
Syan menyetir mobilnya dengan perasaan dongkol dan kesal pada pemuda disampingnya yang tengah asik berkirim pesan dengan pacarnya. Bagaimanapun, Daren selalu berhasil membujuknya jika ia menginginkan tumpangan, sekalipun Syan tidak memberi izin, ia akan tetap menerobos masuk kedalam mobil Syan dengan tampang tampan tanpa dosanya
Jadi, membiarkan dan menolak pun pada dasarnya sama saja jika dihadapkan dengan seorang Darendra
"Fokus saja menyetir. Tidak perlu menatapku begitu, Kakak!" Sahutnya setelah memasukan ponsel ke saku jaketnya
"Jangan memanggilku Kakak!" Bentak Syan, tidak terima
"Baiklah sayang!"
"Jangan memanggilku sayang!" Syan membentak lagi. Membuat Daren menutup telinganya dengan ekspresi cool yang keterlaluan
"Oh. Baiklah nenek lampir"
Syan hanya diam. Sementara Daren memandangnya penuh arti
"Ohh, rupanya kau lebih senang dipanggil nenek lampir yah Syan"
"Terserah Daren. I am very tired" Syan mengangkat satu tangannya ke udara dengan ekspresi yang tak dapat terbaca
Daren hanya mengangguk anggukan kepalanya saja. Lantas ia buru buru turun saat mobil sudah sampai diparkiran campus. Meninggalkan Syan yang seperti kehilangan semangat hidup ketika Daren selalu saja mengganggunya. Everytime
"Hay Daren"
"Hay" Daren membalas sapaan para gadis yang menyapanya sepanjang koridor campus. Ayolah! Ini bukan cerita novel, dimana pemeran utama pria yang tampan memiliki sifat dingin dan angkuh. Dan akan luluh oleh gadis yang biasa biasa saja
Daren tidak seperti itu, dan tidak semua pria tampan memiliki sifat dingin yang misterius
"Kau semakin tampan saja. Kapan kau akan putus dengan Meilin dan berpacaran denganku?" Daren berjalan mundur saat gadis berambut pirang sebahu itu bertanya demikian padanya
"Mm. Akan aku fikirkan!"
Sahutnya yang kemudian berlalu lebih cepat setelah berbalik badan, sedangkan gadis yang ditinggalkannya nampak meloncat loncat bahagia mendengar jawaban Syan
"Ada apa Syan? Kau sakit?" Tanya Zoey saat Syan masuk ke kelas. Syan hanya menggeleng. Kemudian mendudukan diri dengan lesu dikursinya
"Tidak apa apa. Hanya sedang ingin menghancurkan sebagian isi bumi saja"
Lucy, kawan Syan yang lain nampak tertawa mendengar ocehan Syan yang terdengar santai sekaligus menyeramkan
"Kau sedang datang bulan Syan?"
"Ini datang meteor yang siap melenyapkan segala isi bumi. Aku tidak tahan!" Decaknya sambil bersandar pada sandaran kursi yang di dudukinya
"Ada apa? kau sedang bercanda kan Syan!" Zoey dan Lucy nampak tidak percaya dengan tingkah aneh Syan hari ini. Sampai tak lama, seorang pemuda yang masuk kedalam kelas membuat perhatian semua mahasiswi mengarah padanya. Pemuda itu dengan tampannya berjalan ke arah meja Syan
"Handsome prience!" Zoey dan Lucy berdecak
"Pengacau!" Desis Syan saat pemuda itu berdiri disamping mejanya. Tingkahnya sangat kalem sekali. Berbanding jauh dengan kelakuannya saat hanya berdua dengan Syan
"Hay" Sapanya pada Syan, Syan berdiri. Melipat tangannya di dada
"Kau pandai sekali mencari muka, Tuan muda" Desisnya didepan wajah pemuda itu
"Aku tidak ingin ribut, aku hanya....., "
"Syan. Dengar, tadi pagi kau terus mengajak aku ribut dan..., aku melupakan dompetku"
"So?"
"Aku datang untuk meminjam uang!" Sahutnya dengan santai
"No!"
Daren tersenyum, kemudian menaruh kedua tangannya di bahu Syan. Membuat orang orang semakin takjub padanya, mungkin mereka sedang berasumsi jika pemuda itu berpacaran dengan Syan
"Kau gila Daren?" Desis Syan dengan dahi berkerut
"Hanya sedikit!"
Syan mengalihkan tatapannya. Kawan kawan sekelasnya sedari tadi sudah menentang ponsel masing masing untuk mendapatkan gambar Daren yang tampan itu. Jangan sampai mereka juga mengambil gambarnya yang tengah di gandeng oleh Daren
"Mereka tau aku adikmu?" Tanyanya dengan suara pelan
Daren menghela nafasnya, dan kemudian menatap Syan penuh arti
"Bagaimana jika aku memperkenalkan diri sebagai, mm your boy friend?" Tawarnya dengan alis bertaut yang justru membuatnya terlihat begitu seksi
Syan tersenyum hambar dan gemas pada sang adik. Alangkah ingin ia meledakan kepala Daren saat itu juga
"Daren, kau benar benar ...," Syan mengepalkan tangannya, dan kemudian mengatur nafas, mengumpulkan kesabarannya sebanyak mungkin. Ia tidak boleh emosi jika berhadapan dengan Darendra. Baiklah!
"Sebentar!" Sahut Syan yang kemudian duduk dan mengambil dompetnya, membuat rangkulan Daren terlepas dan tangannya menggantung diudara
"Cukup?" Tanya Syan setelah ia menyerahkan beberapa lembar uang pada Daren
"Tidak!" Spontan Daren menyahut
Syan menambah dua lembar mata uang dolar itu pada tangan Daren
"Ku harap ini terakhir kalinya kau meminjam uang. Adik manis!" Sahut Syan dengan penuh penekanan
"Hey, janga panggil aku begitu. Aku tidak suka asal kau tau!" Ancamnya yang membuat Syan hanya mengangkat tangannya. Baiklah, ia menyerah
"Lalu, untuk apa uang itu?" Tanya Syan kemudian. Daren terdiam sebentar sambil menopang dagunya dengan aksen yang begitu tampan, kemudian berbicara dengan pelan di telinga Syan
"Menyewa wanita untuk pelepasan!" Sahutnya sambil berlalu, membuat Syan hanya menganga tidak percaya saja ditempatnya
"Benar benar tidak waras!" Umpatnya kemudian, sementara Daren yang sudah berada dipintu keluar hanya mengibaskan tangannya saja kebelakang, mengabaikan Syan yang dapat ia tebak sedang memaki padanya
Begitulah hari hari Syan dengan pengganggu kelas kakap yang super tampan, setiap hari ia harus selalu menambah ekstra kesabarannya dalam menghadapi keusilan sang adik. Setiap hari. Tidak ada sedikit pun waktu untuk tidak bertengkar dengan Daren
Percayalah, keusilan Daren itu sudah mendarah daging di tubuh Syan. Ia sudah kebal dan terbiasa, tapi juga tidak pernah ingin mengalah pada pemuda itu
"Ohh Syan, Daren semakin tampan saja" Decak Lucy, matanya masih menatap Daren yang sudah menghilang di pintu kelas
Syan memutar bola matanya dengan jengah. Lucy l, adalah salah satu pemuja Daren
"Ayolah, jangan membuat darah tinggiku kumat dengan memuji muji pemuda menyebalkan seperti Daren dihadapanku, Lucy"
Pinta Syan dengan kesal
"Syan adikmu itu tampan sekali, tidak ada niat untuk menggandengnya?"
"Gila! Kau yang benar saja. Tidak waras ya?"
Lucy dan Zoey tertawa
"Oh yah Syan. Kau bisa merekomendasikan aku untuk menjadi pacar Daren selanjutnya. Dia sudah berpacaran dengan Meilina, 2 minggu"
"Mari taruhan. Hari ini mereka pasti akan putus!"
"Lucy dengar! Aku tidak akan mau berteman dengan kau, kalau sampai kau berpacaran dengan Daren!"
"Seperti tidak ada pria lain saja!"
Lucy menggebrak meja Syan, membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget
"Syan. Kau enak berbicara seperti itu karena banyak pria yang mau padamu! Nah aku? Ahh, hidup percintaanku menyedihkan!" Decaknya dengan ekspresi sedih yang dibuat buat
"Itu karena seleramu terlalu tinggi nona Lucy. Belajarlah menerima pria apa adanya!"
"Tidak bisa Syan. Mereka harus sama derajatnya dengan ku!"
"Hanya berpacaran bukan? Memangnya mau langsung berkeluarga!"
"Aku tau. Tapi tujuan berpacaranku adalah untuk menikah Nona Anjasmara Zhucarlos"
"Baiklah, sudah ributnya nona nona?" Zoey yang sedari tadi menjadi pengamat keduanya mulai menengahi
"Sudah!" Dua gadis itu menyahut bersamaan
TBC