
Gedung Royal Carlos Group (RCG)
Setelah selesai meeting dengan beberapa kolega besar. Juan kembali ke ruangannya, dengan diikuti oleh Robert yang setia berada di sampingnya
Juan duduk di singgasana kebanggaannya, tangannya dengan santai dan lihai memain mainkan bolpoin berwarna biru. Fikirannya melayang entah kemana, menerawang plafon ruangannya, menembus atap gedung, kemudian terbang bebas ke angkasa
Sekarang dia mulai berfikir, apa menikahi Carra adalah pilihan yang tepat baginya?
Mungkin seharusnya Juan membiarkan saja Carra dengan Abram. Ahh, tapi ia juga mencintai Carra, ia tidak ingin Carra dengan laki laki manapun kecuali dengannya
Tak lama pintu ruangan Juan terbuka, nampak Abram muncul dengan tampang kalemnya, kemudian tanpa dipersilahkan ia duduk begitu saja di kursi yang bersebrangan dengan meja kerja Juan
"Kau sudah mulai ketularan Alex rupanya" Sahut Juan begitu Abram duduk dengan tenang, berhadapan dengannya
Yah, memang hanya Alex yang sering berbuat seenaknya. Contohnya, masuk ke ruangan Juan tanpa mengetuk pintu dahulu. Sama seperti yang dilakukan Abram barusan
"Ada yang ingin aku bicarakan!" Sahutanya, tanpa memperdulikan celetukan Juan sebelumnya
"Aku sedang tidak ingin diganggu!" Sahut Juan dengan acuh
"Ini hal penting Juan" Abram menegaskan
"Tidak lebih penting dari ketenanganku" Sahutnya, yang kemudian memutar kursi putarnya dan berbalik memunggungi Abram, yang nampak kesal karena harus menahan
ucapan yang ingin ia sampaikan pada Juan
Berbicara sekarang juga percuma, ada Robert yang tetap tidak bergeming di tempatnya. Meskipun Robert akan tetap bungkam seribu bahasa jika mengetahui hal apapun tentang problem yang berada dalam keluarga Zhucarlos, tapi tetap saja. Abram merasa masalah ini amat pribadi, sehingga rasanya ia enggan untuk bercerita sekarang
"Baiklah, kabari aku jika kau sudah mendapat ketenangan" Sahut Abram yang kemudian berlalu pergi setelah Robert membukakan pintu untuknya
Juan mengangguk setelah itu, meskipun Abram tidak melihatnya.
Mengingat penolakan Carra yang menolak untuk ia tiduri, membuat Juan merasa bahwa Abram adalah penghalang bagi keduanya. Bukan bermaksud dia membenci atau bahkan ingin menyingkirkan Abram, hanya saja Juan merasa bahwa Abram masih memiliki pengaruh besar dalam hidup Carra
Juan pusing sendiri jika memikirkannya, refleks ia memegang kepalanya, Robert yang melihat itu melangkah beberapa langkah mendekati Juan yang masih menatap pelataran kota lewat jendela kaca besar di ruangannya
"Tuan, apa perlu saya panggilkan dokter saja?" Usul Robert yang merasa khawatir pada majikannya itu
Juan mengangkat tangannya tanpa berbicara, mengisyaratkan kata "tidak usah" Kepada Robert. Robert mengangguk patuh
Biarkan Juan sejenak menenangkan fikirannya
*
Sedangkan Abram, ia sama halnya seperti Juan, ia juga gelisah dengan apa yang sekarang berada di fikirannya
Bukan bermaksud mau ikut campur dengan urusan rumah tangga saudaranya. Tapi Abram merasa ia memang perlu menanyakan hal ini, siapa tau dengan begitu. Abram bisa membantu mereka menyelesaikan permasalahannya. Jujur Abram tidak suka saat melihat Carra yang terkadang seperti diabaikan oleh Juan
Kalau seandainya saja Juan tidak mencintai Carra, lalu untuk apa saat itu ia memukul Abram karena Abram mencium Carra?
Seharusnya jika Juan tidak mampu membahagiakan Carra, setidaknya jangan membuat Carra bersedih macam itu, jangan membuat Carra merasa tidak dibutuhkan di dalam hidup Juan
Seandainya saja orang tua Carra merstui hubungannya dengan gadis itu, maka mungkin sekarang Abram sedang berbahagia dengan Carra.
Ahh tidak! Abram tidak bermaksud menyangkal takdir, hanya saja terkadang ia merasa Tuhan tidak adil padanya.
Setelah dengan Carra, selama satu tahun ini tidak ada wanita manapun yang mampu membuat Abram tertarik. Tidak ada wanita manapun yang membuatnya takluk. Lagipun, ia memang sama sekali tidak mampu membuka hati untuk wanita manapun
Dan seharusnya, Abram memikirkan itu. Memikirkan dirinya sendiri, jika ia pun butuh sandaran setelah kepergian Carra. Tidak, Carra tidak pergi. Ia hanya berbelok pada takdir yang memang semestinya ia tempati
Bahkan semesta pun memang tidak merestu hubungan Abram dengan Carra
Abram memegang kepalanya, tiba tiba saja ia merasakan pusing luar biasa. Ingatannya kembali pada permasalahan yang menerpa rumah tangga Juan dengan Carra
Sepulang dari kantor Ia harus menemui Juan dan mengajaknya berbicara tentang hal ini
*
*
Kesialan sepertinya memang sedang berpihak kepada Abram yang mendapat tugas tambahan dari Juan untuk mengecek beberapa proposal proyek baru perusahaan mereka
Dan tugas dari Juan itu memaksanya untuk lembur sampai ia harus pulang pukul sepuluh malam. Barangkali Juan sudah tidur di kamarnya dan lagi lagi Abram harus menahan ambisinya yang ingin berbicara empat mata dengan saudara sepupunya itu.
"Tuan Muda Juan sudah pulang?" Tanya Abram pada salah satu penjaga rumah yang tengah berdiri di posisinya
"Belum Tuan" Sahutnya
Abram mengangguk, sejenak ia berfikir. Kemudian malah cepat kembali ke mobilnya dan keluar dari gerbang utama dengan melajukan mobilnya
Ia tau dimana saudara sepupunya itu berada
*
*
Yah, seperti biasa jika suasana hatinya sedang kacau. Maka Juan akan datang ke tempat ini
Tempat yang selalu menjadi pilihan orang orang gila yang ingin berfoya foya
Sesekali ia melegut vodca nya. Kali ini ia memilih minuman bersoda sebagai pendampingnya di tempat gila ini. Ia masih belum siap pulang ke rumah dan mendapat penolakan nantinya dari Carra
Ia merasa trauma
*
Tentu saja Carra merasa khawatir, tapi ia tidak bisa berbuat apa apa selain hanya berharap, semoga suaminya akan baik baik saja
*
*
Setelah memarkirkan mobilnya dengan mulus, Abram dengan langkah santai mulai melangkah memasuki sebuah club mewah. Club elite yang memang sering di kunjungi oleh Juan
Abram langsung masuk begitu saja ke sebuah ruangan VIP yang memang sudah menjadi tempat khusus untuk seorang Juan
Juan yang melihat seseorang memasuki tempatnya lantas mendongak, sekedar melihat siapa orang yang datang dan seenaknya saja mengusik ketenangannya
"Belum mendapat ketenangan?" Sambar Abram yang sudah duduk saja di sofa tunggal di sebelah Juan
"Aku menyewa tempat ini untuk satu orang!" Sahut acuh Juan, tanpa memperdulikan pertanyaan Abram barusan
"Kita bukan orang susah!" Abram menyahut acuh
Keduanya saling terdiam, tenggelam dalam fikiran masing masing setelah Juan memilih tidak merespond ucapan Abram
"Juan" Abram memulai pembicaraan
"Hmm" Juan menyahut tanpa berniat untuk menoleh pada Abram yang nampak terlihat begitu serius
"Kau tau bukan. Kalau memang kau tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Carra, maka dengan senang hati aku akan kembali mengambilnya darimu" Tutur Abram yang langsung mendapat pelototan tajam dari Juan
Juan mendengus, mendengar ucapan Abram yang tidak tau kemana tujuannya
Dia akan kembali merebut Carra?
Mengancurkan rumah tangganya, begitu?
Mengkhianati persaudaraan keduanya?
Yang benar saja!
"Apa maksudmu?" Tanya Juan dengan tatapan yang masih tajam. Tapi suaranya tetdengar santai, tapi penuh tekanan
"Jika kau tidak bisa memperlakukannya dengan baik. Maka serahkan saja dia padaku!" Sahut Abram
Juan yang merasa geram lantas meneguk vodca di gelas yang sedari tadi di pegangnya
"Kau masih mencintainya?" Tanyanya kemudian dengan senyuman sinis yang terbit di ujung bibirnya
"Sudah kukatakan. Sampai kapanpun aku memang akan tetap mencintainya"
Juan meremas gelas yang di pegangnya, geram dengan jawaban spontan Abram barusan
"Maka jangan biarkan aku merebutnya kembali jika kau memang mencintainya" Sambung Abram dengan tampangnya yang sedari tadi di pasang dengan sekalem mungkin. Ohh, no! Abram memang sosok seperti itu
"Kau mengancamku?" Tanya sarkas Juan
"Anggap saja begitu!"
"Ciih!"
Juan kembali menuangkan botol vodca ke gelasnya, kemudian meneguknya hingga tandas
"Kalian bukan berpacaran. Seharusnya bisa bersikap dewasa! Pernikahan itu bukan perihal main main"
"Kalian bisa berdiskusi jika memang ada masalah. Dan kau tidak perlu mendiami Carra seperti itu, jangan membiarkannya merasa bahwa kau tidak membutuhkannya Juan!"
"Apa dia membutuhkanku?" Tanya Juan lagi lagi dengan sinis
"Kalian saling membutuhkan!" Abram menyahut mantap
Juan terdiam, ia jadi mengingat sesuatu dan ingin menanyakanya sekarang pada Abram
Juan berdehem sebelum meluncurkan pertanyaannya
"Aku ingin bertanya satu hal padamu" Sahut Juan tanpa mau memandang Abram yang berada di sampingnya
"Dan aku tidak ingin mendengar kebohongan!" Sambungnya dengan nada penuh ancaman
"Katakan!" Suruh Abram, yakin
"Apa kau pernah meniduri Carra?" Tanyanya dengan malu setengah mati pada saudara sepupunya itu yang tak lain adalah mantan kekasih istrinya
Tapi Juan memanglah perlu menanyakan hal ini
Abram yang mendengar pertanyaan macam itu entah mengapa malah salah tingkah. Bukaan karena ia yang merasa pernah meniduri Carra, hanya saja ia heran dengan saudara sepupunya yang tiba tiba bertanya masalah begitu
Itu artinya selama pernikahan keduanya belum melakukan hal yang sewajarnya
dilakukan oleh pasangan suami istri?
Juan dengan antusias ingin mendengar jawaban Abram, tapi laki laki itu malah tersenyum
Membuat perasaan Juan tidak enak dan tidak tenang. Berpuluh bahkan beribu pertanyaan sudah mulai bersarang di kepalanya
Menuntut meminta jawaban
/*'/*/*/