
*
"Apa kalian sudah selesai Tuan, Nyonya?" Tanyanya dengan raut wajah yang super cool, yang membuat orang yang melihatnya ingin sekali melempar gelas ke arah wajahnya yang so tampan begitu, meskipun kenyataannya dia memang tampan. Seperti apa yang dirasakan Juan sekarang, ia begitu ingin mengirim saudara sepupunya itu ke neraka jahanam
Datang, dan mengganggu. Sepertinya hal itu memang sudah menjadi kebiasaan seorang Alex Nasution. Pengusik, pengacau, pengganggu, biang rusuh. Sepertinya memang pantas di sematkan pada laki laki itu
"Huaahh, bahkan aku juga sudah mengantuk" Sambungnya setelah sebelummya ia sempat menguap
Atau lebih tepatnya hanya pura pura menguap. Membuat Carra menjadi bingung di buatnya, saudara sepupu Juan yang satu ini memang terlalu fulgar
Lalu dengan santai, Alex mulai melangkah mendekat pada Carra dan Juan yang tengah menatap jengkel padanya
"Mengapa kau ada disini?" Sambar Juan dengan sarkas
"Hey. Kakak, aku ingin menjengukmu. Memang apa lagi?" Ocehnya lalu berdiri di samping Carra dengan kedua tangan yang memegang sandarakan kursi yang di duduki Carra
"Aku tidak apa apa. Kau boleh pulang sekarang!" Sahut Juan
"Kau mengusirku?" Tanya Alex dengan tatapan seolah tak percaya yang dibuat buat
Dan Carra hanya menggeleng. Heran, dengan tingkah dua laki laki di hadapannya ini
"Iya aku mengusirmu. Bahkan juga akan mecatmu! Waktu istirahat kantor sudah habis. Dan kau melanggar aturan!" Tutur Juan dengan gaya perfeksionisnya
"Hey, kau hanya main main kan. Kau tidak benar benar memecatku kan?" Tanya Alex, kali ini wajahnya terlihat serius dengan tangan yang memegang satu buah apel, dia baru menggigitnya satu gigitan
"Kakak ipar. Ayolah, nasihati suamimu ini" Rengeknya yang kali ini meminta bantuan pada Carra sambil memegang tangan gadis itu dan membuat tatapan Juan memicing menatap tangan Alex yang berada di atas lengan Carra
"Bahkan mau tidak akan ku berikan gaji sepeserpun!" Tambah Juan dan membuat mata Alex melotot sempurna
"What?"
"Karena kau sudah memegang tangan istriku!"
"Hartaku yang paling berharga" Tunjuk Juan pada tangan Alex yang masih memegangi lengan Carra. Refleks ia langsung melepaskannya
"Kau benar benar tidak waras" Ucap Alex sambil menggelengkan kepalanya, membuat Carra tersenyum oleh tingkahnya
"Sepertinya Ayahku memang salah memasukanku ke perusahaanmu!"
"Salahkan dirimu sendiri! Kau yang memaksa untuk bekerja di perusahaanku!" Sindir Juan, begitu ia mengingat satu tahun lalu Alex datang ke mansion dan memaksa untuk di terima kerja di RCG. Dengan alasan ingin hidup mandiri, tidak ingin bergantung pada kedua orang tuanya
Alex terdiam, mencoba mencari bahan pengalihan agar tidak terlihat kalah dari Juan. Meskipun amat mustahil rasanya, dari segi apapun jelas ia kalah dari Juan. Pun apa yang dikatakan Juan tadi memang benar adanya. Jika dirinya yang memaksa Juan secara langsung untuk di terima kerja di perusahaan laki laki itu
"Kakak ipar" Alex mencoba mencari bantuan
Carra menopang dagunya, menatap Alex dengan tatapan kasihan yang sebenarnya di buat buat. Jujur Carra tidak terlalu akrab dengan Alex, tapi mengingat Syan yang sering menceritakannya, itu membuat Carra sedikit paham dengan karakter Alex yang memang asal asalan ini, hmm untung tampan!
Juga Alex memang tipe orang yang supel dan mudah bergaul, jadi Carra tidak canggung untuk mengobrol dengannya
"Kau ingin aku melakukan apa?" Tanya Carra kemudian
"Setidaknya kau sedikit berargumen untuk membelaku"
"Apa yang dikatakan kakak mu benar. Dan aku tidak punya keberanian untuk melawannya" Sahut Carra dengan kalemnya
Membuat senyum penuh kemenangan terbit di bibir manis Juan, dan membuat wajah Alex
sedikit beringsut setelah mendengar pernyataan Carra yang membela Juan, oh tentu saja. Sebagai istri yang baik maka Carra harus berada di pihak Juan, terlebih apa yang dikatakan Juan memang sebuah kenyataan
"Oww, pasangan yang serasi" Decak Alex dengan senyum meremehkannya pada dua orang yang seolah menjadi lawannya sekarang
"Oh, terimakasih untuk pujiannya. Sekarang kau boleh keluar!" Acuh Juan yang sepertinya memang serius ingin menghempas Alex dari ruangannya
Memang wajar saja jika Juan menganggap kedatangan Alex itu sebagai pengganggu. Karena pada dasarnya, di awal kedatangannyapun laki laki itu memang sudah mengganggu moment indah antara dirinya dengan Carra
"Baiklah baiklah. Aku akan keluar, aku sudah mengetahui keadaanmu. Yah, dan melihat kau yang tetap angkuh seperti ini, aku yakin kecelakaanmu hanya settingan!"
"Sinting!" Umpat Juan
"Aku akan pergi, aku akan pergi!" Ucapnya begitu melihat Juan yang hendak melemparkan gelas padanya
"Hey ingat, ini rumah sakit. Jangan sembarangan!" Ucapnya setengah berteriak.
Juan hanya menggeleng dengan geram, Sama halnya dengan Carra. Carra tidak dapat membayangkan apa jadinya jika saja Alex ikut tinggal di mansion, pasti keadaan rumah setiap hari akan kacau, meski akan sedikit menghibur pula
"Menyebalkan" Gerutu Juan setelah kepergian Alex dari ruangan itu
"Sangat!" Tambah Carra dengan tawa rendahnya dan itu semua tidak luput dari perhatian Juan
Rasanya, Juan amat senang melihat tawa natural yang keluar begitu saja dari mulut Carra, seperti ini baru yang pertama kali ia melihatnya setelah menikah dengan gadis yang belum pernah di sentuhnya itu
"Aku ingin segera pulang!" Sahut Juan tiba tiba yang membuat senyum di bibir Carra segera pudar setelah mendengar keinginan suaminya itu
Carra bukan tidak senang Juan ingin segera pulang, hanya saja ia masih cemas dengan keadaan Juan yang belum di perbolehkan pulang oleh Dokter
"Mm, apa tidak sebaiknya pulang besok saja. Dokter belum mengatakan kau boleh pulang Juan"
"Kau lupa?"
Carra mengernyit heran
"Ini rumah sakit miliku. Aku tidak butuh izin para Dokter untuk segera pulang" Sahut Juan dengan acuhnya
Carra tiba tiba saja menyelipkan rambutnya kebelakang telinga. Ia lupa jika suaminya ini adalah orang yang berkuasa dan sering berbuat semuanya, bertindak seenaknya
"Hmm"
"Ya, tapi setidaknya kau sedang menjadi pasien sekarang" Tegas Carra
"Aku tidak apa apa Carra"
"Tadi kepalamu masih sakit" Sahut Carra dengan seolah memaksa Juan dan hendak kembali menoyor kepala suaminya itu dan berhasil Juan cegah dengan menahan tangan Carra di udara
"Kau mau aku kutuk Carra?" Tanya Juan dengan tatapan mata memicing pada Carra
"Tentu saja tidak"
"Kalau begitu jangan durhaka pada suamimu"
"Aku tidak durhaka Tuan Zhucarlos, aku hanya memastikan kau baik baik saja" Oceh Carra yang membuat Juan tersenyum dengan kepala menggeleng
Sepertinya ia baru sadar jika sang istri begitu cerewet sekali
"Kau terlalu cerewet Carra"
"Kasihan sekali kau baru mengetahuinya!" Ledek Carra sambil mengusap bibir tipis Juan dan berhasil membuat perasaan laki laki itu membuncang dengan hebat, seperti ada sesuatu yang meletup letup di dalam perutnya. Di tambah dengan melihat senyuman tulus yang terbit dengan begitu saja di bibir Carra. Membuatnya semakin tidak sabar ingin cepat cepat pulang
"Ayolah Carra,"
"Apa?"
"Robert" Akhirnya Juan memanggil orang yang terasingkan itu untuk kembali masuk ke dalam ruangannya
Tak lama pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok Robert yang terlihat tinggi, tegap dan penuh keramahan
"Tuan" Sahutnya begitu menghadap Juan
"Siapkan mobil. Aku ingin pulang hari ini juga" Titahnya yang langsung di patuhi oleh Robert, ia mengangguk dan kemudian berlalu keluar lagi dari ruangan
Tinggalah kembali hanya Juan dengan Carra berdua di dalam ruangan itu
"Aku penasaran, mengapa kau ingin sekali segera pulang?" Tanya Carra dengan sedikit kesal. Suaminya ini memang begitu keras kepala
"Tentu saja karena ingin segera menidurimu" Sahut Juan dengan santainya dan hampir membuat jantung Carra lompat dari tempatnya
Yah, sepertinya Carra memang melupakan satu hal. Carra hampir saja melupakan tentang Juan yang barangkali akan segera meminta jatah malam pertamanya
Arrhh!