kalau bukan kau yang meminta izin pada Dosen kampus, mungkin sejak kemarin aku sudah masuk kampus" Sahutnya dengan panjang lebar. Sementara Carra hanya tersenyum saja


"Daddy tidak sarapan?"


"Uncle Robert sudah menjemputnya barusan. Dia akan sarapan di kantor!"


Syan mengangguk anggukan kepalanya sambil menikmari sarapan. Carra memperhatikan dua anak muda itu, ada yang berbeda dengan mereka. Daren terlihat jauh lebih kalem dari biasanya, tak ada tatapan usil dimatanya. Mungkin ini kali pertama dalam hidup Carra setelah kehadiran Daren, sarapan tanpa sedikitpun ada perdebatan antara Syan dengan putranya itu


"Kau kenapa?" Tanya Syan saat mereka berdua sudah berada di teras mansion. Sejujurnya sejak mereka keluar dari kamar masing masing pun, Syan sudah merasa ada yang aneh dengan Daren


"Kenapa?" Daren justru balik bertanya


"Ada apa denganmu, tidak biasanya kau bersikap patuh seperti ini"


"Ku kirau kau masih marah padaku karena kejadian 3 hari yang lalu!"


"Tentu saja tidak!"


Daren mengangguk


"Hanya karena itu?" Tanya Syan yang nampak penasaran


"Bukan itu saja!"


"Lantas?"


"Aku hanya sedang mencoba meyakinkan perasaanku!"


Syan mengerutkan kening, kemudian tertawa


"Ada apa? Kau sedang jatuh cinta tuan muda?"


"Baiklah, katakan padaku siapa gadis malang yang tiba tiba saja mendapatkan cintamu itu?"


"KAU!"


Syan seketika menghentikan tawanya dan mematung ditempat. Apa dia salah dengar? Apa Daren bercanda?


TBC