
*
"Makan saja" Paksa Carra. Dia tidak lapar jadi ia hanya menemani Juan makan saja
"Kenapa kau tidak makan?" Tanya Juan sambil mengaduk makanannya, ia nampak enggan sekali memakan menu makan siang yang ada di hadapannya
"Aku tidak lapar Juan. Kau bilang tadi hanya menyuruhku menemanimu makan bukan?" Tanya Carra dengan senyum penuh kemenangan di bibirnya
Dan membuat Juan menggeleng dengan tingkahnya
"Kalau begitu, suapi aku makan" Katanya dengan melipat tangan di atas meja dan menatap Carra penuh perintah
Carra melihat sekeliling, kafetaria itu tidak terlalu ramai, tapi pamer kemesraan juga seharusnya tidak boleh. Bagaimana jika nanti ada yang iri dengan mereka dan mau merusak rumah tangga mereka?
"Aku lapar Carra" Adunya yang sebenarnya menyuruh Carra untuk segera menyuapinya
Carra menggeser piring di hadapan Juan ke hadapannya. Kasihan suaminya, tadi pagi dia juga tidak sarapan di mansion
"Buka mulutmu!" Suruh Carra dengan menentang sendok di mulutnya ke arah Juan
Seperti anak kecil yang sedang di bujuk makan oleh ibunya, Juan menurut. Membuka mulut dan mengunyah makanannya
Carra hanya tersenyum melihat tingkah Juan, ternyata sebegitu indahnya mencintai suaminya yang manja ini
*
Abram tengah memantau sebuah pembangunan proyek yang berada di kota A. Robert yang mengirim tugas itu atas perintah Juan, dan tentunya Abram tidak dapat menolak
Sebagai salah satu orang kepercayaan Juan, ia memang selalu di percaya untuk kesana kemari mengecek perkembangan perusahaan, baik dari pembangunan ataupun jalan kerja para karyawan di anak anak perusaan
Alex? Tugas dia adalah mengontrol dan memantau jalannya perusahaam di bagian fashion. Dan dia amat anti jika Abram mengajaknya berkeliling kota jika dirinya sedang tidak ada tugas
-
Begitu dirasa ia telah selesai dengan tugasnya, lantas Abram melepas penat dengan berjalan jalan ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut
Ia sedikit menyamarkan diri dengan mengenakan kecamata hitam, seolah memang mengasingkan dirinya dari orang orang yang barangkali mampu mengenalinya
Ia berjalan dengan satu tangan yang berada di saku celananya. Berjalan dengan santai tanpa perduli dengan sekitar
Tidak ada niat untuk membeli apapun, ia hanya ingin berjalan jalan saja
Sampai tiba tiba ia menabrak seorang wanita yang tengah membawa satu cone eksrim
"Kau tidak bisa melihat yah" Protesnya sambil mengelap bagian dadanya yang terkena tumpahan eskrim dengan tangannya
Sedangkan Abram hanya berdiam diri. Jelas jelas wanita itu yang berjalan tanpa melihat, ia asik menikmati eskrimnya sampai menabrak Abram yang tengah berdiri mengecek ponselnya
"Hey Tuan, selain tidak bisa melihat. Rupanya anda juga tidak bisa mendengar ya" Gerutunya lagi yang tidak diperdulikan oleh Abram
"Kalau begitu untuk apa bermain ponsel" Imbuhnya dengan suara pelan
Abram yang mendengarnya lantas memicingkan padanya. Sampai ia yakin jika dirinya mengenal wanita tersebut
"Della" Gumamnya
Wanita itu memicing, menatap laki laki berkecamata yang ada di hadapannya
"Abram Lucass?" Tanyanya
"Kau pindah dari new york kemari?" Imbuhnya
Abram tak menggubris
"Dasar, sombong!"
"Aku hanya mengecek salah satu proyek disini, atas perintah Juan" Abram akhirnya mau tidak mau menyahut dengan terpaksa
Wanita bernama Adella itu hanya mengangguk tidak perduli
"Ku kira kau pindah, maka aku akan bersyukur jika di new york tidak ada kau" Sahut wanita itu sambil berjalan menuju pintu keluar, dan anehnya Abram malah mengikutinya
"Ku kira di new york pun kita tidak pernah berjumpa, untuk apa kau merasa terganggu dengan kehadiranku?" Abram menyahut dengan masih mengikuti langkah wanita yang ada di depannya
Wanita itu lantas berhenti, kemudian berbalik pada hadapan Abram
"Kau tau, atmosfernya selalu berbeda jika ada kau. Sama seperti sekarang, mendadak disini menjadi panas. Aku ingin pulang saja" Katanya dengan ketus, lalu berjalan ke arah parkiran mobil
"Sama kalau begitu!" Sahut Abram lalu masuk ke mobilnya dan begitu saja meninggalkan Della lebih dulu
Della menghentakan kakinya dengan kesal, seharusnya dia yang meninggalkan Abram lebih dulu. Bukan malah dirinya yang lagi lagi harus di tinggalkan oleh lelaki itu
Sedangkan Abram, dia cukup heran dengan Della yanga ada di kota tersebut, ah mungkin dia hanya sekedar jalan jalan saja. Begitu fikirnya
*
Juan sudah sedari tadi bersandar pada kepala ranjang sambil memainkan ponselnya, menunggu Carra yang sedang menyelesaikan ritual mandinya
Tadi keduanya habis berjalan jalan dulu sepulang dari kantor, alhasil mereka pulang ke mansion pukul 7 malam
"Juan" Panggil Carra yang baru saja keluar dari kamar mandi
"Apa?"
"Ibu dan Ayah sudah sampai?" Tanyanya sambil menyisir rambutnya yang basah
Juan turun dari tempat tidur dan menghampirinya
"Memangnya kenapa?" Tanyanya yang berdiri di belakang Carra
"Tidak sopan jika kita tidak menyambut" Katanya, lalu memutar tubuh menghadap pada Juan
"Mari turun ke bawah!" Ajak Carra yang kemudian beranjak dari duduknya dan menggandeng lengan Juan
"Kau berusaha menghindariku lagi Carra?" Tanya Juan yang seketika saja membuat langkah Carra terhenti
Lalu Juan beralih dan berdiri di hadapan Carra. Jika biasanya saat ditanya seperti itu oleh Juan Carra akan pucat pasi dan merasa gugup, maka kali ini tidak. Ia justru biasa saja tanpa merasa tersinggung dengan apa yang di utarakan suaminya itu
"Tidak Juan, aku tidak menghindarimu. Sudah ku katakan, aku mencintaimu"
"Jangan meragukanku" Imbuhnya
Juan mengangguk, mengecup kening Carra sekilas, kemudian menggenggam tangan wanita itu dan melangkah keluar dari kamar
"Ingat! Jangan mengajak Syan untuk tidur dikamar kita" Katanya sambil berjalan
"Iya iya"
*
"Hey, kenapa kalian harus turun?" Tanya Sonya yang sedang duduk di sofa. Ia masih menenteng tasnya, sedangkan para pelayan sibuk merapihkan barang barangnya dan membawanya ke kamar
"Hanya menemui kau saja Bu, Carra yang memaksa" Sahut Juan yang langsung memeluk Ibunya sekilas
Carra juga mendapat pelukan dan ciuman dari mertuanya itu
"Dimana Ayah?"
"Ayahmu langsung beristirahat di kamar"
"Ayo, lebih baik kalian juga beristirahat!" Sambungnya kemudian
Baru Carra akan beranjak, tapi suara Sonya menghentikan langkahnya
"Carra"
"Iya Bu"
"Apa kau sudah mengandung anak Juan?" Tanya tiba tiba Sonya
Carra terkesiap, susah payah ia menelan salivanya. Kemudian diam diam melirik pada Juan yang tengah menatapnya
Diam diam pula Carra merasa bersalah pada suami dan mertuanya ini. Bagaimana mungkin Carra mengandung anak Juan, sedangkan dia saja selalu sebisa mungkin menolak untuk ditiduri oleh Juan
"Ibu, semuanya butuh proses. Lagipun, kami baru saja menikah" Juan yang merasa kasihan dengan sang istri lantas cepat menyahut pertanyaan Ibunya
Carra mengangguk saat Sonya menatapnya. Dan wanita separuh baya itu juga hanya tersenyum
"Semoga pernikahan kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan" Ucapnya sambil membelai rambut sang menantu
"Terimakasih Ibu" Hanya itu yang keluar dari mulut Juan dan Carra sebelum akhirnya, keduanya kembali ke kamar mereka