My Best Match

My Best Match
Jebakan



Carra berjalan menuruni anak tangga dengan wajah cerah penuh kebahagiaan, tapi sepertinya hari ini ia memiliki saingan, karena jelas terlihat seorang wanita tengah tersenyum padanya dengan ekspresi yang tak kalah cerah


"Kau sedang bahagia?" Tebak Carra


Adella tersenyum dengan penuh kemenangan, sambil mengangguk. Carra juga mengangguk, ia mengerti dengan apa yang sedang terjadi


"Baguslah" Carra hanya menyahut singkat sambil menepuk bahu Della


"Lampu hijau" Sambungnya sambil tertawa, dan Della hanya tersenyum saja


"Bagaimana perkembanganmu dengan Abram?" Tanyanya akhirnya setelah duduk di sofa di depan televisi


"Mmm, sedikit ada kemajuan" Sahut Della sambil mengangkat tangannya dan menyatukana jari telunjuk dan ibu jarinya seolah memberi simbol 'sedikit'


Kemudian ia tersenyum, mengingat bagaimana tadi pagi ia bangun dan melihat Abram disampingnya dengan tangan yang melingkar di perutnya. Tidak menyangka jika triknya dalam mengungkapkan isi hatinya sedikit menggoyahkan pertahanan hati Abram


"Baguslah, akan lebih baik lagi kedepannya"


"Semoga"


"Asik sekali menantuku ini bercerita" Sambar Sonya yang sudah ada saja di sofa lain diantara mereka


"Ahh, Ibu" Carra dan Della berucap nyaris bersamaan


"Apa yang kalian bahas?" Tanyanya


Carra dan Della hanya saling pandang sambil tersenyum


"Mm, hanya membahas para suami" Della menyahut dengan tawa kecil, dan Sonya hanya menggeleng sambil tersenyum mendengarnya


-


"Aku sedang tidak ingin menerima Tamu" Tolak Jenny saat seseorang memberitahukan padanya ada yang ingin memboking dirinya untuk nanti malam


"Ayolah Jen, dia membayarmu dengan harga tinggi" Godanya agar Jenny tertarik


"Aku tidak tertarik" Tolaknya


"Kau yakin?"


"Aku yakin"


"Tsk, memang apa yang membuatmu menolak tamu penting ini?" Tanyanya yang dibuat heran karena sikap Jenny nampak berbeda


"Aku hanya sedang tidak ingin diganggu, katakan pada Farell aku sedang tidak ingin menerima tamu untuk beberapa hari kedepan"


Farell adalah pemilik tempat sewa jasa profesi Jenny


"Hey, kau_"


"Katakan saja begitu, kau tidak usah banyak bicara!" Bentaknya yang membuat kawannya itu sedikit tersentak karena bentakan Jenny yang tiba tiba seperti itu


"Baik" Katanya yang kemudian berlalu


Jenny menggeram, sampai hari ini belum ada yang bisa difikirkannya untuk menghancurkan rumah tangga Juan dengan Carra. Ia bingung harus melakukan apa


"Baiklah, tunggu saja Carra. Maka kau akan tau, jika dirimu sedang berhadapan dengan siapa! Seorang Jeeny Darlleta!" Jeeny menggenggam ponselnya dengan kuat, ia menggeram. Benci juga dengan keadaan yang sekarang ada dihadapannya


Mengapa juga Juan tidak ingin kepadanya. Apa karena profesinya sebagai wanita malam? Apa itu salah?


Seharusnya dulu Juan menikahinya karena berhutang nyawa padanya. Bukan memberikan Jenny uang dalam jumlah banyak yang sebenarnya tidak dibutuhkannya


"Aku akan menghancurkanmu Carra! Aku akan menghancurkanmu!"


-


Setelah dua hari berlalu, kini hari ini Juan menghadiri kegiatan tahunan pelelangan tanah yang sering diikutinya itu


Ia nampak tampan dengan stelan kemeja putih, celana dan Jasnya yang berwarna cream. Seperti biasa, Robert selalu ada dibelakangnya dengan setia


"Tuan Juan, apa kabar? Lama tidak berjumpa" Sapa seorang pria berumur 30 tahunan. sambil mengulurkan tangannya pada Juan. Juan menerimanya dengan senyum hangat


"Baik, Tuan Marko. Yah, terakhir kita membicarakan pekerjaan. Satu bulan yang lalu tepatnya" Juan menyahut kalem


"Yah tepat sekali. Mari kita bekerja sama kembali. saya senang bekerja sama dengan perusahaan anda"


"Mm saya setuju. Kita bisa bicarakan perihal ini"


Marko Evans mengangguk, CEO perusahaan property terbesar ke dua setelah RCG itu tersenyum pada Juan setelahnya. Evans Group memang sudah sering bekerja sama dengan RCG, perusahaan milik Juan


Selain Marko, ada juga beberapa pengusaha yang menyapa Juan dengan senyum hangat dan bahasa yang ramah. Bahkan banyak dari mereka yang mengajak perusahaan Juan untuk bekerja sama


"Robert, kapan acaranya akan dimulai?" Tanya Juan yang sudah lelah menunggu. Ia amat tidak suka berada dalam posisi seperti ini


"Sebentar lagi Tuan"


"Sebentar lagi kapan. Ini sudah terlalu lama!" Gerutunya. Robert hanya tersenyum menanggapi gerutuan Majikannya itu


Wajah Juan mendadak panik, ia beranjak dari duduknya dan melangkah begitu saja meninggalkan gedung, padahal acara sudah akan dimulai. Robert yang melihat Majikannya itu panik lantas cepat menyusul, ia mempercepat langkahnya saat melihat Juan yang setengah berlari menuju parkiran


"Tuan" Robert hanya melongo saat melihat Juan yang sudah memasuki mobil dan melajukannya begitu saja tanpa memperdulikan dirinya


-


"Sial!" Rutuk Juan. Ia benar benar panik saat mendapat pesan dari nomor asing yang mengatakan jika Carra dalam bahaya


"Ku mohon jangan ada satu hal apapun yang terjadi pada kau sayang" Lirih Juan sambil memukul mukul gagang stirnya, ditambah dengan jalanan di depannya yang terlihat macet


Bahkan Juan tidak dapat berfikir jernih, saat ia melihat nama Carra dalam isi pesan


Mobil kembali melaju, Juan tidak memperdulikan sekitarnya, ia menyetir dengan kecepatan tinggi. Satu tujuannya, ia harus segera datang ke mansion dan memastikan sendiri bagaimana keadaan Carra


-


"Cepat buka gerbangnya!" Perintah Juan saat ia sudah datang didepan gerbang mansionnya


Dan pengawal Juan yang tidak biasanya mendapati Juan pulang sepagi ini hanya melongo heran


"Tuan muda"


"Apa yang kalian lakukan, sudah bosan bekerja?" Tanya Juan


Buru buru ia turun dari mobil, dan masuk saat salah satu pengawalnya membukakan sedikit pintu gerbang. Ia berlari kedalam mansion dan cepat menaiki anak tangga tanpa menghiraukan Sonya dan Max yang sedang berada diruang utama mansion dan terlihat heran saat melihat Juan yang berlari lari


"Ada apa ?" Tanya Max, Sonya hanya menggeleng


-


"Carra"


"Carra"


Teriak Juan saat ia sudah berada di kamar mereka. Dan tidak mendapati Carra di kamar mereka membuat Juan semakin panik saja


"Carra"


Juan menoleh saat pintu kamar mandi terbuka, melihat Carra yang berdiri didepan pintu kamar mandi dengan dililit handuk berwarna biru muda dan dalam keadaan baik baik saja, ia segera berhambur memeluk istrinya


Carra terkesiap, ia hanya mencoba menahan handuknya saja agar tidak melorot. Ia tidak mengerti dengan Juan yang tiba tiba saja ada disini sekarang, dan bersikap aneh. Bukankah seharusnya ia sedang menghadiri acara penting?


"Carra"


"Kau kenapa Juan?" Tanya Carra. Juan belum juga melepaskan pelukannya, ia memeluk Carra dengan mata yang terpejam


"Sayang, aku mengkhawatirkanmu"


"Aku baik baik saja!"


Juan melepaskan pelukannya, kemudian mengamati Carra dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memastikan jika istrinya benar benar dalam keadaan yang baik baik saja


"Ada apa?"


"Bukankah seharusnya kau sedang menghadiri acara penting?" Tanya Carra, Juan memalingkan wajahnya


"Sial, aku di jebak!" Desisnya


Carra terdiam, lalu melangkah pergi dan duduk di tepi ranjang, Juan mengikuti


"Ada seseorang yang mengirimkan pesan misterius padaku, dia bilang kau dalam bahaya. Itulah yang membuat aku ada disini sekarang, aku panik Carra, aku khawatir" Tuturnya dengan wajah yang cemas menatap Carra


"Aku tidak apa apa, kau lihat sendiri bukan. Orang itu hanya sengaja mengalihkan perhatianmu"


"Dia hanya ingin mengalihkan perhatianmu dan memenangkan lelang itu dengan cara ini Juan"


Juan memejamkan matanya, ucapan istrinya memang benar, dan sepertinya tanah itu sudah berada ditangan orang lain. Juan gagal mendapatkannya


Tadi ia sangat panik sehingga tidak mampu berfikir jernih, seharusnya tadi ia memastikan dulu siapa pengirim pesan itu, dan menghubungi para anak buahnya terlebih dahulu


Tapi karena panik, ia bahkan tak memperdulikan apapun dan meninggalkan Robert disana. Sial! Sial!


Juan merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang


"Robert, kau dimana?" Tanya Juan setelah panggilan tersambung


"Saya sudah di mansion anda Tuan" Terdengar suara di sebrang telpon


"Baiklah, ke ruang kerjaku sekarang!" Suruhnya, lalu memutus sambungan telpon begitu saja


Juan merasa ada yang tidak beres, ia merasa ada yang dengan sengaja sedang mempermainkannya dan ia harus menyelidikinya


"Sayang, kau berganti baju dulu. Aku akan segera kembali" Sahut Juan, lalu mengecup kening Carra dan pergi begitu saja


Carra hanya mengangguk ambigu, juga heran pada apa yang sedang terjadi. Mendadak ia merasa khawatir