My Best Match

My Best Match
Future Husband 2



Syan hanya memijit pelan pelipisnya saat Zoey banyak bertanya padanya tentang acara pertemuan keluarga tadi malam yang sejujurnya gagal berlangsung.


Suasana didalam kelas saat itu sedang ramai. Anak anak yang biasanya menghabiskan waktu untuk berkumpul di kantin, hari ini nampak lebih nyaman berada di kelas. Termasuk Syan dengan Zoey, sementara Lucy pergi ke kantin sendiri.


"Jadi bagaimana, ceritakan bagaimana calon suamimu itu. Aku tebak, dia tampan, berwibawa, tatapan matanya tajam, senyumnya menawan, gagah, dan dia ....," Zoey semakin membulatkan mata dengan senyum mengembang saat apa yang baru saja di deksripsikannya persis dengan seseorang yang sedang berjalan ke arah meja mereka sekarang.


"Aku tidak jadi bertemu dengannya karena Darendra."


"Tampan sekali,"


Dahi Syan berkerut heran, menatap Zoey yang nampak tidak waras dihadapannya. Dia tersenyum dengan sejuta imajinasi dikepalanya, matanya berbinar seolah mendapat inspirasi.


"Apanya yang tampan?"


"Dia!"


Dengan dahi yang masih terlipat, Syan mengikuti arah pandang Zoey, dan ia melihat Araga dibelakangnya. Syan baru menyadari, jika ternyata kawan kawan sekelasnya, kaum hawa khususnya, mereka nampak sama seperti Zoey ketika melihat Araga. Kehilangan kewarasan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Syan saat Araga menatapnya dengan intens.


"Ikutlah denganku," pria itu bagai pangeran yang mengajaknya pergi ke khayangan


"Kemana?"


"Ku bilang ikut saja."


Syan melihat sekeliling. Dimana anak anak masih terhipnotis dengan pesona Araga dihadapannya.


"Ikut saja, Syan." Zoey mendukung.


"Tidak ada mata kuliah setelah ini?"


"Tidak ada. Kau tenang saja."


Syan menoleh pada Araga, pria itu mengerutkan kening. Membuat Syan menyerah dan akhirnya berdiri untuk ikut dengannya.


Araga mengulurkan tangan, yang akhirnya mau tidak mau harus Syan gapai. Syan menaruh tangannya diatas telapak tangan Araga. Membiarkan tangannya di genggam pria itu.


Lalu berjalan keluar kelas. Meninggalkan tatapan penuh pertanyaan dari anak anak seisi kelas yang masih menjadikan mereka objek pandangan menyenangkan.


Zoey menatap kepergian Syan dengan binar takjub. Sementara Lucy yang baru saja datang dari kantin hanya mematung melihat Syan yang melewatinya dengan tangan yang digenggam oleh Araga.


"Kau akan kemana?" tanyanya. Syan hanya memberi isyarat dengan menunjuk Syan tanpa mampu dimengerti oleh gadis itu.


Erick yang menunggu di parkiran kampus hanya menyandarkan diri di body mobil. Menunggu sang bos untuk menjemput permaisurinya. Merasa sedikit bosan, ia mengeluarkan ponsel dan mengotak atiknya. Berselancar di media sosial yang jarang disinggahinya. Sampai suara seorang gadis membuatnya mengalihkan perhatian.


"Tuan Erick,"


"Nona Dinara,"


Dinara tersenyum lembut, menatap pria yang membuatnya terpesona saat pertemuan pertama itu. Tepatnya saat di mansion keluarga Zhucarlos ketika Araga mengantarkan Syan yang terkilir kakinya.


"Mm, nona Dinara sedang?"


Ahh, bodonya. Masa iya Erick harus bertanya sedang apa sementara Dinara berkuliah disini setelah resmi pindah.


"Sedang apa?" tanya Dinara dengan raut berbinar.


"Sedang menunggu tuan Araga!"


Dinara tertawa, membuat Erick menatap heran padanya. Tentu saja Dinara tertawa, maksudnya adalah, dirinya bertanya tentang apa yang akan pria itu katakan. Bukan malah ia yang seakan bertanya padanya.


"Aku salah berbicara?" Erick memastikan


"Tidak, tidak. Kau tenang saja tuan!"


"Kau tampan jika kebingungan seperti itu," sambungannya sambil masih tertawa. Sementara Erick hanya menggeleng saja, ia tidak ingin terlalu menanggapi candaan dari gadis dihadapannya


"Kalau begitu, aku duluan. Sampai jumpa tuan Erick," gadis itu berlalu melambaikan tangannya pada Erick yang hanya dibalas senyum oleh pria itu.


Lalu Erick cepat masuk ke mobil begitu melihat Araga muncul dengan membawa Syan.


"Kita akan kemana Araga?"


Araga tak menyahut. Ia membukakan pintu mobil dan membiarkan Syan masuk, ia juga masuk dan duduk disamping Syan. Sementara Erick menyetir dan siap menjadi obat nyamuk untuk mereka berdua.


"Kau belum mengatakan apapun. Kita akan pergi kemana?" gadis itu masih terus saja protes ketika mobil sudah melaju dan meninggalkan gedung kampus


Syan lebih marah lagi saat Araga hanya diam tanpa memperdulikannya.


"Kemana kau tadi malam?" Araga justru malah melempar pertanyaan yang mbuat Syan melongo keheranan.


"Memangnya kemana?"


Syan menatap Araga dengan penuh pertanyaan. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan pria di hadapannya


"Apa maksudmu?"


Araga mengubah posisi duduknya, setengah miring pada Syan. Syan masih menatap wajah pria itu dengan berbagai pertanyaan dikepalanya.


"Semalam aku datang ke mansionmu, untuk acara pertemuan keluarga. Untuk bertemu dengan calon istriku." Araga menekan kata calon istri sementara Syan hanya diam bagai tersihir kalimat Araga tadi.


"Maksudmu?"


Araga menghela nafas, kemudian menyahut mantap.


"I am your future husband!"


Syan diam, menggeleng dan kemudian berkata "I don't believe you."


Araga menggapai satu tangan gadis itu untuk ia genggam, ia tatap mata Syan dengan lekat.


"Aku bersungguh sungguh, Syan. Aku, Araga Dimitry."


"Dimitry?" Syan memastikan. Karena ia tau marga dari calon mertuanya. Yang artinya putranyapun memiliki marga yang sama. Benarkah Araga? Calon suaminya?


"Semalam, aku sudah berharap kita akan bertemu dan kau akan segera tau semuanya. Tapi apa? Kau pergi begitu saja dari mansion!"


Syan masih terdiam. Araga hanya memperhatikan gadis itu, sampai Syan bereaksi.


"Jadi kau?" gadis itu masih tak percaya dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya


"Yah, aku adalah calon suamimu yang kau bilang sangat mencintaimu dan akan marah jika kau berdekatan denganku. Itu adalah aku sendiri, bagaimana?" terang Araga dengan kalem.


Syan menutup wajahnya. Ia malu sekali pada Araga yang selama ini ternyata menyembunyikan statusnya. Araga terkekeh saat gadis itu bersemu malu dan menutupi wajahnya.


"Syan,"


Perlahan Syan membuka tangan yang menutupi wajahnya. Matanya langsung bertemu dengan mata teduh Araga.


"Aku mencintaimu," ucapan Araga terdengar begitu lembut dan mendayu dayu.


Desiran aneh yang selalu ia rasa ketika mengingat Araga datang menghampirinya. Meyakinkan perasaannya jika ia juga jatuh cinta pada pria dihadapannya.


"Aku tidak merasa ini terlalu cepat, karena faktanya aku sudah jatuh cinta padamu sejak lama."


Syan hanya diam mendengarkan penuturan orang yang baru saja ia ketahui sebagai calon suaminya. kemudian senyumnya mengembang, dan ia perlu jujur satu hal.


"Kau tau. Selama ini aku selalu menutup mata dan hatiku untuk pria manapun. Karena aku tidak berhak memilih cintaku sendiri. Sampai kau datang dan mengubah prinsip yang selama ini membentengiku."


"Saat Daddy memberitahuku jika aku akan segera dipertemukan dengan calon tunanganku. Aku merasa bimbang, aku merasa enggan. Padahal dulu aku selalu siap dengan hal itu. Karena setelah mengenalmu, aku merasa semuanya berbeda, Araga."


"Jika aku bisa tega menolak permintaan Daddy, mungkin aku akan menolak perjodohannya. Karena aku merasa aku sudah memiliki tambatan hatiku sendiri,"


Syan tertawa kecil, membuat Araga hanya tersenyum melihatnya. Ia mengerti dengan apa yang dikatakan gadis itu.


"Kau tau, jika aku menolak perjodohan ini. Maka aku akan menyesal, karena ternyata orang yang dijodohkan denganku adalah kau. Sulit di percaya," Syan tersenyum sumbang di akhir kalimatnya.


"Maksudmu, kau berkata jujur seperti ini karena ...,?" Araga mencoba untuk memastikan.


Syan mengangguk, membuat Araga tersenyum lebar.


"Iya. Aku mencintaimu, Araga." Araga tertawa. bahagia. Ia tidak tau harus berkata apa setelah ini. Satu hal yang harus dilakukannya. instingnya mengatakan begitu yang membuatnya perlahan mendekati wajah Syan. Gadis itu nampak pasrah, sampai kemudian ia menydari sesuatu hal dan menghentikan aksi Araga yang belum berjalan.


Erick yang diam diam melihat melalui spion didalam mobil hanya tersenyum melihat hal itu. Dan itulah alasan kenapa Syan bersuara, ia sadar jika ternyata ia tidak hanya berdua dengan Araga.


"Tapi," ungkap Syan, matanya mengerling pada obat nyamuk yang berpura pura fokus menyetir dihadapan mereka.


Araga mengikuti arah pandang Syan, ia berdecak dan kemudian menendang pelan sandaran kursi yang diduduki Erick, membuat pria itu tersentak tapi hanya bisa pasrah.


"Hey, apa yang kau lakukan disini. Kenapa kau ada di mobilku?" tanyanya, emosi.


"Waw, gilanya sudah mode on" Erick berbicara bagai pada dirinya sendiri.


Sementara Syan hanya tersenyum melihat tingkah atasan dengan Skretarisnya yang ajaib itu. Sampai kemudian Araga menggapai tangannya lagi dan mengecupnya.


"Bagaimana jika kita cari tempat lain saja?"


"Tempat lain untuk apa?" tanya Syan dengan dahi berkerut


"Melanjutkan yang tadi."


Syan hanya diam. Sementara Erick berdecak didepan sana.


TBC