
*
"Kau mau menikah?" Tanya heran Juan pada Abram yang baru saja menyampaikan berita tersebut
"Yang benar saja Abram! Bukan kah dulu kau mati matian menolak lamaran keluarga Maharani?!" Tambahnya lagi
Juan ingat betul saat Abram menolak untuk menikah karena baru saja putus dengan Carramell
"Hey dude, jangan bercanda! Pernikahan bukan ajang untuk permainan!"
"Aku tau!" Abram menyahut yakin, wajahnya terlihat amat pasrah dengan keptusan yang di ambilnya
"Lantas?"
"Tidak ada lantas! Aku akan menikahinya!" Abram masih tetap dengan pendiriannya
"Baiklah. Anggap kau sedang gila!"
"Semua orang butuh alasan yang kuat dalam menentukan pilihan Abram" Juan masih tidak yakin dengan keputusan saudaranya itu
"Tidak bisa sembarangan!" Tambahnya, lalu beranjak dari kursi putarnya dan duduk di sofa tunggal, Abram duduk di sofa panjang di hadapannya
"Setiap orang memiliki alasan dengan keputusan yang di ambilnya. Dan kau tidak perlu tau apa alasanku!" Sungut Abram
Juan tersenyum. Baiklah, Abram memang bukanlah Alex yang selalu bebas mengatakan apapun padanya. Abram sudah dewasa, barangkali dia memang butuh privasi, dan Juan tidak akan memaksanya
"Terserah kau!"
"Lalu kapan kau akan melamarnya?"
"Sedang aku rencana kan!"
Abram menyangga dagunya. Memikirkan keputusannya sendiri. Berfikir, apakah keputusannya sudah tepat atau tidak
Dan memikirkan kejadian tempo lalu saat di kamar hotel, rasanya kepala Abram terasa ingin pecah saja
Juan hanya memperhatikan saudaranya itu tanpa bisa tau apa yang ada dalam fikiran saudaranya itu
Mungkin bagus jika Abram segera menikah agar tidak ada celah baginya untuk kembali memikat Carra. Tapi Juan merasa janggal dengan keputusan Abram yang tiba tiba begini
Padahal kemarin, dia baru saja mengatakan jika tidak akan buru buru menikah
-
Carra tengah asik memutari kolam renang di sore hari. Setelah tadi mandi, ia memang lebih memutuskan untuk ke halaman belakang mansion
Jujur, selama menikah dengan Juan. Carra memang tidak pernah berjalan jalan ke sekitaran mansion, tempat yang sering ia kunjungi pun hanyalah taman bermain Syan saja
"Sudah jam lima sore. Apa Juan tidak akan pulang cepat hari ini?" Gumam Carra. Satu kakinya ia celupkan kedalam air yang begitu jernih
Sampai Carra mampu melihat bayangan seseorang disana.
Juan
Carra ingin berbalik dan memeluknya, tapi ia urungkan, mengingat kejadian tadi malam, perdebatan kecil antara dirinya dengan Juan tentang wanita bernama Jenny
"Kenapa? Kau ingin memeluk ku?" Tanya Juan
Dan tanpa aba aba ia membalikan tubuh Carra untuk berhadapan dengannya
"Baiklah!" Sambungnya sambil merentangkan tangan Carra agar memeluk dirinya, bersikap seolah olah Carra yang memeluk dan sangat rindu kepadanya
Carra hanya pasrah dengan tampang terpaksa memeluk suaminya, walaw tidak bisa di pungkiri, jika dirinya pun merasa rindu dan bahagia
"Mari ke kamar?" Ajaknya kemudian
"Tidak! Tidak!" Carra dengan cepat menolak, otaknya terlalu cepat menangkap kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya yang belum tentu akan Juan lakukan
"Kenapa?" Tanya heran Juan, matanya memicing, melihat keanehan di wajah istrinya. Sampai kemudian ia tersenyum sendiri setelah mengerti
"Aku harus mandi Carra"
"Kau memangnya mau aku mandi disini?" Tanyanya
Menunjuk kolam renang yang jernih di belakang Carra
Carra menoleh, merasa kikuk sendiri karena sudah berfikir jauh tentang suaminya ini
"Dengar ya, aku masih kesal padamu!" Katanya, mengalihkan perhatian. Lalu cepat beranjak meninggalkan Juan yang masih terpaku di belakangnya
Juan menggeleng, kemudian menyampirkan jasnya di bahu kanannya dan melangkah mengikuti Carra menuju ruang utama mansion
"Momy"
"Apa Syan?" Tanya Carra lalu menggapai tangan Syan dan berjalan menuju kamar. Juan mengikuti di belakang
"Kau sudah pulang Dad?" Tanya Syan, lalu menoleh pada Juan yang berada di belakangnya
"Sudah sayang!" Juan menyahut singkat dengan tersenyum
"Kau duduk disini. Biar Momy siapkan air untuk Dady mandi" Sahut Carra setelah mendudukan Syan di sofa. Lalu Carra segera berlalu ke kamar mandi setelah menyalakan tv. Berniat agar Syan anteng menonton disana
Juan hanya menatap kepergian Carra sampai istrinya itu menghilang di balik pintu kamar mandi
"Kenapa kau menatap Mom seperti itu Dad?" Tanya Syan, yang memang sedari tadi memperhatikan gerak gerik sang ayah
Juan tak menyahut, ia langsung duduk di samping Syan setelah menanggalkan jasnya di sandaran sofa
"Syan. Apa kau menceritakan tentang Jenny pada Momy mu?" Tanya Juan, ia menyangga kepalanya dengan tangan yang ditekuk pada sandaran sofa, dengan tubuh yang miring menghadap pada putrinya
Syan diam, ia takut sang ayah murka nantinya jika saja Syan mengiyakan pertanyaannya
"Katakan. Dady tidak akan marah padamu" Ungkap Juan, dengan tatapan lekatnya pada Syan
"Apa Momy marah kepada Dady karena itu?" Tanya Syan dengan polosnya
"Sepertinya begitu" Sahut singkat Juan, berkata seolah hal itu terjadi karena Syan penyebabnya
"Maaf!" Lirih Syan, kini pandangannya mulai turun dari manik Juan
"Tatap mata Dady. Syan!" Sahut Juan dengan santai, tapi cukup memniat Syan gugup apa yang dikatakannya
Ragu ragu Syan akhirnya menatap mata Juan lagi
"Jadi benar, kau menceritakan tentang Jenny pada Momy?" Tanya Juan lagi
"Iyah Dad. Momy yang memaksaku untuk menceritakannya"
"Jadi sekarang kau menyalahkan Momy, Syan?"
Syan segera menggapai tangan Juan, meredam kemarahan Juan yang sepertinya akan meledak karena pernyataannya tadi
"Tidak Dad, maaf!" Ucap Syan
Matanya sudah mulai berkaca kaca, pandangan sang ayah dihadapannya sudah mulai kabur karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya
"Dad tidak menyuruhmu menangis Syan!"
"Dengarkan Dad. Nanti, jika Momy bertanya tentang hal macam itu, kau jangan beritahukan apapun. Biarkan Momy bertanya pada Dady. Ya!"
"Kau mengerti Syan?" Tanya Juan. Syan mengangguk dengan air mata yang sudah membentuk sebuah anak sungai di pipinya
Juan menatapnya, juga iba karena membuat Syan harus selalu menangis jika sedang di introgasinya. Apakah Juan terlalu keras pada Syan?
"Kemarilah!" Katanya sambil menarik Syan kedalam pelukannya
"I'am so sorry. Dady tidak ada niat membuatmu menangis Syan"
"Dady hanya tidak ingin jika Momy salah paham pada Dady"
"Maaf, yah" Ungkapnya sambil mengelus punggung Syan berkali kali
"Maafkan Dady!" Katanya lagi
Syan mengangguk dalam pelukan Juan
-
"Syan kemana?" Tanya Carra saat ia kembali dan tidak mendapati Syan dengan Juan
Juan yang sedang menonton tv menoleh pada Carra
"Kembali ke kamarnya" Juan menyahut singkat. Kemudian beranjak
Mencium pipi kiri Carra, kemudian berlalu ke kamar mandi
"Dasar!" Sahut Carra, dan Juan hanya tertawa setelah menutup pintu kamar mandi
-
Semuanya sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam. Seperti biasa duduk di tempat masing masing dengan obrolan kecil yang sesekali tercipta
"Abram, bagaimana proyek yang sedang kau urus ?" Tanya Max setelah mereka selesai membahas tentang kabar keluarga yang berada di LA
"Sudah 80% Om"
"Oh, bagus. Cepat sekali ternyata!"
"Kau memang bisa diandalkan" Pujinya
Abram hanya mengangguk dengan tersenyum
"Khm. Om"
"Kenapa?" Tanya Max setelah selesai mengunyah makanannya
"Aku akan menikahi Adella Maharani"
Carra yang sedang menyendok makanannya terhenti, dan Juan menyadari hal itu
Max nampak mengangguk, seperti mempertimbangkan sesuatu
"Kenapa tiba tiba. Abram?" Tanya Sonya
"Tidak tiba tiba tante" Abram menyahut seperlunya
"Bukankah dulu kau menolak Adella" Ingatan Max berlari pada memori satu tahun lalu
Dulu? Ingin rasanya Carra bertanya 'kapan?'
"Berbeda dengan sekarang Om"
"Baiklah, tapi apa keluarganya akan menerima kau setelah satu tahun lalu kau sudah menolak tawaran perjodohan dari mereka tanpa alasan?"
Abram terdiam, Max benar. Keluarganya Adella tidak mungkin dengan begitu saja menerimanya yang sudah pernah menolak perjodohan keluarga Maharani
"Akan aku usahakan Om" Sahutnya dengan yakin
Sonya dan Max akhirnya hanya mengangguk. Abram sudah dewasa, ia sudah bisa menentukan jalan pilihannya sendiri tanpa perlu didikte oleh orang lain
Dan setelah mengatakan berita yang memang akan disampaikannya malam ini pada keluarga. Abram melanjutkan makannya
Sesaat tatapannya bertemu dengan tatapan Carra yang terlihat tidak asing dimatanya