
Jari-jari Araga yang sedang mengotak atik keyboard komputer di hadapannya terhenti saat seseorang menerobos masuk kedalam ruangannya.
Erick berusaha mencegah tapi tetap tidak bisa menghentikannya. Araga bangkit perlahan.
"Ada apa?" tanyanya setelah menyuruh Erick untuk tidak mencegah Darendra.
"Aku ingin berbicara denganmu!" Daren to the point.
"Aku sedang banyak urusan,"
"Hanya sebentar!"
"Aku ada beberapa pertemuan yang harus dihadiri. Kemungkinan sampai siang nanti,"
Daren terdiam menatap Araga dihadapannya.
"Baiklah. Aku akan menghubungimu setelah jam makan siang nanti!"
Araga mengangguk setuju. Sementara Daren berbalik begitu saja dan melangkah keluar dari ruangan Araga tanpa permisi.
"Aku tidak bisa mencegahnya!" sahut Erick yang merasa tak enak karena Araga merasa terusik.
"Tidak papa." Araga tau Erick sudah berusaha, dan ia pun tau, jika tidak mudah menghentikan Darendra.
Keduanya terdiam, Araga nampak menautkan tangan dan menyangga dagunya setelah kembali duduk. Sementara Erick memperhatikan dan kemudian buka suara.
"Bos, ada yang ingin aku bicarakan!"
Araga menatap skretarisnya, kemudian mengangguk, membuat Erick melangkah mendekat dan mengutarakan apa yang ingin disampaikannya pada Araga.
**
Semenjak memutuskan untuk berhenti kuliah. Syan tidak memiliki kegiatan apapun kecuali hanya berdiam diri saja di kamarnya. Ia hanya berbaring terlentang dengan mata yang menatap plafon kamarnya, kemudian tangannya menyingkap kaos yang dipakainya. Tangannya bergerak untuk mengusap permukaan perutnya yang masih rata.
"Ayahmu sedang apa, ya?" ia berbicara sendiri, sampai ponsel yang berada disampingnya berdering dan ia langsung mengambilnya.
"Araga!" ujarnya dengan berbinar.
Syan menggeser ikon hijau dan meletakan benda pipih itu di telinganya.
"Hallo!"
"Sudah makan?" tanyanya diujung sana.
"Belum,"
"Kenapa? Makanlah yang banyak, ibu hamil harus sehat!"
"Aku kehilangan selera makan, bagaimana?" sahut Syan, ia menoleh kesampingnya. Dimana banyak berserakan plastik snack dan biskuit disana. Akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat begitu drastis. Tapi, tentu saja ia berbohong pada Araga.
"Kenapa? Mau aku temani makan?"
"Sepertinya begitu." Syan menggigit ujung jarinya. Araga tertawa diujung sana.
"Baiklah-baiklah. Semoga kita bisa cepat bersama,"
Syan hanya diam dengan bibir yang membentuk sebuah senyuman.
"Aku ada urusan, aku akan menghubungimu lagi. Makan yang banyak, kasihan anak kita."
"Iya,"
Panggilan terputus. Perlahan Syan menurunkan ponsel dari telinganya. Entah bawaan bayi didalam perutnya atau apa, yang pasti selain nafsu makannya yang meningkat. Akhir-akhir ini sering sekali merindukan Araga.
Brak!
Syan segera menurunkan kaosnya yang menyingkap saat pintu kamarnya terbuka begitu saja.
"Kau ini apa-apaan?"
"Aku sedang pusing, Kak." gadis yang tiba tiba saja masuk ke kamarnya itu menggerutu dengan wajah kesal.
Syan beranjak, memposisikan dirinya dengan duduk dihadapan Dinara.
"Ada apa memangnya?" tanya Syan, pensaran.
"Dengar, Kak. Aku baru saja mendapat kabar dari mama jika aku akan di jodohkan. Apa menurutmu itu tidak gila?"
Syan mengernyit, apanya yang gila? Toh dirinya juga dijodohkan dengan Araga. Bagi Syan, tidak ada masalah dengan hal itu kecuali jika sekarang Dinara memiliki kekasih, sehingga ia ada alasan untuk menolak perjodohan ini.
"Siapa yang akan dijodohkan denganmu?"
"Mana aku tau!"
Syan hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Ia tidak tau harus bereaksi seperti apa menanggapi keluhan gadis dihadapannya.
"Aku menolak keras perjodohan ini."
"Yang benar saja, ini Amerika, bukan Indonesia yang punya Siti Nurbaya."
Syan hanya tersenyum melihat Dinara. Rupanya, sedikit banyak ia tau tentang Indonesia.
"Aku sudah memiliki tambatan hati. Aku tidak ingin dijodohkan,"
"Kau memangnya benar-benar dijodohkan?" Syan memastikan. Dinara terdiam, ia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Aku mendengar, akan dikenalkan ..," sahutnya seperti ragu dengan apa yang dikatakan sejak awal memasuki kamar Syan.
"Ya, tetap saja. Memang, apa bedanya?" ia bersikeras
"Jelas berbeda, Dinara."
"Dijodohkan, artinya kau harus menikah dengannya. Tetapi jika hanya dikenalkan, artinya tergantung pada kalian cocok apa tidak."
"Jika cocok, maka kalian pasti akan menjalin sebuah hubungan dan berakhir dengan pernikahan. Tetapi jika tidak cocok, maka keputusan ada di tangan kalian. Biasanya begitu," sahut panjang lebar Syan. Sementara Dinara mengangguk-anggukan kepalanya, memahami apa yang disampaikan oleh Syan.
"Kalau begitu, katakan. Siapa tambatan hatimu itu?"
Dinara terdiam. kemudian menatap Syan dengan tersenyum malu.
"Kenapa malah tersenyum, ayo katakan!"
"Siapa priamu itu, hmm?"
"Skretaris Erick!"
Syan nampak tercengang mendengar pernyataan Dinara.
"Sungguh?"
"Iya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya!"
"Kau mau bersaing dengan Zoey?"
"Do'akan agar aku yang menang. Kak Syan!"
"Tapi sebentar. Diantara kalian tidak akan ada yang menang, kurasa."
"Hah? Kenapa memangnya?"
"Skretaris Erick sudah ada gadis pilihan orang tuanya!"
**
Araga dan Daren hanya duduk saling berhadapan disebuah privat room disalah satu restoran terkenal. Hanya mereka berdua, sementara Erick menunggu diluar.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Araga. Daren yang sedang mengaduk minumannya dengan sedotan hanya menoleh, kemudian tersenyum.
"Tentang Syan,"
"Ada apa lagi? Kami akan segera menikah, kau tidak perlu mengganggu Syan lagi!' sahut Araga tanpa sungkan.
"Aku hanya adiknya!"
"Dan kau jatuh cinta padanya!"
Daren nampak tersenyum.
"Kau sudah tau rupanya. Bagus jika begitu!"
"Mundurlah, Daren. Aku akan segera menikahi Syan, dia sedang mengandung anakku!"
Jauh dari dugaan Araga. Daren justru malah tertawa seperti orang gila. Tidak terlihat terkejut sedikitpun dengan apa yang baru saja dikatakannya.
Tawa Daren mereda, kemudian ia menumpukkan tangannya diatas meja dengan mata yang menatap Araga.
"Kau yakin, jika anak dalam kandungan Syan adalah darah dagingmu? Bagaimana jika ternyata dia adalah anakku?"
"Apa maksudmu?"
Daren tersenyum licik.
"Apa menurutmu, setelah aku nengetahui jika tidak ada ikatan darah diantara kami, aku akan diam saja? Membiarkanmu, menikah dengan gadis yang aku cintai? Merelakannya begitu saja?"
"Jelas tidak mungkin, Araga!"
Araga diam. Mencerna apa yang baru saja dikatakan Daren..Apa Daren sedang menyampaikan jika dirinya sudah pernah meniduri Syan?
Araga tidak panik, atau bahkan terkejut. Ia hanya diam dengan ekspresi tenang.
"Bagaimana jika aku tetap yakin, bahwa itu adalah anakku?" kemudian ia buka suara setelah beberapa waktu.
"Mengapa kau bisa seyakin itu?"
Araga beranjak, membuka pintu dan berbicara sebentar pada Erick, Daren hanya memperhatikan. Sampai tak lama, Araga kembali dengan sebuah amplop cokelat ditangannya.
"Kau bisa membacanya!" Araga menyodorkannya.
Daren menerima amplop cokelat itu, mengambil secarik kertas didalamnya dan membaca isinya. Kemudian menatap Araga dihadapannya.
"Bagaimana, Daren?"
Daren nampak membuang tatapannya ke arah lain dengan perasaan resah.
"Aku sudah melakukan tes DNA paternitas. Bukan karena aku meragukan, Syan. Tapi aku sudah memperkirakan hal ini, setidaknya jika perkiraanku benar terjadi, maka aku sudah punya amunisi!" jelasnya seraya bangkit dari duduk. Merapihkan jasnya dengan gaya khas dirinya.
"Kau hanya perlu menjadi adik iparku, tidak perlu menjadi rival. Karena tetap aku yang akan menang, Darendra!"
Daren hanya diam saja. Ia mengaku, jika dirinya sudah kalah telak. Tidak ada celah sedikitpun baginya untuk menempati posisi Araga, apalagi menyingkirkannya.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaga kakak, dan calon keponakanmu dengan baik!"
Araga beranjak, sementara Daren meremah sebuah kertas ditangannya, kertas hasil DNA Araga.
Hatinya seperti diremas-remas saat Araga mengatakan kalimat terakhir yang seolah menyadarkannya dalam sekali tamparan. Jika statusnya tidak akan lebih dari sekedar saudara angkat bagi Syan, hanya saudara angkat.
"Bagaimana, bos?" tanya Erick saat Araga keluar. Araga tak menyahut, ia hanya tersenyum sambil menepuk bahu sang Skretaris.
"Terimakasih, Erick. Kalau bukan karena kau, aku tidak tau bagaimana cara menghadapi adik iparku itu."
Erick hanya tersenyum. Setelah Daren keluar dari ruangan Araga pagi tadi. Erick memang menyerahkan hasil tes DNA itu pada Araga. Ia sengaja melakukannya saat kemarin Syan berada di rumah sakit. Ia membaca gerak-gerik Darendra. Sehingga perlu mempersiapkan segalanya.
Beruntung, semua berjalan sesuai dengan rencana.
**
Sedikitpun Syan tidak pernah mengira jika akan secepat ini Araga melamarnya. Setelah kejadian di rumah sakit dua hari yang lalu, malam ini tanpa komunikasi apapun dengan Syan, Araga datang ke mansion dengan kedua orang tuanya untuk melamar.
Tapi suasana di ruang tamu mansion justru hening karena Juan tidak mengerti mengapa acara lamaran begitu cepat, jauh dari perencanaan dua keluarga sebelumnya. Terlebih, Juan menyatakan ingin secepatnya menggelar pesta pernikahan.
"Begini Araga, Om setuju saja. Justru itu jauh lebih baik, terlebih sekarang Syan sudah tidak berkuliah. Tapi, tentunya kami butuh alasan logis, dengan keinginan tiba-tibamu!"
Araga terdiam, ia hanya menautkan kedua tangannya dan mencoba menenangkan diri. Sementara Syan sudah berharap-harap cemas dengan wajah khawatir.
Daren nampak acuh tak acuh dengan wajah tanpa minat pada acara pertemuan keluarga ini. Tidak penting baginya berada diantara mereka, tapi Juan memintanya untuk ikut serta, dan sekali lagi ia tidak dapat menolaknya.
"Araga," Ardana menegur putranya yang hanya terdiam.
"Mmm, begini Om Juan ...,"
"Syan sedang mengandung anak kami."
Hening.
Suasana di ruang tamu menjadi sangat hening, bahkan deruan nafas dari setiap orang disana bagai terhenti dengan begitu saja.
"Araga," Ardana nampak kikuk sekali pada Juan yang hanya terdiam dengan tatapan tak terbaca.
"Syan sedang hamil, anak Araga, Ayah." justru Araga berujar meyakinkan Ardana, Risa mengusap lengan Ardana, guna menenangkan sang suami.
"Kami tau kami membuat kesalahan, tapi sungguh hal itu adalah kecelakaan. Ada orang yang berniat jahat pada, Syan." tutur Araga, masih mencoba meyakinkan semua orang yang berada disana.
Carra menggapai tangan Syan, menggeleng dengan senyuman samar. Memberi pengertian pada putrinya.
"Aku meminta maaf, Om!"
"Dad, Araga tidak bersalah. Sungguh!" kali ini Syan juga angkat bicara, Juan masih belum bereaksi apa-apa.
"Om, aku mohon!"
"Untuk apa memohon?"
"Semuanya sudah terjadi bukan?" jawaban gamang Juan membuat suasana sedikit canggung.
Juan tersenyum setelahnya. Memang tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakannya. Semuanya sudah terjadi bukan?
"Tidak perlu tegang, Araga!" Juan menghela nafas panjang sebelum meneruskan kalimatnya.
"Mendengar penuturanmu, Om merasa mengerti dengan situasinya."
Araga bernafas lega mendengarnya, begitu juga Ardana yang dilanda cemas sejak Araga menyatakan kehamilan Syan.
"Om setuju, kalian pun saling mencintai. Tidak ada salahnya jika menikah secepatnya!"
Perlahan senyum Araga mengembang, sama halnya dengan Syan yang mulai bisa bernafas lega mendengar pernyataan setuju Juan.
Sangat berbeda dengan Darendra yang terlihat menderita disana. Hanya selangkah lagi, ia benar-benar harus merelakan Syan.
Ketika nanti janji suci pernikahan antara Araga dengan Syan terucap, maka ia sudah benar-benar harus rela kehilangan, sebagian kehidupannya. Kehilangan Syandu Anjasmara.
TBC