My Best Match

My Best Match
Berbalas Pesan



Syan melangkahkan kakinya kedalam mansion sambil terus menatap layar ponselnya. Ia masih mempertimbangkan, menyimpan nomor Araga atau menghapusnya saja. Sampai kemudian ia memilih ikon delete dan mengabaikan perasaannya yang sebenarnya menolak dengan apa yang dilakukannya barusan


"Syan"


Syan tersentak, kemudian menoleh dan memasukan ponselnya ke saku celana


"Mom"


"Ada apa?" tanya Carra yang rupanya sedari tadi mengamati putrinya


"Kenapa Mom? Aku tidak apa apa,"


"Benarkah? Kau berjalan sambil terus menatap ponselmu dengan raut bimbang. Bahkan sampai tak melihat jika disini ada Momy? Yang benar saja jika kau tidak apa apa!"


Syan nyengir, kemudian berjalan menghampiri Carra di sofa ruang utama


"Aku tidak apa apa. Zoey mengirimkan ku pesan tidak jelas, dan aku langsung menghapusnya." dustanya


Carra menautkan alisnya


"Mengapa Momy tidak percaya dengan apa yang kau katakan Syan!" Carra melipat tangannya di dada


"Percayalah Mom," gadis itu membujuk sambil menarik narik lengan Carra seperti anak kecil


"Mom"


Carra tertawa


"Baiklah baiklah. Momy percaya padamu!"


Syan tersenyum senang


"Oh yah Mom. Dimana Daren? Dia tidak masuk kelas tadi, Dinara juga tidak ada. Kenapa mansion sepi seperti ini?" tanya Carra saat ia sadar dengan dua orang itu. Biasanya, di jam seperti ini Dinara akan duduk anteng menonton televisi sambil bermain vidio game


"Daren mengantar Dinara ke mansion Maharani!" Sahut Carra. Syan nampak mengangguk anggukan kepalanya


**


Dinara memang harus merasa heran pada pria yang sedang menyetir mobil disampingnya ini. Jika biasanya Daren akan bertingkah tengil meski tidak banyak bicara, tapi kali ini ia nampak begitu berbeda. Dinara dapat melihatnya


"Ada apa Daren, tidak biasanya kau bersikap seperti ini," akhirnya gadis itu membuka suara


Daren menoleh. Kemudian tersenyum


"Tidak papa. Hanya merasa sedang dalam kondisi yang tidak baik"


"Apanya?"


"Hatiku!" sahutnya tanpa ragu


Dinara terdiam, memicingkan matanya menatap Daren


"Kau bercanda kan? Ada apa dengan hatimu? Aku lihat dalam postingan sosial mediamu, selalu kau yang menyakiti hati para wanita,"


Darendra terkekeh, membuat Dinara tidak mengerti dengan keadaan yang sebenarnya


"Dinara. Coba kau ceritakan kisah antara Momy Carra dan uncle Abram!"


Dinara tergagap


"A_ Apa maksudmu?"


"Tidak usah berpura pura seperti itu. Aku sudah mendengar obrolanmu dengan Momy tadi."


"Oohh.."


Dinara hanya terdiam, Darendra menoleh


"Kau menunggu apa? Ayo ceritakan!"


Giliran Dinara yang menoleh pada pemuda itu. Kemudian menghela nafas, dan mulai menceritakan semuanya sesuai dengan apa yang ia ketahui secara singkat. Tentang Carra dan Abram yang sebenarnya adalah pasangan kekasih, tapi mereka tidak mendapatkan restu orang tua Carra karena Carra yang sudah di jodohkan dengan pria lain. Dan pria lain itu adalah, Juan Zhucarlos. Saudara sepupu dari Abram


"Ironis!" Decak Daren saat Dinara mengakhiri ceritanya


Dinara hanya mengangkat kedua bahunya. Ia enggan berkomentar


"Ku kira uncle Abram begitu berbaik hati merelakan Momy Carra begitu saja untuk Dady Juan"


"Karena Papa sangat mencintai aunty Carra!"


"Mencintai artinya harus merelakan orang yang kita cintai berbahagia. Meski bukan dengan kita"


Daren nampak mengangguk anggukan kepalanya. Tapi jika ia yang berada dalam posisi Abram, ia tidak akan dengan mudahnya merelakan wanita yang dicintainya untuk orang lain. Mungkin


**


Syan sedang membaca buku di kamarnya setelah tadi makan malam. Jujur, ia sedikit kepikiran dengan sikap Daren padanya tadi. Jangankan berbuat usil atau sekedar menegurnya, bahkan ia menghindari kontak mata dengan Syan


Syan tidak tau apa alasannya. Tapi yang pasti, ia merasa asing dengan suasana tersebut


Selain Darendra ia juga memikirkan tentang pria yang akhir akhir ini sering menampakam diri didepannya ...., Araga. Pria yang memang sengaja ia ajak menikmati makan di foud court mall karena challenge gila dari dua temannya. Dan sekarang, pria itu malah sering muncul dihadapannya


Ting!


Syan menoleh ke arah ponselnya, pesan masuk. Syan mengernyit saat melihat pesan dari nomor yang dirasanya tidak asing


Jangan terlalu memikirkanku, atau kau akan tidak nyenyak dalam tidurmu


"Araga," lirih Syan. Buru buru Syan menggelengkan kepalanya. Kemudian memilih untuk mengabaikan pesan itu, baru ia akan mendelete pesan, satu pesan sudah lebih dulu masuk lagi ke ponselnya. Dari nomor yang sama


Tidak papa tidak membalas pesanku, asal kau membalas perasaanku saja


Syan tertawa meremehkan. Ada pria macam dia di muka bumi ini?


Apa, kau mau marah? Nona Syan?


Syan menghela nafas, lalu memilih untuk membalas pesan pria itu


Me : Jangan mengirimku pesan!


Syan kembali melanjutkan aktivitas membaca bukunya. Tidak ada lagi balasan pesan dari Araga, dan Syan malah merasa ada yang janggal. Ia malah seakan menunggu balasan pesan dari Araga. Ia gelisah sendiri


Sedikit ragu, Syan akhirnya memilih untuk menekan ikon hijau


"Kau menunggu balasan pesanku?" tanya seseorang diujung sana


Syan mengernyit


"Te ..., tentu saja tidak! Aku kan sudah bilang padamu, jangan mengirimku pesan!"


"Itulah kenapa aku menelponmu, karena kau melarangku untuk mengirimkan pesan."


Syan tertawa hambar. Rupanya ia sudah salah berbicara, tidak tidak. Bukan ia yang salah memberitahukan, tetapi Araga lah yang salah mengartikan


"Ada apa Syan?" tnya Araga saat Syan hanya terdiam


"Ku kira kau keliru Tuan Araga!"


"Aku tidak keliru. Aku hanya mengikuti apa kata hatiku, salahkah?"


"Ku kira hatimu juga keliru!"


Araga nampak terkekeh diujung sana


"Kau benar. Cinta memang selalu membuat orang keliru"


Syan menggigit ibu jarinya. Tiba tiba saja lidahnya terasa kelu begitu Araga mengatakan kata cinta. Padahal pria itu tidak mengatakan cinta pada siapa


"Jangan menggangguku, dan berhenti menghubungiku!"


"Bagaimana jika aku tetap ingin mengganggumu!" tantangnya


"Aku akan mengatakannya pada Dady Juan!" ancam Syan


"Katakan saja, memangnya apa yang akan di lakukan Dady mu itu!"


"Dengar! Aku sudah memiliki calon suami, calon suamiku itu orang yang tampan, dia lebih tampan darimu. Oh yah, dan dia juga sangat mencintaiku, dia tidak akan suka jika ada yang menggangguku"


Sahut Syan dengan berapi api. Sementara Araga diam diam menahan senyumnya saat Syan banyak bercerita tentang calon suaminya. Yang padahal, adalah dirinya


"Jika ada orang yang menggangguku. maka ....,"


"Maka apa Syan?" tanya Araga dengan tawa renyah yang sangat meledek dan meremehkan Syan


"Makan calon suamiku akan menghajarmu habis habisan. Jadi kau jangan pernah menggangguku!" sahut Syan meski ragu. Ia sudah berbohong, bahkan ia tidak tau siapa calon suaminya


Araga perlahan menghentikan tawanya


"Baiklah baiklah. Aku tidak akan mengganggumu, tapi dengan satu syarat"


Syan mengernyit heran


"Syarat apa?"


"Balas setiap pesanku!"


**


"Bos, ini adalah berkas berkas yang kau butuhkan untuk .....,"


Erick menghentikan kalimatnya saat melihat sang bos yang nampak tersenyum senyum sendiri menatap layar ponselnya. Erick hanya menggelengkan kepalanya dan kembali membawa berkas berkas yang tadi akan diserahkan pada Araga, pasalnya, sudah satu minggu ini sang bos sibuk sendiri berbalas pesan dengan gadis pujaannya. Meski tidak mengabaikan pekerjaan, tapi tetap saja Araga mengabikan orang orang disekitarnya


Syandu


Yasudah, cepat kerja dan jangan menggangguku


Me


Tapi aku belum makan siang. Aku tidak akan bisa bekerja. Aku lemas, Syan


Syandu


Yasudah, kau makan dulu


Me


Bagaimana jika kita makan siang bersama


Syandu


Aku tidak bisa.


Me


Alasannya?


Syandu


Aku sedang berada di kampus


Araga meletakan ponselnya, kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebanggaannya


"Erick!" Araga berteriak. Tak lama Erick masuk ke ruangannya


"Kenapa kau belum mengantarkan berkas untuk rapat siang ini?" tanyanya


Erick mengernyit


"Aku sudah datang kemari mengantarkan berkasnya. Tapi kau tidak sadar karena sibuk berbalas pesan dengan gadis pujaanmu itu"


Araga menautkan alisnya, kemudian tersenyum


"Benarkah? Karena moodku hari ini sedang baik, maka aku tidak akan memarahimu!"


"Karena aku tidak bersalah bos!" sahut Erick dengan penuh penekanan


"Kau benar. Yah, bawa berkasnya kemari dan kita langsung mulai rapat. Ada hal penting yang harus aku urus setelah ini!"


Erick mengangguk patuh, kemudian keluar dari ruangan Araga untuk mengambil berkas. Meninggalkan Araga yang nampak tersenyum sendiri di tempatnya


TBC